Palsu

Anwari Doel Arnowo

 

“Suka yang palsu?”

“Tidak” jawab anda tegas.

Lalu banyak yang ikut bicara: “Kalau saya pasti tidak mau ikut-ikutan!!”.

Masa iya??

Paling gampang untuk merubah pernyataan tegas di atas adalah dengan cara mengajukan petanyaan sederhana: “Apakah anda di rumah memiliki compact disc lagu atau film yang bajakan, yang tidak original? Artinya tidak membayar pajak dan royalty kepada para artis dan pencipta lagu maupun pengarang ceritanya?” Belum menjawab saja, tiba-tiba banyak sekali di antara kita, mungkin termasuk saya, akan menjawab sebaliknya dari pernyataan di atas.

Sebaik-baiknya saya menjaga kelakuan, sepandai-pandainya saya mengurus dan mengawasi rumah saya, hampir dapat dipastikan saya akan kebobolan barang-barang seperti itu. Bukankah pembantu, sipapaun yang ikut hidup di tempat tinggal  saya juga memiliki CD dan jam serta blue jeans palsu?

Apa yang begini hanya di Indonesia saja? Tidak juga!!! Diluar negeri juga bisa. Bagaimana bisa? Ya bisa saja!!

Contoh cerita berikut adalah nyata karena saya alami sediri. Beberapa teman saya yang semuanya bule menginap di Hotel Bintang Lima dan berbincang seru mengenai pengalaman-pengalaman mereka yang wah, wah, wah.

Salah satunya bercerita bahwa dia mempunyai mobil merk Bentley di Inggris, atau telah naik mengendarai Mercedes type terbesar dan terbaru di Auto Bahn di Jerman dengan kecepatan rata-rata dua ratus kilo meter per jam. Baru beberapa jam saja, bensinnya terkuras habis karena kecepatannya tersebut. Yang lain bicara soal kudanya yang harga seekornya diatas tiga puluh ribu USDollar malah dia juga punya yang harganya sekitar seratusan ribu Dollar seekor. Ferrari punya dua buah dan pokoknya semua serba mewah. Namanya saja orang-orang kaya!!

Pembicaraan melantur dan mereka saya tanyai di Jakarta sudah pergi kemana saja?

Oh yes, I went to Blok M in Kebyoran”

“Blok M??”

“What brought you there??” Tanya saya.

This is most interesting, I bought about ten fake watches as give away to friends back home. Look! Can you see any difference? This one that I am wearing, is it a genuine or a fake one?

Saya geleng kepala. “I do not know”.

Kelihatan bangga sekali dia menunjukkan arloji Rolex palsunya. “I have my original in the room upstairs. And to tell you frankly, I myself can not tell it outright and I have to be verrry very careful not to be deceived by the outside appearance. If I weigh them, then I will know immediately which is which !!”

Saya pikir orang-orang kaya seperti ini masih mau menyerempet bahaya dengan barang-barang tiruan yang seperti itu. Tetapi memang kalau dipikir, mereka mengerjakannya hanya karena kesenangan saja (just for fun), mau mengambil untung yang bagaimana?

Secara setengah bergurau, saya menggoda dan menanyakan kepada salah seorang yang dari Amerika Serikat dan juga kepada yang lainnya dari Eropa: “Did you by any chance, bought the compact disks during your stay here?”. Terkejut saya dia menjawab dengan suara meninggi. “Hey that is a good idea, I need many for my daughter only!!!?”

Can you take us there, where they sell??” Nyerocos terus dia tanpa henti.

Yang satunya menimpali tidak mau kalah: “Let’s go

Saya jawab bahwa saya tidak bisa ikut tapi saya bisa menyuruh pengemudi mobil saya untuk mengantar dan menunjukkan tempatnya. Mereka mengangguk dan berangkat dengan muka penuh harap. Seperti anak kecil atau remaja saja layaknya roman mukanya.

Keesokan harinya saya tanya pak sopir, apa benar mereka bisa belanja disana. “Iya Pak,” jawabnya “Yang tinggi dan gendut itu membeli paling banyak sekitar duapuluh CD lagu-lagu dan DVD, semua mereka memborong hampir seratus buah”.

Biasanya, kalau kawan-kawan seperti ini membeli kenang-kenangan barang seni di Bali atau Yogya, saya senang sekali karena telah menolong sebagian pekerja seni dan pengrajin serta pedagang lainnya dalam mencari dan menunjang kehidupannya.

Akan tetapi barang-barang palsu ini? Saya tidak tahu harus bergembira atau saya harus merasa berdosa !!!

Itu adalah soal-soal “sepele” yang tidak sepele!!

Begitulah cara-cara memasukkan barang illegal di luar negeri, katanya buat oleh-oleh. Berapa tahun hal-hal tersebut telah berlangsung tanpa pengawasan?

Saat ini kalau ada barang palsu seperti di atas sudah ada alat yang mendeteksinya atau bea cukai serta merta menyita barang tersebut.

Yang lebih dalam hal besaran masalahnya, dan bersifat Nasional, dapat kita simak dari media koran, radio dan televisi. Banyak pejabat yang telah dilantik, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau Kepala Daerah sedang dalam fungsi jabatan sehari-harinya, tiba-tiba diberitakan memiliki gelar palsu.

Gelar palsu?

Wah itu semua bukan berita baru.

Kalau di Indonesia, bukan hanya didaerah-daerah di pulau Jawa, orang memuja gelar, diseluruh Indonesia pun seperti itulah. Di Sumatera, di Kalimantan dan di Sulawesi serta Indonesia Timur, bahkan boleh dikata hampir semua daerah. Mengapa orang tergila-gila pada harta yang bernama gelar. Padahal harta yang satu ini tidak memiliki bentuk physic? Bentuk physicnya akhirnya dibuat juga, dari bulu-bulu burung yang dihiaskan di kepala para hulubalang dan kepala suku, pedang dan tombak serta perisai di kalangan bangsawan, demikianpun halnya dengan ikat pinggang lebar dengan simbol-simbol yang menggambarkan bahwa siempunya adalah juara gulat professional.

Karena ilmu perang, kegagah-beranian mudah ditunjukkan, tidak demikian halnya dengan ilmu pengetahuan yang mempunyai bentuk yang agak lain. Ilmu pengetahuan ditandai dengan simbol seperti toga, papan nama dan gaya. Gaya? Iya, gaya seorang terpelajar dengan segala cirinya. Kalau professor begini gayanya dan kalau kepala Sekolah Dasar, begitu gayanya. Juga ada gaya ustadz dan ada gaya pastor, semua merasa perlu memiliki identitas. Sedang pengemis sajapun juga memiliki identitas yang ditunjukkannya. Jadi gaya, identitas itu, asli atau palsu amat tergantung kepada keperluan dan kepada peringkatnya sendiri-sendiri. Anda tentu melihat tayangan sebuah acara di televisi perihal seseorang pengemis palsu, yang sengaja membuat luka di tubuhnya, atau membalut anggota badannya yang tidak apa-apa atau sehat, agar bisa memancing orang lain berupa rasa iba.

Dapatlah diambil kesimpulan kebesaran, kepiawaian dan gaya kemewahan itu adalah unsur-unsur yang dirasakan sebagai sesuatu yang diperlukan oleh manusia selama ini, sejak dari jaman dahulu kala, sehingga hari ini, sekarang sampai saat yang akan datang. Tidak pernah berhenti. Pandai-pandailah kita memilih dan memilah mana-mana yang sesuai untuk diri kita. Karena hanya kita masing-masing yang tahu.

Saya pernah memilih dan kemudian hari toh terpaksa harus saya tanggalkan dan tinggalkan pilihan saya tersebut. Contohnya memasang dasi panjang. Selama sembilan tahun terakhir ini saya hanya sekali saja mengenakan dasi, yakni dasi kupu-kupu. Terpaksa karena memasuki kompleks istana Negara untuk mengikuti suatu acara. Itupun saya selingi dengan memakai ikat pinggang dan sepatu boot cowboy.

Sebenarnya semua itu adalah beban pada diri manusia sendiri akan tetapi banyak orang yang amat “menikmati beban” tersebut dengan menyandangnya hampir sepanjang hidupnya. Beban ada yang bersifat nyata (physic) dan ada yang bersifat maya (illusion, delusion atau mungkin malah hallucination).

Kalau seorang sopir pribadi mempunyai hallucination dan karenanya di dalam impiannya itu dia terpasang sebagai actor, itu biasa terjadi. Mungkin sekali patut disebut sebagai normal, karena dia merasakannya setiap hari, melihat bagaimana menjadi seorang yang besar seperti bossnya yang duduk di belakan tempat duduknya di mobil.

Ada cerita seorang boss menanyakan kepada sopirnya apa yang dkerjakannya kalau selesai bekerja ?

Jawabnya: “ Saya ikut kuliah pada malam hari”.

Bossnya bertanya: “Berapa lama lagi selesai”

Jawab sang sopir: “ Tiga tahun lagi”

“Lho, kan masih lama juga, ya?” kata sang Boss

“Iya. Pak. Masih panjang jalan yang harus ditempuh agar dapat duduk di belakang seperti Bapak sekarang” (It is a long way to be able to sit in the back like you are doing now, Sir).

Apabila sang sopir itu nanti mampu mencapai cita-citanya tadi, bebannya tidak terasa berat. Bagaimana kalau dalam mencapai cita-citanya itu dia mengalami kekecewaan karena muncul unsur mendadak yang mungkin membuatnya nyaris gagal? Bebannya tiba-tiba, menjadi besar. Itulah risiko.

Pak sopir setelah selesai dengan hallusinasinya seharusnya membuat evaluasi mengenai pantas atau tidaknya, dalam berupaya mewujudkan impiannya. Apakah dia mempunyai modal yang cukup seperti tertera didalam kisah sopir dan Boss di atas. Kalau kurang atau memang tidak mampu, maka anggap saja hallusinasi tadi hanya sebagai mimpi, tidak lebih.

Itu hampir mirip dengan seorang tukang becak -maaf saya mengambil contoh ini– yang merindukan posisi sebagai seorang Menteri dalam sebuah Kabinet di dalam Pemerintahan Negara. Ibarat yang cocok adalah Pungguk Merindukan Bulan.

Kesimpulannya: sebuah hallusinasi meskipun tidak nyata ternyata bukan merupakan sesuatu yang palsu. Karenanya menurut ilmu psychology, berhallusinasi atau melamun itu menyehatkan jiwa.

Sifatnya positip, bukan negatip.

Seberapapun orang seperti saya atau siapapun orang lain yang tidak mau mempunyai beban seperti gengsi, atau bergaya dalam hidup bermasyarakat, sedikit atau banyak pasti pernah bersinggungan dengan hal itu. Nasihat paling baik adalah: cepat lepaskanlah!!

Seorang yang belum pernah memegang uang, pasti akan merasakan bahwa uang adalah segala-galanya untuk menyelesaikan segala persoalan/masalah yang dipunyainya. Ternyata mempunyai uang banyak dan menjadi penguasa uangpun, masalah masih juga timbul tenggelam dan banyak yang masih susah untuk menyelesaikannya. Bagi pembaca yang masih dalam tahap belum mempunyai akses ke uang dalam jumlah banyak, harap mencamkan contoh diatas dan mengantisipasinya. Uang itu perlu dan merupakan alat dan sarana penunjang kehidupan, yang utama jangan kita membiarkan diri kita menjadi alatnya uang atau diperalat oleh uang.

Saya sudah lama merencanakan untuk dapat hidup dihari tua dengan tidak memegang uang tetapi dapat hidup dengan biasa dan tenang. Tidak mudah bisa mengerti hal ini memang terutama bagi yang masih berjuang menghidupi keluarganya, tetapi saya sedang mengalaminya.

Itu semua berhasil karena saya berpedoman, bahwa semua kebutuhan saya pada usia tua seperti ini, harus makin lama makin mengecil.

Itu berlaku dalil dalam ilmu matematics bahwa curva sinus – cosinus adalah naik dan turun dengan teratur dan perodik, berkelanjutan.

Usia tua adalah pada curva yang menurun lagi kearah garis axis X, menurun gradual seperti garis axis Y dengan nilai minus. Pada waktu sampai kembali dan tepat di garis axis X, maka berakhirlah kehidupan kita di dunia.

Habislah sudah, semua uang, gengsi dan gelar serta kemuliaan dan kebangsawanan serta gegap gempita dan gilang gemilangnya kehidupan manusia.

Barang-barang yang berupa prestasi maupun prestige yang selama ini dipuja dan dipuji, ternyata tiba-tiba hilang kegunaannya tanpa kita sadari.

Yang palsu-palsu dan kita pakai selama ini ternyata dan terbukti benar-benar kurang berguna.

Anwari Doel Arnowo (with kumis palsu)

September 30, 2006

 

16 Comments to "Palsu"

  1. Anwari Doel Arnowo  7 March, 2012 at 15:43

    Dear Linda,

    Anwari Doel Arnowo
    Mar 5 (2 days ago)

    to linda.cheang
    Kalau itu, anda benar dan saya tidak akan menggeneralisir.Saya kan penuh gigi palsu, ada implantnya sebanyak empat buah. Dentist saya malah bilang bahwa saya adalah orang tua yang paling banyak giginya !! Haa ha

    Pada 2012 3 5 19:56, “Linda Cheang” menulis:

  2. Dj.  6 March, 2012 at 01:12

    Bagaimana dengan rambut palsu…???
    Asli rambut sih, tapi bukan rambutnya sendiri.
    Panderita kanker dan karena chhemo dan rambutnya rontol.
    Jadi terpaksa pakai rambut yang bukan rambutnya ( bukan sekedar main-main )
    Salam,

  3. Itsmi  5 March, 2012 at 23:36

    Orgasme palsupun sangat berguna….

  4. Kornelya  5 March, 2012 at 22:49

    Pa Anwari, membeli atau memakai barang palsu memang merugikan pemilik patent. CD/DVD bajakan dari Indonesia tidak bisa berfungsi pada Tape/DVD recorder Amerika. Kalau pakaian, tas dengan asesories non pricy metal dan gemstone, mahal hanya karena keserakahan pemilik brand. Baju yang dipakai Angelina Jolie dan aktris-aktris pada red carpet Oscar ybl, sehari setelah Oscar copyannya bisa dipesan online dengan harga $75 – $300. Salam.

  5. Linda Cheang  5 March, 2012 at 19:56

    Cak Doel, pernyataaan Anda di kalimat terakhir tentu tidak berlaku untuk hal-hal ini :
    1. Kaki Palsu, buat yang kakinya diamputasi
    2. Tangan Palsu, buat yang tangannya diamputasi
    2. Gigi Palsu, buast yang giginya udah ompong

    masak Anda mau bilang, itu juga tidak ada gunanya?????????

  6. Anwari Doel Arnowo  5 March, 2012 at 18:44

    Yang saya perhatikan, biasanya pemalsuan itu baru amat bagus hasilnya kalau dibuat oleh ahlinya. Obat dan uang hanya bagus kalau dipalsukan oleh ahlinya. Saya pasti tidak bisa.
    Tetapi keamanan?
    Itu hanya bisa dilakukan oleh para ahli dalam bidang keamanan, seperti militer, Polisi, intellijen dan mungkin sekali politikus. Aman dibilang tidak aman dan mereka bisa membuat timbulnya rasa tidak aman, juga mendapat uang biaya mengamankan dan malah menjadi pahlawan. Masa di Indonesia pernah “tercipta” GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).
    Mana ada orang waras membuat organisasi dengan nama seperti itu, kan?

    Salam,

    Anwari Doel Arnowo – 2012/03/05

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.