Saturday, 10 March 2012
Dwi Klik Santosa
Setelah keadaan kembali tenang, meloncat Wisanggeni melenting mendekati ular. Tapi belum dia menginjakkan kaki ke dataran batu, satu kibasan ekor ular tahu-tahu menerpanya. Serangan mendadak dan tak terduga itu melempar tubuhnya yang mungil hingga keras membentur bebatuan dekat mulut gua. Terjadilah ledakan hebat. Sampai-sampai tubuh mungil itu amblas, masuk ke dalam dinding gunung batu yang cadas.
Wisanggeni yang tidak menduga akan dapat serangan, kemudian bangkit. Dahinya mengernyit. Seluruh tubuh memanas. Tangannya mengepal dengan mata tajam menyala menatapi ular.
“Oh hohoho, terima kasih, kepadaMu, dewata yang agung. Hari ini telah Kau bebaskan penderitaanku …”
“Hei ular, kenapa kau culas menyerang hendak melukaiku?”
“Ho ho ho, apakah kau merasa terluka? Cobalah kau teliti apa yang terjadi padamu?”
“Apa maksudmu ular …”
Tapi sejurus kemudian, Wisanggeni terpengaruh oleh omongan ular. Ia pun meneliti badannya. Secuil pun ia tidak melihat luka. Rasa sakit apalagi. Padahal serangan ular itu tadi demikian hebat. Hingga ia terlontar sangat dahsyat membentur dinding batu dekat mulut gua.
Astaga, dinding batu itu berlubang, sebentuk dan seukuran dirinya. Bagaimana mungkin ini terjadi? Demikian hebat kekuatan kibasan ekor ular itu.
“Hei, ular … apa yang terjadi? Bagaimana bisa? …”
“Ini kehendak dewata, bocah. Melalui hatimu yang polos dan ringan tangan menolong sesama, dengan kasihnya yang tak terkira, dewata yang agung telah berkenan memberimu anugerah yang mustahil makhluk lain dapat menerimanya.”
“Bisakah kau jelaskan, apa arti semua ini?”
“Jangan khawatir, bocah. Aku tahu siapa kau ini. Rasa ingin tahumu begitu besar. Engkau ini sungguh bocah ajaib yang memiliki daya melebihi sebagaimana lazimnya. Ingin mendulang sebesar-besarnya pengetahuan, dan hendak kau biakkan untuk sebesar-besarnya kepada sesuatu yang manfaat dan mulia,” dengan mata berkaca-kaca ular ini menatapi sosok Wisanggeni.
“Eh, tapi siapakah namamu, bocah?”
“Oh, namaku Wisanggeni, Ular.”
“Wisanggeni …nama yang aneh. Tapi bagus. Kau ini … kau ini .. ah, beruntung benar aku bisa menjumpaimu. Terima kasih, dewata yang agung. Kau pertemukan hamba dengan titisanmu di dunia.”
“Apakah kau punya nama, Ular?”
“Ya, Wisanggeni. Aku punya nama sepertimu. Dan seperti yang kau dengar, aku juga bisa bicara sepertimu. Namaku Puspakajang.”
“Puspakajang? Apakah kau ini masih keturunan dari kakek Dewa Brahma?”
“Bagaimana kau tahu, bocah?”
Lalu Wisanggeni bercerita tentang kisah yang didongengkan Dewa Brahma kepadanya tentang sebuah riwayat asal-usul.
“Jadi kau ini masih terhitung leluhurku sendiri, Kakek Puspakajang.”
“Oh, dewata agung. Dunia ini memang tidak seluas yang kukira. Betapa besar anugerah yang Kau berikan kepada hamba hari ini. Wisanggeni, cucuku. Kemarilah kau, Nak …”
Dengan kasih sayang, dibelit tubuh Wisanggeni dengan ujung ekornya. Dibawa tubuh mungil itu persis ke hadapannya. Diusap-usap dengan kasih sayang kepala Wisanggeni dengan ujung kepalanya. Lalu dijilati wajah bocah yang polos itu dengan lidahnya. Sambil bercucuran airmata, ular Puspakajang tak henti-henti mengucapkan syukur kepada dewata.
—- Gambar Dodi Solo – Metamorfosis karakter Bocah Wisanggeni yang ketiga —-
Note: petikan cerita dalam buku Wisanggeni yang akan terbit
March 12th, 2012 at 12:12
Hhhhmmm…sepertinya komen Wahnam ada benarnya…hehehe…penggambaran ilustrasi Wisanggeni dalam artikel ini mirip banget dan gabungan 2 karakter tsb…
March 12th, 2012 at 12:06
Gagrag Surakarta, Antareja dan Antasena adalah satu individu. Hanya di Jogja keduanya menjadi dua orang bersaudara. Ditambah Gatutkaca jadi tiga kesatrya anak Bima.