Malu

Anwari Doel Arnowo

 

Andapun bisa menjadi malu.

Karena apa saja?

Berbuat kesalahan: menyapa orang lain secara salah sebut nama atau salah eja nama, berbohong karena kemudian terbuka kepada khalayak ramai, mengaku bisa mengerjakan sesuatu tetapi ternyata tidak bisa. Ada lagi? Selesai makan di rumah makan, ternyata tanpa ijin anda orang lain yang telah membayarnya. Ketika anda ingin tau siapa yang membayarnya, yang bersangkutan telah pergi dan pemilik tempat makanpun tidak mengetaui siapa yang telah membayarinya. Ini memalukan, tetapi malu kepada siapa?

Begitulah kita menjadi malu karena banyak sebab.

Ada banyak orang yang kalau dibantu orang lain malah malu, dan demikian malunya sehingga berreaksi marah yang tinggi tingkatannya. Saya pernah yang seperti ini mengalaminya, tetapi itulah, saya tidak tau kepada siapa saya harus malu, ternyata kemudian saya bisa menghilangkan rasa amarah ini setelah memakan waktu cukup lama.

Pada suatu hari, seorang teman saya mengajak saya makan bersama dengan seorang Amerika yang adalah Boss dia dari New York. Yang saya tau dia mengajak saya itu supaya bisa membantu agar komunikasi verbalnya lebih lancar karena dia memang merasa seperti itu. Wah diajak makan bersama di restaurant bagus ya masa saya tolak? Toh “tugas”nya mudah saja kan? Semua berjalan normal dan lancar. Ketika Boss Amerika ke washing room, teman saya ini membayar bon makanan. Saya tidak melihat sesuatu yang luar biasa, akan tetapi setelah sang Boss ini marah kepada teman saya karena membayari, dan setengah membentak berkata: “Why did you do that?” dengan muka masam, saya lihat teman saya ini merah padam mukanya karena malu.

Kemudian dia kehilangan kata-kata, tampak tidak berdaya mau berkata apa! Sayapun juga kikuk karena teman saya tadi kebingungan dan juga tidak meminta bantuan apapun kepada saya. Mencoba mencairkan suasana, saya berkata sesuatu, apa saja, kepada sang Boss sehingga dia sedikit lupa terhadap kemarahannya sendiri karena melayani saya bercakap-cakap. Saya melucu sendiri dan saya tertawa di dalam batin saya karena saya ber”kata”: “Ini orang bukan orang Indonesia sih! Kan kalau orang kita pasti akan bilang: SYUKUR ALHAMDULILLAH karena dibayari, beres deh!!” Saya melantur melucu terus di dalam bathin: Ingat bahwa dulu sudah lama berlalu ada buku yang mengajarkan HOW TO SAY NO. Ah saya teruskan melucu sendiri: mau mencoba membuat kursus di USA dengan topik HOW TO SAY ALHAMDULILLAH.  Haaa..

Sekarang akan ramai dan masih mungkin saja tambah ramai: kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Banyak pihak marah karena disebabkan mempunyai kepentingan lain: politik, keuntungan bisnis dan lain-lain. Saya punya pandangan yang tidak sama dengan kebanyakan orang yang tidak setuju kenaikan harga BBM. Naik harga BBM ini sebab utamanya harga minyak (crude oil) saat ini telah naik menjadi USDollar 120an sedang pemerintah menetapkan harga Bensin jenis Premium yang Rp.4500 per liter itu dengan patokan harga minyak internasional USDollar 90. Semua memberi keterangan ewess ewessss nyerocooosss, anggota Kabinet, Partai Politik, Kadin, Pengusaha lain dan lain-lain.

Apa pendapat saya?

Begini: Penduduk Indonesia menurut data CIA – The World Factbook ada di seputar angka 245 juta (siapa sih yang tau sebenarnya berapa?). Hitung secara acak saja jumlah kendaraan roda dua dan roda empat atau lebih jumlah semuanya hanya (tahun 2009) 70 714 569 (tujuh puluh juta tujuh ratus empat belas ribu lima ratus enam puluh sembilan) buah (silakan buka link: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=17&notab=12 ) . Dengan demikian maka lebih dari 170an  juta jiwa manusia Indonesia ini tidak mempunyai kendaraan bermotor. Perhitungan: Kalau yang menggunakan premium itu 50 juta kendaraan maka mereka ini menikmati subsidi dari uang rakyat karena harga jual premium yang RP.4500 yang seharusnya sejak lama adalah Rp.6000 per liter.

Berapa nilai subsidi ini? Dulu mungkin angkanya Rp.123 Triliun setahun dan kalau tidak dinaikkan, pada tahun 2012 akan menjadi plus Rp. 160.000.000.000.000. Uang siapa ini? JELAS ya uang rakyat yang 245 juta jiwa tadi yang di dalamnya ada lebih dari 170an juta yang tidak memiliki kendaraan. Kendaraan roda dua yang berjalan berkeliaran secara liar seperti orang mabuk di jalan itu harganya yang paling murah pun tidak ada yang kurang dari satu juta Rupiah.

Mengapa RP. 1 juta?? Karena siapapun dia, bila MEMILIKI uang atau barang senilai satu juta Rupiah maka dia adalah jutawan. Jadi mengapa uang PLUS Rp.160.000.000.000.000 milik bersama seluruh manusia Indonesia itu diberikan kepada jutawan yang jumlahnya hanya 50 juta jiwa? Yang bukan jutawan itu di dalamnya masih sekian puluh juta lagi yang tergolong miskin dan berpenghasilan di bawah dua USDollar per hari. Malu dong dibayari bensinnya oleh mereka yang lebih sengsara hidupnya. MASAK TIDAK MALU? Maluuu dooongngng. Masa naik sepeda motor (biar yang jelek sekalipun) kok bensin ikut dibayari oleh kaum miskin??

Subsidi yang lain juga mungkin masih ada misalnya tenaga listrik dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain lagi, yang tidak transparan. Misalnya saja fasilitas pejabat, bensinnya dibayar Negara, padahal kepergiannya bukan dinas. Mana bisa membedakan soal yang begini? Rumah dinas? Mewah? Rakyat masih ribut soal tanah yang direbut paksa dengan upaya hukum resmi tetapi merugikan rakyat kecil. Ada yang bunuh membunuh karenanya. Ada yang menjadi cacat tubuh. Ini menyebabkan semua orang bisa mengomel dan meracau panjaaaangng. Sampai kapaaann??

Kesimpulannya: jangan protes laaaahh apabila harga bensin naik, kalau mampu membeli sepeda motor atau kendaraan lain. Mobil ESEMKA buatan Indonesia saja dipasang harga lebih dari 120 juta Rupiah. Harga sepeda biasa saja tanpa mesin, ada yang di atas satu juta Rupiah …. Galaxy Tab saja harganya di atas 5 Juta Rupiah, Blackberry? Berapa konsumsi rokok sehari??

Naaah mulai meracau lagi kaaann ?? Apakah meracau juga harus maluuuu?

 

Anwari Doel Arnowo

2012/03/06

 

11 Comments to "Malu"

  1. SU  14 March, 2012 at 12:27

    Pejabat2 pemerintahan Indonesia kebykn sudah tidak ada rasa malu lg tuh……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.