Another Palm Oil Non-Tariff Barrier: Asu Gede Menang Kerahe

Josh Chen – Global Citizen

 

Tanggal 27 Januari 2012 merupakan hari yang suram bagi industri kelapa sawit Indonesia. Hari itu, Environment Protection Agency (EPA) Amerika Serikat mengumumkan bahwa CPO Indonesia belum memenuhi standard batas pengurangan emisi gas rumah kaca. Standard emisi yang ditetapkan EPA untuk biodiesel dan renewable diesel adalah 20 persen, sementara menurut hitungan EPA, CPO Indonesia hanya di angka 17 persen untuk biodiesel dan 11 persen untuk renewable diesel.

Kenapa tiba-tiba Amerika Serikat kembali ‘berulah’? Sekitar lebih satu dekade lalu, Amerika ‘berulah’ pertama kali dengan black campaign minyak kelapa sawit yang dibilangnya dapat merusak kesehatan karena kandungan kolesterol yang tinggi, dan segala macam “riset ilmiah” yang dipublikasikan di berbagai media baik di Amerika sendiri atau internasional. Ternyata tuduhan mengada-ada tsb tidak pernah terbukti, dan justru berbalik menjadi bumerang industri soybean Amerika yang salah satu produk turunannya adalah soybean oil dan juga turunan soybean oil. Ternyata ditemukan bahwa soybean oil dan produk turunannya sangat mengganggu kesehatan karena kandungan trans-fat yang tinggi.

Dengan demikian, black campaign Amerika untuk palm-oil Indonesia otomatis terhenti dan malah berbalik memukul industri soybean mereka. Mulai saat itu, palm-oil Indonesia melenggang bersama kameradnya – palm-oil Malaysia merajai dunia, menguasai sekitar 90 persen CPO (Crude Palm Oil) dunia. Sampai sekitar tahun 2006, Malaysia memegang jawara dunia, tapi pelahan tapi pasti disusul dan sekarang Indonesia adalah jawara untuk produksi dan eksport CPO.

Importir Eksportir Utama CPO – Koran Tempo

Disusul dengan melesatnya harga minyak dunia di 2008 yang hampir menyentuh $150/barrel, harga CPO ikut melesat melebihi $1000/MT. Sejak itu harga CPO bertahan di kisaran $1000’an/MT. Naiknya harga CPO ini karena diikuti dengan naiknya permintaan untuk bahan baku biodiesel, sebagai alternatif kalau harga minyak bumi terus naik.

Palm Oil Price History

 

Negara-negara dengan kebijakan biodiesel

Dengan laju pertumbuhan sekitar 18% per tahun, produksi CPO Indonesia diperkirakan mencapai 26 juta MT di tahun 2012 ini. Dengan tingkat konsumsi domestik yang rata-rata stabil di angka 5 juta MT (mayoritas untuk industri minyak goreng), bisa dibayangkan, sisa 21 juta MT tentu saja diekspor baik dalam bentuk CPO ataupun bentuk olahannya. Salah satu bentuk olahan CPO yang memiliki nilai tinggi adalah biodiesel yang juga dikenal dengan nama FAME (Fatty Acid Methyl Esters).

Key Palm-oil Areas

Sayangnya Indonesia tidak bisa berbuat banyak dengan melimpahnya CPO mereka. Pengolahan CPO menjadi biodiesel harga keekonomiannya masih tidak feasible, terkecuali pemerintah memberikan subsidi untuk mendorong pemakaian biodiesel dalam negeri, daripada subsidi terus digelontorkan untuk BBM, yang makin menyesakkan anggaran negara karena harga minyak terus naik. Naiknya harga minyak tak lepas dari gonjang-ganjing Timur Tengah yang tak berkesudahan, dimana sekarang ini Iran yang menjadi sasaran ‘tawuran’ negara-negara barat, yang mau tidak mau, sadar tidak sadar memengaruhi harga minyak dunia.

Saat ini, Indonesia dan Malaysia lebih memilih mengekpor CPO dalam bentuk mentah, bukan dalam bentuk FAME karena rendahnya nilai ekonomis saat ini dan banyaknya barriers di pasar-pasar utama biodiesel.

Entah mendapat wangsit dari mana, tiba-tiba Amerika Serikat mengeluarkan notifikasi EPA tsb yang mengada-ada dan tidak berdasar. Hasil riset atau penelitian maupun dasar perhitungan untuk menetapkan angka-angka itu dipublikasikan di http://www.gpo.gov/fdsys/pkg/FR-2012-01-27/pdf/2012-1784.pdf yang ‘seakan-akan ilmiah dan canggih’. Tidak ada riset lain yang mendukung claim Amerika Serikat tsb, yang ada “pokoknya segini titik”. Sontak stakeholders industri sawit Indonesia bereaksi keras, kali ini Malaysia ikut berang karena terkena dampak langsungnya. Swasta dan instansi terkait menggelar rapat akbar tanggal 2 Maret 2012 di Medan untuk melakukan konsolidasi dan menyusun bantahan yang disertai data-data ilmiah terkait, hasil penelitian dan riset yang akan dikirim ke pemerintah Uncle Sam dan kemungkinan delegasi Indonesia dan Malaysia akan berangkat ke Amerika untuk melakukan counter notifikasi EPA tsb.

Tidak menampik fakta bahwa industri kelapa sawit Indonesia bukannya tanpa dosa lingkungan, dan itupun terus menerus dibenahi dengan salah satunya melakukan sertifikasi RSPO (Roundtable for Sustainable Palm Oil). Namun memvonis CPO tidak memenuhi standard emisi yang ditetapkan secara sepihak yang dikuatirkan akan berbuntut panjang dengan penetapan CPO sebagai bahan baku biodiesel yang tidak ramah lingkungan. Jika Amerika Serikat sudah mengetokkan palu vonis demikian, tentu akan disambut gembira oleh European Union yang sudah sejak lama mengincar untuk melakukan pelarangan total CPO Indonesia sebagai bahan baku biodiesel untuk pasar Eropa. Biodiesel Eropa yang berbahan rapeseed oil tentu merasa terancam dengan CPO yang jauh lebih efisien menghasilkan minyak.

Industri utama minyak nabati Amerika Serikat (soybean oil) dan Eropa (rapeseed oil) secara faktual ditinjau dari sisi manapun tidak akan dapat bersaing dengan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia. Dari tahun ke tahun peperangan Amerika Serikat dan Eropa memerangi CPO terus berlangsung, dengan intensitas dan justifikasi yang berbeda-beda.

Melihat fakta-fakta dan grafik di bawah ini, apalagi kalau bukan alasan ekonomi sampai-sampai Amerika Serikat dan Eropa selalu berusaha sekuat tenaga mencegah penetrasi CPO lebih jauh ke market mereka.

World Palm-oil production 1989 – 2007

 

Segmentasi pertanian Indonesia

 

Oil producing corps

 

World consumption of vegetable oils (bisa kita lihat kenaikan konsumsi minyak sawit dari tahun ke tahun)

 

Yields tanaman utama penghasil minyak (MT/Ha)

 

Average oil yields

Mencermati grafik dan data-data semua di atas, adakah alasan lain selain alasan ekonomi yang dijustifikasi dengan scientific environmental excuses? Sebagai dedengkot free-world, dengan salah satu organisasinya World Trade Organization, yang mendengungkan perdagangan bebas, jika Amerika Serikat tanpa ‘justifikasi ilmiah’, melarang impor CPO adalah pelanggaran besar, sehingga satu-satunya jalan adalah non-tariff barrier yang itupun tidak akan pernah diakuinya.

Bandingkan luasan tanam tanaman penghasil minyak dengan yields masing-masing. Dengan luasan TERKECIL menghasilkan minyak TERTINGGI. Bagaimana bisa dibilang bahwa emisi CPO lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya? Lihat juga biodiesel yang dihasilkan oleh palm-oil, soybean dan rapeseed. Palm-oil menghasilkan 635 gallon/acre, rapeseed 127 gallon/acre dan soybean hanya 48 gallon/acre.

Seperti pepatah Jawa: asu gede menang kerahe (anjing besar menang galaknya/berkelahi)…

 

Reference:

http://www.worldgrowth.org/assets/files/WG_Indonesian_Palm_Oil_Benefits_Report-2_11.pdf

http://www.gpo.gov/fdsys/pkg/FR-2012-01-27/pdf/2012-1784.pdf

http://www.fas.usda.gov/gainfiles/200812/146306701.pdf

http://www.fas.usda.gov/gainfiles/200702/146280302.pdf

http://www.ptpse.net/biomass-asia/poster/30.%20Novizar%20Nazir_Full%20Paper.pdf

http://www.rericjournal.ait.ac.th/index.php/reric/article/viewFile/170/132

http://www.biodieselmagazine.com/articles/8311/epa-finds-palm-oil-biodiesel-doesnt-meet-minimum-ghg-reductions

http://www.bioenergy.wa.gov/OilSeed.aspx

http://www.pecad.fas.usda.gov/highlights/2007/12/Indonesia_palmoil/

http://www.indexmundi.com/agriculture/?commodity=palm-oil&graph=production-growth-rate

http://www.soyatech.com/Palm_Oil_Facts.htm

 

Artikel terkait:

A Tale That Wasn’t Right

Liquid Gold

What left from a world-class hypocrisy conference?

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

106 Comments to "Another Palm Oil Non-Tariff Barrier: Asu Gede Menang Kerahe"

  1. Handoko Widagdo  6 March, 2012 at 07:29

    Mbak Dewi dan Kang JC, kita perlu sangat hati-hati dengan biofuel. Sebab lahan yang dibutuhkan untuk memroduksi akan bersaing dengan lahan untuk pangan. Belum lagi proses produksinya (cara bertanam) dengan skal industri menggunakan banyak bahan kimia yang meracuni bumi.

  2. Handoko Widagdo  6 March, 2012 at 07:26

    Itsme, saya bukan orang Katholik. Tapi saya belajar tentang theologi pembebasan. Jujur saja, paham Theologi Pembebasan di indonesia justru tidak diusung oleh teman-teman Katholik, tetapi teman-teman Islam (pada jaman Suharto). Bagi saya, dengan memelajari theologi pembebasan, membuktikan bahwa agama juga bisa menjadi alat perjuangan rakyat.

  3. Sasayu  6 March, 2012 at 04:17

    Anddd they insist that Americans are not stupid….yeahhh right. Mengumbar tentang sustainability, sepertinya tidak perlu ditunjuk lagi siapa penghasil emisi gas terbesar di dunia.

  4. Dj.  6 March, 2012 at 03:15

    Dimas… Terimakasih untuk artikel yang berkwalitet…..
    Dj. hanya memangdang persoalan bukan di kelapa sawit atau apa…
    Tapi semua di kotori dengan politik.
    Yang sepaham, jelas akan membela cara pikir Amerika dan tidak sepaham, jelas akan ngedumel.
    Terserah lah, yang jelas mikir diri sendiri juga belum baik.
    Biar yang digaji untuk itu yang memikirkannya.
    Salam manis untuk keluarga dirumah ya….

  5. Dewi Aichi  6 March, 2012 at 00:02

    Waks…lupa ngga tak enter dari tadi ha ha….eh iya……aku tuh tiap Jumat minum jus tebu setengah liter….bisa jadi truk nih..

    Bahan bakar dari tebu biasanya untuk kendaraan besar seperti bus dan truk.

  6. Dewi Aichi  5 March, 2012 at 23:58

    Betul mas Jc ….tereutwma tebu memang sudah menjadi prioritas untuk lahan yang akan dijadikan tempat penanaman tebu. Di samping itu tebu yang dijadikan bahan bakar….tingkat polusinya rendah, tanaman tebupun mempunyai efek menyejukkan.

  7. Kornelya  5 March, 2012 at 22:14

    Suhu, reaksi pemerintah Amerika bukan datang secara tiba-tiba, tetapi melalui warning dengan “grace period” yang cukup untuk membuat bantahan. Namun pemerintah kita, lebih memilih manggut dan mengalah, sambil ngedumel didzalimi Amerika. Pemerintah terlalu banyak membuang waktu untuk pencitraan dalam negeri. Kalau Malaysia memilih ikut dalam roundtable talk kemarin, karena banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia , pihak Indonesia hanya sebagai sleeping patner. Malaysia tidak bodoh, mereka pelobby ulung, apakah tangan mereka tidak ikut campur dalam mempengaruhi kebijakan Amerika?. Apasih susahnya menyelundup/membawa sawit dari Indonesia ke Malaysia tanpa dokumen, lalu tinggal naikan hasil produk sawit Malaysia sesuai dengan rasio lahan. Original countrynya MALAYSIA . Watch out their statistic export from April 2012 forward. Selain itu, kaum pembela lingkungan hidup Dunia termasuk di Amerika, punya andil dalam meningkatnya angka kemiskinan dunia. Segala produk pertanian diupayakan dikonversikan kebiodisel, Singkong, jagung, tebu, gandum, kedelai dll. Bukan hanya CPO dalam bidang pertambanganpun pemerintah kita harus, merevisi perjanjian eksplorasi, contohlah si nekad Hugo Chaves. Dia bahkan berhasil menyisipkan klausan, “pertikaian PMA dengan pemerintah Venezuela, tidak akan dibawah ke lembaga mahkama International” , tidak setuju? Silahkan pergi.

  8. J C  5 March, 2012 at 21:56

    Dewi Aichi: kalau air jadi bahan bakar alternatif sebenarnya sudah sejak lama dimungkinkan, teknologi sederhana dengan hidrolisa. Namun menurut conspiracy theory yang beredar, sudah sejak lama pengembangan bahan bakar air ditentang dan dicegah dengan segala upaya tangan-tangan tak terlihat untuk melanggengkan bisnis abadi minyak petroleum ini. Benar tidaknya, entahlah.

    Di Brazil lha ya irit banget, wong jus tebu difermentasi jadi tuak dengan kemurnian 98%, dituang ke tanki, mobil jalan. Tebu tinggal tanam, panen, dijus, difermentasi, ini benar-benar contoh renewable fuel…makanyaaaaaaaa Brazil adalah salah satu negara yang dibuenci puooolll sama tetangga sebelah utaranya itu…

  9. Dewi Aichi  5 March, 2012 at 21:53

    Barusan saja aku ngobrol sama ibunya temannya anakku(kami sudah akrab), bahwa suaminya habis bahan bakar tidak lebih dari , jika dirupiahkan, 200 ribu/ bulan, padahal mobil cuma berhenti sekitar 8 jam/hari, selebihnya, mobil selalu jalan. Bahan bakar alkohol yang sangat murahpun menjadi pilihan, memang betul, bahkan fantastico Minggu lalu, membahas tentang air untuk diupayakan menjadi bahan bakar alternatif…entah bagaimana prosesnya aku ngga tau…

  10. J C  5 March, 2012 at 21:47

    Mbakyu Probo: monggo, monggo ambil sendiri lenga klentik’nya…

    Nuchan: betul sekali susu formula dan susu bubuk memang kudu dihapuskan dari muka bumi, tapi yah gimana lagi…waduh ini bahas susu, kalau sampai Kang Anoew dengar/ikut baca bisa gawat dan ambyar ini artikel…

    Silvia: duh, jangan gitu, biasa-biasa saja aku ini…

    Linda: aku ikutan nyomot apapun yang kamu goreng garing itu ya…

    Itsmi: lho kok kamu ikutan protes susu? Nanti di Scheveningen bersih donk?

    Nuchan: sekali-sekali menggebrak dengan artikel yang seperti ini, sudah agak lama absen dengan model-model kayak gini…

    Hennie: tengkyu banget sudah mampir ya…salam …. – 3

    Dewi Aichi: aku sebenarnya kepingin nulis tentang tidak tergantungnya Brazil dengan bahan bakar minyak. Mau harga minyak melesat sampai $200/barrel, Brazil tidak peduli, betul-betul energy independent. Semua kendaraan yang dijual di Brazil kudu FFV – Flex Fuel Vehicle, bisa diisi alkohol dan bisa diisi bensin, mohon koreksi jika salah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)