Disapa Leak

Ary Hana

 

Tak pernah terpikir olehnya bertemu hantu pulau dewata dalam lawatannya yang pertama. Kisah tentang leak hanya dia baca dalam majalah, pada fiksi karya Abdullah Harahap dan sebangsanya. Itupun hanya dia baca sepintas lalu, tak pernah mengendap dalam pikirannya, sehingga dia tak tahu harus percaya atau tidak.

Perjalanan pertamanya di negeri kahyangan ini begitu memukaunya. Bersama kawan-kawannya, mereka mengarungi jeram-jeram sepanjang Sungai Ayung, lalu mendaki puncak tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Kesalahan pertama dilakukannya saat menjajal rumah para dewata itu. Dia hanya bercelana pendek, padahal harus menyisir halaman Pura Besakih yang disucikan itu. Pertanda kesalahan sudah dimulai begitu turun dari Gunung Agung. Fisiknya drop mendadak, dan dia kerap merasa ketakutan tanpa sebab pasti. Terpaksa, kawan-kawannya menggiringnya setengah memaksa untuk membawanya turun. Demi memulihkan fisik, mereka menginap di dalam hutan dalam perjalanan turun.

Tengah hari mereka kembali mencapai Besakih, setelah dua malam mendaki Gunung Agung. Tubuh kumus-kumus, wajah kucel, kulit penuh daki, dan bau badan yang sengak membuat hidung sengut-sengut. Sebisa mungkin dia bersama ke-13 kawannya  menghindari keramaian. Tahu dirilah. Ransel setinggi leher meringan, hanya sisakan matras, sleeping bag, alat-alat makan dan pakaian kotor.

“Makan dulu, yuuk ! Keroncongan perutku,” ajak seorang kawan, lelaki bertubuh tinggi kurus dan berambut ikal yang mereka jadikan pemimpin rombongan.

“Wokeh, tapi cari yang halal yoo. Ojo nganti iwak celeng,” nasihat kawan lelakinya yang bertubuh pendek kekar, berambut gondrong, dan nampak paling tua itu. Mayoritas kawannya muslim. Walau bukan penganut agama yang taat, mereka masih berpantang  makan daging babi.

Sambil menunggu makanan yang dipesan datang, sesekali dia memandang ke arah pura. Matanya seolah tak bisa lepas dari indahnya Besakih. Pura itu berbinar, dipenuhi warna keemasan. Warna yang menghipnotisnya dan sulit dia lepaskan pesonanya. Dia terus memandang pura itu, bahkan ketika makanan tandas disantap, dan rombongannya berlalu meninggalkan kawasan Besakih. Dia, perempuan muda berambut cepak dan bercelana pendek, terus memandangnya, berjalan sambil menoleh ke belakang, mirip jaran gelang.

“Ada apa to, kok ndelok pura wae. Bahaya lho,” tegur kawannya yang pendek kekar, mencoba mengingatkan. Tapi dia nampak tak peduli. Tanpa disadarinya, sebagian dirinya sudah terhisap Besakih.

Mereka lalu mencari angkot menuju Ubud, bareng dengan rombongan para bule. Saat di dalam angkot,  polah perempuan itu semakin tak biasa. Lamban geraknya, kosong tatapannya, dan tubuhnya berasa memberat. Lehernya kaku, mulutnya sulit digerakkan, dadanya meletup-letup penuh emosi. Dia masih bisa menangkap apa yang dibicarakan teman-temannya, tapi sulit  untuk ikut menanggapi.

“Matamu kok merah?” kawannya, perempuan muda berambut keriting menegurnya. Dia cuma membisu, tak bisa menjawab. Hawa berat dan ngantuk mulai merayap. Dia ingin segera terpejam.

Rasa berat ini terus dibawanya sampai ke kamar penginapan di Ubud malam itu. Sungguh baik bapak yang memiliki galeri lukisan itu, mengijinkan mereka semua tidur dalam satu kamar. Tahulah bapak itu kalau mereka anak muda yang suka jalan-jalan dengan sangu pas-pasan. Bukankah si bapak pernah muda juga, seniman lukis pula.

Si ketua rombongan mulai membaui ada yang tak beres dalam dirinya. Saat mereka selesai makan malam di pasar, sang ketua menarik lengannya sambil bertanya, “Kowe jane kelebonan yo?” Dia curiga perempuan itu mulai kerasukan. Ini tanah Bali. Segala hal mistis mungkin saja terjadi. Bukankah di sini ada pusaran energi alam spiritual?

Perempuan cuma diam. Dia terus melangkah. Di depan sebuah rumah yang pagarnya menjulang tinggi, tiba-tiba dia berhenti. Telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk sebuah tanaman di balik pagar besi itu. “Aku mau bunga itu, jupukke.”

Si ketua rombongan memandangnya heran. Namun dia terus menerus mengulangi permintaannya. Mirip rengekan. Macam paksaan. Akhirnya si ketua  memanjat pagar rumah orang itu dengan nekad. Beberapa kuntum melati berhasil dirambahnya. Melati itu lalu diserahkannya kepada perempuan itu. Tanpa membuang waktu, dia melahapnya dengan rakus. Membuat sebagian teman-temannya ngakak, sebagian lagi geleng-geleng kepala. Kesadaran perempuan itu berangsur-angsur pulih. Dia mulai bisa berkata-kata. Rombongan itu lalu meneruskan perjalanan pulang ke penginapan.

Keesokan siangnya mereka menuju Denpasar. Kali ini rombongan itu menginap di rumah kontrakan seorang kawan mahasiswa di Unud.  Kawan mereka sangat baik dan ramah. Malam hari, rombongan kawan perempuan tidur di kamar, sementara para pejantan nggelar kloso di ruang tengah.

Kantuk mulai menyerang perempuan itu. Dia liyer-liyer sambil membaringkan tubuhnya. Mirip setengah tertidur, saat si tamu datang dalam mimpinya. Seorang nenek yang sangat tua. Wajahnya dipenuhi kerut-merut. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar. Bajunya mirip jubah longgar berwarna hitam compang. Nenek itu menjulurkan kedua tangan ke arahnya. Pada saat yang sama perempuan itu merasakan kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya serasa ditarik, energinya disedot, dan ukuran badannya nyaris menyusut cepat. Tak tahan sakitnya, dia pun menjerit. “Jangaaan.. toloong..!”

Seseorang mengguncang bahunya keras-keras. Perempuan itu membuka matanya. Wajahnya pucat. Peluh berleleran memenuhi wajah dan lehernya. Pias ketakutan mencekamnya. Mak Lampir menghilang, digantikan lelaki pendek kekar yang duduk di sampingnya. “Ono opo, kowe ngopo?” Perempuan itu menceritakan mimpinya. Teman-teman mengelilinginya sambil menyimak. Tak mampu berucap. Rasa takut menyergap. Malam mendadak senyap.

Lelaki yang dituakan itu menyuruhnya tidur kembali. “Tak cekeli kowe saiki, ojo wedi. Turu maneh.”

Lelaki itu memang memegang tangannya sambil duduk di sampingnya. Seolah akan menjaganya selama dia tertidur. Dia pun memejamkan mata kembali. Rasa kantuk menyergapnya. Namun ketika kesadarannya tinggal separo, nenek itu datang kembali. Mengarahkan kedua tangan kepadanya. Tampak lebih beringas, dengan tawa yang  mengikik tiada henti. Dia melompat. Gemrobyos tubuhnya. Bersimbah keringat. Berkali-kali hal itu terjadi.  Dia seolah tak boleh memejamkan mata malam itu, karena akan mengundang Mak Lampir datang kembali.

“Itu Leak !” seru seorang teman mereka yang asli Bali.

“Kamu ketempelan, dititipi,” tambah temannya yang lain.

“Bawa dari mana hayoo !” lagi-lagi seorang kawan menuduh.

“Besakih mungkin, kamu kan aneh waktu di Besakih,” si ketua urun rembug.

“Waah… kamu peka sekali. Pasti ada yang sedang menjajalmu. ” Kawannya yang mahasiswa Unud berkomentar.

“Sudah.. sudah, kamu tidur di luar saja dengan kita-kita. Biar ada yang menemani.” Lagi-lagi si pendek kekar menjadi penyelamat.

Perempuan itu tak membantah. Dia pun keluar kamar. Namun tidak tidur. Matanya cuma ketap-ketip, takut Mak Lampirnya datang menjemput. Beberapa kawan menemaninya melekan sampai subuh menjelang.

Kelak, sepulang ke Jawa, perempuan itu membaca berita di koran. ‘Seorang anak berumur tiga tahun mati dimangsa leak. Tubuhnya hangus dan mirip kehabisan darah’. Mendadak, tubuh perempuan itu menegang. Bulu kuduknya meremang. Terbayang kedua tangan nenek tua itu yang menjulur ke arahnya. Tangan penuh kerut dengan cakar-cakar hitam yang menyala.

 

27 Comments to "Disapa Leak"

  1. AH  17 March, 2012 at 22:46

    mbak lani : penderitaan seumur hiduplah.. hehe, tapi bisa buat nakut-nakutin orang jahat di jalan :-p

    sasadara : begitu pagi.. hantunya hilang

  2. sasadara  17 March, 2012 at 22:37

    Trus itu hantu leaknya gimana keluarnya?

  3. Lani  17 March, 2012 at 08:14

    22 AH : wadoooooh……jd dirimu pernah didatangi………ngeliat……macam2? mungkin mmg ada kecendurungan kesana ya? amit2 jabang bayi jok kaget……..memedenikan……apakah perlu diruwat agar ndak diganggung hal2 spt itu??????

  4. Dewi Aichi  16 March, 2012 at 20:14

    Lani.komen 21..ha ha ha….aku ngguyu tenan mbayangke buto..

  5. anoew  16 March, 2012 at 16:23

    Setuju, memang harus dipagari atau mungkin diruwat? Makanya saya bilang juga ke temen bahwa, lebih baik dan jauh lebih enak bagi mereka yg tidak bisa melihat namun percaya. Jadi manusia ‘bebas’ kemana dan mau appa, tanpa harus melihat di sini ada itu, di sana ada ini dan sebgainya bla bla bla..

    Trimsnya cerita perjalanannya. Mantaf.

  6. AH  16 March, 2012 at 09:19

    mbak Lani n Jc : yah.. begitulah, jaman masih muda-mudanya apapun bisa terjadi, termasuk disapa mak lampir :p

    mas dj : haha.. leak maintz ada ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.