Locavore

Handoko Widagdo – Solo

 

Carnivore adalah pemakan binatang; herbivore adalah pemakan tumbuhan; omnivore adalah pemakan segala; locavore? Istilah locavore adalah istilah yang asing bagi kebanyakan orang. Locavore, apa artinya?

Locavore adalah istilah yang dipakai untuk mereka yang mengonsumsi bahan-bahan local. Menurut Wikipedia, istilah locavore diperkenalkan oleh Jessica Prentice pada perayaan World Environment Day, 2005. Istilah ini menjadi istilah yang sangat populer pada tahun 2007. Locavore menjadi gerakan yang cukup bergaung di Amerika dan Eropa.

Di Indonesia, locavore hanya berkumandang di kalangan aktivis pertanian organic.

Mengapa locavore?

Locavore adalah cara sederhana dan mikro, yang jika dikerjakan oleh banyak orang, akan menjadi gerakan yang menyumbang pengurangan pemanasan global. Bagaimana bisa? Jika kebanyakan dari kita bersedia memakan bahan makanan yang dihasilkan di sekitar kita, maka energi yang dibutuhkan untuk makanan akan menjadi sangat rendah. Sebab produk lokal tidak memerlukan banyak energi (bahan bakar minyak) untuk sampai ke piring kira. Sebagai contoh, seorang yang tinggal di Solo dan memakan sebuah srikaya yang ditanam di depan rumah sendiri, mengkonsumsi energi yang lebih rendah daripada kalau dia memakan sebuah apel Washington.

Memakan bahan makanan dari sekitar anda, juga bermanfaat untuk mengontrol kualitas bahan makanan tersebut. Kita bisa memilih bahan makanan yang sehat dan segar. Sehat, karena kita bisa mengetahui cara tanam bahan makanan tersebut. Kita bisa menghindari residu bahan kimia yang terlalu banyak pada bahan makanan kita. Sehat juga berarti bahan yang kita makan tidak mengandung bahan pengawet yang dibutuhkan selama bahan makanan tersebut disimpan, didistribusikan dan dipasarkan. Segar, karena bahan tersebut ditanam di sekitar kita, maka kita bisa menikmatinya dengan lebih segar.

 

Bagaimana caranya menjadi locavore?

Tidak mudah menjadi locavore, khususnya di dunia dimana image masih menjadi raja. Kiwi New Zealand, Nectarine Australia, Apple Washington yang menghiasi meja makan kita kelihatan lebih keren dibanding Jeruk Karo, Manggis Bogor dan Srikaya local. Pertama-tama untuk menjadi seorang locavore harus tega meninggalkan cara pandang yang demikian.

Berikutnya, ada langkah-langkah sederhana supaya anda bisa mulai untuk menjadi seorang locavore, atau setidaknya mendukung gerakan ini. Tidak harus menjadi 100% locavore.

Tanam buah-buahan dan sayuran

Tanam sendiri buah dan sayur di halaman rumah anda sebisa mungkin. Dengan menanam buah-buahan dan sayuran yang anda konsumsi sendiri, maka anda sudah membuat langkah besar untuk menjadi seorang locavore.

Dengan halaman rumah 1.5 X 13 meter saya bisa menyediakan 10% dari buah dan sayur yang dikonsumsi oleh keluarga saya. Berikut contoh-contoh bertanam buah di kebun sendiri:

http://baltyra.com/2012/03/02/panen-rambutan/

http://baltyra.com/2012/02/27/srikaya-china-di-depan-rumah/

http://baltyra.com/2011/05/16/buah-naga-di-depan-rumah/

 

Beli bahan-bahan makanan sehari-hari di warung lokal atau pasar tradisional

Warung-warung lokal biasanya hanya menyediakan bahan-bahan makanan yang diproduksi secara lokal. Demikian pula dengan pasar tradisional. Oleh sebab itu berbelanja bahan makanan dari warung lokal atau pasar tradisional telah membuat anda melangkah menjadi seorang locavore.

 

Kunjungi pertanian terdekat dan beli bahan langsung dari petani setempat

Cara ini belum terlalu lazim di Indonesia. Berbelanja langsung ke kebun petani masih sangat jarang terjadi. Padahal cara ini bisa menghemat dan mendapatkan produk yang lebih segar. Akan sangat bagus apabila kita bisa menjalin kerjasama dengan petani di sekitar pemukiman kita untuk menyediakan bahan makanan yang kita butuhkan.

Ini adalah contoh bagaimana kita bisa menikmati wisata sambil menjadi locavore: http://baltyra.com/2011/06/06/panen-strawberry/

 

Beli produk lokal di Supermarket

Jika harus membeli bahan makanan dari super market, pilih produk lokal. Tak bisa dipungkiri bahwa supermarket adalah sumber utama bahan makanan bagi kebanyakan kita yang hidup di perkotaan. Jadi, jika anda dan saya adalah bagian dari spesies Homo supermarketis dianjurkan untuk memilih produk bahan makanan lokal.

Seringkali langkah kecil yang kita lakukan memberi manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan bumi dan umat manusia yang menumpang di atasnya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

60 Comments to "Locavore"

  1. Indriati See  9 April, 2012 at 15:21

    ups … terbalik maksud saya Locavore bukan Lovecore

  2. Indriati See  9 April, 2012 at 15:14

    Saya setuju sekali dengan “Lovecore” … Saya pribadi tinggal di desa kecil dimana masyarakatnya hidup dari pertanian, jika musim panen benar2 ketiban rezeki, hasil pertanian yang murah dan segar dengan harga yang murah bahkan gratis
    Untuk telur saya beli dari peternak ayam yang juga teman menyanyi di Koor Gereja, begitu juga dengan kentang dan bawang … serta sayuran lain tersedia di setiap rumah petani, tergantung dari spesialisasi masing2 maksud saya hasil pertanian yang ditanam oleh masing2 petani

    Alangkah baiknya ya jika mental “Lovecore” ditanam dalam masyarakat kita agar kita lebih menghargai hasil pertanian, perkebunan sendiri … memperbesar eksport dari pada import … semoga !

  3. Handoko Widagdo  20 March, 2012 at 06:20

    Kalau yang itu namanya gratisvore El Nino

  4. elnino  20 March, 2012 at 05:49

    Pak Han, kalo yg suka ngrantang, sebutannya vore apa? *nglirik Buser

  5. Handoko Widagdo  18 March, 2012 at 11:16

    Lembayung, suami orang Solo. Locavore!!!

  6. lembayung  17 March, 2012 at 10:32

    saya makan jambu bangkok dari kebun tetangga. Locavore!!

  7. Handoko Widagdo  16 March, 2012 at 07:09

    Lani, NZ kan luas banget!

  8. Lani  16 March, 2012 at 07:08

    HAND : aku dikirim buahnya aja emoh nek bibit……ora duwe tanah utk nandur kkkkkk

  9. Handoko Widagdo  16 March, 2012 at 07:02

    Inakawa, ayo ditulis itu sayur-sayur lokal Afrika. Pasti akan menarik minat para Baltyran. Apalagi, Peony dan Kangmas Djoko Paisan yang jago masak. Mereka pasti langsung memikirkan bagaimana mengombinasikan sayur-sayur tersebut ke masakan mereka.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.