Rainforest & Beach Survival School

Mastok

 

Buat teman-teman yang suka berpetualangan dan suka tantangan kami mengajak dan peduli dengan bertahan di lingkungan yang jauh dari peradaban dan pemukiman. Saya memilih beberapa daerah yang jauh dari kota / desa.

Mungkin para pembaca sering berpikiran kalau berpetualang harus ke hutan, gunung, laut atau tempat-tempat yang sangat exotis dengan dana yang sangat banyak dan bisa membuat kita urung berpetualang. Dana bukan halangan untuk kita berpetualang seperti contoh dalam acara TV “si bolang sang bocah petualang” mereka sangat menyukai petualangan, tapi apakah mereka mengeluarkan dana atau uang yang sangat banyak untuk sebuah kesenangan dan kepuasaan dalam petualangan.

Lewat forum diskusi ini mari kita berbagi petualangan apa yang bisa memuaskan kita dengan dana yang seminim mungkin serta potensi apa yang ada disekitar kita untuk bisa dijadikan ajang berpetualang.

Panorama Hutan Sancang

 

Hutan Sancang

Masyarakat tempo dulu cukup arif menggunakan hutan. Hutan sebagai  sandaran kehidupan, tempat bertani dan berburu satwa diakui  keberadaannya. Bentangan hutan masih lestari sampai puluhan tahun.  Mereka tidak sekedar memahami pentingnya hutan untuk ketersediaan air  dan udara. Tapi hutan ada dalam hatinya berwujud kepercayaan sakral.  Jangankan pohonnya ditebang, beberapa hutan bahkan dilarang dimasuki.  Istilah pamali dan hutan larangan cukup ampuh mencegah pembalakan hutan.

Ada  semacam keyakinan bahwa roh para raja bersemayam di hutan. Misalnya  Prabu Siliwangi yang menjelma menjadi macan putih konon bersemayam di  hutan Sancang. Mitologi inilah yang menyebabkan masyarakat tempo dulu  menghormati hutan. Tidak semua hutan dibuka dan dimasuki. Banyak hutan  besar terlindungi secara alami disebabkan budaya yang dipegang teguh  walaupun tanpa aturan tertulis ataupun peraturan daerah seperti  sekarang

Seiring perkembangan jaman, hal itu memang hanya mitos.

Sesuatu yang sekedar tahayul dan di luar logika. Namun kemudian timbul  pertanyaan di benak kita: Apakah hutan tidak lagi dihormati? Hutan  menjadi tak layak dilindungi? Tanahnya dijejak, pohonnya ditebang? Lalu  hutan jadi sah untuk dijarah?

Objek wisata hutan Sancang terletak  2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten dan 180 km dari Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu  Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari  Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus ke jurusan perkebunan karet  Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan dengan tarif Rp.  3.000/orang, atau angkot dengan tarif Rp. 4.000/orang. Apabila  menggunakan ojeg, tarifnya Rp. 7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500, –  dari pantai Cijeruk Indah.

Bus yang melalui daerah ini hanya 3  bus/ hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dan  dengan lebar jalan 3 m, dan jalan desa selebar 2, 5 m, serta jalan  setapak (foot trail) selebar 0, 5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam  keadaan sedang diperbaiki. Diantaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V  sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah  jembatan beton sepanjang 27 m.

Hutan Sancang merupakan hutan alami, dan terletak di bagian  selatan Kabupaten Garut, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya  di Desa Sancang Kecamatan  Cibalong dan memiliki luas 2.157 ha. Wilayah ini berada di  ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut. Tebing-tebing curam terdapat di  sebagian pesisir pantai, khususnya di daerah sebelah timur yaitu  wilayah Karang Gajah.

Hutan yang langsung bersentuhan dengan  Samudra Indonesia ini mempunyai temperatur rata-rata 270 C per tahun,   dengan suhu antara 170 C-280 C. Material tanahnya berpasir dan tanah  gambut di bagian pesisir, sedangkan di daerah yang mempunyai radius 200 m  dari garis pantai memiliki material tanah daratan pada umumnya, yaitu  tanah hitam berbatu dengan tingkat kestabilan dan daya serap tanah yang  cukup baik.

Kondisi lingkungan wilayah Hutan Sancang termasuk ke  dalam kategori bentang alam yang baik dan menarik serta unik. Hutan  Sancang juga merupakan cagar alam yang dilindungi dan memiliki ekosistem  hutan tropis. Kualitas lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga,   walaupun di bagian timur, yaitu di pesisir pantai, terdapat pondok  nelayan yang menetap dan memanfaatkan lahan di area konservasi ini.

Di  hutan ini tidak terdapat pencemaran (air, tanah, udara, sampah atau  vandalisme), akan tetapi sering terjadi penebangan liar, perambahan  hutan dan penjarahan/pencurian kayu, khususnya kayu meranti merah yang  tergolong tumbuhan langka. Perambahan hutan tersebut telah menurunkan  tingkat dan kualitas lingkungan Hutan Sancang dan menyebabkan kerusakan  yang cukup serius.

Pada saat ini perusakan Cagar Alam Hutan  Sancang telah mencapai lebih dari 200 ha. Hal tersebut, juga sangat  berpengaruh bagi kelangsungan ekosistem setempat. Apabila dilihat dari  segi visabilitas, hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas  dengan panorama alam yang indah dan eksotis, namun apabila berada di  dalam hutannya, maka akan sulit untuk melihat kearah pantai karena  susunan tumbuhan/pepohonan di Hutan Sancang sangat rapat. Daya  tarik utama yang terdapat di cagar alam ini adalah hutan yang masih asri  dengan ekosistem yang unik dan pemandangan alam indah. Di hutan ini  terdapat hutan bakau, sungai, berbagai jenis flora dan fauna, dan  gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik.

Flora dominan yang terdapat di Hutan Sancang antara lain pohon ketapang, pohon  bakau, tumbuhan Sorea, palahlar (Dipterocarpus spee.div), serta jenis  tumbuhan/flora pantai seperti agar-agar laut (Gracilaria, SP1), trumbu  karang (Afluda mutica), paris (Mycrophyllum bracilieneis), kades  (Gelidium lam) dan juga flora lain yang beragam jenisnya termasuk pohon  meranti merah dan pohon Kaboa (Dipteroearpus gracilis) yang langka.  Sedangkan fauna yang dominan di hutan ini antara lain banteng (Bos  sonda/cus), macan tutul, monyet, lutung, dan burung merak.Hutan  Sancang yang merupakan salah satu cagar alam di Indonesia yang bertaraf international secara  khusus. Untuk fasilitas penunjang di Hutan Sancang hanya terdapat 1 pos  jagawana serta petugas yang berjumlah 180 orang. Untuk aktivitis yang  dapat dikembangkan di Hutan ini adalah: tracking, fotografi, menelusuri  hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah, dan  aktivitas-aktivitas yang tidak merusak dan mengganggu ekosistem hutan.

Adapun  mayoritas pengunjung yang datang ke Hutan Sancang ini berasal dari  Garut, Bandung dan Jakarta. Landasan hukum kawasan hutan wisata ini  ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 116/Um/1959 tanggal  1 Juli dengan luas wilayah laut sekitar 150 ha dan kini dikelola oleh  Departemen Kehutanan.

Dulu, selain dikenal keangkerannya. Sancang  juga memendam berbagai cerita yang unik. Menurut sumber tradisional,   Sancang dahulu kala merupakan wilayah kerajaan. Salah satu penguasanya  yang termashur dikenal dengan nama Rakean Sancang. Cerita ini juga  didukung oleh beberapa situs purbakala yang diyakini sebagai bekas-bekas  peninggalan Kerajaan Sancang. Hutan Sancang adalah hutan yang  dilegendakan sebagai tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di  hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove)yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit  Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini  dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan  masyarakat lokal.

Nama Sancang yang tersusun dari huruf-huruf  Sancang dipercaya memiliki arti khusus, yaitu :

S mempunyai arti :  Sasakala asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya, yang berarti  Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita semua.

A  mempunyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah Sancang  adalah daerah keramat dan sejak zaman dahulu sudah dikenal.

N  mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang  berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk dikaji oleh setiap  manusia.

C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya,   yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita  semua.

A yang kedua mempunyai arti: Aya nya carita Pasundan/   Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan  Padjajaran.

N mempunyai arti: Nagri Padjajaran tilas Siliwangi, yang  berarti Hutan Sancang merupakan salah satu wilayah negeri Padjajaran  peninggalan Siliwangi.

G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk  Garut, yang berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib dan setiap  manusia harus mempercayai hal-hal yang gaib.

Seperti pada kawasan  konservasi umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang  berupa fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila  pengunjung ingin bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat  yang terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan  juga terdapat di Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 13 km dari pusat  pemerintahan kecamatan.

Namun cerita dari hutan ini yang paling  populer tentu saja mitos mengenai harimau (maung) Sancang, atau lebih  dikenal sebagai Maung Kajajaden. Cerita tentang Harimau Sancang banyak  diyakini bukan cuma isapan jempol. Konon banyak orang yang melihat  dengan mata kepala sendiri keberadaan harimau di hutan tersebut. Menurut  cerita itu pula, harimau-harimau di Sancang bukanlah sembarang harimau.  Hewan itu konon jelmaan dari Prabu Siliwangi Raja Pajajaran serta  anak buahnya yang ngahiang (menghilang). Mereka kemudian berubah ujud  menjadi harimau karena dikejar-kejar oleh Kian Santang, putera Prabu  Siliwangi sendiri, karena tidak mau masuk Islam dan dikhitan.

Banyak  orang percaya bahwa harimau-harimau itu bisa berubah ujud kembali  menjadi manusia. Manusia jadi-jadian ini sering berkeliaran di sekitar  Sancang, bahkan ada di antaranya yang memperistri manusia biasa. Yang  membedakannya dengan manusia biasa, manusia harimau ini konon katanya  tidak memiliki ruruncang (lekukan di bawah hidung).Yang jelas,   hutan ini memang unik. Banyak dari jenis fauna dan flora yang ditemukan  di hutan ini sulit ditemukan di tempat lain. Oleh karena itulah,  pemerintah melalui Mentri Kehutanan pada 1978 menetapkan hutan Sancang  sebagai hutan konservasi (suaka margasatwa) yang dilindungi.

Di hutan  ini dulu banyak ditemukan merak, julang, banteng, harimau Jawa, dan  kancil. Juga ditemukan pohon reunghas dan kaboa yang disinyalir hanya  tumbuh di hutan ini. Konon, jika menjelajahi hutan Sancang dan tidak  ingin diganggu harimau, kita harus membawa kayu kaboa sebagai jimat  pelindung. Bahkan bisa digunakan untuk memanggil harimau kajajaden,   dengan cara diketrukkeun kana taneuh, dimana pun kita berada.Karena  keunikannya pula, hutan ini menjadi tujuan wisata yang banyak  dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan yang hendak menikmati keindahan  alamnya, maupun wisatawan yang hendak berziarah ke situs-situs  purbakala.

Sayangnya, keadaan Sancang kini sangat jauh berbeda dengan  hutan Sancang yang dulu. Keangkeran hutan ini mulai lenyap seiring  dengan banyaknya pepohonan yang ditebang perambah liar. Sebagian  lahannya dijadikan ladang pertanian.Menurut penelitian tahun  2004, hampir setengah dari luas areal hutan Sancang telah hancur.  Kekayaan flora dan faunanya banyak yang ikut hilang. Pengunjung jarang  menemukan hewan-hewan khas hutan ini karena habitatnya dirusak. Bahkan  pernah tersiar kabar banteng sancang sempat ditemukan berkeliaran di  perkampungan penduduk. Sancang Ilang dangiang, yang artinya Sancang  kehilangan jati dirinya, walaupun upaya-upaya reboisasi terus dilakukan  untuk mengembalikan hutan ini seperti keadaannya semula.

Pengalaman saya berada di tepi Hutan Sancang Cukup Menarik dan dipelajari mulai dari flora fauna cocok buat Fotografi, saya sempat bermalam selama 3 hari 2 malam karena tempatnya tidak jauh dari pantai saya sempat memancing dibeberapa spot dengan joran panjang…

Tidur di bawah tenda

 

Pantainya buat mancing

 

Dengan lentera main sempat bersenda gurau dengan POLHUT

 

Acara yang ditunggu-tunggu

Jangan Lupa Bekal kita buat bertahan hidup dan bawa bibit yang sudah disemaikan untuk kelangsungan Hutan ” SANCANG ” andai 1 pengujung Hutan wisata di siapin ato menanam 2 pohon saja di perkirakan dalam satu tahun ada 6000  pohon ato  kegiatan Lokal di arahkan ke reboisasi hutan Sancang…….

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Rainforest & Beach Survival School"

  1. MasTok  14 March, 2012 at 11:13

    Trima kasih teman2 Atensinya.. 45 taman Nasional di indonesia butuh perharian lebih daerah2 konservasi sekarang sudah jauh menyusut .. biofer, World Heritage Sites sudah banyak ji jamah manusia

    MEMANFAATKAN CAGAR BIOSFER UNTUK KONSERVASI ALAM DAN MELESTARIKAN KERAGAMAN BUDAYA

    Tujuan : Meningkatkan perlindungan keanekaragaman hayati dan budaya melalui Jaringan Cagar Biosfer Dunia.

    Rekomendasi untuk tingkat internasional:

    Mempromosikan cagar biosfer sebagai sarana untuk mencapai tujuan Konvensi Keanekaragaman Hayati.
    Mempromosikan pendekatan yang komprehensif terhadap klasifikasi bio-geografi yang memperhatikan berbagai gagasan seperti analisa kerawanan, untuk mengembangkan suatu sistem yang mencakup faktor-faktor sosial ekologi.

    Rekomendasi untuk tingkat nasional:

    Menyusun analisa biogeografi Negara tersebut sebagai dasar, antara lain untuk menelaah Jaringan Cagar Biosfer Dunia.
    Sehubungan dengan analisa tersebut, dan dengan memperhatikan adanya kawasan-kawasan yang dilindungi, penetapan, peningkatan atau apabila diperlukan melakukan perluasan cagar biosfer, dengan memberikan perhatian khusus pada habitat-habitat yang mengalami fragmentasi, ekosistem yang terancam, dan lingkungan-lingkungan alam dan budaya yang-rawan terhadap kerusakan.

    Tujuan : Mengintegrasikon cagar biosfer ke dalam perencanaan konservasi.

    Rekomendasi untuk tingkat internasional:

    Mendorong terbentuknya cagar biosfer lintas batas sebagai upaya untuk mengelola konservasi organisme, ekosistem, dan sumber daya genetik yang melintasi batas-batas nasional suatu negara.

    Rekomendasi untuk tingkat nasional:

    Mengintegrasikan cagar biosfer ke dalam strategi konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati, kedalam perencanaan untuk kawasan-kawasan yang dilindungi, dan dalam strategi dan rencana kerja keanekaragarnan hayati nasional sebagaimana tercantum dalam Article 6 Konvensi Keanekaragaman Hayati.
    Jika diperlukan, masukkan proyek-proyek untuk memperkuat dan mengembangkan cagar biosfer di dalam program-program yang diprakarsai dan didanai oleh Konvensi Keanekaragaman Hayati dan konvensi-konvensi multilateral lainnya.
    Menghubungkan cagar biosfer satu dengan lainnya, dan dengan kawasan-kawasan dilindungi lainnya, melalui koridor/jalur hijau dan dengan cara lain yang dapat meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, dan menjamin agar hubungan ini tetap dipelihara dengan baik.
    Memanfaatkan cagar biosfer bagi konservasi in-situ sumber daya genetik, termasuk jenis-jenis dan alam dan jenis-jenis hasil penangkaran maupun budidaya, serta mempertimbangkan untuk memanfaatkan cagar biosfer sebagai lokasi rehabilitasi/re-introduksi, dan menghubungkan keduanya yang disesuaikan dengan program konservasi ex-situ dan pemanfaatannya.

    Pemerintah terlalu asik dengan mainan hal-hal yang tidak di mengerti oleh rakyat , petani….

  2. Mawar09  13 March, 2012 at 00:06

    Mastok : asyik sekali acara campingnya. Sangat disayangkan kerusakan yang terjadi di hutan Sancang, apa ada usaha dari pemerintah untuk mengatasinya. Mau tuh kalau ramai-ramai kesana dan camping.

  3. J C  12 March, 2012 at 12:17

    Wah, asik bener ini. Aku pernah juga berkemah di alam terbuka di antah berantah waktu berkeliling Friesland dengan beberapa teman. Sailing dengan perahu, malam tiba langsung berhenti, menambatkan perahu, pasang tenda, masak-masak, asik banget…

  4. Dewi Aichi  12 March, 2012 at 00:01

    Mastok…ulasannya sangat detail, sangat lengkap….dan juga cerita mitos, wah sangat menambah wawasan…tapi kalau aku ya takut juga sih kalau nginep di hutan….nanti kalau didatangi harimau gimana? Kalau harimaunya langsung berubah wujud menjadi pangeran yang cakep sih ngga takut….punya keinginan untuk foto foto saja di hutan ….panorama yang tentunya sangat alami….

    Kalau ketemu Mastok, pertama kali yang akan aku lihat adalah lekukan di bawah hidung he he..

  5. Dj.  11 March, 2012 at 18:13

    Siang bisa berenang di danau atau dengan perahu karet, keliling danau.
    Malam, bersama keluarga nyanyi-nyanyi atau mereka main kartu di depan tenda.
    Pagi sarapan bersama.
    Memang asyik, kalau dapat pancingan dan lalu dibakar dan dinikmati bersama.
    Ini satu ikan, yang mana si ragil saat itu masih kecil dan bangga, ikan hasil mancing.

  6. Dj.  11 March, 2012 at 18:07

    Mas Tok…
    Kok tidur dibawah tenda sih…???
    Mungkin maksud mastok, tidur didalam tenda ya…???
    Kami sekeluarga sangat senang berkemah, hampir setiap sommer.
    Tapi tempatnya sudah dikelola dengan bagus, sudah dipetak-petak dipinggir danau.
    Ada kamar mandi dan WC untuk para penyewa tempat, bahkan mobilpun bisa masuk dan diparkir disamping tenda. Bayar €5,- / orang, ada tempat main untuk anak-anak dan didanau juga bisa mancing.
    Kami punya 2 tenda besar, bisa masuk 4 orang dan ada dapurnya.

  7. Handoko Widagdo  11 March, 2012 at 11:20

    Kapan ke Tanjungputing?

  8. James  11 March, 2012 at 10:31

    One Panorama Sancang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.