Komunitas Penggemar Lagu-lagu Leo Kristi (LKers)

Kurnia Effendi

 

Komunitas Leo Kristi: Keluarga Guyub di Luar Rumah

Benarkah ada ketulusan hubungan antarpersonal yang nyaris seperti sebuah keluarga pada sebuah komunitas? Komunitas Leo Kristi adalah jawaban untuk membenarkannya. Mungkin tak sampai lima ratus orang anggotanya. Mereka terhimpun aktif dalam sebuah mailing list (milis) yang diprakarsai oleh Amir H. Daulay. Komunitas yang menyebut diri sebagai LKers ini membangun persahabatan melalui keanekaragaman profesi. Simpul pengikat hubungan mereka sangat sederhana: lagu-lagu Leo Kristi yang digemari secara fanatik.

Barangkali perlu sedikit mengulas Leo Kristi sebelum bicara tentang komunitas para penggemarnya. Leo Kristi adalah komponis, pemusik, penulis lirik, arranger, dan sekaligus penyanyi yang mengambil jalur tersendiri dalam blantika musik Indonesia. Lahir tanggal 8 Agustus 1949 di Surabaya dengan nama Leo Imam Soekarno. Laki-laki yang berlatar belakang pendidikan arsitektur Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya ini justru matang dan populer di dunia musik. Namun bukan memilih aliran pop sebagaimana umumnya, Leo justru memiliki selera musik khusus. Ia menyebutnya dengan istilah konser rakyat bagi lagu-lagunya.

Mula-mula, di tahun 70-an, bergabung dengan Gombloh, kawan satu kampus di bawah bendera “Lemon Trees”. Tetapi sebelum terjun ke dunia rekaman, Leo memisahkan diri dan membentuk grup musik akustik yang banyak menggunakan alat-alat tradisional selain keahliannya dalam memetik gitar, baik dengan enam maupun dua belas senar. Album rekamannya yang perdana difasilitasi oleh majalah Aktuil Bandung, kala itu di bawah pemimpin redaksi Remy Sylado. Dengan tajuk Nyanyian Fajar, album konser rakyat itu terbit dan beredar tahun 1975.

Awal mula nama Kristi “diperoleh” dari ibunya. Sebuah gitar yang diberi nama Keris Sakti, semula untuk meredam rasa iri Leo terhadap kakak-kakaknya yang mendapatkan semacam warisan dari ayahanda. Gitar Keris Sakti itu diringkas menjadi Kristi, disandang ke mana pun Leo pergi, mengembara ke tempat-tempat jauh di seantero Nusantara. Dalam perjalanannya yang menempuh waktu lama itulah lahir banyak syair yang dilagukan secara melodius. Rasanya bukan sembarang puisi, karena diangkat dari persentuhannya yang mendalam terhadap kehidupan (benar-benar) rakyat Indonesia yang ia temui dan hayati.

Pengalaman batin dan raga, ikatan emosional yang terjalin antara dirinya dengan kehidupan yang dijalani sebagai troubador, mengalir sebagai lirik yang kuat. Ekspresi yang menggambarkan potret sejati pergulatan manusia Indonesia di pesisir, pedalaman, dan emperan kota besar, tidak diungkapkan dalam bentuk protes. Leo Kristi semata memotret, memindahkan lanskap getir manusia pinggiran, tetap dengan rasa cinta kepada negara. Melukiskan bencana, perang, kemiskinan, ketimpangan sosial, juga perjuangan para pendiri republik ini, dengan sebuah gelora, semangat hidup yang berapi-api. Ia sekaligus juga piawai merepresentasikan kelembutan cinta (terhadap perempuan sebagai ibu maupun kekasih) dengan senandung yang mendayu.

Kejujuran yang disampaikan bukan dengan maksud mencari muka pada rakyat, apalagi terhadap penguasa, menjadikan lagu-lagunya diapresiasi hanya oleh kalangan yang “mengerti”. Bukan berarti puisinya terletak di kelas tinggi, tapi tak semua orang serta-merta memahami. Dari lingkaran penggemar yang tak besar itu (mungkin kini tinggal mencapai 5000 orang di seluruh Indonesia), Leo Imam Soekarno masih eksis sebagai seniman musik yang punya tempat terhormat. Setidaknya, setiap perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI, hampir dipastikan Leo Kristi tampil untuk mengumandangkan lagu-lagu patriotik ciptaannya yang sarat dengan perasaan cinta terhadap tanah air.

Selama lebih dari tiga dasa warsa, Leo Kristi tetap idealis. Ia, meskipun berhasrat menjadi seniman yang berkecukupan, tak pernah tergoda untuk memasuki jalur pop sebagaimana teman-teman seperjuangannya. Leo boleh disebut manusia langka, dalam arti kata ia berkarya tidak untuk memenuhi selera semua orang. Ia berjalan konsisten dalam jalur pilihannya, dengan penghayatan filsafati, menorehkan legenda tersendiri dalam sejarah musik Indonesia. Di antara para penggemarnya yang tak terpetakan itu, saling berkomunikasi melalui milis [email protected].

Para anggota milis yang rata-rata menyimpan koleksi album Leo Kristi sejak rekaman pertama, dapat diperkirakan usianya. Mereka memang bukan kaum muda lagi. Umumnya di atas empat puluh tahun (dihitung saja sejak tahun 1975), namun tetap menggandrungi senandung Leo yang sudah entah berapa kali berganti partner vokalis perempuan sejak Jilly dan Lita yang menyanyikan “Lenggang-Lenggung Badai Lautku” pada album Nyanyian Fajar. Setidaknya ada nama Titi Ajeng (Nyanyian Cinta, 1979) dan yang hingga kini masih sering menjadi teman bernyanyi di panggung (sejak Diapenta Anak Merdeka, 1987) adalah Cecilia. Pada tanggal 24 Agustus 2007, Leo Kristi dan Cecilia tampil dalam kolaborasi musik dengan Kua Etnika (Djaduk Ferianto) di Balai Sarbini, Jakarta.

Komunitas Leo Kristi ini benar-benar dipersatukan oleh romantisme lagu-lagu sang troubador itu. Mereka tak hanya hapal lirik lagu dan melodinya, bahkan sampai pada cengkok “aksesoris” improvisasinya: begitu khas dan sulit dicari pada penyanyi lain. Suara seruling yang acap falsetto pun diterima sebagai sebuah karakter.

Mungkin hal ini sulit dipercaya, tapi nyata. Di antara anggota milis Leo Kristi sering saling menyapa dengan baris atau bait lirik lagu Leo Kristi, disesuaikan dengan suasana yang sedang mereka hadapi. Ambil contoh pada tanggal 17 Agustus yang baru lalu. Setiyadi mengirim SMS: Merah Putih mawar melati, Merah Putih setiap hati… (dipetik dari lagu “Nyanyian Tanah Merdeka”). Dibalas oleh Abing Patrick: “…seikat mawar Eliza bunga Merah dan Putih…” (dari lagu “Seikat Mawar Eliza”). Disambung oleh Henry Ismono dengan: Kakiku terantuk batu-batu hitam tajam di seberang gembira lagu-lagu mars kemenangan… (Dirgahayu Indonesia Raya), kemudian yang lain menyambut dengan: Dia saudaraku, bernyanyi riang di ufuk fajar. Dalam tidur senja ini, bersamanya bunga-bunga. Dengan tiga butir peluru di dada… (“Langit Makin Merah Hitam”), masuk pula SMS balasan: Pagi ini di empat lima kami semua menyanyikan lagu bersatu negeri… (“Hitam Putih”).

Apakah mereka memang betul-betul menghayati setiap lagu Leo Kristi? Itu benar. Zhou Fuyuan, yang dalam milis menggunakan nama Sekala Selaras, mengatakan: “Lagu-lagu Leo Kristi tidak lekang oleh zaman, karena ia tidak merespon secara reaksioner terhadap peristiwa sesaat. Temanya bisa berlaku sepanjang masa, cocok untuk kapan pun.”  Sementara Ramdan Malik mengakui bahwa setiap mendengar lagu Leo Kristi, dari waktu ke waktu, selalu memberikan makna yang berbeda. “Leo Kristi adalah jiwa yang bernyanyi.”

Para penggemarnya memang tidak semua pandai bermain gitar, tapi setidaknya Gamawan Waloeyo (dosen Politeknik Bandung) dan Dwiyatno kerap menjadi andalan bagi pertemuan berkala para anggota milis untuk menjadi gitaris. Petikannya nyaris sempurna meniru kelincahan jemari Leo Kristi, idola mereka.

Anggota komunitas berasal dari beragam latar belakang: arsitek, jurnalis, dosen, teknisi listrik, karyawan otomotif, produser acara televisi, dokter, penyiar radio, dan tentu saja sejumlah sastrawan. Oleh karena itu, materi komunikasi mereka dalam milis demikian luas. Tema yang “dilempar” umumnya disambut dan dibahas secara mendalam dari masing-masing perspektif. Mereka pernah membahas tentang prasasti di Indonesia, kepahlawanan, perihal kesehatan dan manfaat khitan, kisah perjalanan, pembahasan mengenai puisi para penyair besar Indonesia, kehidupan orang-orang pedalaman, atau tentang keluarga. Seorang anggota yang hobi fotografi, Henry Wijaya senantiasa menginformasikan karya-karya potretnya yang disertai goresan puisi. Dan seperti biasa, di akhir posting milis mereka, sebagai pengganti kata “hormat dan salam” ditulis petikan lirik Leo Kristi yang sesuai dengan konteks. Misalnya: kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka… (“Marga, Souvenir Pojok Somba Opu”) Atau: tatap hidup dan mati berani (“Surabaya Bernyanyi”). Yang lain: …engkau keras dan benar… (“Siti Komariyah Ikal Mayang”).

Mereka seperti menemukan sebuah keluarga besar yang guyub di luar rumah. Komunikasinya selalu nyambung. Beberapa orang mengaku, membuka milis dan membaca tulisan teman-teman anggota Komunitas Leo Kristi seperti sedang berbincang dengan anggota keluarga. Saling berbagi pendapat dan melengkapi pengetahuan masing-masing. Oleh karena itu selalu ada kerinduan untuk kopi darat alias bertemu muka. Silaturahmi yang mereka lakukan tidak dengan persiapan panjang. Biasanya hanya saling mengusulkan tempat dan keepakatan waktu melalui milis, selanjutnya digerakkan oleh hasrat hati persaudaraan, langsung menuju tempat pertemuan. Beberapa kali di Café Venecia Taman Ismail Marzuki (sebelum terbakar), pernah juga menggelar tikar di halaman rumput Kebon Binatang Ragunan. Dan yang baru saja berlalu, sambil memperingati HUT Republik Indonesia dengan cara yang berbeda, mengambil tempat di toko buku kafe MP Book Point Jakarta Selatan (18/8). Adakah semuanya dari Jakarta? Tidak. Datang pula Lkers dari Bandung, Wonosobo, Bangka Belitung, bahkan pernah kebetulan hadir yang dari Filipina, Mas Nanang Sumanang.

Apa saja yang dilakukan saat berjumpa? Tiada lain bernyanyi bersama, makan bersama, berbincang-bincang aneka topik, dengan tak lupa foto bersama. Masing-masing membawa bekal jika berada di tempat terbuka. Dengan beberapa aggota membawa serta keluarga (anak dan istri), suasana yang terbangun betul-betul mirip keluarga besar. Pertemuan itu sama sekali tidak terikat lagi dengan sosok Leo Kristi sebagai idola, melainkan hanya dipertautkan oleh lagu-lagunya. Walaupun kadang-kadang pertemuan antaranggota yang sifatnya spontan dan terbatas memang dipicu oleh kedatangan Mas Leo ke Jakarta. Bisanya ia menginap di salah satu rumah penggemarnya lalu menarik kawan-kawan untuk bergabung dan begadang bersama.

Yang unik, ada satu keluarga yang anak-anaknya kadung hanyut pada pesona lagu-lagu Leo Kristi. Mereka menyebutnya sebagai: “LKers generasi kedua.” Sebenarnya tidak aneh karena memang ada proses, ketika sang anak selalu turut mendengarkan lagu-lagu kesukaan orang tuanya. Selain itu, sebetulnya memang ada satu-dua generasi muda yang juga fanatik terhadap karya nyanyian Leo Kristi, meskipun kesulitan untuk mendapatkan secara lengkap album-albumnya. Antara lain Budhi Kurniawan (penyiar Radio Utan Kayu 68H) dan Aki Sudrajat yang juga hobi mengembara seperti orang yang digemarinya.

Kini Leo Kristi telah berusia 58 tahun, tak muda lagi. Sudah lebih 15 tahun tidak rekaman album baru. Barangkali produser akan berpikir lebih jauh untuk merekam dan memasarkan karya Leo Kristi yang kurang populis di masa kini. Memang harus disadari baik oleh Leo Kristi sendiri maupun para penggemar akutnya. Mungkin justru inilah tantangan bagi penggemar fanatiknya untuk membangun kembali citra Leo Kristi yang konser-konsernya pernah dihadiri oleh ribuan orang. Apakah perlu kompromi dengan pasar? Tentu tidak sepenuhnya para penggemarnya akan setuju. Harus ada cara lain! Bukankah spirit kekeluargaan Komunitas Leo Kristi dapat dijadikan aset dan pemicu lahirnya masa keemasan yang baru? Ayo nyalakan api hatimu!

 

(Kurnia Effendi, cerpenis dan penggemar Leo Kristi)

– Setelah itu bergabung Rezza Suhendra (yang “ditemukan” dalam konser di Balai Sarbini), Mas Bambang Aroengbinang, Kang Iim Ibrahim (yang kaget melihat t-shirt LKers di mana-mana saat Konser 100 Tahun Kebangkitan Nasional).

– Setelah itu kami “menemukan” Lita dan Jilly Jonathan (vokalis Konser Rakyat Leo Kristi formasi pertama), Mbak Titi Ajeng (vokalis album Nyanyian Cinta, 1979). Dst…

 

17 Comments to "Komunitas Penggemar Lagu-lagu Leo Kristi (LKers)"

  1. fahrudin  28 August, 2015 at 09:41

    saya pernah punya kaset pita jaman dulu dari album terbaik leo kristi, namun sekarang nyari cd / vcd/mp3 kok susah. yang bajakan aja susah apalagi yang asli. mohon maaf pada LKers maupun bung leo sendiri kalau aku nyari-nyari yang gratis di online.

  2. Djoko Loekito  9 October, 2013 at 20:13

    Prihatin dengan para pengamat musik atau setasiun TV yang tidak/kurang memberi apresiasi dan membuka ruang untuk Sang Troubador. Mudah2an beliau dilimpahi kebahagiaan dan kemuliaan selalu.

  3. EB Siswandoyo  1 November, 2012 at 02:23

    Mantap…,
    Salam kenal dan hangat dari kami Kelompok Laut “Seteman Teater Sebenarnya”

    Kami sedang menggarap Pertunjukan Drama “Dalam Bayangan Tuhan” karya Arifin C. Noer berkolaborasi dengan om Leo (Leo Kristi). Dipentaskan di Malang tanggal 20-21 Nopember 2012.
    Penasaran menyaksikan kolaborasi Teater dan musiknya Leo Kristi?
    Bisa Hadir di Pertunjukan ini
    salam dari malang……

  4. sea.timotella  18 August, 2012 at 13:49

    salam kenal…,jujur sy baru mulai ngikuti Leo Kristi pd saat Konser Rakyat sabtu, 22 mei 2010 di Taman Budaya Yogyakarta, merinding saya mendengar lagu2nya yg mengIndonesiakan Indonesia, PATENlah…,(puji syukur sy sudah banyak mendapatkan Lagu2 Leo Kristi walaupun Berupa MP3), setiap denger atau membaca dng nama Leo Kristi pasti sy merinding (Indonesia banget), terakhir sy dengar brita dlm konser Keberagamaan dlm keberagaman di Ktedral Surabaya feat Candra malik, & barusan sy mendownload kado lebaran dr Candra Malik sebuah lagu Mata Hati Feat Leo Kristi…, salam hangat buat lagu2 Leo Kristi & Komunitas penggemar Leo Kristi (salam dari desa), semoga sy bs mdpat info2 tentang Leo Kristi …, Salam Cinta & Lestarikan Indonesia.

  5. hermanto  9 May, 2012 at 19:51

    Mas Edo silahkan hubungi mas Nasuha hp no 087887863086, kalau ingin bergabung, disediakan 2 bus , parkir di depan UKI jam 15.00 berangkat jam 17.00 hari Sabtu 19 mei 2012. salam.

  6. LKers - Dhani  8 May, 2012 at 23:33

    Leo Kristi salah satu maestro musik Indonesia. Musikalitasnya tinggi. Musiknya diserap dari berbagai musik nusantara. Liriknya sangat puitis, bisa disejajarkan dgn penyair papan atas kita. Nah, skrg bgmn caranya kita menghargai LK yg kesehariannya sangat sederhana ini? Sdkt koreksi Nyanyian Fajar terbit 1976 dan Remy Sylado (salah satu sastrawan besar kita) bukan Pemred Aktuil, tetapi salah satu redaktur.

  7. edo abdullah  8 May, 2012 at 11:57

    Halo..halo, saya dengar Cak Leo mo manggung di bukit merah putih sentul, saya minat banget dateng, tolong dong kasi tahu gimana caranya, dateng langsung atau mesti konfirmasi? makasi berat atas jawabannya. Jabat tangan erat-erat saudaraku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.