Edan-edanan (16): Meninggalkan Kenikmatan, Menggapai Kemuliaan

Kang Putu

 

SAKDIYAH, lelaki berusia 66 tahun yang masih pengkuh itu, bertahun-tahun sudah cuma mandi setahun sekali pada bulan Muharam atau Sura. Namun, sungguh, tak menguar bau apa pun dari tubuhnya yang berpeluh seusai berladang seharian. Rambut dan jenggot yang memutih tak bisa menyembunyikan ketuaannya. Namun sorot mata tajam dan wajah tak berkeriput membuat dia tampak belasan tahun lebih muda dari usia sesungguhnya.

Dua tahun lalu, sehari setelah Idul Fitri, saya bertanya kenapa tak ada sengatan bau keringat, meski dia mandi setahun sekali. Sembari tertawa dia menjawab, “Ya embuh, kuwi rak urusane Pengeran.” Lagipula buat apa tarak adus, berpantang mandi, bertahun-tahun? “Lo, piye to? Ya kanggo nggayuh kamulyan,” sahut dia.

Menggapai kemuliaan? Kemuliaan macam apa yang bakal dia peroleh jika orang tahu dia tak pernah mandi? “Kemuliaan itu jangan kaupahami sebagai keserbamewahan, pangkat, jabatan, atau segala gebyar duniawi. Kemuliaan itu bersemayam di hati, kemuliaan itu bertakhta di relung sukma.”

Dia pun menuturkan bahwa tarak adus cuma satu dari banyak laku prihatin, tirakat. (Tirakat, saya ingat ucapan ustad Muhammad Irsyad, berasal dari bahasa Arab, yang secara harfiah berarti meninggalkan. Ya, meninggalkan kenikmatan, mesu diri, mesu budi.)

“Pasa utawa tapa uga srana nggembleng batin kanggo ngudi kawruh,” ujar Sakdiyah. “Sapa wonge sing temen, ora colong jumput, ora nerak pager ayu, orang goroh iku satemene pasa sajroning urip.” Puasa adalah sarana menggembleng batin kita untuk memperoleh pengetahuan sejati. Dan, jika kita senantiasa jujur, tidak mencuri, tidak berselingkuh, tidak berdusta berarti telah berpuasa sepanjang hayat di kandung badan.

Siapa pula kuat sepanjang hayat menahan lapar dan dahaga, menahan hasrat, menahan syahwat? Lalu, kapan pula berlebaran? “Kau bakal terus-menerus berlebaran, juga kelak di akherat,” kata dia.

Pendapat itu selaras dengan catatan Koentjaraningrat (1984: 371). Tirakat bagi orang Jawa, ujar dia, adalah suatu kesengajaan untuk mencari kesukaran dan kesengsaraan demi maksud-maksud keagamaan yang berakar dari pikiran bahwa usaha itu dapat memperteguh iman seseorang. Orang pun kemudian mampu mengatasi berbagai kesukaran, kesedihan, dan kekecewaan dalam hidup. Mereka percaya bila lebih tekun tirakat kelak bakal memperoleh pahala.

Selain puasa pada bulan Ramadan, ujar Sakdiyah, orang Jawa mengenal mutih, ngrowot, ngebleng, pati geni. Dan, puasa yang merupakan cara untuk mengendalikan berbagai hawa nafsu sebenarnya sama dengan tapa brata, semedi. Orang pun mengenal banyak tapa: tapa ngrame, tapa mlaku, tapa wuda, tarak laki (pantang berhubungan seksual).

J. Knebel, seorang pegawai pemerintahan Hindia Belanda, sebagaimana dikutip Koentaraningrat (1984: 372), mencatat ada 11 jenis tapa. Pertama, tapa ngalong berupa semedi dengan tubuh terbalik dan kaki diikat ke dahan pohon. Kedua, tapa ngluwat berupa semedi di sisi makam nenek moyang, anggota keluarga, atau orang-orang keramat dalam jangka waktu tertentu. Ketiga, tapa bisu untuk menahan diri, tidak berbicara.

Keempat, tapa bolot, pantang mandi dan tidak membersihkan diri dalam jangka waktu tertentu. Kelima, tapa ngidang dengan menyingkir ke hutan. Keenam, tapa ngramban, menyendiri di dalam hutan dan hanya makan daun-daunan. Ketujuh, tapa ngambang dengan berendam diri di sungai. Kedelapan, tapa ngeli dengan membiarkan diri terhanyut air atau berada di atas rakit.

Kesembilan, tapa tilem dengan tidur tanpa makan apa pun. Kesepuluh, tapa mutih dengan hanya makan nasi, tanpa lauk-pauk. Kesebelas, tapa mangan dengan tidak tidur, tetapi diperbolehkan makan.

Koentjaraningrat menyatakan tapa diambil orang Jawa secara langsung dari konsep Hindu, tapas, yang berasal dari buku-buku Veda. Barangkali karena itukah, ketika Islam masuk ke Jawa, orang Jawa dengan gampang menerima kewajiban berpuasa, termasuk puasa Ramadan, sebagai bagian dari tirakat?

 

Kesaktian, Kekuasaan

Arti kejiwaan dari bertapa, menurut pendapat Benedict RO’G Anderson (dalam Miriam Budiardjo, 1986: 53), bukanlah sekali-kali penyiksaan diri dengan tujuan-tujuan etis, melainkan hanyalah dan semata-mata untuk memperoleh kekuasaan. Dia menyatakan, “Menurut tradisi ortodoks, bertapa mengikuti hukum kompensasi yang fundamental bagi rasa orang Jawa tentang kesimbangan kosmos. Jadi mengurangi diri lebih kurang sama artinya dengan membesarkan diri dengan cara bermatiraga.”

Lalu, apa arti kenimatan duniawi yang diemohi Sakdiyah untuk menggapai kemuliaan jiwa? Anderson menyatakan kenikmatan duniawi pertama-tama tidak dianggap dianggap jahat atau tidak bermoral, tetapi merupakan sesuatu yang menyebabkan hilangnya kekuasaan.

Dalam jagat pewayangan, bukan cuma para satria yang kerap bertirakat, meninggalkan kenikmatan untuk menggapai kemuliaan. Justru para raksasa atau buta yang paling gigih bermati raga. Cuma bedanya, para buta akhirnya menuruti hawa nafsu, tanpa kekangan, sehingga kekuasaan atau kesaktian mereka menghilang atau kacau balau. Sementara para satria senantiasa mesu diri, untuk mempertahankan dan menghimpun kekuasaan terus-menerus.

Tentulah persoalannya menjadi lain jika ditilik dari perspektif berbeda, sebagaimana aliran Bhairavis atau Tantri yang dianut Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Dia justru menghimpun kemuliaan atau kekuasaan melalui pesta-pesta minuman keras, seks orgi, dan pembunuhan ritual. Karena dalam sistem kepercayaan itu, ujar Anderson, mengikuti hawa nafsu secara sistematis dalam bentuk paling ekstrem dapat menghabiskan nafsu sehingga memungkinkan pemusatan kekuasaan tanpa halangan.

Dan, semua itu untuk menggapai kemuliaan, kemasyhuran, kesaktian, atau kekuasaan? Apa pula yang terbetik dalam benak Kumbakarna ketika tapa tilem atau Ratu Kalinyamat dan Drupadi ketika tapa wuda asinjang rikma? Bukankah Drupadi menyimpan dendam kesumat luar biasa pekat pada Raja Duryudana, sehingga bernazar untuk suatu saat kelak membersihkan diri dengan darah anak sulung Destarastra? Begitu pula Ratu Kalinyamat, yang begitu mendendam kepada Aria Penangsang, sang penguasa Jipang? Bukankah tapa wuda asinjang rikma bagi kedua perempuan itu menjadi sarana untuk menghimpun kekuasaan agar kelak bisa melunaskan dendam?

Jadi, ke mana pula makna kemuliaan jiwa yang bersemayam di relung sukma bagi mereka, para perempuan utama itu? Bukankah ketelanjangan mereka, meski dikerangkai konsepsi tirakat, bisa saja dimaknai lain: sensualitas berdaya magis, yang justru mengundang hasrat menggebu seorang lelaki untuk tampil sebagai pahlawan penakluk, lelananging jagad? Apa pula yang tercitrakan dari gambaran perempuan cantik yang membalut ketelanjangan tubuhnya dengan rambut sendiri di tengah kelindapan hutan? Bukankah itu pun bisa bermakna tantangan, tawaran, atau bahkan ganjaran?

 

17 Oktober 2004

 

9 Comments to "Edan-edanan (16): Meninggalkan Kenikmatan, Menggapai Kemuliaan"

  1. si beni  7 March, 2012 at 02:10

    “Dan, jika kita senantiasa jujur, tidak mencuri, tidak berselingkuh, tidak berdusta berarti telah berpuasa sepanjang hayat di kandung badan.”

    sungguh edian tenan kata2 ini….

    bila semua manusia di bumi ini berlaku seperti kata2 diatas, maka tidak perlu ada polisi, hakim, jaksa, pengacara, tentara, dan penjara….

    saya pribadi berlaku seperti kertanegara, raja terakhir kerajaan singasari….

    kalo lapar trus makan, kalo haus trus minum, kalo ingin merokok trus merokok, kalo ngantuk yah tidur….

    tapi saya makan, minum, merokok, dan tidur secukupnya saja, tidak sampai berlebihan…

    lagian kalo lapar, haus, dan ngantuk bila ditahan-tahan, saya jadi beringas…. he he he….

    maturnuwun sanget kang putu atas artikelnya…

  2. Dj.  6 March, 2012 at 17:57

    Kang Putu….
    Terimakasih, benar-benar edhan….!!!
    Dj. ada tetangga dari Surabaya, namanya juga Sutopo atau dipanggil TOPO….
    Walau dia, Dj. yakin belum pernah bertapa….

    Kalau seseorang bisa mengendalikan diri dan tidak selalu turut dalaam hala-hala yang dia anggap negativ.
    Maka Dj. pikir dia sudah berpuasa, walau tidak harus bertelanjang, atau tidur dikuburan.
    Tapi kesemuanya itu, adalah hak masing-masing orang.
    Karena kita diberi kebebasan oleh TUHAN, untuk menjalankan apa yang dipandang baik.

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. Chadra Sasadara  6 March, 2012 at 13:28

    gelar tikar pandan sambil ngaji ngelmu wingit karo Mas Putu. tengkyu

  4. Linda Cheang  6 March, 2012 at 12:52

    dirangkum dalam satu filosofi Jawa saja, deh : ojo dumeh.

  5. anoew  6 March, 2012 at 09:27

    orang Jawa mengenal mutih, ngrowot

    Kalau Butonya Baltyra puasanya bukan ngrowot, tapi mbrakot.

  6. Kornelya  6 March, 2012 at 08:47

    Yang ini mah, edan-edanan, mengasah jiwa, asah rasa, kurangi serakah. Btw, dimana ya aku bisa dapatkan copyan gambar ilustrasi diatas. Salam.

  7. Handoko Widagdo  6 March, 2012 at 07:39

    Kang Putu, ijinkan saya menyumbang tembang Pocung:

    Ngelmu iku kalakone kanti laku
    Lekase klawan kas
    Tegese kas nyantosani
    Sedya budya pangekese dur angkara

  8. J C  6 March, 2012 at 07:37

    Kang Putu, semakin saya manut Panjenengan ajak edan-edanan berseri ini, makin gayeng dan makin dalam pengetahuan saya akan dalamnya nilai kehidupan yang Panjenengan torehkan dalam setiap artikel…

  9. Lani  6 March, 2012 at 07:34

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.