Kaligrafi

JC – Global Citizen

 

Sekitar dua minggu yang lalu ketika sedang bersih-bersih lemari, saya menemukan satu kotak yang hampir terlupakan. Kotak tsb tergeletak begitu saja di dalam lemari bersama barang-barang lainnya. Saya masih ingat isi kotak itu dan segera saya buka. Seperti membuka mesin waktu, ingatan akan mendiang Ibunda mengalir deras.

Satu set pena kaligrafi bermerek Platignum dengan beberapa ukuran mata pena tergolek dalam kotak tsb. Pena Platignum tsb adalah hadiah mendiang Mama untuk saya di ulangtahun saya lebih duapuluh tahun lalu.

Awalnya di kelas 1 SMA saya melihat teman sekelas suka menulis kaligrafi dengan berbagai jenis tulisan. Saya coba meminjam pena tsb dan coba-coba untuk menulis beberapa kata, ternyata tidak begitu susah, dalam beberapa coretan, saya mendapatkan feeling untuk menulis dengan gaya sendiri. Kemudian saya coba untuk mencari pena tsb di toko buku dan membelinya. Pena kaligrafi pertama itu bermerek Pilot, hanya dengan satu ukuran mata pena yang pipih ujungnya. Latihan demi latihan saya coba dan akhirnya cukup menguasai beberapa jenis huruf. Ternyata gaya huruf gothic menjadi gaya yang saya paling suka dan sepertinya paling layak lihat dibanding gaya lainnya.

Menjelang kelulusan SMA, Mama dan saya sedang berjalan-jalan ke toko buku dan saya melihat satu set pena kaligrafi yang sepertinya jauh lebih bagus daripada Pilot yang saya punya. Saya mencoba melihatnya dan tertarik untuk membelinya, namun sayang harganya cukup mahal. Saya batalkan keinginan tsb. Ternyata Mama sempat memerhatikan gesture saya yang menginginkan satu set pena tsb.

Tidak disangka, pada hari ulangtahun saya di tahun itu, satu set pena Platignum menjadi hadiah yang luar biasa. Karena sudah terbiasa dengan tulis menulis kaligrafi sebelumnya, pengembangan gaya dan model tulisan menjadi lebih lancar dan pengalaman asik ketika itu. Memang tidak ada gunanya secara spesifik, namun keasikan menampilkan goresan tulisan yang bervariasi merupakan kesenangan tersendiri. Barulah ketika memasuki perkuliahan akhirnya saya bisa memanfaatkan kebisaan saya untuk sesuatu.

Mama yang semasa hidupnya berkarya di salah satu TK di kota Semarang, setiap akhir tahun ajaran harus mengeluarkan ijazah kelulusan TK murid-muridnya. Selama beberapa puluh tahun, Mama hanya menuliskannya dengan tulisan tangan biasa nama-nama murid tsb. Tahun itu, saya mencoba untuk menulis ijazah para murid tsb dan ternyata para orangtua murid lebih senang. Selama masa kuliah, saya sempat menerima pesanan penulisan ijazah dari beberapa SMA, lumayan juga sebagai tambahan uang saku.

Setelah lebih dari 10 tahun tidak pernah menggunakan pena kaligrafi, saya segera membeli tinta yang biasa saya gunakan ketika itu, mengisinya dan mencoba menggoreskannya di atas kertas. Ternyata kemampuan itu belum hilang, hanya butuh beberapa menit penyesuaian. Dan tulisan gothic yang saya pelajari lebih duapuluh tahun lalu kembali. Saya menggoreskan beberapa kata dan kalimat.

Anak-anak yang paling curious dan memerhatikan apa yang saya kerjakan, kemudian mereka masing-masing mencobanya. Walaupun belum berbentuk layaknya kaligrafi, tapi mereka senang sekali dengan coret-coret coba-coba dengan pena tsb.

Terima kasih sudah membaca…sekedar artikel ringan di awal pekan…

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

40 Comments to "Kaligrafi"

  1. J C  13 March, 2012 at 20:54

    Lani: Juragan Pondol blas gak kasi bocoran kok, logika saja dengan sepak terjangmu, tidak jauh dari dugaanku lah…

    Hennie: kalau mendiang mama dulu guru TK, kalau ibunda Hennie?

    Mawar: tengkyu sudah mampir dan compliment’nya…ah, dikaryakan gimana, mana laku sekarang…hehe…

    Pak Djoko: matur nuwun sanget sudah mampir dan berkomentar. Iya, nanti rencana saya, biar anak-anak ikut belajar juga…salam juga untuk keluarga besar Paisan di Mainz ya…

    Kang Anoew: walaaaaaahhh, pengakuan tho iki ceritane? kowe tho yang masih nyimpen semua memorabilia SEMUA MANTANMU…

    Linda: roller ball yang ukurannya tepat dan tidak terlalu keras ujungnya, sangat enak untuk nulis kaligrafi Hanzi, tapi biar bagaimana pun, maobi tetap the best untuk Hanzi calligraphy…

    Dewi Aichi: anak sekarang masih diajarkan tulis sambung. Kelas 1-3 (at least di sekolah anak-anakku) masih diajarkan tulis sambung, dengan buku tulis halus seperti kita duluuuuu…tapi biasanya setelah kelas 4 ke atas, mereka masing-masing menemukan bentuk dan gaya tulisan sendiri. Aku saja tulisan tangan SD, SMP, SMA, kuliah beda semua, walaupun masih bisa dikenali gayanya…

    Alexa: tengkyu sudah mampir yaaa…

  2. Dewi Aichi  13 March, 2012 at 18:03

    Ini juga hebat mas Jc…kaligrafi ya bagus banget..semoga dilirik untuk penulisan ijazah he he..wah…apalagi masih menyimpan barang berharga peninggalan ibunda…

    Anak anak sekolah di Indonesia sekarang gimana sih nulis memakai huruf terpisah atau bersambung seperti kaligrafi? Di Brasil pada umumnya menulis dengan kaligrafi…termasuk anak anak, sedang aku selalu menulis dengan huruf terpisah dari dulu…jadi kalau nulis huruf bersambung…walah bentuknya ngga karuan, tapi kalau huruf terpisah…tulisanku bagus…

  3. Linda Cheang  13 March, 2012 at 13:07

    JC, penanya apa, sih, yang bisa buat Han Zi?

    Memang pena kayak yang punya panjenengan bisa juga buat huruf Arab, tapi penasaran kenapa kurang bagus buat Han Zi? Atau kayaknya Han Zi hanya cocok pakai mopit alias maobi..

  4. anoew  13 March, 2012 at 11:00

    nama bekas pacar pasti juga dibuat kaligrafi dan disimpan di lemari, kuncinya digembol (disakuin) terus kemana-mana. pasti kiy, yakin wis..!

  5. Dj.  13 March, 2012 at 01:06

    Dimas….
    Terimakasih cerita yang sangat menarik.
    Apalagi hadiah dari Alm. mama tercinta, menggugah ingatan yang lama terpendam.
    Dj. pernah beajar sendiri itu kaligrapy, tapi sudah lama kini, mungkin juga sekitar 30 tahun yang lalu.
    Sekarang, sedikit-sedikit masih bisa.
    Kalau anak-anak mau belajar, itu sangat bagus, beri mereka kesempatan dan pengarahan yang baik.
    Salam manis untuk keluarga dirumah ya…

  6. Mawar09  13 March, 2012 at 01:04

    JC : terima kasih ya sudah berbagi kisahnya disini. Tulisanmu memang bagus kok, perlu dikaryakan tuh!!

  7. HennieTriana Oberst  12 March, 2012 at 23:25

    JC, mengingatkanku juga akan mendiang Ibuku.
    Aku pernah juga ketiban “proyek” penulisan ijazah kaligrafi seperti ini
    Ternyata Ibu kita dulunya sama-sama pendidik ya.

  8. Lani  12 March, 2012 at 22:49

    13 AKI BUTO : ooooooo, jd beda diujungnya ada benda tumpul dan tajam ngono to………….hahahah……..kamu ko tau klu penaku utk nyucuk-i konco yg berani mengganggu usik diriku?????? iki mesti bocoran soko juragan Pondol kkkkkkk

  9. J C  12 March, 2012 at 17:21

    elnino: ooooo si Aimee tulisannya bagus ya? Kayaknya pernah lihat tapi sudah lupa tulisanmu cukup bagus, waktu SD sempat ikut lomba tulis halus?

    Ary Hana: hehehe…undangan apa nih? Undangan ke Banda Neira?

    PamPam: lhoooo itu seninya, kaligrafi cakar ayam…

  10. [email protected]  12 March, 2012 at 16:50

    aku? nulis begini?…. bisa mirip tulisan cakar ayam…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.