Bhisma

Chandra Sasadara

 

Hari kesepuluh. Siang seperti membakar padang Kurushetra. Tubuh kesatria tua itu akhirnya limbung, jatuh dari atas kereta setelah dihujani anak panah oleh Srikandi. Berusaha bangkit kembali untuk menghalau musuh, berhasil berdiri. Namun jatuh lagi, puluhan bahkan ratusan anak panah tidak berhenti menghujani tubuhnya. Partha, Srikandi, Dristadyumna dan ratusan prajurit pemanah dari pihak Pandawa tidak membiarkan satu jaripun kulit kesatria tua itu lolos dari tusukan anak panah. Tidak ada lagi tenaga yang tersisah, rebah. Namun tubuh tua itu tidak menyentuh tanah. Ratusan anak panah menyangganya, hanya kepalanya yang menggantung tanpa penyangga.

Langit tiba-tiba redup. Angin berhenti bertiup seperti hendak menunjukkan dukanya. Suara senjata yang sedang beradu, ringkik kuda, putaran roda kereta dan teriakan kematian tiba-tiba menghilang dari medan perang. Kurushetra senyap. Para raja, kesatria, panglima perang dan prajurit turun dari gajah, kuda maupun kereta tunggangannya. Mereka beringsut, duduk simpuh menglilingi tubuh tua yang sedang tergeletak dan kesulitan bernafas itu.

Semua orang manangis. Hanya suara tangis itulah yang terdengar di medan perang, sisanya adalah kesunyian. “Berikan aku bantal,” tubuh tua yang disanggah anak panah itu bersuara. “Partha, berikan aku bantal,” dengan suara serak ia mengulang. Seseorang yang dipanggil namanya bergegas mencabut tiga anak panah dari kantongnya. Menancapkan anak panah di bawa kepala dan menghadapkan ujung-ujungnya ke atas sehingga menancap di kulit kepala kesatria tua itu. “Bagitulah harusnya seorang kesatria diperlakukan,” mulut tua yang masih mengeluarkan darah itu kembali bersuara. Partha menggigil, wajahnya ditutupi dengan kedua tanganya. Air matanya tidak berhenti mengalir. Di antara tangisnya, ia terus memanggil “kakek.”

Senjakala tiba, langit barat memerah. Gerimis juga mulai datang, namun tidak seorangpun yang beranjak dari tempatnya. Mereka bertekad untuk mengantarkan kepergian seorang kesatria utama. Sesepuh Wangsa Bharata yang di masa mudanya merelakan tahta untuk kebahagiaan ayahnya. Seorang kesatria yang sepanjang hidupya diabdikan untuk membela dharma dan kesucian. Memilih hidup sebagai brahmacarin di tengah gelimang kekayaan dan kemewahan Istana Hastinapura yang menjadi haknya.

“Istirahatlah kalian semua, biarkan kematian ini aku sambut sendiri,” suara kesatria tua itu hampir kalah dengan hujan yang semakin besar. Tidak seorangpun bergerak. Ledakan tangis orang-orang yang mengelilingi tubuh tua itu justru semakin menyayat.

“Sucikan mayat prajurit yang gugur, bakar bangkai binatang yang mati dan percikkan air suci di medan perang ini,” suara yang penuh wibawa terdengar lagi.

“Aku belum akan kembali ke khayangan sebelum sesalku mendapat maaf dari Draupadi,” suara kesatria tua itu bergetar. Ingatannya terlempar pada peristiwa tiga belas tahun silam. Peristiwa yang bukan hanya mempermalukan dirinya sebagai sesepuh Wangsa Bharata, tapi juga menciderai dharma kesatria.

*****

Kesatria tua itu telah menasehati Dritarastra agar tidak mengijinkan permainan judi yang akan dilakukan oleh Duryodhana dan Yudhistira. Permaina judi itu hanya akal licik untuk menipu Yudhistira agar mempertaruhkan Indrapratha, sehingga tanah warisan itu bisa dikuasai lagi oleh para Kaurawa. Kesatria tua itu meperingatkan bahwa perjudian yang akan dilakukan oleh Raja Indraprastha dan Yuwaraja Hastinapura itu akan menjadi bibit sengketa berdarah dalam keluarga Wangsa Bharata. Namun nasehat itu seperti ditelan angin,  Dritarastra lebih mendengar adik iparnya, Sakuni. Sekarang ia harus menyaksikan keturunan Bharata menyemai bibit permusuhan, melanggar susila dan dharma kesatria.

Kesatria tua itu memejamkan mata ketika Draupadi diseret oleh Duhsasana di tengah arena perjudian. Putri Raja Panchala itu dipaksa untuk mengakui kekalahan suaminya dalam permainan judi melawan Duryodhana. Namun Permaisuri Indraprastha itu bergeming, ia tetap tidak mau tunduk pada kemauan Kaurawa. Sambil meronta ia mengatakan bahwa Yudhistira tidak berhak mempertaruhkan dirinya di meja perjudian setelah Raja Indraprastha itu mempertaruhkan dirinya sendiri. Yudhistira bukan orang merdeka ketika mempertaruhkan Draupadi.

Kalimat Draupadi itu menusuk tepat di jantung kesatria tua. Sesak rasanya. Sebagai tetua trah Bharata dirinya merasa gagal mendidik Kaurawa dan Pandawa menjadi kesatria seperti para pendahulunya. Tanpa terasa air matanya berlinangan, kesatria tua itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dewa, karma apa yang sedang engkau berikan kepadaku ini. Kesatria tua itu mengeluh penuh sesal.

Ia berniat meninggalkan keributan di area perjudian itu, namun kakinya tertahan ketika mendengar Duryodhono mengatakan kepada para tamu bahwa Permaisuri Yudhistira telah menjadi budaknya, ia berhak memperlakukan sesui dengan kehendaknya. Kalimat Yuwaraja Hastinapura itu disusul dengan tindakan nekad Duhsasana menarik kain dan  menjamah tubuh Draupadi. Duhsasana berniat untuk menelanjangi tubuh Draupadi agar bisa menjadi tontonan para raja bawahan, panglima perang dan para prajurit yang menjadi tamu permainan judi.

Tindakan Duhsasana tidak dapat diampuni. Kesatria tua itu berusaha menahan marah. Ia melangkah maju dengan tangan yang siap diayun ke wajah jahanam yang sedang menarik kain Darupadi. Namun langkah kakinya terhenti, Mahaguru Drona memegang tanganya. Drona membisikkan bahwa semua kesombongan, kerakusan dan amarah ini akan berakhir. Hutang karma ini akan lunas di Padang Kurushetra. Bharatayudha telah menjadi ketentuan Dewa dan hari ini bibit perang besar itu telah disemai.

Apa betul Bharatayudha akan mengakhiri angkara murka, kerakusan dan kesombongan manusia seperti kata Mahaguru Drona. Bukankah perang besar sudah sering terjadi dalam kehidupan manusia? Bahkan untuk alasan yang remeh, namun kenapa sifat buruk manusia tidak pernah hilang. Kesatria tua itu terus bertanya dalam hati.

Ia merasa bahwa di antara keturunan Bharata dirinya telah dipilih Dewa untuk menyaksikan kehancuran Wangsanya. Menyaksikan mereka melanggar kesucian dan dharma kesatria. Tapi kenapa dirinya, kenapa bukan keturunan yang lain pada masa yang lain. Kenapa dirinya harus terlibat dan ikut menanggung malu prilaku buruk wangsanya. Duh Dewa, apa yang bisa dilakukan oleh Putra Gangga ini dalam perang besar yang telah engkau gariskan. Hatinya merintih.

Kesatria tua itu tetap tidak bisa menutupi marah, sesal, dan dukanya  karena merasa tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Wangsa Bharata. Tubuh kesatria tua itu menggigil ketika mendengar Draupadi menangis, menjerit, memohon pertolongan kepada lima orang suaminya, namun tidak satu pun yang bangkit untuk menolongnya bahkan Bhima yang gagah perkasa itu.

Leher kesatria tua itu tercekat seperti menelan racun yang paling ganas ketika menyaksikan Draupadi mendelik, sorot matanya merah dan jari telunjuknya mengarah kepada kursi para tetua yang diduduki oleh Raja Dritarastra, Mahaguru Drona, Guru Kripa, Mahatma Widura dan dirinya. Dengan suara tajam Draupadi menghardik, “bagaimana bisa para tetua negeri Hastinapura yang terkenal menjunjung tinggi kesucian dan dharma membiarkan seorang perempuan ditelanjangi dan dipermalukan di tengah arena perjudian.”

Dengan jari telunjuk tetap mengarah pada para tetua negeri Hastinapura, sekali lagi Draupadi menggugat.”Jika kalian memang mencintai dan menghormati kaum ibu yang telah melahirkan dan menyusui kalian. Jika penghargaan kepada saudara perempuan dan putri kalian benar-benar tulus. Jika kalian percaya kepada Yang Maha Agung dan dharma, maka jangan biarkan aku dihina seperti ini. Penghinaan ini lebih kejam dari pada kematian seribu kali.” Kesatria tua itu kesulitan bernafas. Udara seperti berhenti. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Sekali lagi tubuh tua itu menggigil menahan perasaan yang campur aduk.

Ia merasa bahwa kata-kata Draupadi itu bukan ditujukan kepada orang lain. Bukan kepada Raja Dritarastra, Mahaguru Drona, Guru Kripa, atau Mahatma Widura, tapi kepada dirinya, kepada tetua Wangsa Bharata. Ia merasa kehormatan dan kesucian yang dijaga sejak muda telah hangus tebakar. Kalimat Draupadi itu telah membakar semuanya. Dirinya telah mati.

Ia ketakutan menyandang sebutan sebagai tetua Wangsa Bharata. Kesatria tua itu bahkan merasa tidak layak mengayun pedang dan menarik busur panah dalam perang besar Bharatayudha yang dipastikan akan pecah tiga belas tahun setelah peristiwa perjudian di Istana Hastinapura. Oh Putri Panchala, dengan cara apa engkau bisa memaafkan orang tua ini. Kesatria tua itu batinnya tertekan.

*****

Hujan mulai reda, tubuh tua yang disanggah oleh ratusan anak panah itu masih telentang di tengah medan perang. Basah oleh air hujan, namun kesatria tua itu tidak merasakan apapun. Air hujan seperti sengaja dikirim Dewa untuk mensucikan tubuh yang sebentar lagi akan memasuki gerbang kahyangan. Dalam hati ia memohon kepada Dewa agar berkesempatan menyampaikan maaf kepada Draupadi.

Malam telah mendekati puncaknya. Sisa-sisa perang telah disingkirkan. Mayat prajurit yang mati telah disucikan, bangkai binatang tunggang telah dibakar, potongan-potongan kereta dan senjata telah disingkirkan. Kurushetra telah bersiap untuk menyambut banjir darah di hari kesebelas. Sama dengan kesiapan kesatria tua itu untuk memasuki kehidupan di alam keabadian. Alam yang telah dinantikan sejak dirinya melukai hati anak Raja Kasi, Putri Amba.

Hati kesatria tua itu masih gelisah sebelum sesalnya terhapus, sesal yang menghantui dirinya selama tiga belas tahun sisah hidupnya. Perlakukan memalukan terhadap Draupadi itu sulit hapus dari ingatannya. Hanya maaf Draupadi yang dapat meringankan bebanya pulang ke swargaloka. “Kakek!” tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya itu memasuki pendengaranya yang mulai berkurang.

“Apakah itu suara Panchali?”

“Benar, saya yang datang kakek.”

“Bagaimana nasib tubuh yang telah menjadi bangkai ini tanpa maafmu cucuku?”

Perempuan cantik dengan rambut terurai sampai mata kaki yang dipanggil Panchali itu menangis terisak. Bersujud di kaki kesatria tua yang terlentang tidak bergerak itu. Wajah tua itu tersenyum, matanya berubah sejuk dan lembut. Ia meminta supaya perempuan yang dipanggil Panchali itu mendekat di bagian kepalanya.

“Panchali, apakah kamu masih mau menggugat orang tua yang tidak setia menggegam dharma ini?”

“Kakek, kenapa harus merasa bertanggung jawab terhadap perlakuan Kaurawa kepada cucumu ini?”

“Siapa yang harus bertanggung jawab selain aku? Aku tetua Wangsa Bharata?”

“Kakek, perjudian yang mempertaruhkan Indraprastha dan isinya itu telah menjadi garis kodrat. Alam memiliki cara untuk menumpas angkara murka dan kesombongan manusia di muka bumi. Meja judi di Hastinapura tiga belas tahun lalu itu hanya cara alam untuk menyiapkan Bharatayudha yang sekarang ini terjadi.”

“Tapi mengapa harus kamu yang terpilih menjadi korban cucuku?”

“Bukan hanya aku, kita semua menjadi korban kakek. Korban dari kecintaan kita terhadap dunia yang berlebihan”

“Cucuku, sikapmu akan membuat Hastinapura menjadi besar.”

“Istirahatlah Kakek, serahkan Hastinapura kepada orang-orang yang masih tersisah setelah perang ini.”

Tiba-tiba wewangian menyergap, Padang Kurushetra seperti ditaburi ribuan jenis bunga. Sisa-sisa mendung di atas medan perang itu lenyap, langit dipenuhi bintang. Tubuh kesatria tua yang penuh dengan anak panah itu terangkat sesaat lalu turun. Di balik gugusan bintang angkasa raya terdengar suara sambutan merdu. Bhisma, Bhisma, Bhisma.

 

Daftar Kata:

Dharma: Tanggung jawab terhadap budi pekerti dan kehormatan

Bramacarin: Kehidupan tanpa perempuan

Yuwaraja: Putra Mahkota

Panchali: Sebutan lain untuk Draupadi

Partha: Nama lain Arjuna

 

27 Comments to "Bhisma"

  1. Handoko Widagdo  21 March, 2012 at 15:16

    Woro Sembodro = Roro Ireng = Nyi EQ. Tuh sudah aku masukkan dirimu.

  2. Chadra Sasadara  21 March, 2012 at 15:02

    Mas Abu Waswas, nuwun pangapunten sanget. kulo ini nembeh belajar nulis cerito wayang. ning yen wonten ikang saget kula bagi kale panjenengan nggih badeh kula tulis teng Baltyra. matur suwun

  3. Abu Waswas  20 March, 2012 at 23:31

    Keren Mas Chandra.
    Ajarin aku dong tentang pewayangan. hehehehe…

  4. EQ  15 March, 2012 at 00:18

    OM Hand : wakakakaka…lha saya apa ? mosok yang perempuan gak disebut ( mau bikin acara wayang wong ?) #protes…
    mas Chandra : hehehehe….gpp, maklum nama EQ memang unisex ya….tapi Baltyrans lama suka manggil saya Nyai EQ…..itu nama sakti pemberian kanjeng buto JC….
    tetap menulis dengan sumangat !! tar saya tak nyumbang tulisan tentang Ramayana….atau petikan2 lain dari kisah Mahabaratha yang jarang di kisahkan…… jadi ikutan semangat nulis lagi makasiiih….
    Om Dj : makasih untuk pemberitahuannya, hehehe….salam dari Jogja om…

  5. Chadra Sasadara  14 March, 2012 at 20:26

    Bu’ Linda : cerita alternatif yg berbeda dengan pakem India dan Jawa sperti versi Srilanka ini menarik, Rawana memberikan suaka kepada Shinta

  6. Linda Cheang  14 March, 2012 at 14:28

    Bung Chadra, saya pernah minta seorang teman di Sri Lanka sana untuk berkisah tentang Ramayana versi sana, tapi nggak tau kenapa, kisahnya tidak pernah tertulis saja, hehehe.

    Yang saya tahu, di versi Sri Lanka, Rahwana (Ravan) justru melindungi Shita di Alengka Dirja ( semacma memberi suaka, gitu), bukan menculiknya seperti kisah versi India.

  7. Chadra Sasadara  14 March, 2012 at 14:08

    Boleh juga Bu’ ditulis kisah Mahabharata dan Ramayana versi Srilanka

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.