Dilema Pilihan Teknologi Industrial

Gunawan Budi Susanto

 

KETIKA disodori panitia seminar ini untuk mengulas topik “Pembangunan Industri yang Berkeadilan Sosial”, serta merta saya disergap keraguan dan syakwasangka. Mengingat, perbincangan tematik ini dimaksudkan sebagai sumbangan pemikiran berupa konsep kepada penentu kebijakan pembangunan dalam penyusunan Garis-garis Besaar Haluan Negara (GBHN) 1993-1998 yang merupakan kerangka landasan bagi Strategi Pembangunan Nasional Jangka Panjang II atau Era Tinggal Landas.

Ada dua alasan bagi saya untuk mengelak berbicara sesuai dengan sodoran tematik itu dan menawarnya lewat diskusi nanti. Pertama, sesungguhnya bila tak terjadi perubahan mendasar pada keseluruhan sistem yang membentuk struktur sosial, ekonomi, politik selama ini – entah lantaran kemauan-politik-yang baik (political goodwill) pemerintah atau atas desakan “revolusioner” arus bawah – cetak biru konsep tersebut toh sudah disiapkan, yang barangkali dengan beberapa modifikasi tak berarti bakal merupakan kelanjutan belaka dari konsep sebelumnya yang secara normatif dibakukan dalam GBHN semenjak Pelita I sampai V (1969-1994). Kedua, sebagai orang awam, saya merasa tidak mempunyai cukup kompetensi  — lantaran kemiskinan data dan kecupetan kualifikasi teknis-teoretis – untuk membicarakan tema itu secara utuh menyeluruh. Saya masih senantiasa gagap manakala mengorganisasikan serpihan pemahaman tentang segenap aspek pembangunan dalam menakar kenyataan sesungguhnya.

(lths.laceyschools.org)

Maka, dengan rendah hati dan berbekal optimisme yang tersisa, saya mendekati permasalahan ke arah konsep tersebut atas dasar pemahaman terhadap kontroversi dilematis yang melekat pada (pilihan) teknologi industrial dan harapan terhadap moralitas etik kekuasaan (ideologis) yang melatarbelakangi atau mengiringi pilihan teknologi tertentu. Itulah pertimbangan awal yang semestinya dikaji sebelum kita menyusun konsep pembangunan industrial, terlebih yang bermatra keadilan sosial.

Kampung Raksasa

Pasti ini bukan gagasan orisinal lagi. Sudah banyak orang yang lebih ahli membahas dan berusaha meyakinkan pemerintah atau kekuatan-kekuatan bisnis dan para industrialis agar mempertimbangkan akibat-akibat dari pengembangan, penemuan, dan penerapan teknologi industrial bagi keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi kerap kali kita memperoleh kesan: suara-suara itu seolah-olah luruh manakala berhadapan dengan kepentingan-kepentingan bisnis dan (prestise) politis.

Kemajuan luar biasa, bahkan revolusioner, dalam teknologi telah sangat mengubah wajah dunia. Bumi tempat kita tinggal ini seolah-olah sudah menjadi kampung raksasa – lantaran lilitan jaring-jaring telekomunikasi dan alat transportasi antarbenua yang serba-computerized. Satelit-satelit buatan di awang-awang yang dihubungkan dengan spora-spora televideo dan panel-panel di stasiun penerima di bumi merupakan wahana komunikasi yang menemu, mengolah, mengemas, dan menghantarkan aneka informasi – dari miniseri di televisi hingga kandungan mineral di suatu lembah atau potensi mesin perang suatu negara. Teknologi komunikasi seolah-olah mampu menegasikan ruang dan waktu.

(123rf.com)

Sementara itu, penemuan di bidang bioteknologi lewat rekayasa genetika, misalnya, tidak cuma menghasilkan varietas tanaman atau hewan jenis unggul, tetapi bahkan mampu menciptakan spesies baru. Malah bisa jadi manusia unggul bakal lahir lewat proses reproduksi teknologis. Pengembangan teknologi di berbagai bidang lain pun senantiasa mengantisipasi masa depan, seperti teknologi mesin perang ala strategi Perang Bintang Amerika erikat.

Dan, secara umum, revolusi teknologi pada sisi lain tampil dengan wajah dagang lantaran segala kemajuan yang mengiringi penemuan-penemuan baru di bidang teknologi tidak pernah bisa diperoleh secara gratis. Tak pelak, cuma kekuatan bermodal besarlah yang bisa memiliki akses informasi dan penguasaan teknologis. Gelombang revolusi teknologi pada dasarnya lantas identik dengan gelombang perekonomian industrial. Dan, pada giliran selanjutnya, pengembangan teknologi dan pilihan terhadap teknologi bagi industri pun bakal lebih mengedepankan kepentingan dan perhitungan berdasar hukum-hukum ekonomi; efisiensi, peningkatan produktivitas, dan lain sebagainya yang berorientasi keuntungan, lantas investasi baru, ekspansi pasar dan usaha, penciptaan pasar baru, dan seterusnya, dan sebagainya. Hingga muncullah rasionalitas baru sebagai dalih dari para pemilik modal: bukan kelompok bisnis bermodal raksasa (konglomerat) yang menimbulkan praktik dan iklim monopolistik dalam perekonomian, melainkan sebaliknya kondisi monopolistik itulah yang mendorong konglomerasi meruyak.

Globalisasi Kapitalisme

Namun lepas dari perdebatan yang mungkin muncul nyata, bahwa determinasi bagi kunci sukses industrialisasi di negara-negara (yang telah lama ataupun baru) maju yang terutama adalah keberadaan kelompok-kelompok bisnis raksasa, baik swasta nasional maupun tansnasional. Keberadaan kelompok bisnis yang tumbuh secara murni atau semu itu ditopang oleh kekuasaan (politik) negara yang kuat. Malah di negara-negara yang membangun industrialisasi belakangan, determinasi itu ditopang pemerintahan yang otoriter dan sentralistik.

Seiring dengan hal itu, terciptalah kesenjangan yang makin lebar dan  dalam berkait dengan penguasaan akses informasi dan kemampuan teknologis antara masyarakat dan elite, antara negara-negara terbelakang atau baru merdeka dan negara-negara industri maju. Tak ayal, struktur sosial baik pada tingkat suatu negara-kebangsaan maupun secara mondial pun makin piramidal, yang diikuti kemelembagaan struktur pengisapan. Maka bila perekonomian dunia sudah terintegrasikan dalam kondisi atau dasar yang sama seperti sekarang, jadilah kecenderungan mutakhir: globalisasi kapitalisme.

Nyatalah sekarang dictum Francis Bacon knowledge is power makin mengedepankan kebenaran empiris. Padahal, jauh hari sebelumnya, Lord Acton sudah mengingatkan betapa power attend to corrupt, and absolutely power tend….

Teknologi sesungguhnya tidaklah netral. Sejak awal teknologi mengandung potensi merusak, baik secara ideologis maupun fisiologis. Dan manakala demi kepentingan bisnis dan politis perhitungan-perhitungan rasional tidak diimbangi visi keadilan dan kemanusiaan – menyangkut penerapan dan pengembangan teknologi industrial – bukan tak mungkin bakal makin mendorong pangkal kepunahan peradaban. Atau, paling tidak, menggiring kehidupan masyarakat manusia ke arah gambaran imajinatif ala George Orwell atau ke arah masyarakat industrial yang dikonstatasikan Herbert Marcuse. Ya, itu bukan tak mungkin terjadi karena arah pengembangan dan inovasi teknologi serta dampaknya cuma bisa dibatasi oleh daya fantasi dan imajinasi manusia.

Barangkali gambaran itu terlampau jauh dari kenyataan di negeri tercinta ini, hari ini. Mungkin lantaran kita beranggapan negeri ini masih amat tertinggal di bidang penguasaan teknologi dan karena itu mesti mengejar dan berusaha menguasai segala macam teknologi canggih.

Mutasi Genetis

Memang, saat ini, kita belum mampu. Namun bagaimana bila pilihan teknologi yang tidak tepat dipakai dalam suatu bangun industri di negeri ini bersamaan atau dibawa investor asing? Entah lewat alih teknologi, relokasi manufaktur, atau pembelian produk teknologi.

Bagaimana bila, misalnya, pada satelit Palapa oleh sang pembuat dan penjual dipasangi alat pengindra tanpa kita ketahui, yang dirancang khusus untuk mengetahui kandungan mineral yang memberikan data akurat (perihal letak, kedalaman, volume, kualitas, jenis, dan variabel topografis dan monografis? Bukankah itu data eksklusif yang kumedol? Pertimbangkan pula, misalnya, teknologi automotif yang dasar industri perakitan atau pembuatan mobil. Nah, manakala pengembangan teknologi itu diarahkan untuk membuat dan memasarkan mobil pribadi seperti sedan, misalnya, dan bukan pada sistem angkutan umum akibatnya pun luar biasa. Arus di jalanan kota macet dan terjadilah antrean panjang mobil pribadi yang kebanyakan berpenumpang tunggal. Tak ayal, tanah-tanah yang semestinya bisa produktif makin berkurang untuk membangun jalan-jalan beraspal. Belum lagi pengotoran udara oleh gas buangan yang pada batas tertentu bakal menimbulkan berbagai penyakit serta mengganggu keseimbangan iklim global. (Jalan raya sesungguhnya mencerminkan ketidakadilan sosial!)

Bagaimana pula bila pengembangan industri mobil menerapkan robotisasi? Bukankah robot-robot tersebut mempunyai daya akurasi dan presisi tinggi? Lagi pula jelas para robot tak bakal nyinyir menuntut pengurangan jam kerja, kenaikan upah, atau demonstrasi dan mogok kerja.

Tengoklah pula pilihan teknologi pascapanen yang mengiringi “Revolusi Hijau” di bidang pertanian. Ketika suatu varietas baru padi jenis unggul diperkenalkan dalam paket intensifikasi pertanian, implikasinya luar biasa. Pola tanam dan pemupukan tertentu akhirnya (selain menimbulkan masalah pencemaran juga) membuat spesies hama tertentu menjadi imun dan bahkan dalam proses penyesuaian melalui mutasi genetik muncul spesies hama baru yang lebih unggul pula. Selain itu varietas padi jenis baru itu umumnya berbatang pendek yang lebih efektif dan efisien dipanen dengan sabit. Tanpa banyak disadari sirnalah kesempatan kerja para perempuan buruh yang dulu memanen dengan anai-anai. Itu pula yang terjadi dengan pemakaian huller; kaum perempuan desa kembali kehilangan kesempatan kerja sebagai buruh tuton. Faktor itulah, antara lain, yang mendorong kemenderasan arus urbanisasi.

Sekarang malah bakal dipergunakan juga teknologi (instalasi/reaktor pembangkit energi) nuklir untuk menghasilkan listrik – yang mungkin sebagian besar untuk mendukung industri-industri besar. Padahal, kecenderungan di berbagai negara yang lebih maju menunjukkan kesadaran (juga di pemerintahan) ke arah penghapusan instalasi/reaktor nuklir. Tetapi kenapa justru negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, justru berkesan ngotot untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir?

Pertimbangkan juga bila kelompok bisnis raksasa memanfaatkan spektakuler di bidang bioteknologi atau rekayasa genetika untuk memproduksi secara massal produk nabati dan hewani. Bukankah langkah itu bakal menggoyahkan sistem pertanian, perkebunan, dan peternakan rakyat? Bagaimana bila rekayasa genetika tidak cuma ditujukan pada hewan, tetapi juga pada manusia? Realisasi ras manusia-baru yang lebih unggul daripada obsesi Hitler barangkali tinggal sejengkal. Bukankah sekarang sudah ada bank sperma?

Paparan di atas hanya kulit yang mampu saya singkap. Tapi setidaknya gambaran itu semoga mampu menggiring kesadaran kita untuk kembali menimbang-nimbang pilihan teknologi yang telah dan bakal dipergunakan sebagai dasar pembangunan industri. Jadi matra keadilan sosial tidak cuma jadi pernyataan tanpa pernah bisa kita jadikan kenyataan.

Pilihan teknologi yang tidak tepat sesungguhnya justru makin menjauhkan keadilan sosial dari hidup keseharian. Jadi, menurut pendapat saya, perkara ini butuh dialog nasional, tidak cukup di tingkat departemental. Urusan teknologi pasti tak bisa kita pasrahkan hanya pada para teknolog. ()

 

* Dimuat koran kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Manunggal Edisi 2 Tahun XI Desember 1992, halaman 2. Semula makalah dalam “Seminar Nasional Budaya dan Pembangunan: Transformasi Budaya Masyarakat Agraris ke Masyarakat Industri”, yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Undip, 11 Desember 1991.

 

3 Comments to "Dilema Pilihan Teknologi Industrial"

  1. Kornelya  23 March, 2012 at 22:32

    Mas Tok, aku setuju, apapun kemajuan teknologi, keputusan tetap ada ditangan kita untuk memilih dan memilah. Salam.

  2. J C  23 March, 2012 at 20:01

    Kang Putu, kalau saya melihat sekarang ini teknologi sudah mblandang bablas kecepatannya tidak pernah terbayangkan katakanlah 10 tahun lalu…

  3. MasTok  23 March, 2012 at 10:18

    Mas Gunawan.. Trims.. Ini seperti membangunkan dari tidur saya……..

    kalo kita dapat melihat 10 tahun ke depan kita akan tecengang.. dengan globalosali industri, SDA yang terus di exlpotasi,explorasi tanpa mempertimbangkan ekosistem lagi….kesadaran masyarakat da berani mengatakan ” TIDAK ”

    Sosulinya sudah banyak tapi kenapa malah mandul ??? Dan tidak menjadi satu gerakan moral yang di aplikasikan, Budaya dan kearifan lokal tidak cukup.. sosial engineering supaya mayarakat berperan serta di lingkup pondasinya…………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.