Tidak Pernah Dengan Sengaja

Awan Tenggara

 

“Ada tiga, yang dua masih sekolah, yang satu sudah kuliah. Kalau saya ndak jualan naik turun dari sore sampai tengah malam di kereta gini ya nanti ‘kan kasihan mereka. Lha wong bapaknya juga udah meninggal. Siapa lagi yang mau membayar biaya pendidikan mereka kalau bukan saya.” tutur seorang ibu penjual nasi pecel yang ada di belakang saya ketika ia tengah berbicara kepada seorang pembeli. Saya sedang merokok di tepi pintu kereta ekonomi yang mengantar saya menuju Semarang ketika itu.

Jika di antara anda ada yang belum paham atau belum pernah merasakan seperti apa itu rasanya “jengkel”, cobalah anda menumpang kereta ekonomi. Tak usah hari-hari besar atau week end, kereta ekonomi sudah pasti akan penuh penumpang meski pun pada hari-hari biasa. Lalu merasa beruntunglah jika anda tidak kebagian bangku, karena dari situ anda akan tahu arti “jengkel” yang sesungguhnya. Apalagi kalau perjalanan anda berjam-jam lamanya, kereta ekonomi juga akan sekaligus memberitahu anda kalau gerbong-gerbongnya adalah tempat yang paling sempurna untuk melatih kesabaran di dunia.

Tidak hanya karena anda selalu akan berkeringat di perjalanan, yang membuat jengkel anda ketika menumpang kereta api kelas ekonomi adalah juga karena para pedagangnya yang kerap sekali lalu lalang. Walau anda sudah sesak-sesak berdiri di tengah jalan ketika tak dapat nomor bangku, pedagang-pedagang ini akan dengan tidak mau tahu menghimpit-himpit anda agar bisa tetap lewat untuk menjajakan dagangannya.

Saya tidak cuma sekali pernah mendengar umpatan dari para penumpang kepada pedagang seperti itu. Kadang saya sendiri pun juga merasa gerah sendiri jika menghadapi pedagang-pedagang seperti mereka. Namun setelah mendengar pengakuan yang diutarakan seorang ibu penjual pecel yang di atas tadi telah saya ceritakan, saya kini jadi—paling tidak, sedikit—bisa berlapang dada seandainya badan saya disok-sok oleh pedagang-pedagang di atas kereta.

Saya jadi memahami, siapa juga sih yang bersedia dengan senang hati berdagang di tempat sesesak itu hanya demi rupiah yang tak seberapa? Sudah berkeringat, diumpat-umpat orang pula. Coba anda bandingkan pedagang-pedagang seperti ini dengan mereka yang tiap malam berdiri di tepi jalan, menunggu langganan dengan gincu dan parfum yang wangi untuk menjual diri, atau para pejabat yang dengan tidak tahu malu mengkorupsi uang rakyat. Tentu orang-orang seperti mereka tidak lebih baik dari pada pedagang-pedagang yang kita umpat di atas gerbong kereta.

Maka jika anda juga telah dengan sempurna memahami hal itu, anda akan tahu, betapa sesungguhnya orang-orang seperti mereka itu tidak pernah selalu dengan sengaja membuat jengkel anda.

 

Semarang, Penghujung May 2011

 

16 Comments to "Tidak Pernah Dengan Sengaja"

  1. lostgior  21 March, 2012 at 05:44

    naik kereta ekonomi dan duduk di dekat pintu, mengingatkan saat masa-masa sma dulu, tidak beli tiket, langsung bayar ke Pak Kondektur dengan setengah dari harga tiket…. he he he….

  2. Lani  15 March, 2012 at 14:51

    JA : aku pernah ngalami naik KA ekonomi jur Semarang-JKT dan JKT-SRG……mmg rekoso tenan……sampai direwangi tidur dilantai dgn alas koran je

  3. J C  12 March, 2012 at 12:15

    Renungan apik…

    Btw, gravatar’nya keren tuh…

  4. Dewi Aichi  11 March, 2012 at 20:30

    Komen no 8 Pak DJ, wah kebalikan sama anak saya, dari kecil, mau dibawa ke tempat yang bagaimanapun anteng aja…wesssssss….ngga bakal muntah muntah….perenah tak bawa ke pasar ikan, ke pasar tradisional, naik gunung, ke kandang sapi dll….cuek aja…..anak saya ndeso sih Pak…pernah diajak nggaru oleh tetangga hi hi…sayang filenya dalam bentuk video….vhs lagi. Sekarang kalau ada tugas sekolah seperti mengarang, imajinasinya bagus, melukis juga .

  5. non sibi  11 March, 2012 at 02:12

    Saya pernah belanja di Mangga Dua yg untel2an itu. Kemudian dari belakang terdengar suara, permisi.. permisi.. numpang lewat, seorang ibu dandan keren mendorong kereta (stroller) dimana seorang anak perempuan berumur 5-6 tahun duduk diatasnya, rupanya beliau belanja bersama kawan2 dan putrinya itu. Aduh.. aduh… tdk tahan deh ini mulut, saya bilang, ibu kalau mau belanja bawa stroller jangan ke sini yg untel2an begini, ke Plaza Indonesia khan tempatnya luas. Si ibu menjawab dgn senyuman saja.

  6. Anwari Doel Arnowo  11 March, 2012 at 01:01

    Kelas ekonomi sekarang itu masih jauh, jauh lebih baik dari kereta yang bisa ditumpangi oleh siapa saja pada awal tahun ’50an.
    Penggerak locomotif adalah arang batubara yang percikan apinya membumbung ke udara tetapi sering masuk ke ruang penumpang dan menembus baju yang sedang dipakai.
    Sedih?
    Enggak juga karena yang bisa menaiki dan menikmati bepergian naik kereta api seperti ini memang benar-benar menjumpai percikan api dari kepala locomotif kereta api. Api ini pada malam hari seperti gerombolan kunang-kunang. Kami bisa saja terdorong untuk menyanyi karena radio tidak ada dan tape recorder juga belum ada yang portable.
    Watu berjalan seperti biasa saja.
    Anwari Doel Arnowo – 2012/03/11 pagi tengah malam pukul 01:01

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.