Mandi dan Mencuci di Sungai Semakin Menghilang

Joko Prayitno

 

Air yang melimpah di Nusantara adalah sumber kehidupan kita. Menurut sejarawan Anthony Reid, melimpahnya air merupakan salah satu ciri negeri tropis, khususnya Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia. Semasa kuliah, saya suka diajak berburu ke pelosok-pelosok desa di wilayah Gunung Kidul oleh teman saya menggunakan mobil VW Safarinya. Ketika melewati “kedung” disebuah desa, saya melihat masyarakat melakukan aktifitas mandi dan mencuci pakaian di kedung tersebut, di lain waktu saya juga masih bisa melihat orang-orang di desa saya bahkan saya sendiri di Jogja melakukan aktifitas mandi, mencuci dan serta buang air besar di sungai yang mengalir di desa saya. Hal ini bisa dilakukan karena air yang mengalir masih bersih belum tercemar oleh limbah-limbah industri seperti sungai-sungai besar yang ada di kota-kota besar.

Seseorang sedang mandi di sungai di Jawa Barat 1920 (Koleksi: www.kitlv.nl)

 

 

Wanita-wanita sedang Mandi dan Mencuci di Sungai di Jawa Timur 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Kebiasaan mandi dan mencuci dan buang air di sungai merupakan kebiasaan yang telah dilakukan masyarakat di Nusantara ini sejak dahulu. Tulisan dari Achmad Sunjayadi dalam artikelnya yang berjudul “Mandi dari Masa ke Masa” mengatakan bahwa pada abad ke-17 orang Asia lebih dahulu memiliki kebiasaan mandi dengan menggunakan air mengalir dibandingkan orang Eropa yang antipati dengan kebiasaan itu. Orang Asia telah memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk membersihkan tubuh. Oleh karena itu mereka senang tinggal di tepi aliran sungai. Jika tidak ada sungai, orang menuangkan seember air sumur di kepala mereka. Cara mandi seperti ini cenderung melarutkan bakteri tubuh bagian bawah menjauh dari kepala. Praktik ini lebih aman dibandingkan dengan mandi di dalam bak yang sama untuk semua anggota keluarga. Sungai menjadi tempat aktifitas membersihkan diri dan pakaian selain airnya digunakan sebagai irigasi ataupun untuk air minum pada masa dulu.

Masyarakat Mencuci pakaian di sungai Jawa Timur 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Sumber-sumber foto masa kolonial Belanda banyak memotret aktifitas mandi dan mencuci pakaian di sungai yang dilakukan tidak hanya oleh kaum perempuan tetapi juga laki-laki. Selain itu mandi di sungai adalah kesukaan anak-anak bahkan hingga sekarang. Belum tersedianya jaringan air yang langsung mengairi rumah-rumah penduduk, menjadikan sungai sebagai hal yang terpenting untuk aktifitas kesehatan ini, walaupun ada sumur yang dibuat di rumah-rumah pedesaan, tetapi aktifitas di sungai lebih menarik karena dilakukan bersama-sama. Tentunya dikatakan sehat karena air yang mengalir di sungai masih begitu jernih pada masa tersebut. Merendamkan tubuh langsung di sungai, berenang, ataupun mengguyur kepala dengan air melalui saluran yang dibuat dengan bambu seperti shower selain menyehatkan juga menyegarkan badan serta menghilangkan bau badan yang kurang sedap dikarenakan keringat yang keluar dari tubuh karena terik matahari.

Mandi dan Mencuci di Sumur di Jawa 1900 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Selain sungai sebagai tempat pemandian umum, juga bermunculan tempat-tempat mandi umum pada masa tersebut terutama bagi pribumi yang memiliki banyak mata air (umbul). Mandi di umbul terkadang bukan sekedar mandi tetapi juga merupakan sebuah ritual penyucian diri karena umbul yang ada terkadang merupakan tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Sehingga, aktifitas mandi bukan sekedar kesehatan fisik semata tetapi juga kesehatan rohani.

Wanita dan Anak-anak di Bali sedang mandi di sungai dan pancuran 1912 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Aktifitas mandi, mencuci hingga saat ini memang masih berlangsung tetapi bukan di sungai, ada tempat-tempat khusus baik di rumah yang bersifat privat maupun kolam renang yang bersifat umum. Orang akan berpikir seribu kali untuk mandi di sungai pada saat ini karena sungai yang telah tercemar limbah industri dan rumah tangga, bukan kesegaran dan kesehatan yang akan di dapat tetapi penyakit bahkan kematian. Dan akhirnya anak-anak yang ceria seperti lirik lagu Slank “Bocah” (Bocah-bocah kecil mandi dikali dengan penuh canda, mainkan air sejukkan alam desa..) semakin hilang bersamaan dengan hilangnya kejernihan air sungai.

Sangat disayangkan dan Patut Disesali…

 

22 Comments to "Mandi dan Mencuci di Sungai Semakin Menghilang"

  1. Nana  12 March, 2012 at 13:47

    Mas [email protected] jadi teringat masa kecil, mandi di aliran sungai Cimanuk….

  2. Alvina VB  8 March, 2012 at 11:34

    Mas Joko P,
    Jaman saya masih kecil dulu, sungai Ciliwung itu bukan cuman buat mandi dan cuci ttp bisa buat berenang dan mancing di sana, he..he…..Sekarang sich wadoh….sampahnya aja berjibun kek gitu dan warna kalinya hitam kaya air got, baunya itu loh…yg mana tahan dech….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.