Meliarkan Kegilaan di Elo

Sugiyarti Ugie

 

Ini cerita aku yang kagetan ketika main arung jeram di usia sekarang ini. Mungkin kurang berurutan atau kurang mengalir karena memori gak genep akibat mabok jeram. Maaf.)

“Ayoo.. nyemplung, berenang menuju perahu karet ya ! ” Kudengar suara  seseorang yang akhirnya kutahu namanya Agyl itu di belakangku, memberi komando pada dua cewek muda belia sepertinya anggota baru komunitas pecinta alam yang kucinta ini, artinya dia masih junior: Tika dan Asmi, wajib  tunduk patuh dengan senior karena senior tentu lebih dulu mengalami perploncoan dan penderitan. Kulihat kedua gadis manis itu nyemplung dengan pasrah tanpa berkomentar; memang harus tanpa bantahan kalau perlu mulut dikunci daripada kena hukum  scotjump, gawat. Tapi karena telah memakai pelampung, dan helm, juga weebing di pinggangnya dengan sendiri keduanya mengambang.

” Ayuuk, mbak Gie juga. ” Satu lagi temanku Pramu meneriakiku untuk juga berkenalan dengan cita rasa Elo.  Sungai yang mengalir melintasi Magelang  tempat kami mau berarung jeram.

” Aku juga ya ??. ..oohh. ” jawabku pura-pura tak tahu.

” Lho. . lha iya toh. ..Yang ngarung harus klebus dulu. “

Aku menjatuhkan diri ke sungai  yang letaknya  tak jauh dari wilayah Borobudur  setelah kedua makhluk manis itu naik ke perahu. Berrrrhhhh. . dingin-sejuk kurasakan air menyusupi seluruh pakaianku, sedingin jantungku yang berdebar-debar cemas. Nyaliku agak menciut melihat garangnya sungai ini.   Agak kaku bagiku untuk merapat ke perahu, karena pada dasarnya aku tak mahir berenang, ya. . hanya bisa ‘seolah-olah ‘ berenang ; itupun di kolam, dan ini dengan baju lengkap plus rangkap trus dengan sepatu kets. … Tentunya agak merepotkan. (Ngeles. . hehe, cari alasan). Sebenarnya aku paham tentang acara perkenalan ini, karena kami akan menjelajahinya, masak gak kenalan dulu untuk berpamitan akan mencandainya selama 3- 3,5 jam nanti. Elo sungai genit nan indah  ini. .  memang mencemaskan sekaligus menggemaskan!

Rafting. Arung jeram. Kata -kata itu selalu menghipnotisku setiap aku membaca atau mendengar, melayangkan aku pada angan, sungai  berjeram indah memabokkan, tebing yang membius mata sementara  aku berdayung di atas perahu dengan kecemasan luar biasa, so aku ada bathmophobia, tapi entahlah keinginanku untuk ber-rafting sampai membuatku mau berangkat dari Jakarta ke Jogja ini dengan jumpalitan karena hanya weekend, bukan liburan! Bahkan sempat ngambeg karena jadwal akan diubah hanya pada jam 13.00 WIB saja, tapi aku bisa lega karena ternyata trip pertama di mulai jam 09.00 WIB sehingga aku masih bisa siap-siap sorenya untuk balik ke Batavia.

Bertujuh, kami naik ke perahu. Agyl sang Skipper duduk paling belakang berteriak memberi aba-aba. Aku duduk di bagian kanan nomor dua dibelakang Pramu, sebelah Pramu mas Romy, di sampingku (kiri) ada Tika, kemudian Asmi dan Hary, semua siap dengan dayung dan langsung mempraktekan apa kata Ratna yang memimpin kami streching dan memberi tahu teknik mendayung di lapangan start di  Blondo  tadi. Kumasukan kaki kiriku  di bantalan bagian dalam perahu, ini adalah kuda-kuda agar badan tetap menyangkut di perahu apabila perahu kena goncangan atau terpaksa berubah posisi menjadi vertikal. Kukayuh dayung sesuai aba-aba.

” Cemunguuud, Cemanguuud ya. . Semua !!!! ” kudengar Benby gadis mungil manis berjilbab itu berteriak menyemangati kami dari atas tebing. Maksudnya ‘semangat. .!’ Bahasanya aneh -aneh, walau tadi aku sudah diajari jawaban gaulnya aku lupa!

” Siap !!! ” kujawab sambil kulayangkan pandang kepada mereka yang tersenyum-senyum. Aduuh. .manis bener senyummu ! Apa tak tahu hatiku gemetar kebat-kebit beraroma takut  ya?

” Doain ya…. “

Kami melambaikan tangan dan jempol kepada teman-teman tim darat sebagai phofografer. Kulihat mas Ary, Acca dan Ratna menjepret dengan gaya meyakinkan ke arah kami. (…. tapi mana ya foto2 di area start, waktu  streching yang rame-rame itu. . hayooo tak tagih).

Langit mendung, sejuk semilir menerpa kulit wajahku. Air sungai berwarna kecoklatan dengan volume sungai yang tak terlalu besar padahal hari Sabtu hujan tak henti membuatku agak tenang. Pepohanan hijau dan bambu-bambu yang meliuk-liuk  menari dengan seksi di sepanjang sungai Elo mengucap selamat datang. Kuhirup oksigen bersih yang berlimpah ruah dengan pelan-pelan, ingin kunikmati tiap partikelnya dalam paru-paruku. Ya Allah Tuhanku yang Maha Indah. .. terimakasih Kau beri aku kesempatan menikmati kecanggihan tanganMu.

” Dayung kiri. . ayook. . Bang Pramu ! ” Agyl berteriak. Ketika perahu membutuhkan dayungan dari sebelah kiri.

” Tahan…. ! Dayung kanan. Yang kuat. . ! ” Dan kami menggayuh dayung bersama, tapi kadang belum seirama, dayungku kadang kala bertepuk alias beradu dengan dayung Hary, dan ini akan terasakan, perahu gerakannya menjadi  bergelombang, tidak melaju pesat dan Agyl palin sensitif tentang masalah ini.

Di antara kami bertujuh ; aku dan mas Romy, kami berdua yang benar-benar beginner, sama sekali buta dengan rafting, dalam artian memang hanya modal nekat untuk ikut acara ini. Dan dari  perbincangan kami waktu disasarin Pramu ketika kami berjalan kaki  menuju strat  dari basecamp; aku tahu  Pramu dan Hary sudah kesekian kali ikut rafting. Jadi aku tambah tenang, awak perahunya sudah berpengalaman!

Dalam canda sepanjang perjalanan menapaki arus sungai yang kadang  tenang, kadang berjeram  mendebarkan, batu-batuan besar ‘ menggoda ‘memang terasa ini adalah fun rafting, apalagi Agyl sangat piawai memandu kami sehingga perahu safety, kami pun bersemangat dengan kata-katanya yang santun memompa andrenalin kami untuk  menuntaskan pengarungan ini. Aku bilang santun, secara ‘anak alam’ biasanya memaklumkan untuk’ liar ‘ dan ‘dekat’, karena sering kudengar dia berbahasa Jawa kromo halus. .. haduuuw ! Mungkin takut kuwalat ya Gyl, secara umur kami (Aku, Romy, Hary) dua kali usiamu  atau palah lebih?. .. Tapi sebenarnya gak usah gitu lho. . hehe. Sure !

Satu jam perjalanan semakin membuat aku bisa mengendalikan kecemasan kalau tiba-tiba jatuh. Jeram-jeram kecil, riak air di antara bebatuan terlewati dengan sukses, tapi memang kejahilan leader mulai nampak, yaitu kita semua bergiliran mendapat guyuran percikan indah dari jeram yang terbelah perahu atau ketika perahu beradu bebatuan, tapi sungguh itulah pengalaman yang membuat fly. Kadang perahu menghantam pinggir tebing sungai, atau berubah haluan hingga membutuhkan ektra dayungan dari kami. Teriakan -teriakan dan tawa menikahi riak gelombang yang berpacu dengan perahu karet kami, makin terasa sahdu ketika gerimis menemani kami membelah jeram Celeng (bener gak namanya?).

berpacu di jeram Zigzag, (foto paling heroik nih)

” Wah iki cangkem ro tangan podho kesele (mulut dan tangan sama capeknya). ” kata mas Romy.

” Mosok si ?? “

Mungkin maksudnya terlalu semangat sehingga sama-sama capek mulut yang tertawa dan berteriak dengan tangan yang kudu mendayung sekuat tenaga.

” Mbak, berani gak flip-flop ? ” Tanya Agyl yang aku tahu ditujukan padaku, secara hanya aku perempuan yang layak dipanggil mbak atau bu, paling tua di dalam awak perahu itu.

” Apaan tuh flip-flop?” Aku balik bertanya.

” Perahu sengaja dibalik. Berani ya ??? ” Agyl menjelaskan arti kata yang asing bagiku.

” Enggakkkk….. ” Jawabku. Dibalik ???? Aku harus menceburkan diri di sungai sebesar ini, se’gila ‘ ini ? Ah Enggak ah, aku masih punya utang di koperasi dan belum lunas. SPJ-nya gimana dunk ?

Ternyata Agyl menuruti kata-kataku. Tapiiiii….. hanya 10 menitan ! (Aku lupa. . dia kan anak alam. . pasti gak bakal semudah itu menyerah mengajak kami bermain gila-gilaan di sini)

” Semuanya. . ayoo geser duduk di sebelah kanan. Semua ! Mulai !! ” kudengar komandonya memecah gelak kami.

” Ayoo. . semua ke kanan..!” Diulangi lagi perintahnya karena memang di antara kami belum ada yang berpindah ataupun bergeser. Tanpa sadar apa yang dimauinya, Pramu merapat ke mas Romy, Tika ke aku, Asmi ke Hary. Dan dalam hitungan 4 detik perahu njomplang  karena beban semua di kanan. Perahu terbalik dengan sukses. Aku lihat Agyl masih memegangi perahu. Kurasakan badanku ambles ke air sungai yang dingin, perahu karet yang terbalik persis di atas kepalaku ; plasss. . serasa separuh ruhku melayang lepas, desiran sedingin salju  menyusup seluruh nadiku. Ketakutan, kecemasan, kenekatan, haru, tiada makna dan sejuta-juta rasa yang tak bisa kuungkap memenuhi ragaku. Reflek aku pegangi tali yang menempel di perahu, aku benar-benar tak percaya rompi pelampung ini bisa menyelamatkanku  di sungai yang tak kutahu dalamnya, dan aku tak ahli  berenang!

” Lepaskan tangan dari tali perahu.! ” Agyl kembali memberi aba-aba.

” Ayooo. .lepaskan ! Gak papa ! ” Katanya lagi ketika melihat kami masih mencengkeram tali, dan aku  yang setengah panik mulutku mangap langsung  cita rasa  coffe-mix- Elo  ini tertelan mulutku. Secepat kilat  aku meraih tangan siapa saja yang ada di dekatku. Aku sungguh-sunguh super kaget juga sejuta takut. Tak kusangka akan seperti ini.

Gyl Kamu memang edaaaaan!

Satu persatu tangan terlepas dari perahu, kecuali aku. .hehe.

” Ayoo.. mbak Gie, lepasin saja. Aman kog ! ” Dan akhirnya aku lepasin dan memang aku tak klelep,tapi berdesir tak karuan, jantungku nyaris terhenti. Hadooow…. !!

Beberapa saat setelah kami gelagepan di air ,kulihat Agyl menarik body flip, dan perahu kembali ke keadaan semula, dengan cepat  dia meloncat ke perahu, kemudian mas Romy ,Tika, Asmi, Pramu, Hary dan terakhir aku.

Aku sempat geli hingga terbahak mengingat kecemasan luar-biasaku tadi ,dengan masih tergelak aku berusaha melompat ke perahu. Dan. . ternyata gagal ! Kenapa ?? Karena badanku terlalu gendut kali ya… hahhaa. Tapi bantuan selalu datang dari teman-teman, dengan ditarik akhirnya masuk juga aku dalam perahu. Hmmm. . ternyata, berat badan harus diturunkan !!! (kenyataan pahit yang harus kunikmati, efek overweight. hahaha.)

Semua duduk dan siap mendayung seperti posisi semula, Agyl memeriksa bagian dalam perahu.

” Ada yang hilang gak nih ? “

” Wa… botol air mineral kita hanyut, tinggal satu, mas. ” Kata Tika sambil melihat botol air yang tinggal satu-satunya dekat Throw Bag.  Rupanya tadi kelupaan untuk menyelipkan botol-botol itu di bantalan perahu  biar tak terjatuh saat perahu beraksi. Terlalu bersemangat tadi, hehe..

” Hanya itu aja kan ? ” Tanya Agyl lagi dengan muka sedikit merasa bersalah. Ya. .karena pengarungan masih lama dan itu persediaan kalau haus.

” Kayanya begitu. ” Jawabku. ” Ya nanti kalau haus minum coffe mix ala Elo aja. ” lanjutku sambil tertawa kecil.

Kami melanjutkan petualangan. Setelah banyak menerjang jeram, menepis rasa takut di tengah batu-batu besar yang menghiasi sungai ini,perahu menepi, waktu itu matahari telah tepat di atas kepala kami. Kelapa  muda ijo telah menanti untuk disruput dengan nikmat, menghilangkan dahaga dan rasa laaaparr (tiba-tiba perut keroncongan, ciri khas orang gendut : cepet lapar. .hehe). Teman-teman tim darat telah mempersiapkan itu semua, mas Ary mengeluarkan bungkusan yang isinya jenang jawa nan legit dan jadah /uli gurih yang menggoda selera. Tak menunggu lama langsung menyerbu aneka makanan yang tersedia.

Masih terbawa kebiasan lama ,kalau bertemu pasti ngerumpi di bawah pohon, tapi itu tak berlangsung lama, karena  ternyata ada lagi aksi gila yang membuatku berdiri dari duduk manis, turun menyelusuri pinggiran sungai lagi. Rupanya dua adik manis tadi; Tika dan asmi  masih digojlok lagi dengan simulasi renang jeram !!! Wowww. . Aku  penasaran ingin tahu bagaimana simulasi ini berlangsung turun  berjalan ke tepian air dan duduk di bebatuan. Mas Ary bersiap mengambil gambar yang kuyakin pasti unik. Dasar photografer, semua objek ingin didokumentasikan.

Beriringan mereka bejalan menuju batu besar ,sepertinya Tika yang ingin menjadi’korban ‘ pertama.

Byuuur….., percikan air dari jeram meningkahi terjunnya Tika dengan hidung ditutup, aku was-was. . banyak batu. .gitu lho !. Dengan kepala yang masih tersembul di air dan kaki yang seperti orang bersepeda Tika melaju bersama arus yang deras, dan berusaha untuk menepi dengan susah payah.

” Aktif kakinya, ayo bergerak terus. . ” Kudengar beberapa seniornya berteriak -teriak di darat.

Agyl melempar throwbag ke arah Tika setelah melihat Tika agak kepayahan, dan setelah diulang beberapa kali Tika berhasil menepi. Horeeee. . aku legaaa..

Tika yang heroik dan simulasi menantang ini menggelitik mas Romy menggodaku.

” Nduk. .wani ra kaya Tika ? ” katanya padaku dengan mata tersenyum.

” Berani. Sapa takut. ” Jawabku sok berani, padahal. …

mengamati jeram, sambil mikir berani gak ya terjun bebas?

Belum selesai aku mau berbantahan, kulihat Asmi sudah menceburkan dirinya ke jeram seperti yang dilakukan Tika. Tapi, ada yang lain, Asmi terantuk batu salah satu kakinya, sehingga mempengaruhi gerak kaki yang seharusnya dapat menghambat laju arus yang cepat. Beberapa kali ia berusaha menepi dan meraih throwbag, tapi gagal. Dan ini berlangsung terus sampai kami-kami khawatir dan bergerak mengikutinya di pinggir sungai. Melihat perkembangan yang kurang bagus  Agyl sigap, mendayung perahu karet yang tadi di parkir ke arah Asmi. . Waduuuh. . aku berdebar sungguh. Was-was. Alhamdulillah Asmi akhirnya tersusul, dan ia bisa menghampiri kami lagi dengan cengir kecil.

terjun bebas bercumbu dengan arus jeram

Wah.. gadis ini pemberani betul, tak ada roman takut di wajahnya. . (jadi ingat dulu, aku juga suka ‘gila’ begini. .hmm)

” Ayoo. . sekarang mbak Gie !” Pramu menagih apa yang kuucapkan, wah. .dia dengar toh.

” Enggak ah, ntar pada kecapean menolongku malah gak sampai finish. ” Jawabku ngeles, kuakui aku takut terlalu  capek dan kaget jika sama seperti yang dialami Asmi. Ngeri kan.. kalau pulang tinggal nama.

” Yeee. .. ” Mas Romy meleletkan lidahnya ke arahku.

” Hati-hati SPJ nya, bisa  repot mas. ” kata Hary geledek. Kuacungkan ibu jari ke arahnya, aku setuju kata-katanya.

Kami bersiap melanjutkan petualangan  ,mungkin perlu satu jam lagi untuk sampai di finish  yang termasuk wilayah Mendut. Sejenak berfoto-foto (karena pada dasarnya semua sukamoto dan sukadipoto) dan kemudian melambai ke arah mas Ary, dkk. ., melajulah kami mencandai Elo yang makin garang, tetapi tenagaku sudah tinggal setengah. Sayap kanan dan kiri saling ngeledek; kebetulan kami yang berkepala empat nyaris duduk dibagian kiri semua, mungkin dayungan jadi tak seimbang, apalagi Pramu sering kali mengistirahatkan dayungnya. Gimana sih pendekar Pramu.

” Gimana, kalo kita turun di sini ? Menikmati derasnya bottle neck, asyiiik deh.” Agyl menawarkan permainan baru lagi, ketika perahu melaju pada badan sungai yang makin menyempit, dan pada bagian sungai seperti ini biasanya dalam dan arus kencang. Tika dan Asmi melesat duluan, secara senoirnya yang memberi perintah. Takut ya ? Kedua gadis ini bener-bener ngirit suara, hanya senyum-senyum saja sepanjang perjalanan. Kemudian mas Romy, lalu aku paling belakangan, sebenarnya aku takut tapi pingin tahu juga rasanya bermain arus.

” Wee. . dari belakang perahu to mbak. ” Hary mencegahku mlumpat dari bagian depan perahu. Ya setelah aku pikir, kalau aku ada di depan perahu berbahaya, karena seretan arus yang kencang akan membawa badanku melesat jauuuh dari perahu. Berlima kami di air, Hary dan Agyl tetap berjaga di perahu. Usut punya usut Hary takut nyemplung, rupanya tadi pas flip-flop dia banyak menelan air dan pelampung yang ia pakai (setelah aku tau dari foto), baru ketahuan kalo itu pelampung balita. .woo pantes klelep ya??  Hahahaha.. Hary, pakai doble aja.. (sampai sekarang aku kalau lihat fotonya masih geli. . maaf ya Har!)

Memang asyiik sih mengambang di antara dingin air dan memandangi tebing yang menghijau di tepi sungai, semua beban lepas entah ke mana, jiwa serasa lahir kembali, kami saling mengolok dan bercanda, masih ada berdesir takut di dadaku  karena laju arus semakin kencang membuat aku jauh meninggalkan teman-teman. Dan ini membuatku panik!

” Ayo. . kepinggir, cari batuan untuk pegangan, biar perahu menjemput. ” Hary berteriak memberi aba-aba setelah bottle neck berakhir sambil mendayung perahu mendekati kami.

” Ke kiri aja. .!”

Beberapa kali kucoba mencengkeram bebatuan, dengan harapan bisa nyangkut dan aku terhenti, tapi dorongan arus begitu kuat, tanganku kembali terlepas. Aku melaju paling depan, aku khawatir banget!

” Coba ke kanan, cari bambu-bambu aja ! ” Mas Romy memberi alternatif, setelah melihat beberapa rumpun bambu di sebelah kanan sungai banyak yang menjuntai di atas badan air.

Kami bergerak ke kanan, tetap mencari batu untuk pegangan, tapi selalu terlepas dan melaju. Akhirnya aku bisa mencengkeram bambu, dan memang terhenti. Kulihat Tika dan Asmi telah berhasil naik perahu.

Aku berusaha bergerak mendekati perahu yang ada beberapa meter dari mukaku, tapi seolah ada benda berat menarik leher dan kakiku, sehingga aku merasa lama-lama angslup dan mataku tetutup air. Waduhh…, kayanya tenggelam nih!

Aku  panik  luar biasa ; mana aku jauh dari teman-teman. Bahaya nih. Dan  ketika kulihat bambu yang telah kuning menjuntai di depanku, langsung aku cengkeram dengan kuat, akhirnya aku bisa timbul dengan sebatas kepala di permukaan air.

” Help. .help me ! ” Aku berteriak, lupa malu deh. . (Ha..haha) sambil tangan yang satu tetap berpegang teguh di batang bambu. Aku benar-benar takut tenggelam, arus terasa sangat deras.

Tanpa kutahu Pramu sudah ada di pinggir sungai, berjarak  dua meteran dekat aku kampul-kampul penuh pilu.

” Ayoo. .mbak, berenang ke sini. Ayoo. . berani dunk ! ” kata Pramu sambil tangannya mengangsur ke arahku.

” Gak berani, ambles tadi dah aku coba.” kataku sambil tangan tetap mencengkeram bambu.

” Gak lah. .kan pakai pelampung. “

” Kayanya ada sampah nih, nyangkut. ” kataku tetap menolak melepaskan tangan dari bambu.

Untunglah, setelah beberapa menit saling teriak, segunung sampah yang tadi membelitku lepas terurai mengambang di sekelilingku, akupun merasa enteng, tapi aku rasa sepatu kiriku jebol !

Kucoba pelan-pelan melepas bambu, dan aku mengambang. Bergerak aku menuju perahu yang menungguku beberapa meter di depanku.   Ada kelegaan luar biasa yang aku rasakan. Alhamdulillah!

Lengkap 7 orang kami telah naik di perahu, tapi. .

” Lho.. dayungnya kok kurang?  Jatuh di mana nih ? ” Agyl kebingungan ketika membagi dayung, aku tak kebagian.

” Tadi waktu turun, ada yang bawa dayung gak ? ” Tanyanya lagi.

” Kita berenang bebas gak bawa apa-apa kok. ” jawab aku, Tika dan Asmi hampir serentak.

” Waduuh. . hilang nih. “

Akhirnya sepanjang perjalanan  menuju finish dengan mengendalikan diri di antara deras jeram dan sangarnya arus sungai 14 mata kami melototi sepanjang sungai, siapa tahu ada benda orange yang nyangkut di antara sampah atau rumpun bambu  tapi ternyata  sampai finish kami belum menemukannya. Kami tahu itu adalah dayung terbaik dan termahal di Jogja, dan kami tak bisa menjaganya. Maaf ya panitia… muaaaffff. .. sejuta maaf.

lihat Hary dengan pelampung balita

Sejenak terlupa dayung yang hilang ketika mas Ary menyodorkan uli goreng nan lekker  di finish. Kurasakan badanku pegel semua kayak habis digebugin polisi.  Remuk redam deh. Setelah makan siang yang terasa nikmat di basecamp segera kami  bersiap untuk pulang ke Jogja., mengejar kereta Jakarta. Ya..  kembali ke alam nyata, tapi aku pingiiiin mengulang lagi  bercanda lagi di Elo. Siapa mau ikut ??

Rest. . trus ngrumpi. .bersama tim fotografer

 

Jakarta.14 Maret 2012

(Seusai mabok jeram. . tapi mau lagi. Thanks to Madawirna dan para sahabat semua yang menemani penakut berarung jeram  dan maaf satu dayungnya hilang)

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Sugiyarti Ugie…make yourself at home. Artikel pertama yang mendebarkan…ditunggu artikel-artikel lainnya juga ya. Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada Sugiyarti Ugie.

 

28 Comments to "Meliarkan Kegilaan di Elo"

  1. ugie  22 March, 2012 at 10:13

    @Lani :pancen MONEK tenan, nek njur sadar kae, iih pancen ndrawasi…. mulane ojo ditiru,kecuali kumpulan wong edan macam aku….hehe.

  2. Lani  21 March, 2012 at 22:30

    SUGIYARTI : nek ngono yo bener kuwi MONEK modal nekad…….

  3. ugie  21 March, 2012 at 18:12

    @ mas Sigit : nggih , pancen ngono mas , Saikipalah luwih edan kayane..hehe

  4. sigit  21 March, 2012 at 11:24

    Asyik mbak gie dari ceritanya bisa kebayang kegilaannya, tapi gak heran juga setauku anak madawirna itu ( mbak ugi ‘n komplotannya) memang dikenal gila2, kalo dulu disebutnya “monek” alias modal nekat.

  5. ugie  21 March, 2012 at 06:51

    @mbak Lani : iya mbak, walo aku wis purna warga ( istilah yg utk yg dah lulus) yo dadi melu kegojlok… hehe.. Adik2 saiki luwih ngedan je. Ngerti gak mbak, aku asline pas simulasi ki yo ndredeg, wong iso ngambang rodo kaya brenang wae baru2 aja… Tapi aku gak nyesel, palah kpn2pingin melu maneh.

  6. Lani  21 March, 2012 at 06:08

    UGIE : dadi iki digojlog ngono????? waaaaah, nek aku ora wani……wedi klelep heheh walau iso renang, tp nek diarus deresssssss…….glagepan…..

  7. ugie  21 March, 2012 at 05:54

    @mbak Lani: iya mbak ini baru grade 3, sangat aman utk pemula, cuma krn aku raftingnya ma pecinta alam almamater jd kuwi kumpulane wong gendeng kabeh, yo wis…edan kabeh, kon terjun bebaslah,sengaja praune diwaliklah, nglangi ning arus… tp leaderku yo oke banget. Sigap. jd edan,fun dan safety…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.