Cash atau Gesek?

Hariatni Novitasari

 

Sudah sekitar 6 bulan ini sebenarnya aku mengurangi semua transaksi GESEK. Aku lebih prefer cash. Gesek adalah alternative terakhir. Pilihan untuk melakukan transaksi cash adalah untuk membantu mengontrol pengeluaran. Sebagai orang boros dan tidak rapi, sangat susah untuk mencatat satu persatu transaksi. Kadang benar kalau transaksi kita hanya bernilai $10, $15, atau jumlah-jumlah yang lebih kecil lainnya. Tapi mau berapa kali transaksi yang seperti itu?

Aku juga mengecek dengan setia online bankingku. Bukan untuk mengecek transaksi apa yang aku lakukan, tapi untuk mengecek apakah saldo masih ada atau tidak. Nah, ketika di musim panas yang lalu, karena banyak hal yang kompleks yang susah aku jelaskan satu persatu, aku terpaksa tinggal sendiri. Ketika tinggal sendiri itulah, jumlah pengeluaran yang harus aku tanggung besar sekali, lebih dari 60 persen dari seluruh jumlah “gaji” ku. Atas saran seorang teman, aku dianjurkan untuk kembali ke cara kuno mengatur keuangan, sistem amplop! Jadi, di awal bulan, aku menarik uang dalam jumlah tertentu yang sekira jumlah uang itu adalah jatahku untuk makan dan jajan. Lumayan berhasil juga rencana itu.

Tapi, setelah aku pindah ke tempat yang ada teman serumah, sistem amplop masih berlaku, tapi kadang juga masih nyolong untuk gesek. Alasan untuk mempertahankan sistem amplop sebenarnya masuk akal, karena teman serumah bayar aku cash untuk sewa rumah. Jadi, uang dari dia aku pakai untuk makan dan jajan.

Sebenarnya, sistem amplop lebih gampang untuk mengontrol. Jadi, kalau dompetku sudah kosong, aku tahu berapa banyak uang yang telah aku belanjakan. Sekarang pun, kalau berpergian ke luar kota, aku juga lebih sering cash. Tidak apa-apa jadi miss cash lagi. Lebih enak lagi. Kadang kalau dipikir juga, small merchants kadang lebih prefer dibayar dengan uang kontan daripada kita gesek. Karena di setiap transaksi kayaknya mereka juga kene fees dari bank. Di salah satu restoran Thai yang aku dulu sering pergi, selalu kasih cash back kalau kita bayar cash.

Nah, karena aku memang agak kurang pandai dalam hal keuangan, iseng aku cek online banking-ku. Eh, di bagian sebelah kiri fiturku, ada jumlah total “savings.” Baru ngeh aku, kalau itu sebenarnya aku jumlah fees yang aku kumpulkan (dan aku berikan kepada bank) karena transaksi gesek dan online yang aku lakukan. Jumlahnya lumayan lhooo.. Bisa untuk beli tiket dan jalan-jalan di US.. :p.

Yah, tahu gitu, aku pasti sudah mencanangkan diri menjadi Miss Cash seperti di Indonesia.

 

37 Comments to "Cash atau Gesek?"

  1. Lani  22 March, 2012 at 13:56

    DA : dasar wong kenthir……aku bukan CC kok arep dibarter iki pie????? la nek sapi iso dibarter dgn sesama sapi/wedus kkkkkk……..

  2. Lani  22 March, 2012 at 13:55

    HAND : jd koncomu yg ndableg kuwi wedog to?????? naaaaaaaah, klu ini mah plg pas serahkan sama kang Anuuuuuuu…….biar saling menggesek, dan digesek-gesek kkkkkk

  3. Dewi Aichi  22 March, 2012 at 08:46

    Jadi pengen barter…ayo barter sama aku…aku punya Lani..mau tak tukar dengan apa ya?

    Aku juga seperti pak Edy..pakai debit/credit card..lebih praktis sih…wong cuma nunda pembayaran…setelah dapat tagihan…langsung bayar sekali…lunas…bukan dibayar angsur….sama aja bunuh diri ..enaknya pakai card kan dompet bersih dari kuman, untuk membawa card dan dokumen saja …tapi ngga taulah nanti kalau aku jalan2 ke Indonesia, mau pakai card atau uang , aku sudah hampir 3 tahun ngga pakai Kartuku yang terbitan dari bank Indonesia, kalau pakai yg Brasil ngga tau kursnya berapa jadinya…takutnya pakai sedikit, bayarnya mbludak di Brasil..

  4. Edy  22 March, 2012 at 08:35

    saya tetap pilih CC, selama ini memudahkan kita online booking hotel, pesawat, menolong saat saat emergency kehabisan uang cash, dll nya.
    Ada temen di jepang yang baru sadar tidak pernah pegang uang cash lagi, sadar nya seteleh jalan2 ke luar negri yg mengharuskan ambil cash dan di tukar uang lokal

  5. Handoko Widagdo  21 March, 2012 at 07:00

    Lani, rupanya kawan saya itu kecanduan gesek. Mungkin lebih baik kita serahkan kepada Mas Anoew daripada kepada polisi. Kalau kita serahkan Mas Anoew teman saya tetap bisa menggesek dan digesek saya beliau. teman saya cantik 32 tahun!

  6. Lani  21 March, 2012 at 04:54

    MAS TOK : nah barter jg bagus, tp klu dikota besar apakah msh ada? di Hawaii org jg msh mengenal barter…….

  7. Mawar09  21 March, 2012 at 00:45

    Emon : terima kasih ya sudah berbagi disini. Debit Card tidak selalu aman dipakai karena menurut cerita dana lebih gampang ditarik oleh para penjahat itu, apalagi di Las Vegas, sudah banyak sekali kejadian seperti yg dialami temamu itu. Belajar disiplin mengatur pengeluaran itu tidak gampang, tapi harus. Saya beruntung sudah dilatih sejak masih muda oleh orangtua kami sehingga bisa mengatur keuangan sendiri tanpa masalah. Sudah hangat kah ditempatmu?? Salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.