Tiru

Anwari Doel Arnowo

 

Tiru – to imitate, to copy

Tulisan yang lalu berjudul Tular yang kata padanan dalam kata bahasa Inggrisnya adalah contagious, mempunyai kesamaan dengan judul di atas. Kesamaan padanannya adalah dalam akibat yang mungkin saja terjadi, terhadap proses tindakan, karena arti kedua kata tersebut. Hanya ada sedikit perbedaan, yakni dalam unsur kesengajaannya.

Tular, unsur kesengajaannya kurang nilainya, sedang tiru jelas-jelas memang sengaja.

Tiru adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh hampir semua lapisan masyarakat, baik bangsa kita maupun bangsa lainnya, yang suka sekali memang untuk meniru.

Meniru ini biasanya terhadap hal-hal yang menurut pandangan si peniru sebagai yang patut juga didapat dan dilakukan oleh si peniru. Dia juga meniru dari yang lain, tetapi yang menurut pendapat si peniru adalah sesuatu yang lebih baik, lebih bagus dan lebih patut disandangnya, sering sekali dengan melupakan bahwa dia sendiri sudah mempunyainya.

Kalau meniru berupa materi bisa berupa pakaian dan berupa barang lain yang dimirip-miripkan dengan yang dimiliki dan dipunyai oleh pihak yang ditirunya.

Kalau non materi maka itu bisa berupa tata cara kehidupan, tata cara bertutur kata, perbuatan dan tata cara untuk memperolehnya dan yang selanjutnya mengamalkan  kepandaian tesebut.

Kita semua dapat menengarai hal-hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya yang pernah saya alami didalam kehidupan saya sehari-hari, sepanjang  hidup saya.

Saya tumbuh menjadi anak yang sudah sadar akan sekelilingnya, sudah dapat menirukan apa saja yang dilakukan orang tua saya, ketika mereka sedang marah, merajuk, bergembira dan segala peri laku hidup sehari-hari seluruh anggota keluarga. Mau ataupun tidak mau perbuatan meniru yang saya lakukan adalah karunia alami dan dengan sendirinya tanpa sepenuhnya kita sadari telah menjadi alat sebagai penunjang sebagian hidup kita.

Biasanya tentu saja saya meniru karena instinct yang memang sudah menempel dalam tubuh dan akal saya. Semua orang pasti mengalami seperti apa yang saya alami. Saya, selaku si kecil, akan meniru apa saja yang dibuat oleh  ayah saya, karena ayah saya dan saya adalah sama-sama laki-laki. Yang biasa saya tiru dari ibu saya, hanya yang abstract seperti tata cara berpikir, tata cara bertutur kata dan semuanya cuma perangkat lunak saja. Cara berdandan ibu saya tentu saja tidak saya tirukan; “idola” saya adalah ayah.

Itulah sebabnya tanpa terasa seseorang ingin melebihi yang lainnya, agar dapat ditiru dan dijadikan tauladan oleh banyak orang. Kalau seseorang yang “lebih” dari orang biasa, maka dengan mudah dia akan didengar pendapatnya dalam masalah apapun. Nah seseorang yang sudah mempunyai status seperti itulah yang akan ditiru oleh anggota masyarakat biasa.

Orang berstatus lebih tinggi ini bisa saja orang kaya, dalang, Lurah dan Adipati serta Raja. Raja yang manapun akan bisa saja tidak bersalah, selalu benar dan patut terus ditiru.

Pemujaan terhadap orang-orang besar seperti itu berlangsung bertahun-tahun dan bahkan beratus-tahun. Sebelum kedatangan sang penjajah belanda di Indonesia, para Raja dan Sultan inilah yang disebut orang besar, kemudian setelah agama Islam dan Kristen, maka para pemuka agama memperoleh juga status seperti ini. Pada saatnya para penjajah bangsa belandapun memperoleh status yang dihormati oleh rakyat jelata Indonesia setinggi langit, karena kaya dengan hasil rampokan, dan amat  berkuasa.

Sebuah buku: The Life and Times of Sukarno oleh CLM Penders, Sidwich Jackson Limited, Great Britain, 1974 mengenai Soekarno dan asal-asalnya. Buku tersebut belum pernah saya lihat beredar di Indonesia, entah mengapa dan tentu saja karena mungkin juga belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pada bagian riwayat mengenai Soekarno banyak saya temui fakta yang benar, tidak seperti biasanya dalam buku yang ditulis orang asing. Masalahnya soal suka dan tidak suka kepada Soekarno secara menyeluruh. Kita semua sudah mafhum bahwa Soekarno memang tidak disukai oleh kalangan bangsa “Barat”. Fakta yang benar adalah dia lahir di Surabaya dan pernah tinggal di Blitar dan setelah menjadi pemuda pernah tinggal mondok dirumah H O S Tjokroaminoto, sang orator ulung.

Yang berikutnya adalah bagian bagian yang tidak benar yang dikarang-karang oleh orang banyak seperti berikut ini. Siapa sih yang pada jaman dahulu dicatat dengan benar data biographynya ??

Buku tersebut menyebutkan dua hal “menduga” sebanyak dua versi yang mendahului kelahiran Sang Putra Fajar, Bung Karno.

Dengan memanfaatkan ketidak-jelasan data mengenai asal Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayah Soekarno, dimulailah gissip murah mengenai beliau.

Versi Satu

Konon, selalu dimulai dengan kata ini, seorang Raja Jawa Paku Buwono ke sepuluh memutuskan untuk memerintahkan kepada salah seorang bangsawannya,  agar membawa bayi, anaknya dari salah seorang selir, yang diramalkan akan melahirkan seorang bayi laki-laki yang akan menjadi seorang besar. Sang bangsawan harus hidup sebagai orang biasa. Maka mengembaralah sang bangsawan keluar dari istana kerajaan. Di dalam riwayat perjalanan sang bangsawan ini akhirnya bermukim di Djombang, Jawa Timur dan menjadi seorang guru yang disebut dengan nama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Namun demikian  masyarakat sekelilingnya tidak ada yang mengetahui bahwa Raden Soekemi Sosrodihardjo ini sebenarnya adalah bangsawan dari kraton Pakubuwono ke X. Dengan demikian maka “resmilah dan pantaslah” seorang yang bernama Soekarno itu mempunyai darah keturunan raja. Menurut ‘kepantasan” seorang brilliant seperti Soekarno tidak mungkin dilahirkan dari darah rakyat jelata yang biasa. Itulah kepantasan yang dibuat-buat orang pada jaman dulu agar segala sesuatu itu ada kejelasannya. Ini melegakan “hati” kebanyakan karena masuk dalam “logic” mereka.

Versi Dua

Seorang belanda totok menjadi pemilik dari sebuah perkebunan yang besar dan kaya di Kediri, Jawa Timur, datang meninjau perusahaan miliknya.  Kedatangannya dihormati dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa disediakan seorang perempuan muda.

Maka terjadilah hubungan si belanda totok ini dengan seorang perempuan Jawa pribumi dan melahirkan seorang keturunan campuran yang biasa disebut Indo. Pemuda Indo ini terkenal sebagai seorang Don Juan, kemudian mempunyai anak dengan seorang perempuan Jawa pribumi. Mengingat statusnya yang “tinggi” selaku anak dari pemilik perkebunan, agar tidak masuk kedalam  situasi yang “memalukan”, dititipkanlah sang bayi kepada Raden Soekemi Sosrodihardjo. Bayi itulah yang kemudian menjelma menjadi Koesno dan kemudian berganti nama dengan Soekarno. Raden Soekemi memang mempunyai seorang pengasuh yang mengasuh Soekarno sejak masa kanak-kanaknya di Djombang / Modjokerto dan Blitar, bernama Sarinah. Dalam Versi inilah Sarinah diperankan bukan menjadi pengasuh akan tetapi “menjadi” ibu kandung yang berhubungan dengan sang Don Juan. Versi ini juga ingin menunjukkan orang sepandai Soekarno sama sekali tidak akan dapat diharapkan dari keturunan orang yang berdarah rakyat jelata biasa, kali ini belandalah yang mendapat “kepantasannya”.

Harus ada “reasonable explanation bahwa seorang yang pintar apalagi pemimpin orang banyak, adalah “pantas” kalau ada hubungan dengan seseorang yang mempunyai “status yang baik” di masyarakat. Status seperti ini biasanya diambil dari orang bangsawan atau orang yang berpunya, bahkan berkuasa. Perbuatan meniru orang kaya, orang terkenal, orang berkuasa memang sudah sejak lama, sejak manusia mempunyai status, serta kasta, kedudukan yang membedakan dengan manusia biasa.

Di Inggris, yang amat menjunjung tinggi gelar-gelar kebangsawanan atau seperti halnya dengan negara-negara kerajaan lain, hampir semuanya melengkapi kehebatan seseorang dengan gelar-gelar. Kita tidak lupa bahwa gelar kebangsawanan Lord, sudah lama digunakan untuk “mengangkat” seseorang menjadi tingkat bangsawan. Dan beruntunglah para anggota band The Beatles mendapatkan gelar kebangsawanan bergengsi tersebut. Sejak dua puluhan tahun terakhir ini kerajaan di Surakarta yang disebut dengan Mangkunegaran, “mengobral” gelar kebangsawanan ini kepada banyak orang Indonesia yang bukan berasal dari Suku Jawa.

Seseorang berasal dari Tapanuli mengatakan bahwa seorang bermarga Sinambela telah memperoleh gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung), mencantumkannya di muka namanya yang tercetak dengan jelas di kartu nama. Seorang teman saya dari suku Jawa, karena perkawinannya dengan seorang asal Sumatera Barat, ‘dihadiahi” dengan gelar Datuk Rajo Johan, padahal sesuai pengakuannya sendiri dia tidak menguasai bahasa Padang/Sumatera Barat. Dia mengatakan bahwa namanya itu kalau di bahasa Inggriskan akan menjadi: King John sambil tersenyum, terus terkekeh. Dia juga bercerita ketika upacara sedang berlangsung, sang datuk baru ini dipanggil dengan gelar barunya, tidak sadar dan tidak mengacuhkan, karena memang tidak mengerti satu patahpun, sampai istrinya menggamitnya dan berkata: “Itu, lho dipanggil ….”. Buat saya itu semua lucu, tetapi tidak lucu juga.

Anwari Doel Arnowo

October 02, 2006

 

14 Comments to "Tiru"

  1. Chadra Sasadara  2 March, 2012 at 20:05

    orang jawa (doeloe) mempercayai “trahing kusumo rembesing madu” = semua orang yang berberderajat luhur dan tinggi itu pasti keturunan orang luhur. karena itu setiap muncul penguasa baru di jawa yang sulit dicari asal-usulnya selalu dikaitkan dengan orang besar sebelumnya. Raja Jayabaya disebut sebagai keturunan Parikesit (tokoh pewayangan/cucu Arjuna), Ken Arok disebut titisan Wisnu, Raden Fatah disebut anak Brawijaya V, Panembahan Senopati mengaku sebagai keturuna Handayaningrat, begitu juga Soekarno, Soeharto dan Gus dur dll

  2. Dj.  2 March, 2012 at 19:24

    Cak Doel….
    Terimakasih, satu uraian yang sangat bagus…
    Meniru, kata mas Handoko, sama dengan ASPAL ( ASli tapi PALsu ).
    Dj. banyak belajar dari istri ( Susi ).
    Dia memiliki panca indra yang ke 6 ( menurut Dj. ).
    Kalau dia dikenalkan dengan seseorang, dia dengan cepat tau, sifat orang tersebut.
    Dia selalu mengingatkan Dj. dengan kata sebagai contoh saja…
    Senyuman orang tersebut hanya imitasi…..
    Dj. sering tidak begitu saja percaya….
    Karena orang berbuat baik, ya Dj. balas dngan lebih baik…..( tidak ada yang melarang akan hal ini kan… )
    Tapi sering, setelah beberapa lama, Dj. baru sadar akan apa yang istri Dj. katakan.
    Dan ternyata benar, orang tersebut hanya beberapa hari / minggu atau bahkan bulan sangat baik, setelah itu, baru ketahuan belangnya…..
    Banyak orang senyum manis, tapi hanya imittasi, tidak dengan hati yang jujur…

    Dj. jadi sering mengingatkan orang, hati-hati dengan orang yang murah senyum, seperti Dj. hahahahaha…!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. Anwari Doel Arnowo  2 March, 2012 at 18:44

    Itsmi,

    Minta maaf saya salah menuliskan nama anda mestimya Itsmi saya tulis Itsme.

    Anwari – 2012/03/02

  4. Anwari Doel Arnowo  2 March, 2012 at 17:09

    Itsme,
    Kenyataannya baik buatan sendiri yang tidak berkualitas atau hasil tiruan yang canggih itu dalam penilaiannya masih memerlukan pendapat pihak lain. Tidak bisa dinilai secara subyektif sendirian.
    Dengan demikian maka saya berpendapat sebaiknya saya segera bertindak atau berbuat yang sebaik mungkin yang bisa saya lakukan baru bisa cari refensi atau masukan dari pihak lain untuk perbaikan selanjutnya
    Salam saya,
    Anwari – 2012/03/02.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.