Mati Karena Cinta

Alexa – Jakarta

 

Mataku nanar menatap langit-langit rumah dari tempatku terbaring. Terbaring kaku tak mampu menggerakkan anggota tubuh, ini lebih parah dari saat serangan Vertigo pertama kali enam bulan lalu, ketika itu tiba-tiba aku terjaga tengah malam dan begitu kubuka mataku… pandangan berputar tak keruan, tubuhku langsung terlontar kembali ke tempat tidur tiap kali kucoba bangun…bingung dan panik bercampur aduk, bagaimana kondisi seperti adegan film kartun ini terjadi padaku?

(http://data.whicdn.com)

Suamiku sedang tugas keluar kota,  tanganku meraih Hp yang terletak di sebelah tempat tidur dan kutelpon adikku   di kamar sebelah…damn, “no ini tidak aktif”. Dasar tuh orang sering banget ganti no Hp tanpa pemberitahuan, akhirnya aku berteriak-teriak memanggilnya. Berteriak pukul 2 malam saat orang terlelap, perlu waktu 30 menit hingga adikku masuk ke kamarku. Dia terkejut dan kami berunding, entah apa yang terjadi di benak kami malam itu tapi kami memutuskan untuk menunggu hingga pagi sebab selain kepeningan itu, seluruh anggota tubuhku masih bisa bergerak dengan leluasa.

Aku melanjutkan tidurku dan ketika esoknya terbangun, aku sudah bisa berdiri sendiri. Langsung ke UGD  RSPP dengan hasil pemeriksaan  kadar gula yang mencapai 400 dengan tekanan darah hingga 200, dokter jaga memutuskan agar aku segera menjalankan rawat inap. Penjelasan selanjutnya bahwa kondisi ini bisa menyebabkan stroke membuat aku bersumpah dalam hati akan menjaga kesehatan tubuhku dengan lebih baik dan demikianlah adanya. Kontrol rutin 2 bulan sekali memastikan kesehatanku baik-baik saja.

Lantas kenapa sekarang aku jadi terbaring tak berdaya seperti ini?

Kupejamkan mataku dan merunuti kejadian-kejadian sebelum ini. Terakhir yang kuingat adalah saat sedang bertelpon internasional dengan anakku yang sedang mengambil gelar Master of Law di Amerika Serikat. Yaah, itulah saat terakhir sebelum aku terbaring di sini. Disty -anak gadisku usai bekerja setahun di suatu kantor konsultan hukum terkemuka di Jakarta mendapat beasiswa di Yale University. Kendatipun telah terpisah beda benua, kami tetap berhubungan rutin melalui teknologi internet sehingga kerinduan dapat terobati apalagi sosoknya tetap dapat kujumpai melalui webcam. Hingga sore itu dia minta kami berkomunikasi melalui telpon…sedikit aneh tapi kuturuti saja keinginan buah hatiku itu. Usai sedikit berbasa-basi, Disty menyampaikan berita yang sangat mengejutkan,

Mam, bulan depan aku akan menikah di sini.”

Whaaat??? Dengan siapa?? Kamu tak pernah bercerita memiliki kekasih di sana.

Kemudian Disty – anak gadisku itu bercerita tentang Anthony Liaw temannya di sana yang juga berasal dari Jakarta….oke, aku sudah tahu anak muda itu merupakan salah satu teman Disty di sana. Aku hanya tahu bahwa Anthony adalah satu dari tiga sahabat sesama Indonesia di sana. Tapi dua teman Disty yang lainnya juga lelaki dan kupikir mereka semua memiliki kedekatan emosi karena sama-sama berasal dari Indonesia. Aku cukup mengenal ketiga sahabat Disty itu tapi kali ini Disty menekankan kualitas Anthony yang pintar, baik dan penuh pengertian termasuk Anthony yang setia menemani Disty belajar di perpustakaan walaupun mereka beda jurusan.

Anthony yang sibuk merawat Disty saat terserang demam di sana. Dan kemudian mereka makin dekat hingga akhirnya bercinta…Mom, maksudku tak hanya saling mencinta tapi kami juga make love. Aku langsung memijat-mijat keningku, Distyku yang memutuskan sendiri untuk memakai jilbab saat kuliah sementara ibunya sendiri belum memiliki nyali untuk itu – kini malah menyeberangi batas moral dalam agama manapun.

“Awalnya aku merasa berdosa Mom…tapi semua sudah terlanjur dan aku tak bisa mengingkari rasa cintaku pada Thony. Aku tak mau berkubang pada dosa dan perzinahan maka kubicarakan masalah ini dengannya. Dan dia mengajakku menikah.”

Oke, aku berusaha mencerna kenyataan ini…namun Disty rupanya belum selesai memberikan kejutan,

Mom, Anthony adalah cucu pertama lelaki dari keluarga konglomerat Liaw. Dia sudah membicarakan masalah ini dengan orangtuanya, mereka tak keberatan kami menikah asalkan aku memeluk kepercayaan yang sama dengan mereka.”

Apaaa???  Kau sudah gila?

Kamu Disty, bagaimana bisa  kamu mendahulukan cinta daripada iman dan Mom tak percaya cintamu pada Anthony sedemikian besar sehingga logikamupun tak jalan. Bagaimana bisa ini datang dari seorang Disty yang pernah memutuskan untuk berjilbab padahal tak ada yang menyuruh…waktu itu imanmu begitu kuat. Bagaimana bisa dalam setahun semua berubah?  Apa sih istimewanya Anthony, memang kita bukan konglomerat tapi kita juga bukan orang miskin. Kau berpendidikan tinggi, jangan takut miskin….kamu adalah wanita penuh daya.

“Moooom…,” Disty menjerit dan sebelum dia berkata lebih lanjut,  kepalaku terasa makin berat, pandangan berkunang-kunang hingga akhirnya semua menjadi gelap.

Yaah beginilah yang kuingat kali terakhir sebelum aku terbaring di pembaringan ini. Tunggu dulu lampu kristal di atasku adalah lampu di ruang tamu, kenapa aku berbaring di ruang tamu? Kutatap  sosok yang duduk di ujung kakiku…suamiku tertunduk sembari membaca Yassin. Adikku dengan mata sembab menghampirinya sembari berbisik,

Mas, ntar jam 09 pagi ambulance dan yang memandikan jenazah dari  Yayasan Kamboja datang. Jam 11 kita meninggalkan rumah ke pemakaman Tanah Kusir.”

Tuhaaaan…..aku….aku sudah mati?

Rupanya aku harus menyerah juga…pertahanan tubuhku sudah habis saat mendengar kabar dari Disty itu. Adikku masuk ke dalam dan suamiku beringsut ke pinggir ranjang kayu, kemudian memeluk tubuh dinginku. Matanya sendu menatapku..

“Mas…”, suara perempuan muda membuatku suamiku mengangkat mukanya. Windy – staff kantor suamiku. Hari belum juga jam 6 pagi dan perempuan itu sudah datang melayat, kondisi ruang tamu lengang dan suamiku berdiri menghampiri Windy. Mereka beringsut ke pintu depan berbisik-bisik…”Mas, lihat ini…kita harus bertindak cepat. Aku gak mau malu. Kematiannya adalah jalan keluar dari masalahmu yang enggak tega memberitahu isterimu soal kita.”

Windy mengulurkan selembar kertas, hasil laboratorium… positif. Suamiku menggeram, “Kau… bagaimana kau tega melakukan ini di depan jenazahnya.”

Maaas, aku menjerit dalam hati… kau lebih tega lagi menghianati cinta dan janji pernikahan kita….Tuhan, rasanya aku butuh mati kedua kali. Kenapa aku harus menyaksikan ini semua? Kenapa aku harus tersakiti oleh orang-orang tercinta.

 

37 Comments to "Mati Karena Cinta"

  1. Meitasari S  27 March, 2012 at 20:07

    hadhoh! Ogah ah mati krn cinta! Aku mau hdup truz brsama cinta

  2. Sierli  22 March, 2012 at 09:32

    WHuaaaa…kisah yg tragiiiss..smg cmn dalam kisah fiksi aja ach..klo beneran mah ogaah…
    Trims LExa..muaaachhh..

  3. elnino  21 March, 2012 at 15:48

    Tulisanmu makin ciamik, Xa…
    Yg Giam Lo Ong itu juga.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *