Diskusi 12 Buku Anton de Sumartana

Kurnia Effendi

 

Generalis Pluralis, Seorang Moderat yang Merawat Riwayat

Sulit dibayangkan ada seorang penulis yang menerbitkan, meluncurkan, dan mendiskusikan 12 buku sekaligus, dengan aneka genre dan topik. Lalu mengundang sejumlah pembicara untuk membahas dari masing-masing sudut pandang. Namun, memang demikianlah kenyataannya yang terjadi. Hanya orang dengan sejarah hidup (naluri dan pemikiran) unik yang mungkin menempuh cara ini. Sebuah ikhtiar yang tak lazim tetapi membuat saya iri setengah mati. Anton de Sumartana (selanjutnya ADS) seperti tak lelah membayangkan masa depan, memelihara masa lalu, dan terus bergerak seperti kelebihan energi untuk melahirkan banyak karya, sementara yang lain—termasuk saya—disibukkan oleh kebimbangan yang merugikan.

Kepada saya diamanatkan untuk melihat pandangan agama pada ADS, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Tugas yang tidak mudah mengingat saya bukan seorang yang relijius, tetapi dengan jendela mata sekuler ternyata bisa lebih meyakinkan untuk meraba-raba siapa sebetulnya ADS dalam posisinya sebagai “penerus risalah”. Buku-bukunya tidak berwarna kuning—sebagaimana kitab yang “berat” itu—juga bebas dari simbol mantra. Banyak hal diungkapkan justru melalui pengalaman (empirik), kajian mendalam dengan semacam studi banding (komparasi atau bench mark), lalu dengan rendah hati ia sanggup mengaku leleh dalam setiap pengabdian privat antara dirinya sebagai hamba kepada sang Khalik dalam berbagai keadaan. Tentu saja lebih terasa getarannya ketika yang diungkap adalah pengalaman spriritual dalam upaya mendekati sumber hidup, sehingga katup-katup kesadarannya bersentuhan langsung dengan aura Dzat yang Mahatinggi. Dan itu terjadi di tanah(-tanah) suci.

Sebelum jauh merasuk ke dalam diskusi, saya mau membagi bahasan pengantar ini menjadi dua bagian. (1) profesi, dan (2) mazhab ADS sebagai insan kamil.

 

Bagian Pertama: Generalis

Jika ada pertanyaan tentang bidang apa yang menjadi spesialis ADS? Saya membantu menjawab: “Generalis”. Apakah ADS melakukan pekerjaan yang umum-umum saja? Bukan. Justru ia melakukan segala pekerjaan khusus sebagai pantulan dari cermin masa kecilnya. Barangkali ADS mengidap penyakit hiperaktif sehingga perlu menggambari lantai dan dinding rumahnya lalu merambah teras hingga ke jalan raya. Oleh sebab kondisi pengasuhan, ADS kecil dibawa oleh kedua kakaknya mengikuti kegiatan kepanduan di usia 3-4 tahun. Sang peniru ajaib itu lalu mempraktikkan segala aktivitas pandu di rumahnya yang disambung dengan keinginannya memasuki dunia kepramukaan. Setiap lebaran begitu bangga mengenakan baju seragam pramuka.

Di masa kecil, tentu lebih banyak kegiatan motorik, semua anggota badan bergerak. Begitu tiba usia remaja dan beranjak dewasa, semua “gerakan hiperaktif” itu beralih ke dalam pikirannya, dalam rongga hatinya. ADS senantiasa gelisah, memikirkan sesuatu menjadi sesuatu yang lain, mengapa sesuatu itu tidak menggunakan sesuatu, bagaimana sesuatu dapat membawanya menuju sesuatu. Seolah-olah—seperti dalam salah satu esainya—waktu yang ‘hanya’ 24 jam sehari ini dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menciptakan banyak hal. Maka yang dijadikan contoh dari dunia seni adalah Pablo Picasso dan dari dunia sains, Thomas Alva Edisons. Mereka tidak membuat satu jenis karya. Ada varian yang menunjukkan keluasan pengetahuan dan ada jumlah banyak yang mewakili kecepatan berbuat.

Bagi banyak orang, mungkin para penemu atau tokoh hebat dunia itu sekadar inspirator dan bahkan ditempatkan pada wilayah dongeng atau mitos di kepala mereka. Tapi bagi ADS, hal itu menjadi petunjuk (pandu) yang memicu kegelisahannya untuk melakukan segala sesuatu yang orang lain mampu, dan melakukan segala sesuatu yang orang lain belum tentu mampu. Saya kira, setelah ADS lulus sebagai arsitek, melanjutkan dengan teknik sipil sampai sarjana dan menunaikan bidang planologi sampai pungkasan, bukanlah ingin berpamer gelar. ADS memang haus ilmu, tetapi bukan untuk ditelan sendiri. Sanggar Swawedar yang dirintis sejak tahun 1963 menjadi tempat ia berbagi ilmu, mengembangkan yang ada dan melahirkan potensi-potensi dari setiap individu. Pada tahun 1969, Swawedar dibentuk sebagai yayasan untuk sebuah kemajuan bersama dengan mendasarkan pada tatacara pendidikan (1) taman siswa, (2) kepramukaan, dan (3) pesantren. Paduan harmonis yang belum tentu dirancang atau diterapkan oleh para pakar pendidikan.

Dengan pola pikir yang produktif dan kreatif itulah ia berkarya sejak muda. Gambar-gambarnya yang berupa kartun sudah nampang sejak dini di sejumlah koran dan ia mendapatkan honor. Apa saja yang menantang hasratnya dicoba, sampai masuk ke ranah militer—dalam hal ini angkatan laut. Nanti kita minta cerita secara utuh kepada ADS mengapa ia kemudian menjadi (atau dianggap) desersi. Dengan latar pendidikannya, sejumlah pekerjaan perencanaan dan pembangunan dia laksanakan. Tetapi seiring dengan perkembangan jiwa dan kepekaannya menangkap situasi di luar dirinya, ia menuangkannya dalam bentuk tulisan. Puisi, cerpen, novel, dan esai ditulis secara berlimpah. Sejumlah naskah drama dan pantomimnya bukan hanya dapat dipanggungkan melainkan juga memenangi lomba-lomba yang diikutinya. Bahkan cerita anak-anak yang digarapnya dinilai memiliki pesan moral yang baik sehingga diterbitkan sebagai bacaan siswa (12 judul dipilih sebagai proyek inpres, dalam jumlah besar dan mengalami beberapa kali cetak ulang). Bukankah ini patut membuat saya cemburu? Sementara waktu terbang begitu cepat, banyak yang luput. Di sisi lain ADS melintasi waktu hidupnya dengan banyak jejak berupa hasil karya yang bermanfaat. Ia telah berperan sebagai teknokrat, seniman, pendidik (motivator), birokrat (terkait dengan pekerjaan formalnya), bahkan mungkin filsuf modern dengan aplikasi moderat.

 

Bagian Kedua: Pluralis

Pergaulan ADS di tengah lingkungannya, sejak awal, sudah menunjukkan sikap bebas aktif. Ia bebas bergaul dengan siapa saja (melintas batas suku, warna kulit, budaya, dan agama). Ia mengikuti sekolah Nasrani dan berani meminta guru agama Islam untuk khusus mengajarnya. Hubungan kerjasamanya tidak atas dasar kubu tertentu, melainkan meluas dengan tetap menghargai masing-masing keyakinan teman-temannya. Mungkin secara naturalis jiwanya terbentuk oleh pendidikan yang diterima dari aneka ragam sumber. Hubungannya dengan guru tidak selalu formal. Bahkan saat mahasiswa dan berkenalan dengan F. Silaban (arsitek yang merancang Masjid Istiqlal), ia lebih seperti seorang anak yang menyerap pola pikir dan tindakan orang tuanya ketimbang hubungan antara guru dan murid.

ADS telah memiliki konsep tentang pluralisme sejak kanak-kanak. Ia bagai dewasa sebelum waktunya, memahami betapa hidup ini tidak bisa terselenggara secara eksklusif. Sikapnya itu banyak tercermin pada buku-buku yang ditulisnya. Soal eksistensi, pendidikan moral, jiwa kstaria, kerukunan, hasrat kreatif—kadang-kadang terselip dalam percakapan atau narasi. Sekaligus, ia juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Hal itu dapat ditilik dari keputusannya mengalihkan biaya kuliah tingkat doktoral justru untuk membantu pendidikan anak-anak tak mampu. Ada semacam analogi dengan kisah harum tentang seorang hamba yang batal berangkat haji namun mendapatkan predikat haji mabrur (Ali al-Muwaffak).

Agama bagi ADS saya kira mutlak sebagai suluh hidup yang menunjukkannya kepada jalan baik. Segala yang samawi dipelajari, dikhidmati, juga diimplementasikan. Ibadah bukan semata ritual syariat, namun perlu didampingi dengan kesalihan sosial—yang umumnya sulit dilakukan saat berada di tengah masyarakat yang heterogen. Manusia dengan alam pikiran yang berbeda saat menafsirkan ketuhanan, dapat dipahami dari sejarah yang membentuknya dan dari stimulan yang memicunya. Pendidikan dari dalam rumah paling menentukan sebagai cikal-bakal arah perjalanan ke depan. Salah satu yang diterima pertama kali oleh ADS, sebagai keluarga militer, adalah disiplin. Disiplin yang keras pada diri sendiri, membuatnya bekerja tanpa melihat tempat. Misalnya dalam menulis, bisa dikerjakan di atas bus atau saat naik kereta api, yang kini orang-orang kian mudah melakukannya dengan sarana lebih kondusif.

Hal kedua adalah jiwa kepanduan yang membekali diri dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi penolong bagi yang lain. Tidak pandang bulu lantaran parameternya adalah kemampuan dan keberdayaan. Bangkitnya perasaan ingin dan mau menolong orang lain tidak mungkin lahir mendadak. Jiwa itu dilatih bertahun-tahun. ADS menerima ‘pendidikan’ itu sebagai hidayah yang ditangkap sejak sebelum akil balig. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sedih dan marah ADS melihat kondisi negara Indonesia yang nyaris ambruk karena korupsi yang terang-terangan. Sendi-sendi moral bangsa hangus dimangsa api kerakusan hampir semua pemegang kekuasaan. Jika kepada Tuhan saja mereka tidak takut, apalagi terhadap rakyat yang dianggapnya tak punya daya.

Agama sebagai ilmu, disampaikan secara gamblang oleh ADS. Wahyu yang diturunkan kepada para nabi, risalah yang disosialisasikan tidak semata diamalkan oleh kaum muslimin. Tentu saja, mengingat Islam merupakan agama terakhir, bertugas menyempurnakan yang sudah terhampar sebelumnya. Di masa lalu, sebagaimana pengalaman Galileo, kebenaran yang disuarakan bisa mengundang hukuman bagi dirinya. Namun keyakinan terhadap kebenaran itu akan menjadi ilmu yang mendasari lahirnya ilmu-ilmu lain. Segala yang tersurat dalam kitab samawi adalah ‘rahasia’ yang wajib diungkap dengan perintah membaca dan menulis.

Di sisi lain, ilmu sebagai agama, lebih terintepretasi sebagai kemaslahatan bagi orang banyak. Penemuan pondasi cakar ayam dan pipa pesat hidrolik oleh Profesor Doktor Sediyatmo, adalah contoh menarik yang dikemukakan oleh ADS. Kini, saya juga mengakui, teknologi informasi seperti tuhan yang baru dan kita gandrungi hampir setiap detik. Internet dan seluruh implikasinya dengan berbagai atribut, adalah ilmu (penemuan) yang kita akui bersama telah menjadi gantungan hidup manusia. IT seolah-olah menjadi agama baru yang kita percaya sungguh, sehingga kita ‘ikhlas’ menjalankan syariatnya. Jika agama menjadi kebutuhan semacam itu, tak ayal kita akan takzim menjalani seluruh ritual.

Namun mesti diingat, bahwa setiap ilmu dan teknologi memiliki dua sisi: baik dan buruk. Penemuan atom dengan daya ledak tinggi, salah satu contoh tragis, hal yang pernah diingatkan oleh Albert Einstein. Jadi, kembali lagi kepada moral manusia sebagai pengendali. Seorang pluralis tetap memegang teguh keyakinan spiritualnya, tetapi tidak pernah menafikan setiap arus ilham yang baik walau datang dari luar aliran agamanya. Karena ia yakin Tuhan Mahatahu, siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan untuk mencerahkan dunia, bahkan andaikata ia seorang Yahudi atau Nasrani.

ADS dengan buku-bukunya mencoba meneruskan risalah, memelihara kekuatan yang pernah dirintisnya melalui Swawedar. Apa pun namanya di berbagai tempat, memberdayakan keberagaman itu menjadi hal yang penting ketika titik tolaknya adalah pembangunan moral dan dorongan terus mencipta untuk kemanfaatan bagi orang banyak.

***

Jakarta, 5 Februari 2012

Ditulis untuk mengantar diskusi buku-buku karya Anton De Sumartana

 

6 Comments to "Diskusi 12 Buku Anton de Sumartana"

  1. hary  24 February, 2020 at 14:19

    bung anton de s semangat terus bikin tulisan, dari konco lawas sobate basuki nurtanio dulu 1980

  2. afif  13 February, 2017 at 17:55

    ada yang tau engkap biografi ato de sumartana

  3. Dewi Aichi  20 March, 2012 at 09:46

    Terima kasih sharingnya mas Kef…jadi lebih tau tentang banyak hal…dari buku Anton Sumartana.

  4. Handoko Widagdo  19 March, 2012 at 17:43

    Sumartana adalah salah satu tokoh Indonesia yang saya kagumi.

  5. Linda Cheang  17 March, 2012 at 09:08

    syukur kalo sekiranya Mas ADS berkenan menulis di sini…

  6. J C  16 March, 2012 at 10:35

    Terima kasih mas Kurnia Effendi untuk sharing informasi ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.