Secangkir Rindu

Ayu Sundari Lestari

 

Tiap pagi setelah embun memeluk dedaunan dan menumpahkan secawan benih kasih ke dalam kelopak mawar. Seperti itu-lah dirimu yang kerap menyajikan secangkir capucino di atas meja makan sebelum aku terbangun dari lelap. Kau meminang fajar saat matahari belum sempurna. Bunyi adukkan sendok yang menubruk dinding bejana putih, gelas yang kita beli di pasar malam tempo lalu, kerap mengeletik telingaku. Namun, mata tak pernah kau izinkan terkuak. Terdengar agak samar-samar.

Akh! Kau lelaki yang menasbihkan aku bak seorang permaisuri dalam istana hatimu. Tapi, aku sedikit marah padamu, besebab kautinggalkan perempuan itu dalam gubuk yang kelam. Mungkin masih samar di ruang awang-awang. Namun, perasaan tak pernah salah menerka. Yah, ini tentang prihal perempuan malang itu.

Perempuan yang antara lainnya adalah orang sangat kaucintai itu yang berperan membuat secangkir capucino, bedanya sebelum embun meletakan secawan kasih dalam kelopak mawar. Kehidupan kalian berjalan harmonis bak alunan nada yang berharmonisasi. Bisa dikatakan kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Seperti cerita dongeng yang kerap kaudengarkan saat meninakbobokan diriku. Pangeran dan permaisuri penghuni kayangan atau serupa roman picisan.

Aku tahu ada secuil rindu yang kauselipkan di saku jiwamu terhadap perempuan yang dulu menjadi permaisuri dalam istana hatimu, jauh sebelum kehadiranku di tengah-tengah kalian. Cemburu, ya aku cemburu setiap kali melihat matamu yang teduh, di sana aku dapat menangkap kenangan terindahmu bersama perempuan itu. Pernah terbesit niat untuk merampas lantas membakarnya, biar legam menjadi abu dan terbang terbawa angin. Tapi, aku terlalu kasian padamu bila kumelakukan itu. Tidak, aku tidak sekejam itu. Lagi pula katamu cinta itu memberi kebahagian bukan luka.

Pantas saja, kau menyemai benih kasih dalam kehidupan perempuan itu, meski terlalu banyak pahit yang harus kauubah menjadi manis. Sungguh saat itu aku sangat takut, bila manis itu tersebar racun. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu sebelum dapat menikmati embun bersama capucino.

Kubiarkan dirimu tetap memiliki secuil rindu itu. Makanya, aku tak pernah memprotes bila kau membuati diriku secangkir capucino. Ya, secuil rindu itu tersaji dalam secangkir capucino yang selalu kau sajikan di atas meja. Senyum selalu mengambang di bibir saat kita menyeduh capucino hangatmu yang berisi secuil rindu.

Entah mengapa ini bisa terjadi. Bukan dirimu saja yang merasakan rindu, tapi aku jadi terikut pula rindu kepada sosok perempuan itu yang saban sore menampi padi di sawah Pak kadir. Perempuan penikmat capucino. Oya, mungkin karena kau kerap mencampurkan secuil rindu dalam cangkir capucino yang kuminum tiap pagi sebelum beranjak bekerja.

***

 

Ada penasaran yang menggelayut jiwaku, sudah cukup lama memang. Kenapa kau meninggalkan wanita itu demi aku, bila kau masih terlalu amat mencintainya. Apa dia telah membuat dirimu terluka? Maka kau lantas memilih diriku menjadi permaisuri istanamu. Atau diriku hanya sekadar pelarianmu? Akh! Terlalu picik aku berpikir begitu. Kau adalah lelaki yang baik mana mungkin seperti itu.

Kalau boleh jujur, sesungguhnya aku juga ingin tinggal seatap dengan perempuan itu. Bagaimanapun dia telah menjadi bagian dari hidupmu dan hidupku. Andai luka dapat disembuhkan dengan cinta, aku yakin kejadiaannya tidak seperti ini. Mungkin cinta telah bertepuk sebelah tangan. Akh! Kau selalu membuat diriku untuk menerka-nerka tentangmu. Sekarang kau hanya bisa menyeduh kerinduan tiap pagi di balik jendela yang berembun.

Tetapi, tanya tetap jala-menjala hingga bergejolak untuk langsung bertanya prihal itu. Entahlah, sekali lagi bisikkan niat kuurungkan. Aku takut kau akan benar-benar terluka nantinya. Sungguh, aku tak pernah tega melihat bulir kristalmu luruh. Terlalu berharga untuk kau keluarkan. Aku mencintai dirimu lebih daripada wanita manapun termasuk perempuan itu.

Tawa dan canda yang sering kita lakukan di tempat tidur kala malam sudah meninggi. Celoteh hangatmu agak sulit mengatupkan mataku. Kau akan mulai membujuk diriku untuk lekas memeluk lelap. Namun, terkadang rengekku tak tega untuk kau terima. Dan kita akan mulai sibuk menghitung bintang hingga aku tertikam lelap di atas pangkuanmu.

Sebenarnya, banyak lelaki yang datang melamar, untuk mempersuntingku menjadi istri. Tapi, aku selalu saja mengelak dari mereka. Usia bukanlah menentukan pantas atau tidaknya untuk membangun bahtera rumah tangga, namun adalah kesiapan batin maupun lahir. Aku masih ingin hidup bersamamu, menikmati secangkir rindu kala embun berjatuhan. Kau-lah yang akan menjawab dan mencari alasan atas pinta mereka. Kau sangat pandai untuk berkilah.

Namun, setelah para lelaki itu beranjak keluar dari beranda kita, tak jarang aku memergongki dirimu sedang menangis. Ya, aku tahu kau pasti merasa takut bila suatu hari nanti diriku akan menikah dan meninggalkanmu dalam kesepian. Percayalah itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan tega menyiksamu dalam rindu dan sepi. Asalkan kau ketahui kemana pun langkah kaki ini pergi, kau harus ikut bersamaku.

Siapapun yang kelak menjadi suamiku dia harus bisa menerima kehadiranmu di dalam kehidupannya. Besabab, kau adalah aku. Kita seperti satu paket yang tak akan pernah berpisah kecuali bila sudah suratan takdir.

Kita saling mengisi kekurangan. Tak ada keluh yang kau jatuhkan. Kau kerap berusaha menjadi orang yang sempurna untuk diriku. Selalu senyuman yang kaukanvas di dalam hidupku. Meski ada rindu ataupun luka yang kausembunyikan. Aku berpura-pura tidak pernah tahu semua hal itu. kebahagiaanlah yang ingin kutuangkan kepadamu.

***

 

Kini, setelah kauwariskan secangkir rindu tiap pagi saat embun telah memeluk dedauanan. Aku pun menjadi terbiasa dengan kebiasaanmu. Masih sepi yang sama dan malam yang sama, tentunya dengan secangkir rindu yang hangat. Diriku membiarkannya tergeletak tumpah di atas meja. Jemari kita masih saja sibuk menghitung kerlap-kerlip cahaya bintang. Ah, apakah bintang bisa dihitung semuanya?

Bedanya, tanpa ada kamu di sisiku lagi. Hanya sesosok lelaki yang telah menemaniku selama tiga tahun belakangan ini. Lelaki yang dipanggil ayah oleh anakku. Yang dapat menerima dirimu dalam kehidupanku. Tentunya dengan kebiasaanmu.

Ya, aku tak perlu lagi menerka-nerka tentangmu. Ternyata perempuan itu yang telah menggoreskan luka di relung jiwamu, bahkan melukai diriku. Dia berselingkuh dengan lelaki lain. Lelaki yang lebih kaya daripada dirimu. Tidak, itu adalah pandangan perempuan itu.  Tapi, tak berlaku dalam pandanganku.

Tiap Sabtu kauselalu menjenguk perempuan itu di rumah sakit. Kau bilang dia mengalami gangguan jiwa. Sedangkan suami barunya telah meninggalkan dirinya begitu saja. Terimakasih untukmu yang telah mengajarkan aku tentang kesetiaan, pengorbanan, dan cinta hingga menjadikan diriku menjadi jiwa pemberi.

Meski, rahim perempuan itu telah kutumpangi selama sembilan bulan, tetap saja dia bukan seorang ibu yang merawatku dari kecil. Aku sama sekali tak mengenal sosoknya sampai sekarang.

Kau-lah lelaki yang merawatku dengan tumpahan kasih dan cinta, menjadi sahabat dalam hidupku, dan menjadi ayah yang sangat bijaksana. Semoga kita dapat bertemu di surga. Hanya satu sesalku yang menggelayut, aku tak berhasil membawa perempuan itu keluar dari rumah sakit jiwa ke beranda kita. Sebelum kepergianmu, perempuan itu juga menyusul jejakmu.

Biarlah lewat rasa kerinduaan ini kusatukan kalian dalam cinta. Tak dapat kupungkiri, sebenci apa pun yang melahap jiwa ini terhadap perempuan itu. Aku tetap merindui dia. Akulah penggantimu, ayah. Yang mennyeduh secangkir rindu di balik jendela yang berembun.

Dunia KOMA

Kedai Durian, 5 Maret-10 Maret 2012

*Cerpen ini dimuat di Harian Mimbar Umun edisi 17 Maret 2012

 

12 Comments to "Secangkir Rindu"

  1. ayu sundari lestari  22 March, 2012 at 23:46

    rindu oh rindu…..
    rinduku buat baltyra

  2. Dj.  22 March, 2012 at 03:19

    Secangkir skoteng = rindu…!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.