Dua Istri, Dua Suami

Ida Cholisa

 

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, aku terbilang cukup beruntung berada dalam lingkungan keluarga mapan yang hampir tak pernah kekurangan apa-apa. Papa seorang dokter dan mama dahulu seorang pebisnis. Hingga kemudian mama mengandung anak keempat dan ia begitu sangat mengharapkan anak keempatnya lahir berjenis kelamin laki-laki. Tiga kakak perempuanku semua berjenis kelamin perempuan. Mama kemudian mendandaniku layaknya lelaki maskulin demi memuaskan keinginannya memiliki anak lelaki. Penampilan tomboy-ku pun terbawa hingga aku dewasa.

Prasojo, kakak tingkat di kampusku ternyata menyukai penampilan ala lelakiku. Hingga kemudian hubungan kami berlanjut ke hubungan yang sangat dekat, hubungan atas nama cinta dua insan manusia. Kisah cinta kami terus berlanjut hingga kami sama-sama bekerja. Begitu menyelesaikan kuliah di fakultas Hukum aku magang bekerja di kantor notaris yang letaknya berdekatan dengan perusahaan tempat Prasojo bekerja. Hingga suatu ketika Prasojo mesti menerima kenyataan bahwa orang tuaku telah menjodohkanku dengan dr. Imam, anak tunggal kolega Papa yang sama-sama berprofesi sebagai dokter.

Prasojo pelan-pelan menjauhiku, tidak ada usaha keras untuk menentang arus orang tuaku. Aku sendiri jarang bertemu Mas Imam meski kami telah saling dipertemukan. Mas Imam tengah menyelesaikan S2 di Australia, dan enam bulan mendatang ia akan kembali ke Indonesia. Masa-masa gamang bersama Prasojo dan jauhnya jarak calon suamiku memungkinku berhubungan dengan pria lain. Ia Bob, seorang pengacara yang berasal dari Manado Sulawesi Utara. Aku terperangkap dalam cinta tiga lelaki; Prasojo, Imam dan Bob.

Beberapa bulan kemudian Prasojo berniat kembali menyatukan cinta bersamaku, dan ia mendapati bahwa telah ada Bob yang juga tengah mendekatiku. Dan pada akhirnya cinta Prasojo dan Bob kandas setelah Mas Imam kembali ke Indonesia dan membawaku pada pesta pernikahan yang sangat meriah.

Hanya aku dan kedua orang tuaku yang menyimpan tabir rahasia diriku. Bahwa ketika Mas Imam menikahiku, sesungguhnya aku telah tak suci lagi. Ada seorang lelaki yang telah merenggut harta berharga yang kumiliki. Seorang lelaki yang selalu kurahasikan siapa namanya. Pun kepada papa mamaku, aku tak pernah mau membuka kejujuranku.

Awal mulanya aku bahagia hidup bersama Mas Imam. Hingga kemudian aku hamil Mas Imam berbalik membenci dan memperlihatkan sikap tak menyenangkan. Sejak saat itu, aku hidup dalam rumah tangga yang dipenuhi keterdiaman, kebisuan, kesenyapan dan kehampaan.

Beban berat semakin menghimpitku saat anak perempuan yang kulahirkan ternyata mengidap penyakit kanker getah bening. Mas Imam sama sekali tak mau menyentuh anakku dengan dalih itu bukan anaknya, bukan darah dagingnya.  Sekencang apa pun aku berusaha mengatakan tidak, Mas Imam tetap tak mau memercayaiku.

Masa laluku memang sempat diwarnai kekelaman. Niatku untuk berbakti sepenuhnya kepada suamiku tinggal niat kosong belaka. Aku selalu menjumpai saat di mana Mas Imam terus melecehkan  dan memalingkan muka terhadap bayiku. Hingga Belinda, anak bayiku beranjak besar Mas Imam tetap tak mau mengakui ia sebagai anaknya. Bahkan ia terang-terangan bermain api dengan Verica, mantan pacarnya saat ia menempuh studi di Australia. Tak hanya Verica, Ambar Lestari, teman masa kuliahku yang kebetulan pernah bertemu suamiku di pesta pernikahan kawan lamaku, pun dilahap juga oleh suamiku. Ambar yang cantik dan berpenampilan modis dan selalu menampakkan wajah riang gembira itu berhasil menggeserku dari ruang hati suamiku.

Aku berjalan tanpa siapa-siapa. Intan sahabat karibku mengajakku untuk berkonsultasi dengan ustazah Nisa, istri uztad Helmi yang merupakan guru mengaji suaminya. Niatku untuk mendapatkan ketenangan terusik demi mendapati bahwa hatiku mulai terkotori perasaan yang salah pada Ustad Helmi. Tanpa sepengetahuan ustazah Nisa, aku kerap melumat ketampanan wajah suaminya saat ada kesempatan berkunjung ke rumahnya. Meski berkali-kali ustazah Nisa memintaku untuk menemuinya di ruang terpisah, aku tetap tak mau menurutinya. Kupilih ruang tamu di mana suaminya bisa leluasa mendapatiku duduk di ruangan rumahnya yang asri itu. Jatuh hatiku pada ketampanan sang ustad yang bermula dari kesepian hatiku pun mesti kusudahi saat ustazah Nisa mulai mengendus ketidakberesanku. Intan sempat kesal kepadaku, hingga persahabatan kami menguap seiring kasus tersebut.

Mas Imam semakin terang-terangan mengangkangiku. Aku dianggapnya sampah tak berguna. Puncaknya saat Verica datang menemuiku di rumah, dan mengatakan bahwa Mas Imam hendak menikahinya. Darahku berdesir hingga naik ke ubun-ubun. Aku berniat mengajukan cerai, tetapi kedua orang tuaku melarang keinginanku. “Jika kau bercerai dari Imam, tamatlah riwayat kami.” Demikian kata mama kepadaku saat itu. Aku baru tahu bahwa papa terlibat hutang ratusan juta rupiah pada papa Mas Imam saat ia mendirikan rumah sakit swasta di bilangan Jakarta. Hutang-piutang itu dianggap selesai jika aku mau menikah dengan Imam anak kolega papa. Om Hendra, teman papa itu, kabarnya ingin memiliki menantu asal Jawa sepertiku. Bukan isapan jempol jika parasku yang menawan menjadikan banyak lelaki yang jatuh hati padaku. Bahkan lelaki tua macam Om Hendra pun berniat memasangkan aku dengan anak lelakinya.

“Aku tak mau punya menantu yang tak jelas  asal-usulnya. Apalagi menantu bule kayak pacar-pacar Imam itu. Mauku, Imam beristi orang lokal yang terjamin kesuciannya, pendidikannya, bibit, bebet serta bobot. Dan Naning sepertinya calon yang tepat untuk anak lanang semata wayangku.”

Kalimat Om Hendra saat bertandang ke rumahku memang terbukti dengan dilangsungkannya pernikahan antara aku dan anak tunggalnya. Tanpa pernah ia sadari, aku  bukanlah tipe menantu yang seperti diharapkannya. Bukankah aku telah tak perawan lagi saat aku bersanding dengan anak lelakinya?

Pernikahan meriah tergelar dengan pesta yang dipenuhi hingar-bingar. Dan sesuai kesepakatan awal, utang-piutang itu pun beres dengan aku mau bersanding dengan anak lelakinya. Rumah sakit yang dibangun papaku selamat, bahkan Mas Imam berpraktek pula di rumah sakit milik papaku.  Om Hendra  dan istrinya,  Tante Irma, sangat ingin menimang cucu dari rahimku. Satu yang sering ia bangga-banggakan pada teman-temannya adalah bahwa aku menantu yang pintar, masih ada titisan darah biru yang mengalir di tubuhku, serta berasal dari keluarga terpandang  dengan tingkat pendidikan yang tinggi.

Meski akhirnya anak yang kulahirkan berpenyakitan, kedua mertuaku sangat mencintainya, bertolak belakang dengan sikap suamiku yang sama sekali tak peduli dengan anak perempuanku.

Begitulah, meski sebesar apa pun Mas Imam mengkhianati dan menyakitiku, aku tetap tak berani bertindak apa pun untuk melepaskan diri dari perkawinan yang dingin itu.

“Aku tak akan menceraikanmu, karena bagiku aib sebuah perceraian itu. Maka, nikmati saja perkawinan atas kehendak orang tua kita. Seperti halnya aku bebas bercinta dengan perempuan lain, maka kupersilakan kau melakukan hal yang sama dengan pria lain.”

Gila, aku merutuk dalam hati. Pernikahan macam apa ini?

“Tak usah sok suci, tak usah bermimpi memiliki keluarga indah yang dahulu pernah kauimpi. Sebab… kau sendiri yang memulainya. Kau mengkhianatiku, telah tidur bersama pria lain sebelumku. Dan… aku tak yakin bahwa anak yang kau lahirkan adalah anak dari benihku!

Ucapan pedas Mas Imam sontak menjatuhkanku ke dalam jurang yang paling dalam. Kusangka suamiku tak mengetahui daftar hitam masa laluku. Ternyata diam-diam ia mengetahui semua itu.

Aku tahu Mas Imam telah menikahi Verica. Pukulan terberat menghujaniku. Keinginanku untuk menjadi  istri dan ibu yang baik dengan mengubur semua kenagan masa lalu kini berpendar hingga lama-lama menghilang. Sakit hatiku membuatku bertekad untuk membalas semua perbuatan suamiku.

Aku bermain api dengan Mister Un, lelaki Korea teman bisnis suamiku.  Ia pengusaha properti yang menawarkan kerja sama dengan suamiku  beberapa bulan silam. Saat suamiku berada di luar kota,  ia kerap mendatangiku dan aku selalu siap melayaninya untuk membunuh rasa sepi yang sekian lama mengungkungi diri. Kulakukan semua itu dengan penuh kesadaran diri. Hingga kemudian Mister Un yang telah beristri itu berniat menjadikanku sebagai istrinya. Bagiamana mungkin? Bukankah aku wanita bersuami?

Aku menjalani profesi ganda. Istri sah Mas Imam, dan istri siluman Mister Un. Kulakukan itu hingga dua tahun tahun lamanya. Aku lelah  sebenarnya menjalani kehidupan seperti ini. Anakku Belinda semakin terpuruk dalam sakit kankernya. Berpuluh kemoterapi ia jalani, dan semua biaya pengobatan ditanggung Mister Un dengan kompensasi aku bersedia melayani kapan pun ia mau. Yang kutahu kemudian, Mister Un menderita penyakit kelamin! Aku berusaha menghindar darinya setelah mengetahui semua sepak terjangnya, tetapi ia bersikeras tak akan melepaskanku.

Mister Un mulai mengancamku, akan melenyapkanku atau suamiku. Hingga suatu malam sebuah kejadian mengerikan terjadi di rumah mewahku. Gerombolan pria bertopeng memasuki rumahku dan menyeret keluar serta membekap suamiku. Di depan mataku suamiku dieksekusi hingga kematian menjemputnya. Berita merebak sesudahnya, dan hatiku rapat-rapat menyimpan rahasia besar di balik pembunuhan berdalih perampokan itu. Aku tahu siapa dalangnya, Mister Un.

Setelah kematian suamiku aku dilanda rasa ngeri tak menentu. Bayangan penyakit kelamin yang diderita Mister Un selalu menghantuiku. Bertahun-tahun ia menjadi suami tersembunyiku. Dan kini di saat suami sahku telah tiada, aku justru dicekam rasa takut bersuamikan Mister Un. Ia lelaki pengidap hiperseks. Gaya bercintanya yang menakutkan menorehkan seribu kekhawatiran di hatiku. Aku bertekad menghindar dari lelaki itu.

Aku harus pergi. Kini tak ada lagi siapa pun yang mampu melawan keinginanku. Tapi… hatiku kembali miris. Bagaimana aku membiayai pengobatan Belinda jika aku berpaling dari Mister Un? Hatiku kembali tercabik-cabik. Aku takut pada penyakit kelamin yang diderita lelaki yang hendak menikahiku, terapi haruskah aku meninggalkan anak semata wayangku yang penyakitan itu? Tidak. Aku tak boleh melakukan itu. Nyawa anakku melebihi apa pun di dunia ini. Aku sanggup berkorban apa pun demi anakku.

Aku menyanggupi Mister Un untuk resmi menikahiku. Dan aku adalah istri ketiga setelah dua wanita cantik ada di kiri kanan lelaki itu. Bahkan aku tahu pasti berapa puluh selir yang selama ini melayani nafsu besar lelaki itu. Kujalani pernikahan berselimut mendung menakutkan itu. Sewaktu-waktu,  penyakit kotor seperti yang diderita lelaki itu akan berpindah pula ke dalam tubuhku. Oh ngerinya!

Belinda sakit parah. Seorang lelaki terdiam sedih di depannya. Lelaki itu adalah papa Belinda, lelaki yang telah menitiskan benih di dalam rahimku beberapa hari menjelang pernikahanku. Ia mendatangi rumahku saat  Mister Un tak ada di rumah. Aku sengaja menghubunginya perihal anak  darah dagingnya. Begitu ia tahu bahwa Mas Imam telah berpulang, ia memintaku untuk kembali kepadanya. Ia Zihan, teman satu kantor saat aku bekerja di kantor notaris, tak pernah tahu bahwa telah ada lelaki lain yang kini menguasai diriku. Aku kembali bimbang. Hidupku mirip permainan yang penuh liku-liku tak karuan. Haruskah aku hidup bersama dua suami sekaligus seperti yang pernah kulakukan sebelumnya?

Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku lelah. Cinta bagiku setitik debu yang melayang-layang di udara.

Belinda menyerah. Kanker getah bening telah merenggut nyawa satu-satunya. Aku berjalan tak tentu arah. Telah lenyap semua harapan. Mas Imam telah meregang nyawa hingga menemui ajal di tangan lelaki teman selingkuh yang diam-diam menikahiku, dan kini anakku mati dengan pemandangan yang memerihkan hatiku.

Dan kini… aku siap menerima kenyataan pahit. Penyakit kelamin yang diderita Mister Un suami tersembunyiku, diam-diam telah bercokol dan bersarang di dalam tubuhku…

Aku bagai daun kering yang melayang-layang tertiup angin. Takdir hidupku, pihan hidupku,  membawaku pada kehancuran yang meluluhkantakkan segenap perasaanku…

Selembar daun kering itu kemudian jatuh di atas tanah, dan tergilas roda-roda raksasa hingga tak ada bekas yang tersisa…***

 

14 Comments to "Dua Istri, Dua Suami"

  1. Mawar09  9 March, 2012 at 04:31

    Duh………… rumit banget kehidupan Naning, tegar sih dia cuma sayangnya dia menambah masalahnya sendiri. Tulisan yang bagus Mbak Ida.

  2. Dewi Aichi  6 March, 2012 at 16:22

    Pak Iwan…itu kan fiksi he he he……kenyataannya lebih parah lho …!

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 March, 2012 at 16:17

    …..biyung tuluuuuuuung…

    Lha, ini bukanya sesuai program KB semasa Orba, Catur Warga (2 suami 2 istri)?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.