Tukar Helm, Barter Tuma

Fire – Yogyakarta

 

Kalo cuaca cerah, kondisi fit dan lagi mood, keponakanku semangat berangkat sekolah naik sepeda. Tetapi selain itu, ia akan diantar dengan sepeda motor, atau ikut nebeng mobil yang sedang ke kantor. Pulangnya juga ada dua kemungkinan, naik Trans Jogja atau mbonceng temannya.

Ketidakjelasan “pola transportasi” keponakanku ini membuat populasi helm di rumahku berubah-ubah. Bisa berangkat tanpa helm, pulang bawa helm. Atau, berangkat bawa helm, pulang tanpa helm. Kalo pun berangkat bawa helm dan pulang bawa helm, bisa jadi berangkat dan pulang, helmnya beda, entah helm temannya yang mana pula. Padahal dulu sempat beli helm dua biji masih kinclong, stiker harganya saja belum di-klethek, kok sekarang balik ganti luthuk. Yang nyebelin dari helm teman-teman ponakanku ini adalah, rata-rata nggak bisa dikaitkan. Jadi cuma nemplok saja di kepala, dan nggak bisa dicantolkan ke cantolan motor. Nggak tahulah, helm kami pada berkelana ke mana saja, dan bertahta di kepala siapa saja. Untunglah di rumah kami sejak dulu kalo beli helm nggak pernah mahal-mahal. Pokoknya sesuai standarlah, yaitu SNI alias Standar Ndhas Indonesia … ha ha ..

Saya ingat dulu waktu keponakanku kecil, orang tuanya masih suka metani kepalanya untuk mencari tuma. Kalo sekarang aku nggak tahu, apakah orang tuanya saat melakukan “sensus” yang bakalan terkaget mendapat variasi tuma yang ditemukan di kepala keponakanku, atau kepalanya malah sudah terlanjur imun menghadapi berbagai jenis tuma. Jadi belum tentu tidak gatal itu berarti steril. Siapa yang tahu helm-helm itu menjadi tempat para tuma melakukan konperensi, simposium dan rapat akbar.

Bayangkan saja kalo suatu hari Brad Pitt  terpaksa minjam helm kami. Wah bisa dapat “bonus” tuh. Ntar kalo Brad Pitt pulang ke rumahnya, giliran Angelina Jollie yang misuh-misuh gara-gara jadwal syutingnya terganggu karena mesti metani bojone. Kalo saya sih tenang-tenang saja, hampir dapat dipastikan tuma-ne Brad Pitt tidak mampu survive lebih lama di kepala kami. Tuma-ne Brad Pitt kan biasa hidup kepenak, padahal di sini persaingan lebih keras, tuma-ne Brad Pitt bisa kena palak tuma-tuma lokal yang sudah duluan bercokol.

Dulu waktu awal-awal penetapan helm SNI, saya ingat sempat ada penukaran helm dengan helm standar SNI. Istilahnya, tukar tambah helm. Tapi nggak tahu juga kalo helm yang mau ditukarkan itu kondisinya nggilani, apa masih boleh ya? Mungkin ini win-win solution, yang menukar helm, dapat helm baru berstandar, sedang yang lainnya, mendapat …. tuma berstandar … wakakakak…. Lho iya toh, kalau terima helm bekas, entah sudah berapa generasi peradaban tuma di situ.

Penampilan helm secara eksternal, mungkin bisa mencerminkan juga kondisi internalnya, meski nggak selalu. Teringat ada teman, helmnya sudah radak somplak, sudah saatnya “pensiun”, eh malah dilakban terus dipaksa “bertugas” kembali. Kalo ada yang lihat di jalan, mungkin mbatin, “Sekarang helmnya yang dilakban, ntar kalo dijalan ada kenapa-kenapa, bisa-bisa bakalan kepalanya yang dilakban.”

Sekarang layanan cuci helm sudah marak di mana-mana dengan ongkos yang makin murah. Saya ingat dulu awal-awal ada jasa cuci helm ini, kalo dipikir-pikir kok ongkosnya hampir separuh harga helmku. Wah beberapa kali cuci sudah dapat helm baru? Tapi belum pernah sih, saya mencoba mencucikan helm di situ, mungkin juga ntar kalo ngliatin helmku, tukang cucinya bilang, “… wah, Mas, dengan sangat menyesal, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya sarankan mending ganti helm saja …” (sambil tangannya waktu megang helm, ekspresinya radak-radak gimana gitu, kayak takut terinfeksi …. wakakak ….). Mungkin helm kami  memang tak perlu dicuci, cukup dijamas saja setiap siji Suro ….. komplit sama sajennya wakakak ….

Tapi ngomong-ngomong kok ongkos cuci helm lebih mahal dari cuci motor yak? Apa mungkin karena cuci helm resikonya lebih besar, maksudnya resiko ketularan tuma … wakakak … Ada yang bilang, karena cuci helm lebih dekat dengan otak. Tapi yang pasti ongkosnya mahal ya cuci otak, nggak tahu gimana njemurnya.

Saya ingat ada tips di sebuah artikel di internet yang menyarankan bagi mereka yang sering naik ojek tiap hari untuk membawa helm sendiri mengingat dua hal. Pertama, jika helm yang dikasihkan tukang ojek agak beresiko, terutama kalo pengaitnya nggak bisa dikancingkan, maka waktu mbonceng jadi sibuk megangin helm takut terbang. Yang kedua jika khawatir dengan resiko ketularan tuma. Kita nggak pernah tahu, berapa banyak kepala yang pernah bersemayam di situ. Sekarang di sejumlah kota mulai banyak, ojek taxi berargo, dan beberapa juga mulai peduli keselamatan pembonceng, yaitu melengkapi jas hujan dan tentunya helm standar. Tapi kalo buat yang sering naik ojek, tapi nggak mau bawa helm sendiri, mungkin ada pilihan lain, bawa saja parfum helm yang sekaligus buat desinfektan, tapi gimana ya kalo nyemprot helmnya di hadapan tukang ojeknya? Bagi yang merasa cukup nyaman dengan helmnya dari tukang ojek, mungkin juga seperti ini, “Tukang ojekku sudah langganan
kok jadi aman …” Maksudnya begini kale .., tuma-nya dan tuma di helm-nya tukang ojek sudah saling mengenal cukup lama, jadi nggak bakalan berantem … wakakak ….

Ada cerita cowok yang lagi mulai pedekate. Suatu kali si cowok ngajak si cewek barengan pergi naik motornya. Diulurkanlah helm buat si cewek untuk mbonceng. Tapi begitu melihat “fenomena yang cukup kompleks” di helm tersebut dan membau aromanya yang begitu “eksklusif”, tampang si cewek seperti habis lihat acara “Dunia Lain” atau “Percaya Nggak Percaya”. Cewek tersebut pamit sebentar ke dalam rumah. Rupanya helm tersebut dibersihkan lalu di semprotnya pewangi, lalu dilandasi saputangan sebelum dikenakannya. Si cowok cuma membatin, “… sekalian saja disemprot Baygon, Sayang ….” Lain kali bila diajak kencan jalan-jalan, si cewek sudah persiapan bawa helm sendiri.

Mungkin ada orang yang ingin memperlakukan helm sebagai barang privat, seperti handuk atau celana dalam. Tapi kalo kita tinggal di asrama atau kost-kost-an, agak sukar juga seperti itu. Di asrama, yang namanya helm, termasuk barang publik. Sudah pinjam motor, pinjam helm pulak. Saat dikembalikan, motor bensinnya sudah limit, helmnya tertukar pula dengan helm antah-berantah, pokoknya mirip judul sinetron Helm yang tertukar …. entah sekuel ke berapa helm tersebut bakal ketemu lagi sama pemiliknya …

Helm masa kini banyak inovasi, ada yang pake radio, bisa muter mp3. Kalo biar kepala nggak kepanasan mungkin perlu helm yang pake pendingin jadi adem. Siapa tahu perlu juga helm yang dilengkapi dengan lampu sein, jadi kalo kepala kita mau nengok kanan atau kiri, nah bisa kedip-kedip dulu kan … wakakak ….

Baiklah teman-teman, siapa itu yang baca Baltyra sambil garuk-garuk kepala? Hmmm… ketauan dah lama minjem helmku … ayo … balikin … Ngomong-ngomong di antara helm-helm “standar SNI” berikut mana yang bakal dipilih ama Brad Pitt … wakakak …

######

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

47 Comments to "Tukar Helm, Barter Tuma"

  1. lembayung  17 March, 2012 at 10:22

    Kang, helm mu buat nanam cabe di teras rumahku. Jipuken dhewe.

  2. Lani  15 March, 2012 at 02:06

    DA, AY : rak po2 do kenthir barenk………di-bagi2 to jgn di-pek dewe

  3. Kornelya  14 March, 2012 at 23:59

    Kang Fire kemana ya, penumpang ojeknya sudah ribut, eeh dianya belum mencungul. Apa lagi nyuci help dimesin cuci?. hahahaha

  4. Alvina VB  14 March, 2012 at 04:23

    Saya jadul naik skuter gak pernah pake helm loh…lah wong Jkt masih sepi banget dan pakai help bukan keharusan… becak aja masih ada di jln Sudirman dan jln raya besar lainnya, mikrolet masih model kuno, kl ndak salah warnanya coklat dan hijau tua ya, yg masih satu pintu dibelakang (gak ada buka pintu di samping).

  5. Dewi Aichi  13 March, 2012 at 22:31

    Dudu plat AB lho…koyone plat H

  6. Dewi Aichi  13 March, 2012 at 22:30

    Lani..lho kok aku to…..wong sik kenthir ki Ayla je…..jal takonono…rak ngguya ngguyu dewe, wingi dansa neng ngarep cermin…karo nunjuk nunjuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.