Edan-edanan (18): Gampang Melupakan, Tak Mudah Memaafkan

Kang Putu

 

IBU ora kundur Blora. Wis ora kuwat suwe-suwe lungguh ning kendharaan. Apa maneh dalane rusak kaya ngono. Mula yen kowe wis tekan Blora, wakilana Ibu. Njaluka ngapura marang sapa bae. Lan sing wigati, nyekara. Resikana pasareyane suwargi embahmu kabeh. Ndedongaa, suwunake ngapura marang Gusti Allah.” (Ibu tidak pulang ke Blora. Sudah tidak kuat lama-lama duduk di kendaraan. Apalagi jalannya rusak seperti itu. Makanya setelah kamu sampai Blora, wakili Ibu. Mintalah maaf ke kenalan kita siapa saja. Dan yang penting, ziarahlah. Bersihkan makam kakek/nenek semua. Berdoalah, mintakan ampun dari Gusti Allah)

Itulah pesan Ibu sepekan sebelum lebaran. Ya, Ibu sudah sepuh. Ketika rematiknya kambuh tentu amat menyiksa berjam-jam duduk dan terguncang-guncang dalam kendaraan selama perjalanan dari Semarang ke Blora. Karena itulah Ibu meminta saya mewakili beliau berziarah ke makam semua mendiang kakek dan nenek serta meminta maaf kepada siapa pun yang mengenal dan dikenal beliau yang bisa saya jumpai. Sungguh, pesan yang amat muskil saya abaikan.

Namun untuk menunaikan pun bukan perkara gampang. Meminta maaf kepada siapa pun, yang mengenal dan dikenal Ibu, bisa saya lakukan dengan ringan dan enak hati. Namun nyekar, berziarah? Itulah yang jadi soal. Siapa pun tahu, terutama Ibu, kapan saya pernah berziarah ke makam? Kalaupun lebaran dua tahun lalu saya ngombyongi seluruh keluarga berziarah ke kubur, apa pula yang saya lakukan! Saya lebih (berpura-pura) sibuk memotret Ibu serta semua kakak, adik, dan kemenakan yang takzim, menekuri pusara.

Ya, ya, sejak dulu, seperempat abad lalu, saya merasa tak ada gunanya lagi berziarah ke pekuburan. Itulah saat saya menyadari bahwa di berbagai pekuburan itu tak ada makam Bapak. Itulah saat saya tahu: jasad Bapal tergolek di liang lahat di entah dan barangkali tanpa pernah diupacarai secara semestinya. Itulah saat saya yakin sangat mungkin tak bakal menemu pekuburan Bapak. (Dia hilang, benar-benar hilang begitu saja, dari ruang dan masa yang mengabur dalam ingatan saya. Sampai sekarang; meninggalkan rasa kehilangan tak terperikan.)

Karena itulah, maaf, saya merasa percuma saja berziarah ke makam siapa pun, sebelum menemu makam Bapak, tanpa keikhlasan. Kirim donga, melantunkan doa, ke hadirat Sang Mahapemaaf, untuk memohonkan ampunan bagi para almarhum dan almarhumah nenek moyang, bukankah bisa kita lakukan dari mana pun? Tanpa mesti bersimpuh di samping pusara, tanpa mesti menaburkan bunga.

Namun kali ini Ibu meminta: saya harus berziarah atas nama beliau. Durhakalah saya bila tak menunaikan pesan itu. Namun, mungkinkah saya melakukan dengan keikhlasan? Astaghfirullah.

 

Harapan Semu

“Itulah yang terjadi bila kau tak pernah mau menerima kenyataan sebagaimana adanya. Sesuatu telah terjadi dan harus terjadi. Bapakmu hilang atau dihilangkan, dan tak pernah bisa kembali. Jadi, kenapa terus-menerus bermimpi untuk menemu kuburnya? Kenapa terus-menerus menyiksa diri dengan harapan semu bahwa suatu saat, entah kapan, tiba-tiba saja dia muncul ke hadapanmu? Kau bukan cuma tak pernah bisa melupakan sesuatu yang menggetirkan dalam hidupmu. Kau bahkan tak bisa memaafkan kenapa kegetiran itu terjadi dan kaurasakan,” tetak Kluprut, dingin dan mengiris.

Ya, boleh jadi benar. Serentak saya teringat pada seorang kawan, Wijaya (Jay) Herlambang. Dia menikah dengan gadis Australia, beranak-pinak, dan tinggal di Queensland, Australia. Tinggal di negeri itu membuat kegeraman, kemarahan, dia pada Indonesia – negeri tumpah darahnya – kian menggumpal, kian mengkristal. Dia mendendam dan menyimpan sakit hati karena sang ibu meninggal digerogoti kanker di tengah keserbaberkelimpahmewahan kekayaan luar biasa negeri ini, namun yang dihabis-habiskan secara semena-mena oleh para pengelola negara. Ya, dalam keyakinan dia, sang ibu meninggal bukan semata-mata penyakit yang melemahkan tubuhnya, melainkan oleh kemiskinan luar biasa struktur dan infrastuktur kesehatan di negeri ini. Sang ibu terenggut maut karena antara lain oleh ketiadapedulian para pengelola negara terhadap mutu pelayanan kesehatan publik.

Dan dia sulit, bahkan mungkin muskil, memaafkan penyebab kematian sang ibu. Melupakan kepahitan hidup mungkin. Namun memaafkan sungguh tak gampang. Indonesia, bagi dia, telah mengkhianati amanat kemanusiaan: mencegah warga negaranya mati terserang penyakit cuma karena ketiadaan biaya untuk berobat.

Karena itulah, menurut pendapat dia, sungguh menggelikan melihat ritus tahunan: sungkeman pada hari lebaran. “Saya tetap wong Jawa, Kang. Namun, bagi saya, adalah absurd untuk sekadar meminta maaf pun kita harus menunggu setahun, menunggu lebaran tiba. Itu potret karikatural yang menggelikan,” ujar dia.

 

Kenyataan Semu

Ya, ya, bagaimana mungkin seseorang harus menunggu setahun penuh untuk meminta maaf? Apakah itu cermin dari kebenaran kenyataan, sebagaimana dicatat Niels Mulder (1985), bahwa “minta maaf berarti menyerah dan kalah”? Benarkah lebaran “merupakan kesempatan paling baik untuk menyatakan penghormatan dan kewajiban seseorang kepada orang tuanya, tidak hanya dengan kehadirannya dan permohonannya untuk diberi maaf dan restu, tetapi juga dengan pemberian hadiah-hadiah”? Setali tiga uang, sebegitu sulitkah bagi seseorang untuk memaafkan, karena “memberi maaf dianggap sebagai kehilangan muka”?

Jadi, kenapa kau sulit memaafkan pengelola negeri ini yang ikut andil atas kematian ibumu? “Saya bisa memaafkan dan harus memaafkan hanya jika ada perubahan paradigmatis: tidak bakal ada lagi orang miskin mati karena kemiskinannya. Dengan kata lain, secara konkret pemerintah Indonesia memiliki good will dan penuh empati memberikan pelayanan kesehatan publik yang memadai, yang menjadi hak setiap warga negara,” sahut Jay.

Saya termangu-mangu; menakar kebenaran pernyataan kawan saya dan catatan Niels Mulder. Apakah yang saya lihat setiap tahun, ketika orang-orang sungkeman, bersalam-salam, maaf-memaafkan, bukan kenyataan sesungguh benar nyata? Apakah semua itu semu? Gejala permukaan? Manifestasi pola asuh wedi, isin, sungkan – sebagaimana dielaborasi Hildred Geertz? Pengejawantahan kebutuhan akan rasa rukun dan urmat — sebagaimana dicatat Franz Magnis-Suseno?

Jika benar, bukankah itu berarti orang Jawa tak pernah beranjak dari lumpur feodalisme: seseorang menakar keberadaannya di tengah masyarakat atas dasar status liyan, orang lain? Dan, karena itulah jika saya meminta maaf, saya sungkem, bukan karena saya bersalah, melainkan karena saya lebih asor, lebih muda, lebih miskin, lebih bodoh, lebih….

Minggu, 21 November 2004

 

8 Comments to "Edan-edanan (18): Gampang Melupakan, Tak Mudah Memaafkan"

  1. Wahnam  23 March, 2012 at 14:25

    Hidup didunia emang panggung sandiwara, banyak disertai ke pura-puraan

  2. Dj.  22 March, 2012 at 03:13

    Dimas Josh Chen…
    Koment nr.4 : SANGAT BENAR….!!!

    Pokoknya beragama, tapi TIDAK BERTUHAN….!!!
    Jadi semua yang diperbuat, dibenarkan oleh diri sendiri…!!!
    MUNAFIK…!!!

  3. Dj.  22 March, 2012 at 03:09

    Kang Putu….
    Terimakasih untuk artikelnya….
    Dj. malah ppeprnah dengar, orang berkata….
    Memaafkan sih mudah, tapi melupakan itu sangat sulit…!!!

    Menurut Dj. orang yang tidak / belum bisa melupakan, dia juga belum mampu memaafkan.

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. Handoko Widagdo  21 March, 2012 at 10:14

    Kang Putu, semua yang sudah menjadi ritual adalah semu. Tak ada lagi roh disana. Tak ada lagi greget dari hati untuk benar-benar menyerah dan menyembah. Semuanya adalah kepura-puraan.

  5. J C  21 March, 2012 at 10:12

    Kang Putu, apakah memang dalam masyarakat masing-masing individu sudah menjadi social slut? Entah lah, tapi sepertinya fenomena itu begitu kental di negeri ini. Mengakunya negara beragama, para pejabatnya berlomba menunaikan ibadah yang diwajibkan agamanya ke Tanah Seberang, tapi lihat saja angka korupsinya luar biasa. Bulan tertentu berlomba ‘menahan nafsu’ sebulan, show off dengan berbuka puasa bersama di rumah atau kantornya, tapi tetap saja kelakuannya audzubillah…yah sepertinya tulisan Panjenengan memang mak-thes…

  6. MasTok  21 March, 2012 at 09:52

    Tilu… Harus ikutin Episodenya

  7. [email protected]  21 March, 2012 at 09:41

    dua

  8. Lani  21 March, 2012 at 07:56

    satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.