Sepenggal Hikmah Yang Tersisa Dari Semanggi 1998

EA. Inakawa – Kenya

 

Ingatan ini adalah sebuah bayangan tentang sebuah rasa yang bukan saja mengusik ku sejak lama, ada rona jingga yang membuat iya berbeda untuk dilupakan…………

Perasaan ini lebih besar kepada sebuah kekaguman akan sosoknya…

Bagi kebanyakan orang barangkali dia bukanlah figur yang istimewa, dia hanyalah seorang dosen tua yang menyumbangkan ilmunya tanpa pamrih.

Sebenarnya tanpa harus bekerjapun beliau sudah berkecukupan dari keberhasilannya mendidik dan membesarkan anak anaknya yang sukses dan kaya raya, dari royalty berbagai buku hukum yang beliau tulis.

 

Barangkali aku bukanlah orang yang pertama mengaguminya……..namun kepribadian nya yang sangat sederhana, rendah hati dan baik sekali kepada semua mahasiswa telah menempatkan dirinya pada level yang pantas untuk dikagumi dan dihormati.

Kesabarannya dalam mengajar sering sekali memukau dan membuat betah untuk duduk tekun mendengarkannya, bahkan iya mampu memukau mahasiswa yang biasanya suka membolos untuk tetap duduk ditempat duduknya.

Di antara mahasiswa lainnya, aku termasuk yang sangat dekat dengan beliau, semua bermula ketika kami mempersiapkan dies natalis kampus, aku salah satu panitia yang cukup aktif di senat mahasiswa masa itu.

Berdiskusi dan bercanda dengan beliau diluar jam kuliah adalah dunia yang berbeda…..tetapi aku tidak pernah lupa untuk tetap tau diri menghormati beliau sesuai kapasitasnya.

 

Ketika itu dalam sebuah kesempatan…..beliau mengajak ku mampir ke rumahnya, disebuah komplek perumahan yang disediakan USU dengan arsitektur yang sederhana sekali.

Disesaat aku dipersilakan duduk di beranda tamu sendiri…..suasana hening membuat alam pikirku bergerilya mencari tau, ada apa gerangan dengan undangan ini.

Rumah ini dan isinya sangat jauh dari kemewahan, bahkan sangat sederhana sekali untuk ukuran seorang Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara.

Barangkali tak tega jua beliau meninggalkanku termangu sendiri di ruang tamu ini….setelah berganti baju beliau bergabung bersamaku.

Naluri tuanya memahami sebuah tanya yang tersirat di balik jendela kelopak mataku….jujur saja di bola mataku yang belum banyak dosa kala itu, apa yang beliau lihat adalah keluguanku yang tak bisa kusembunyikan menjadi rasa heran dan bertanya tanya, lalu mewarnai di semburat wajahku dalam tanya…..

Lima menit kemudian hadir seorang ibu tua sembari membawa baki dengan teh hangat berikut potongan jeruk nipis, achhhh lemon tea kesukaan ku yang beliau hidangkan berikut beberapa potongan bika ambon khas kota Medan.

Ivan…..perkenalkan ini ibu Syafira, istri dan mantan pacarku satu-satunya kata beliau.

Dalam hatiku…..pandai juga pak tua ini bercanda.

Ibu ini kemudian duduk mengambil tempat di sampingku.

Sosoknya tampil tak berbeda dengan suaminya, sederhana dan anggun…..tetapi raut dan wajah suku melayunya tak bisa dipungkiri beliau dari kalangan bangsawan Melayu Deli (Istana Maimon). Ibu Syafira menggamit bahuku……..

“Coba nak Ivan perhatikan photo yang ada di sudut sana ….. aku melihatnya dengan jelas, sebuah photo berbingkai dengan warna kayu kuning tembaga, indah.

Sebuah potret seorang anak muda se usia ku…….

Aku tercekat memandangnya, sebuah wajah yang tidak asing bagiku…..photo di bingkai mewah itu sangat mirip sekali dengan wajahku, bahkan nyaris tidak berbeda.

Itu ….. Sinar 23 tahun, anak lelaki kami satu-satunya.

Sinar telah berpulang nak Ivan, dia tewas dalam peristiwa Jakarta 98 Tragedi Semanggi. Sinar adalah mahasiswa kedokteran Trisakti semester achir ketika peristiwa demonstrasi itu terjadi.

Anak kami 3 orang ….. 2 putri dan 1 putra (Sinar).

Dalam heningku……mistery hatiku menjawab sendiri berbagai tanya yang awalnya membuatku berusaha mencari tahu sejak di perjalanan sampai duduk di sofa ini.

Wajahku yang mirip ….. menjadi letupan rindu yang beliau tahankan setiap kali hadir di kampus ketika memandangku, hubungan emosional ini beliau rasakan sebagai seorang ayah terhadapku dan bertahun tahun iya pendamkan dalam setiap kali hadir di kampus kami, iya selalu berangan rindu di jalan yang tak bertepi.

 

Dan entah oleh karena apa…..aku hanyut dan ter-isak dalam pelukan mereka berdua.

Sekarang nak Ivan tentu mengerti kenapa Bapak membawamu kerumah kami…..lama sekali bapak ingin mengajakmu, dan hari ini adalah hari Ulang Tahun Sinar.

Ibu Syafira memaksa bapak untuk mengundang nak Ivan di hari ulang tahun ini.

 

Di sela waktu yang bergulir……dan di kemudian hari berikutnya, aku bukan lagi sosok yang asing di rumah mereka. Setiap malam minggu aku tidur di sana setelah mendapat izin dari ayah dan ibu kandungku yang tidak berkeberatan setelah mendengarkan ceriteraku.

Rumah dinas di kompleks USU ini tidak lagi sepi seperti dulu, ada tawa yang lepas dan tidak lagi terkekang dalam mistery rindunya sang dosen tua.

Aku …. walaupun bukan anak kandung mereka dan tidak memiliki sifat yang sama dengan Sinar, tetapi hati kecilku dengan tulus menyayangi mereka sebagai orang tua angkatku. Aku bukanlah anak yang tidak berbudi, aku cukup dewasa untuk menerima dan memahami situasi ini, ayah dan ibu kandungku telah membekaliku dengan budi pekerti yang baik.

Dan di rumah mereka pula aku melaksanakan perkawinanku…..jodohku adalah pilihan mereka. Aku tetap menghormati, menyayangi kedua orang tua kandungku dan berbakti kepada mereka.

Kini hidupku terasa nyaman dengan 2 pasang orang tua yang senantiasa mendoakan perjalanan hidup dan karirku yang terus menanjak.

Semoga saja di sisa perjalanan waktu yang menjadi rahasia Sang Khaliq…..Tuhan senantiasa bersama kami.

Bagiku pertemuan ini adalah Hikmah yang tersisa dari peritiwa Semanggi, tentunya Tuhan jua yang tahu atas segala rahasia hidup kita.

 

Kenya 12 Maret 2012. Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa

 

23 Comments to "Sepenggal Hikmah Yang Tersisa Dari Semanggi 1998"

  1. EA.Inakawa  16 March, 2012 at 00:36

    @ Koko JC : Mohon dimaafkan jika EA lama tidak terlihat ehehehe …… kebetulan Ko thn 2011 kemarin ada target Buka Perwakilan di 3 Negara,waktu saya tersita habis untuk urusan di Board Investment nya. Mudah mudahan 2012 saya banyak waktu buat Baltyra eheheheh peace Ko. Sukses Selalu Baltyra : salam sejuk.

  2. EA.Inakawa  16 March, 2012 at 00:29

    @ Mas Anoew…..thx mas – @ Hennie : bagaimanapun Jakarta negeri IBU pertiwi – @ Peoni – @ Linda : benar Lin kita semua sulit melupakan peristiwa Semanggi 98 itu – @ Mawar – @ Non Sibi : Terima kasih sudah mampir didinding saya dengan komentarnya,semoga sehat selalu buat semuanya disana & disini…..amin

  3. EA.Inakawa  16 March, 2012 at 00:23

    Salam baik :
    @ Paspampres – @ Pak Handoko – @ Indriati – @ Ci Lani yang disayang – @ Mbak DEWI yang baik – @ Alvina – @ Chadra Sasadara : Terima kasih sudah berkomen,maaf lama menghilang,tetapi saya selalu berdoa buat para sahabat dan orang orang yang saya kenal selama ini dan saya yakini DOA saya didengar sehingga para Senior saya ini sehat wal’afiat semua sehingga mampu berkomentar didinding saya eheheheh peace

  4. non sibi  15 March, 2012 at 22:01

    Anda kaya dan beruntung mempunyai 2 orang tua yang mencintai anda.
    “DIA menjadikan semua indah pada waktu NYA”.

  5. Mawar09  15 March, 2012 at 19:25

    EA : terima kasih ya sudah berbagi kisahnya disini, sampai menetes airmata bacanya. Berbahagialah bisa memiliki orangtua angkat nan penuh kasih.

  6. Linda Cheang  15 March, 2012 at 16:42

    perlu waktu cukup lama untuk bisa mengampuni peristiwa Semanggi 1998 itu. tapi masih ada harapan setelahnya.

  7. J C  15 March, 2012 at 15:08

    EA. Inakawa, terima kasih untuk tulisan apik ini. Mei 1998 tak terlupakan, aku sendiri ada di tengah-tengahnya. Life must go on…apa kabar di Bumi Africa? Long time no see…

  8. Peony  15 March, 2012 at 14:28

    Pak Inakawa… thanks for sharing…

    untuk tragedi Semanggi 1998… “no comment” ……. hanya bisa berdoa untuk seluruh keluarga korbannya

  9. Lani  15 March, 2012 at 13:13

    CHADRA SASADARA : EA itu bukan ibu, tp bapak…….

  10. HennieTriana Oberst  15 March, 2012 at 12:57

    EA, cerita yang mengharukan.
    Tragedi yang membuatku sedikit trauma menetap di Jakarta.
    Salam hangat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.