Kesan Para Sahabat Tentang Widjojo Nitisastro

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kesan Para Sahabat Tentang Widjojo Nitisastro

Penyunting: Moh. Arsjad Anwar, Aris Ananta dan Ari Kuncoro

Penerbit: Penerbit Buku KOMPAS

Tebal: xiv + 528 hal

ISBN: 979-709-291-7

Ketika saya sedang istirahat sejenak saat menulis resensi buku ini, saya menyaksikan running text di salah satu TV Nasional bahwa Profesor Dr Widjojo Nitisastro telah berpulang pada Jumat dini hari tanggal 9 Maret 2012. Innanilahi wa innanilahi ro’jiun. Selamat jalan Prof, perjuanganmu untuk Indonesia akan terus berlanjut.

Buku ini unik karena diterbitkan 10 tahun terlambat dari rencana. Sebab, rencananya buku ini akan terbit untuk memberi kado kepada Pak Widjojo yang berulang tahun ke 70, tepat pada tanggal 23 September 1927. Namun rencana tinggallah rencana.

Saat semua teks sudah siap, bahkan rencana naik cetak sudah matang, tiba-tiba penerbitannya harus ditunda. Mengapa? Sebab saat itu Orde Baru sedang dalam suasana gonjang-ganjing. Padahal isi buku ini adalah tentang Widjojo Nitisastro yang merupakan arsitek ekonomi Orde Baru. Adalah sangat aneh jika menerbitkan buku yang menyanjung keberhasilan ekonomi Orde Baru saat rezim dan semua bangunan ekonominya dinyatakan rubuh. Sehingga barulah sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada Bulan Januari 2007, buku ini berhasil terbit.

Buku Kesan Para Sahabat tentang Widjojo Nitisastro ditulis oleh 55 orang sahabat beliau. Saat buku ini terbit beberapa penulis, atau sahabat Pak Wi telah dipanggil pulang.

 

Pribadi yang Sederhana, Gila Kerja, Perfectionist dan Peduli Detail

Buku ini berkisah tentang sosok Widjojo Nitisastro yang workaholic, perfectionist dan sangat perhatian pada detail. Semua sahabat yang pernah bekerja dengan beliau memberi kesaksian tentang tiga ciri beliau tersebut. Bahkan kadang gila kerjanya sampai keterlaluan, seperti diungkapkan Fuad Hasan, di halaman147, dimana saat menonton Light and Night di Kairo, Pak Wi malah asyik memencet tombol kalkulator. Sifat perfectionist-nya dilaporkan oleh para sahabat dimana beliau selalu mengoreksi makalah yang akan diperbanyak, bahkan 10 menit sebelum makalah tersebut dibacakannya (hal 146). Marie Muhammad mencatat betapa Pak Wi adalah sangat peduli terhadap detail.

Widjojo adalah seorang rekan kerja yang menginspirasi dan selalu memberi masukan yang penting. Sifat ini disampaikan oleh para rekan kerjanya, seperti Sudharmono, Arifin Siregar dan J.A Katili.

Para juniornya, seperti Ali Wardhana, Moh Sadli, MustopadidjajaAR menyampaikan bahwa Pak Wi adalah orang yang selalu ”Nguwongke”, memanusiakan orang lain. Widjojo selalu mengawali masukan kepada juniornya dengan memuji, meski pada akhrinya, dia mengoreksi habis ide/gagasan yang disampaikan oleh para juniornya tersebut. Namun Pak Wi tetap memberi kredit kepada para juniornya dengan tidak menambahkan nama pada karya anak buahnya tersebut.

Pak Wi adalah sosok yang sederhana. Bahkan kursi dan neon di tempat kerjanya di BAPPENAS tidak pernah diganti selama beliau menjabat disana. Kesederhanaan beliau juga disampaikan oleh Bully Oskar Surdjaatmaja.

 

Arsitek Orde Baru

Hal kedua yang bisa kita pelajari dari buku ini adalah tentang arsitektur ekonomi orde baru. Saat rejim Orde Lama masih berkuasa, pada pengukuhan beliau sebagai Guru Besar FE UI, tanggal 10 Agustus 1963, beliau menyampaikan pidato berjudul ”Analisa Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan”, yang merupakan tantangan bagi model DEKON yang saat itu didengungkan oleh rejim Soekarno.

Kolaborasi antara FE UI dan SESKOAD Bandung akhirnya memberi hasil. Widjojo diangkat menjadi ketua tim ahli bidang ekonomi Soeharto.

Widjojo juga berperan penting dalam melahirkan istilah Orde Baru. Sebab pada simposium yang diselenggarakan di FE UI pada tanggal 10-20 Januari 1966, yang diprakarsai oleh beliau, lahir istilah Orde Baru.

Tim Ahli Ekonomi ini memulai kiprahnya dengan mengusung ”Stabilitas Ekonomi”, dimana restrukturisasi utang, penaklukan inflasi dan program-program rehabilitasi ekonomi menjadi pilar-pilarnya. Restrukturisasi utang berhasil dilakukan dengan para kerditor barat (AS, Jepang, Inggirs, Perancis, Jereman Barat, Italia, Belanda, Kanada, Australia dan Swiss). Inflasi berhasil ditaklukkan dengan cara membuka pemodal asing masuk ke Indonesia. Dengan adanya booming minyak, retrukturisasi ekonomi berhasil dijalankan. Instrastruktur berhasil dibenahi. Swasembada pangan berhasil diraih.

Selanjutnya, melalui kantornya di BAPPENAS, rancangan pembangunan lima tahunan, yang lebih dikenal dengan REPELITA disusun dan diimplementasikan.

Pada saat akhir rejim Orde Baru pun banyak pihak masih meyakini bahwa bangunan ekonomi model Widjojo ini akan bertahan. Misalnya, Budiono menyatakan: ”Sekarang, ekonomi kita alive and well dan minyak bumi, meskipun masih sangat penting, tidak lagi akan menimbulkan akibat-akibat fatal, seandainya harganya bergejolak” (p. 135). Atau M Makagiansar menganggap bahwa resep IMF dan Bank Dunia untuk Mexico dianggap sebagai resep yang manjur untuk menyelesaikan kehancuran ekonomi sebuah negara (M Makagiansar p 157).

Meski akhirnya bangunan ekonomi Orde Baru rubuh, namun perlu diteliti apakah rubuhnya model ekonomi Widjojonomic ini karena salah desain, atau karena korupsi yang merajalela?

Selamat jalan Pak Wi. Teladan Anda akan selalu menjadi pelita bagi pembangunan Indonesia.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

28 Comments to "Kesan Para Sahabat Tentang Widjojo Nitisastro"

  1. Handoko Widagdo  10 March, 2012 at 07:35

    Elnino, Hennie dan Mawar, terima kasih sudah membaca artikel ini. Mari kita doakan supaya keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan dan Indonesia mendapatkan pengganti Pak Wi.

  2. Handoko Widagdo  10 March, 2012 at 07:34

    Kangmas Djoko, kita harus menghargai putra-putra terbaik negeri ini.

  3. Mawar09  10 March, 2012 at 02:58

    RIP Pak Widjojo. suka dengan pribadi beliau ini.

    Terima kasih Pak Han tulisannya.

  4. elnino  9 March, 2012 at 21:26

    Wik, kok kowe mbungahi dengan nama Erow… Merasa sebangsa sama Anoew ya? Erow, Edan Separow, hik hik hik…

    Lha kan biar buk to WiK, masak aku capek masak kamu cuma leyeh2. Gotong royong gitu lho… Wah, kalo mijeti aku gak pinter. Pinternya ngidak2…

  5. elnino  9 March, 2012 at 21:18

    Selamat jalan pak Wi.
    Makasih resensinya pak Wiwik.
    *besok mau tanam biji srikaya cina ah

  6. HennieTriana Oberst  9 March, 2012 at 21:10

    Selamat jalan Pak Widjojo Nitisastro.
    Terima kasih mas Handoko untuk tulisannya.

  7. Silvia U  9 March, 2012 at 17:41

    [email protected] : ayo ketahuan dulu ga suka baca koran ya? Nah untung sekarang baca Baltyra….inga-inga ya teman arsitek ekonomi Pak Harto itu ya Prof Wi

  8. Dj.  9 March, 2012 at 16:57

    Terimakasaih mas Handoko…
    Selamat Jalan pak Widjojo…!!!
    Dengan baca sejarah seperti ini, semakin menambah pengetahuan.
    Salut…!!!
    Salam manis untuk keluarga dirumah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.