Nggragas (lagi!) Campur Ngglidhig: Surga Masa Kecil

Probo Harjanti

 

Membicarakan masa kecil, seolah tak pernah habis.  Dari acara nggragas, sampai  ngglidhig bin mbeling.  Yang sekarang sudah kepala 4 usianya, mungkin masih ingat, betapa ‘kreatif’nya kita. Semua mainan  kita  bikin sendiri , nyaris tidak ada yang beli. Dari yang wajar, sampai tak wajar (untuk kaca mata sekarang). Yang wajar seperti kereta dari kulit jeruk bali, layangan, kuda-kudaan dari gedebog pisang, mahkota daun nangka, bedhilbedhilan, dan lain-lain. Yang tidak wajar adalah ketika main tanah (debu) dibuat gundukan kecil, kemudian diberi air dijadikan makanan atau apalah…tak bernama.  Kenapa tidak wajar? Karena menggunakan air……seni, dituang langsung dari wadah eh….pabriknya!

Dolanan di masa lalu, semua tersedia. Tinggal ambil atau petik. Kalau mau petak umpet capek, bisa main dhelikan biting. Asal tanah agak basah, ada biting (lidi), jadilah! Pingin pakai kalung tinggal cari daun singkong, dipatah-patahkan, jadi kalung! Mau main jadi dalang, tinggal bikin wayang suket  (rumput) atau dari tangkai daun singkong. Main sumbar suru tinggal ambil biji sawo kecik atau biji asem (klungsu). Mau bas-basan/ dam-daman (semacam halma) tinggal ambil kapur atau areng,  bikin gambar di lantai dan ambil batu krikil. Begitu juga dakon, bikin gambar, diisi kerikil sudah jadi. Kalau mau pasar-pasaran petik saja daun-daunan, potong apa diiris-iris  tipis kasih bata merah bubuk dan dibasahi, jadilah pecel. Main ibu-ibuan, cari bluluk, sumpalkan di tempat yang semestinya. Kalau bingung tanya Mbak Lani.

Kalau bosan, bisa bertualang ke sawah, menyusuri parit, atau ke kali. Kebetulan saya tinggal di desa yang terletak di tepi sungai Progo. Jadi acara ngglidhig saya bertambah satu, main di sungai. Saya ke Progo tidak untuk mandi, tapi nyari ikan. Mbrengkali batu-batu kecil berlumut, kalau-kalau nemu jabangan. Jabangan adalah sebutan kami untuk lele kali yang masih anakan. Nyarinya  memang yang masih  kecil, kalau agak gedean nggak berani nangkapnya.

Saya beberapa kali mencuri-curi main ke sungai dengan berbohong tentunya, karena kalau minta ijin, tidak bakalan boleh. Saya yakin sebenarnya ketahuan juga, orang kulitnya jadi makin hitam (belum pakai manis hehehe), dan kering serta mbekisik. Saya selalu membawa hasil tangkapan saya, ke kolam di ladang, tanpa bilang siapa-siapa. Kalau ingat hal itu, saya heran sendiri, kok tidak takut ke kali sendiri, sekarang saja ngeri membayangkannya. Sungai Progo kan termasuk gawat, wingit. Sungai ini termasuk sering memakan korban, sering  terjadi orang meninggal karena tenggelam. Di sekitar tempat saya main, merupakan tempat ‘berlabuh’-nya pasukan Pangeran Diponegoro. Di situ ada daerah yang longsor (jugrug) dan kami kenal dengan nama Jugrugan. Pangeran Diponegoro memang pernah mesanggrah di desa kami, Gamplong. Di dalam buku Babad Diponegoro ada disebut Kadipaten Gamplong.

Di halaman rumah bangsawan jaman dulu, hampir dapat dipastikan ada pohon sawo kecik (konon dari sebuah doa dan harapan, agar yang tinggal di situ sarwo becik, serba baik), juga pohon asem, sebuah harapan agar selalu sengsem, senang. Di dekat rumah saya, pernah ada warga yang memiliki halaman luas, dengan pohon sawo kecik yang amat besar, tiga orang dewasa merentangkan kedua  tangan melingkari pohon tersebut tidak cukup untuk memeluk pohon sawo kecik tersebut, ora tepung gelang, tidak terlingkari. Bisa dibayangkan bukan betapa besar pohon tersebut. Selain sawo yang amat besar, juga ada pohon asem yang amat besar pula. Tidak mengherankan, jika di dalam lingkup desa kami, ada sebutan khusus yang dikenal warga lokal, yaitu Ngasem untuk seputar rumah (dalem) yang ada pohon asemnya dan Sawo, untuk seputar  rumah yang ada pohon sawo keciknya.

Kembali ke jabangan, suatu saat kolam tersebut mengering. Saya cerita pada kakak perempuan saya (yang tidak kalah ngglidhig), bahwa saya dulu sering nyemplungin lele imut ke dalam kolam. Dia langsung saja nyemplung ke kolam, gogoh-gogoh, dan menangkapnya.  Dia memang lebih kendel, dan terampil untuk hal-hal begitu. Ternyata lumayan banyak. Jadilah hari itu kami berlauk lele hasil tangkapan dari Progo.

Saya sering juga berngglidhig-ria dengan kakak saya. Kebetulan usia kami  tidak terpaut banyak. Sering main atau mandi berdua. Yang terakhir (mandi) sering diakhiri dengan pertanyaan campur protes saya pada Bapak.

“Bapak ki le nggawe piye to, Mbak Rini putih kok aku ireng?”

Begitu selalu saya protes. Bapak tidak pernah menjawab. Saya juga tak pernah menuntut jawaban. Entah apa yang ada  di benak Bapak saat menengar pertanyaaan saya. Sekarang  pertanyaan serupa keluar dari bungsu saya. Sulung saya kan hidungnya nongol, sementara bungsu sopan banget hidungnya. Sebenarnya tidak heran juga, orang saya pesek juga, suami yang hidungnya kayak pinokio.  Bungsu  mempertanyakan itu,  dalam hati saya jawab, kalau bisa pesan, pasti saya maunya dua-duanya mancung.

Kembali ke perngglidhigan. Saya sama mbak saya sering juga turut kebon mencari buah jatuh. Ya melinjo, sawo, jambu yang tidak sama dengan jambu di rumah. Juga kadang berburu jamur. Kami semua penggemar jamur. Jamur barat (seperti payung mekar, tumbuh di tanah), jamur trucuk (seperti payung kuncup, tapi tebal), jamur so, jamur bawang. Di antara beberapa jenis jamur ini, yang paling enak adalah jamur so. So adalah daun melinjo. Jamur so tumbuh selalu di sekitar pohon melinjo. Kalau masih kecil/ muda, kulitnya berwarna kuning, dagingnya berwarna putih. Jamur ini enak sekali, yang masih putih langsung disantap tanpa dimasak pun enak. Nggak bikin sakit perut. Jamur yang sudah tua  berwrana hitam kebiruan. Kalau dimakan mentah belum pernah nyoba, tapi kayaknya agak seret. Biasanya jamur yang kami dapat, langsung nyemplung di sayur, setelah dikupas dan dicuci. Kami lalu berebut ngubek-ubek saat sayurnya matang. Jamur  kadang dibikin gembrot (semacam pepes). Kalau di  dekat pohon mlinjo ada semacam akar berwarna kuning, tutuplah) dengan kreweng (potongan genteng) atau ditutupi batu-batu kecil di sekelilingnya agar tak terinjak, karena itu adalah bibit jamur so.

Sebenarnya alam Indonesia ini benar-benar surga. Makanan (buah dan sayur) tumbuh di mana-mana, tanpa kita tanam. Ikan tersedia di kali, parit, dan di laut. Tanaman obat dan kosmetik alami tersedia di kebun, sawah, hutan, bahkan pinggir parit. Sayang manusia-manusianya banyak yang serakah dan merusak alam. Hingga sekarang tidak mudah mendapat kan jamur so, yang saya klaim sebagai jamur terenak di dunia!

Kami kadang berburu belalang di sawah. Untuk pakan ayam dan burung. Kalau belalang kebun yang nak dimakan, tinggal masuk kebun, pasti dapat. Selain itu, kadang nyari uler turi (di pangkal pogon turi, katanya obat gomen/ sariawan), lalu gangsir/ jengkerik, ubrem/ sonthe kami cari di lapangan atau di pohon sirsak. Enak tapi saya tidak berani nyoba, kalau kakak saya suka. Lalu laron, tinggal cari wadah diisi air, laron pada nyemplung. Enak, tapi saya ngeri lihat garis-garis putih di badan  laron saat matang, jadi nggak berani makan juga.

Pernah nangkap tupai? Kami berdua pernah. Juga nangkap tokek di pohon. Nah gara-gara nangkap  tokek ini. Kakak saya punya codet di dekat mata. Gara-garanya kakak saya membawa ban bekas atau apa agak lupa yang dia bakar, lalu dimasukkan di rongga pohon kelapa tempat tokek sembunyi, rupanya ada api nyiprat ke wajah kakak, jadilah wajah putihnya yang bikin saya iri bercodet.

Eh ya, kami ber5-6  pernah ngerjain teman-teman sebaya lo. Kami menabuh gamelan ala jatilan. Nah…banyak oraang lari menuju arah datangnya suara gamelan. Jelas saja kami di rumah ngakak nggak habis-habis. Jaman itu jatilan keliling mbarang (ngamen), kalau ada yang nanggap berhenti, lalu main. Kami, anak-anak kecil biasa ngekor ke mana pun jatilan pergi, kadang mencari berdasar suara gamelan yang terdengar.

Tetapi teman di depan rumah pernah juga dikerjain orang. Saat rasan-rasan kepingin bakso, ada yaag dengar. Akhirnya ada suara thing-thing-thing, mangkok baksu berdenting terkena sendok. Teman saya sudah siap beli, dilihatnya ada lampu teplok berjalan mendekat. Tapi…saat sudah dekat, tiba-tiba lampu mati, ganti suara orang ngakak sambil berlari. Mbeling tenan!!

 

86 Comments to "Nggragas (lagi!) Campur Ngglidhig: Surga Masa Kecil"

  1. probo  14 July, 2015 at 23:23

    dan enak banget

  2. jamur so nek ngisor wet so  6 July, 2015 at 13:58

    jamur soo rupo kuning kenyil2

  3. probo  4 April, 2012 at 21:30

    Dimas Zahwan pidalem pundi ta……
    mangga sami golek jamur so …..menapa dhateng Progo celak jugrugan, pados jabangan hehehehe

  4. probo  4 April, 2012 at 21:28

    Pak Dayat, makasih ya sudah mampir baca…salam kenal…..

  5. Zahwan  2 April, 2012 at 19:06

    Zahwan Says:
    March 25th, 2012 at 09:43

    Mb Probo priyantun pundi tho kok ngertos jamur so, gembrot, jabangan, kreweng lan sak panunggalanipun. Maos seratan panjenengan kulo nggih emut kala alit riyin ha ha

    March 25th, 2012 at 22:13
    Probo Says:
    kula saking Sleman meh Bantul, meh Kulon Progo (perbatasan)……., wonten iring wetan lepen Progo…..
    monggo pados jamur so…..mangke dipun-gembrot sesarengan njih?

    Namung celak mawon tho kalian asal kula. Saged gayeng niku mb gembrot jamur so sesarengan. Salam kenal kagem mb Probo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *