Hai Nik: Bed of Roses

Dian Nugraheni

 

Pertemuan pertamaku dengan Nik, sungguh setara dengan sebuah adegan dalam film roman remaja yang pernah aku tonton ketika usiaku masih belasan tahun. Yaa, sore yang sejuk, di salah satu perpustakaan yang ada di tengah kota Washington, DC, aku sedang berdiri sambil membuka halaman demi halaman sebuah buku sastra, Bud, Not Buddy, karangan Christopher Paul Curtis, ketika seseorang berkata, “excuse me…, boleh saya lewat..?”

Saking kagetnya karena tidak mengira bahwa aku menghalangi lorong yang akan dilewati orang tersebut, sampai-sampai bukuku terjatuh, dan dengan cepat orang itu, tepatnya, pemuda itu, membungkuk mengambilkan buku yang terjatuh, dan memberikannya padaku yang masih terpana memandang wajahnya. Sepertinya, kagetku lebih karena rasaku yang tiba-tiba seperti terkena aliran listrik, atau, aku seperti.., tiba-tiba terbawa oleh daya tarik sebuah magnet yang cukup besar…

“Maaf, membuat bukumu terjatuh…,” katanya sambil tersenyum, aku pun mencoba tersenyum.

Aku segera memilih tempat duduk yang kuanggap nyaman, dekat jendela, sehingga aku bisa membaca sambil sesekali melihat keluar, memandang angin yang menggoyangkan dedaunan di akhir musim Semi ini. Tak berapa lama, pemuda yang telah membuat bukuku terjatuh itu, mengambil tempat duduk di sebelahku, memandang padaku, tersenyum, dan mulai membuka bukunya.

Menit demi menit berlalu, ketika aku berusaha mencuri pandang tentang buku yang dibacanya, sepertinya bukan buku yang menarik untuk dibaca, tapi kenapa pemuda itu begitu nampak asyik melalap lembar demi lembarnya.

“Emmm, hai.., ini buku pelajaran…, Kimia.., besok ada mid test..,” katanya setengah berbisik sambil menoleh padaku. Aku agak sedikit malu demi menyadari bahwa pemuda itu tau, aku sedari tadi mencoba menyelidik tentang buku yang dibacanya. Aku mengangguk, tersenyum, dan mengacungkan jempol, seolah aku ingin sampaikan, “ohhh, gitu yaa, okelah kalau begitu…selamat belajar yaa…”

Menjelang pukul 6 sore, di luar senja mulai melapisi angkasa, semburat jingga nampak jelas di langit sebelah barat, aku segera mengemasi bukuku, dan akan segera jalan beberapa blok, menuju halte untuk menunggu bus yang menuju K Street, dari situ aku akan jalan kira-kira sepuluh menit untuk sampai di apartemen temanku sesama orang Indonesia, di mana aku “nebeng” untuk masa 6 bulan.

Ketika berjalan kaki menuju halte, ternyata pemuda yang tadi mengagetkanku di perpustakaan telah menyusul langkah dan menjejeriku, “Pulang..?”

“Ehh, yaa…,” jawabku singkat. Aku berhenti sejenak, “pulang juga yaa..?”

Dia mengangguk, mengulurkan tangan dan berkata, “Aku Nik…”

Kusambut uluran tangannya, “Ivana…”

“Nice to meet you..,” tambahnya.

“Nice to meet you, too…,” kataku.Hanya itu di hari itu….

**********

Anehnya, besoknya, besoknya dan besoknya lagi, aku hampir selalu ketemu Nik di perpustakaan itu, “apakah ini tempat favoritmu untuk belajar..?”

“Not really, banyak perpustakaan dan tempat lain dalam kampus, tapi akan selalu ramai ketika musim ujian begini, salah-salah, ketemu teman di perpustakaan bukannya belajar, malah pada ngajak nongkrong atau jalan-jalan, ini karena aku menghindari keramaian saja. Tugasku sangat banyak, jadwalku ketat, aku harus seimbangkan.., biar semuanya bisa berjalan dengan baik…,” jawabnya panjang lebar.

Aku cuma mengangguk,mencoba memahami, “Ooohhh…”

Dan ketika dia bertanya, ngapain aja aku di perpustakaan ini, aku jawab, “aku akan berada di Washington, DC, selama 6 bulan, datang dua bulan lalu karena dapat bonus dari perusahaan tempatku bekerja di negeriku, untuk magang di salah satu lembaga penyiaran berita di kota ini untuk memperdalam wawasan tentang broadcast journalist. Dan aku lebih tertarik mengupas masalah kehidupan di seputar kampus, maka tadi aku bertemu salah satu professor di kampus Universitas George Washington, karena kebetulan dia juga telah beberapa kali melakukan study tentang suatu kasus di Jogjakarta, I mean.., Jogjakarta adalah nama sebuah kota di negeriku.., jadi..yaa.., setelah itu aku pengen habiskan waktu di perpustakaan sambil baca-baca buku…”

Dan Nik berkata, “Ohh, itu sangat menyenangkan.., aku bisa membantumu bila kamu perlu bantuan, aku juga kuliah di situ, aku ambil Biochemistry…

Aku mengangguk senang, “Sure…, aku akan menghubungi kamu bila aku butuh bantuan…, makasih sebelumnya ya…” Kemudian kami bertukar nomor handphone.

“Pulang..?” tanyanya ketika melihatku berkemas-kemas.

“Yaa, tapi aku mau jalan-jalan dulu, aku mau makan Bakso..maksudku, Pho.., apakah kamu tau makanan ini..?”  tanyaku.

“Yeaahh, aku pernah dengar, salah satu temanku sering makan Pho di salah satu kafe di Foggy Bottom, kalau kamu mau coba.., dekat kok, cuma jalan sedikit ke situ? Emmm, aku sih belum pernah makan, itu makanan ala Vietnam, something like soup, with the meatball, right..?” jawabnya sekaligus bertanya.

Begitulah, bertemu tak sengaja, berkenalan, dan akhirnya berteman dengan Nik sungguh menyenangkan. Namanya Niklas, bukan Nicolas, atau Nicollo. Ternyata dia adalah salah satu atlet renang andalan di kampusnya. Pantaslah kalau dia bilang, jadwalnya sangat  ketat, karena selain dia harus belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, dia harus latihan rutin tiap pagi mulai jam 6 hingga jam 8 pagi…

**********

Hingga pada suatu sore, masih di perpustakaan yang sama, “Nik, dua minggu lagi aku akan balik ke Indonesia.., terimakasih banyak semuanya yaa.., hampir empat bulan ini kamu telah banyak membantuku mencari informasi di kampus, menemani aku berbincang-bincang, jalan-jalan..”

Mendengar aku berkata demikian, tiba-tiba Nik menatapku dengan pandangan yang memburam, “aku tahu, Ivana.., diam-diam aku pun menghitung hari menuju waktu kepulanganmu…, apakah kita akan bertemu lagi..?”

“Pasti..!! kamu bisa berkunjung ke negeriku, karena berharap aku dapat kesempatan seperti ini lagi, rasanya tidak mudah, banyak teman-teman lain di kantorku, yang lebih muda dan lebih enerjik menanti giliran untuk bisa mendapatkan bonus mengikuti kursus singkat di Luar Negeri.., atau paling nggak kita bisa bertemu lewat skype…, gimana..?” tanyaku.

Nik meraih tanganku, memandangku tajam dan berkata pelan, “Tidak, Ivana.., aku nggak mau hanya bertemu denganmu lewat layar komputer, aku mau bertemu denganmu seperti ini…”

Hatiku berdebam, aku tak mau ada masalah di antara aku dan Nik menjelang kepulanganku ini. Aku bukan kegeeran atau apa, tapi aku mulai menduga bahwa Nik menyimpan rasa padaku, seperti beberapa lelaki yang sering bertemu denganku, bahkan di dalam lingkungan kerja, para bachelor itu tak segan-segan bilang bahwa mereka jatuh cinta padaku, pada perempuan yang tak lagi muda dan tak lagi sendiri…

Apakah ini juga terjadi pada Nik..? Selama bergaul dengan Nik, aku tak mau berpikir lebih jauh tentang hal itu. Ini negeri bule, negeri asing bagiku, jelas aku tak bisa menangkap dengan pasti, apakah selama ini sikap Nik padaku adalah termasuk sikap sopan santun ala bule, atau ada sesuatu yang lain..?  Kalau dugaanku hanya berdasar sikap Nik yang begitu nice terhadapku, sebenarnya itu tidak beralasan, karena hampir semua orang yang aku kenal maupun tak aku kenal yang ada di Amerika ini bersikap sangat nice dan peduli terhadap sesama, tanpa mengenal asal bangsa, warna kulit, kedudukan, dan lain-lain, maka ini bukanlah salah satu alasanku untuk menjadi ge er.

Kalau patokannya adalah getaran dalam hati…, hmmm, kilas balik tergambar di benakku, ketika pertama kali aku bertemu dengan Nik di perpustakaan, atau debaran rasa yang tak biasa bila bertemu dengan Nik.., bahkan ketika hanya terbayang wajahnya saat aku tak bersamanya. Tapi itu kan debaran hatiku, sedangkan hatinya, mana kutahu..? ha..ha..ha..ha…

Maka sekali lagi aku harus menganggapnya nothing, karena aku seorang perempuan yang tak lagi muda, bukan single, dan Nik…, masih sangat belia, dia hanya seumuran seorang mahasiswa, meski penampakannya memang jauh lebih dewasa dari usianya. Yaa, setelah aku amati, enggak laki, enggak perempuan, kaum bule ini termasuk kelompok orang-orang yang punya muka dan body “boros”.., artinya penampakannya jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya. Mungkin karena mereka brewokan, atau jenis kulitnya yang membuat cepat nampak keriput, atau kepala mereka yang cepat botak. Lain dengan kaum Hitam atau Asia, penampakan mereka jauh lebih “irit” dibanding kaum bule, bahkan lebih sering, penampakannya jauh lebih muda jika dibandingkan dengan usia sebenarnya.

“Nanti setelah kamu selesai dengan kuliahmu, mungkin kamu akan mencoba bekerja di Indonesia..? Banyak perusahaan  milik Amerika yang ada di negeriku..?” kataku ingin menghiburnya.

Nik menggeleng, “aku belum tau.., yang aku tau, aku nggak ingin kamu pergi, Ivana…” rintih Nik semakin pelan, senyum dan sorot matanya yang mengandung magnet, sedikit memudar tertelan kesedihan. Aku hanya terpaku,  benar-benar tak tau harus bagaimana…

Ada diam di antara aku dan Nik, perpustakaan yang sepi ini makin terasa sunyi. “Nik, apakah kamu bisa temani aku ke New York City, aku pengen ke sana sebelum pulang…,” tanyaku.

“Tentu saja, my sunshine…, aku bahkan sudah merencanakan untuk membawamu ke sana sebelum kamu memintanya…, Jumat ini hari terakhir ujian semesteranku, malamnya kita bisa berangkat ke New York.., jangan khawatir, aku akan urus semua tiket perjalanan dan hotel di sana..,” lagi-lagi hatiku berdebam, dia menyebutku dengan sebutan sunshine, so sweet…

Aku bilang so sweet, karena selama ini ketika orang-orang yang kutemui di sini, menyebutku dengan sebutan macam sunshine, honey, atau darling, rasanya biasa-biasa saja, tapi kenapa ketika Nik yang menyebutku demikian, hatiku harus berdebam-debam…?

“Ambil tiket yang paling murah, Nik.., uangku sudah menipis, aku nggak mau kehabisan uang sebelum tiba di tanah  airku..,”

“Ivana, tak bisakah kau berhenti bilang soal pulang…?”

“Sorry.., aku nggak bermaksud bikin kamu sedih..,” kataku.

Kemudian kulihat Nik tersenyum, masih dalam buram, “Apakah kita akan naik bis ke New York..? itu perjalanan paling murah, sekitar $20 per orang satu kali perjalanan. Kalau untuk hotel, aku punya diskon khusus, lumayan kok, bisa sampai empatpuluh persen off, jangan khawatir…”

**********

Saat yang dinantikan pun tiba, habis tengah malam, aku dan Nik menuju tempat agen bus, karena bus menuju New York akan berangkat sekitar jam dua dini hari, tepat dari depan kantor agen bus tersebut yang berada di China Town, Washington, DC.

“Kamu kedinginan, Ivana..?” tanya Nik sambil merangkulku di jalanan menuju agen bus. Kami hanya bercelana pendek, berkaos oblong dan mengenakan sebuah jaket yang tidak tebal. Suhu udara di akhir musim Semi ini agak membingungkan, nggak pakai jaket, terasa terlalu sejuk, pakai jaket, agak kepanasan…

“Kita akan sampai New York empat jam lagi, tidurlah…, kamu belum tidur malam ini.., aku juga ngantuk nih…,” kata Nik sambil kembali memelukku. Tubuhku tidak termasuk kecil untuk ukuran perempuan Indonesia, tapi dalam rengkuhan Nik, tubuhku terasa sangat mengkeret, itu pasti karena tubuh Nik yang kekar dan tinggi menjulang.

Debam demi debam jantung terasa bermain-main dalam dadaku. Aku perempuan dewasa, tak perlu banyak bertanya tentang, apakah nama dari rasa ini, yang harus aku putuskan hanyalah, apakah aku akan menikmati rasa ini, mengabaikan, atau bahkan menolaknya. Dan Nik, terlalu indah untuk tidak dipedulikan…

Aku tahu, baik Nik maupun aku sendiri, tak benar-benar memejamkan mata untuk tertidur, kami memejamkan mata hanya untuk menikmati rasa demi rasa yang bermunculan silih berganti, sampai akhirnya, aku tak tahan, “Nik…!! peluk aku, lebih erat…!!” dan aku menggigil karena terjangkiti sebuah rasa…

**********

Tepat jam enam pagi lebih lima menit, bus telah sampai di New York, Nik menggandeng tanganku erat, “lapar..? Hanya Mc Donald yang sudah buka sejak jam 5 pagi, atau, nanti di Liberty Island ada kafetaria yang lumayan punya banyak pilihan. Kita harus pagi-pagi benar sampai dermaga, jam tujuh loket tiketnya mulai buka, kalau kita kesiangan sampai dermaga, kita akan ngantri panjang banget untuk dapat tiket naik ferry menuju Liberty island…” Aku hanya mengangguk.

Nik berhenti menatapku dalam senyumnya, “Kok cuma mengangguk.., mau sarapan dulu nggak..?” tanyanya lagi.

“Nanti saja sampai Liberty Island.., aku masih tahan…,” kataku.

Benarlah apa kata Nik, sebelum jam tujuh pagi, antrian manusia sudah mengular menunggu loket buka, untuk membeli tiket naik ferry menuju Liberty Island. Nik mengajakku duduk di bagian paling atas ferry, “Biar bisa melihat kota New York ketika kita berada di lautan, gedung-gedungnya akan terlihat sangat indah…”

Di atas ferry, dan di liberty island, tak henti-hentinya Nik mengambil gambarku. Kadang dia juga minta tolong seseorang yang lewat untuk memotret  kami berdua. Kami banyak membuat foto tepat di depan patung Miss Liberty yang menjulang tinggi.

Setelah puas menikmati patung Liberty, kami pergi ke tengah kota New York, mengunjungi museum lilin yang berisi patung lilin para tokoh dan selebritis, di kanan kiri jalan terlihat banyak gedung theater, toko-toko besar dan ramai, benar-benar terlihat mewah New York City ini.

Siang sampai sore, waktu aku habiskan bersama Nik menyusuri jalan-jalan besar yang ramai di New York City. Beli permen coklat di M and M store, dan keluar masuk toko hanya untuk melihat-lihat. Nik nampak sangat riang, hanya sesekali nampak ekspresi Nik memburam, sambil menggeleng, memandangku, memegang wajahku dengan kedua tangannya, dan kemudian memelukku, seperti tak mau kehilangan.

Atau, Nik akan bilang, “jangan menangis…,” ketika di antara keriangan itu, tiba-tiba kesedihan datang padaku, sedih karena memikirkan banyak hal, tapi aku ingin mengesampingkan semua kesedihan tentang diri pribadiku, aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku bersama Nik.

“Check in yok.., istirahat sebentar, nanti malam jalan-jalan lagi.., New York, makin malam, makin hidup…, kamu akan melihat banyak keramaian dan kemewahan di malam hari, layar-layar TV raksasa yang menempel di gedung-gedung itu akan nampak semakin berwarna bila gelap datang.”

**********

Senja, ketika kami makan di restoran Buffet ala China, aku terus memandangi wajahnya yang ceria. Aku sengaja tak mau banyak mengedipkan mata, karena itu berarti mengurangi waktuku untuk memandang wajah di depanku. Nik tersenyum senang ketika menyadari hal itu. “Kenapa kamu memandangku seperti itu.., aku nggak bisa makan nih…, ayo dong, kamu juga makan…, ” Nik merajuk senang, dan aku tertawa lepas.

Menjelang tengah malam, aku dan Nik berjalan pelan, sambil Nik terus merengkuh pundakku, sudah tak terasa, apakah aku yang terlalu dewasa buat Nik, atau dia yang terlalu muda buatku, tak penting lagi, kemudian terdengar suara seorang lelaki penjual bunga mawar berteriak menjajakan dagangannya, “hai.., wanita cantik dan pemuda gagah yang sedang dimabuk cinta, tak lengkap malammu tanpa kuntum-kuntum mawar ini…” katanya sambil tersenyum, berharap kami membeli bunga-bunga mawarnya. Aku memandang pada Nik, dan Nik mengangguk. “yang mana..? Merah..? Yaa, yang merah, ini warna cinta yang membara…” Berkata begitu, Nik merengkuh pinggangku, dan mencium dahiku sekilas.

Di salah satu sisi kota New York, ada sebuah jalan raya yang berfungsi sebagai arena duduk-duduk para wisatawan, di tengah keramaian orang-orang, aku berpelukan dengan Nik memandang agak jauh ke depan, di sana, nampak menara jam dinding di Times Square, satu-satunya tempat paling ramai di Amerika Serikat ketika pergantian tahun tiba. Beribu-ribu orang akan berjubel menanti jarum jam tepat di angka nol-nol…, dan jutaan kertas tabur warna-warni akan terhujan dari angkasa menyempurnakan keramaian perayaan tahun baru.

**********

Malam kian larut, layar-layar kaca di sepanjang kanan kiri jalan, menampilkan iklan warna warni berganti-ganti, suhu semakin terasa menurun, aku dan Nik segera kembali ke hotel, di sebuah kamar di lantai 25. Nik tampak segar setelah mandi malam itu, sambil tertawa-tawa seperti anak kecil dia berkurung dalam selimut sambil nonton film kartun di Tv yang berada dalam kamar. Setelah aku selesai mandi, kulihat Nik sedang duduk di dekat jendela, memandang jauh keluar.

Aku memeluknya dari belakang, kuciumi rambutnya yang sedikit ikal berwarna coklat keemasan. Nik menengadah, menatapku dengan matanya yang selalu tersenyum, bahkan sebelum bibirnya tersenyum…Lalu Nik berdiri, memelukku sambil sedikit membuat gerakan seakan-akan kami sedang berdansa, meraih wajahku, dan mencium lembut bibirku. Nik membawaku ke menuju bar kecil di dalam kamar hotel, menuang white wine dalam dua gelas piala langsing yang nampak jernih, kemudian menyodorkan salah satunya kepadaku. Kuraih gelasku dalam senyuman, Nik menyentuhkan gelasnya  pada gelasku, “untuk cinta kita…,” kata Nik lembut, tetap dalam wajahnya yang tersenyum. Kembali jantungku berdebam dalam tempo yang lebih cepat. Dalam otakku mampir sebuah pertanyaan, mampukah aku menolak keindahan ini…?

Nik menggandeng tanganku, menuju jendela di dekat ranjang, kembali memeluk pinggangku, dan berkata dengan suara yang sangat sedih, “Ivana, lihat di luar jendela itu, malam yang gelap, tetap benderang dalam cahaya lampu yang tak pernah sempat redup…, kamu.., bagi aku, lebih dari sekedar itu…, kamu bukan hanya menerangi gelapku, tapi kau selalu membuatku merasa jatuh cinta…, Ivana, di mana pun kamu berada, ingatlah bahwa aku.., selalu mengingatmu…, jangan pernah lupakan aku…”

“Nik.., mana bisa aku melupakanmu..?” hanya itu yang terucap, aku seperti kehilangan keahlianku merangkai kata-kata, kali ini, aku yang meraihnya, dan kuciumi wajahnya…

White wine yang hanya setengah gelas piala langsing itu telah menghangatkan tubuhku, sentuhan dan ciuman-ciuman Nik telah menghangatkan jiwaku, bahkan mulai membakarnya, siap luluh termakan api, berhenti menjadi arang, atau terlanjur menjadi abu….

Nik meraih bunga-bunga mawar yang tadi kami beli di jalanan, melepas kelopak-kelopaknya, dan kemudian menaburkan serpihan kelopak mawar itu di atas ranjang. Sepuluh tangkai mawar, dihabiskannya dalam diam yang sedih, tanpa mempedulikan aku yang juga terdiam melihatnya, tanpa tau apa maksudnya.

“Ivana.., come…,” katanya.

Aku mendekat, kembali berpelukan, dan sebentar kemudian, Nik membenamkan jiwa dan tubuhku dalam nyanyian cinta yang sambung menyambung. Mataku terpejam merasakan jiwa dan tubuhku meringan,kemudian melayang. Dalam keterpejamanku aku melihat bunga-bunga matahari kuning bermekaran indah menyambut mentari pagi…, awan-awan tipis yang lembut menepis-nepis wajahku, dan rasa yang bernama damai.., telah diberikan Nik untukku…

**********

Tertidurkah aku…? Sebab ketika aku membuka mataku, kulihat Nik terbaring di sebelahku, sambil memandangiku.”What are you doing, Nik..? Jam berapa ini..? Apakah aku tertidur lama..? kamu..? mengapa kamu menangis..?”  Kuhapus air mata yang membasahi pipinya.

Nik menggeleng. “I’m watching sunrise on your face, Ivana…” Kemudian Nik membelai punggungku yang menyembul dari bawah selimut, “hai.., lihat Ivana.., aku senang memandangimu seperti ini, kelopak-kelopak mawar ini menempel di kulit tubuhmu…, Ivana, jangan bilang tidak tahu bahwa aku jatuh cinta padamu, dan jangan bilang bahwa kamu tidak sedang jatuh cinta…”

Aku hanya tersenyum, tak berani memberikan pernyataan apa pun, air mataku mengalir begitu saja, kubelai dada Nik, kelopak-kelopak mawar merah juga saling menempeli kulitnya…Kembali aroma mawar mengundang kemesraan yang benar-benar membakar rasa.

Akan menjadi abu kah aku..? Atau, mampukah aku berhenti hingga menjadi arang saja..? Aku, bahkan tak tau lagi, siapakah diriku saat ini…

Salam Kelopak Mawar Merah….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Sabtu, 18 Februari 2012, jam 8.22 malam…

(Nulis note ini sambil ndengerin lagu FLYING WITHOUT WINGS by Westlife)

 

15 Comments to "Hai Nik: Bed of Roses"

  1. dian nugraheni  22 April, 2012 at 04:48

    dear teman2 baltyra, makasih bangets sudah ber-romantis2 ria bersama Ivana dan Nik…saat ini saya sedang “mengetik” sambungan cerita Hai, Nik, di dalam alam otak saya…(ha2..belum sempet ngetik beneran, maksudnya…..

    yaa, ini…berdasarkan kisah beneran, maksudnya beneran, iya, saya pernah jalan2 ke New York dan mengunjungi tempat2 tersebut dalam cerita…
    Nahh soal cerita romannya ini yang, terus terang, waktu itu saya berusaha “menangkap” rasa cinta yang sedang “beterbangan”…, dan saya berhasil menangkapnya, meminjamnya, hanya dalam otak…kemudian “memainkan” kejatuhcintaan ini, tetap hanya dalam otak, sambil dengerin lagunya Westlife, Flying Without Wings…dan rasaanya emang saya bener2 flying without wings….dan jadilah sebuah cerpen Hai, Nik ini….

    makasih banyak temen2 yaa….

  2. Alvina VB  24 March, 2012 at 12:27

    Cerpennya cocok buat anak muda nich…cuman itu fotonya, ehem…ehem….hati2 ini website kena hacker loh….

  3. Leo Sastrawijaya  24 March, 2012 at 12:18

    Berasa berada di New York dan tanpa sengaja ketemu Sharon Stone saat usia 30-an … wah!

  4. Linda Cheang  24 March, 2012 at 00:10

    cerpennya OK, tapi gambarnya itu, mewah banget, wuihh…

  5. Mawar09  23 March, 2012 at 22:07

    Dian : terima kasih ya cerpen nya. enak dibaca !!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *