Akyu dan Kamyu

Wesiati Setyaningsih

 

Mata saya terpaku pada televisi yang menayangkan sinetron remaja. Saya bingung. Seragam pendek kotak-kotak dengan atasan putih dan dasi sewarna bawahan, ini masih biasa. Tapi kacamata dengan bingkai lucu tanpa lensa, saya heran ngeliatnya. Apakah ada anak sekolah yang segitu lucunya memakai  kacamata seperti itu di sekolah? Memang saya yang ‘ndeso’ karena itu memang potret kehidupan Jakarta, atau memang sinetronnya yang tidak membumi? Saya sedang nonton sinetron di Trans TV Jumat siang itu, “Go Go Girls”.

Sejak munculnya televisi swasta, belum ada sinetron remaja yang realistis seperti sinetron di TVRI jaman dulu, ACI (Aku Cinta Indonesia). Kebanyakan sinetron remaja berkutat dengan masalah rebutan pacar lalu ‘bullying’ terhadap satu dua orang yang dianggap culun oleh geng anak-anak yang merasa keren. Lalu ada pahlawan yang menyelamatkan tokoh yang teraniaya. Cuma berkisar di situ-situ saja.

Enggak ada sentilan untuk perilaku-perilaku yang meningkatkan kesadaran. Sialnya, untuk orang-orang yang ‘ndeso’ seperti saya, bisa-bisa mengira itulah potret anak muda jaman sekarang. Padahal kali aja itu cuma bisa-bisanya penulis skenario yang sekedar menyontek opera sabun luar negeri. Alhasil, jadinya sama sekali tidak nyambung dengan budaya kita. Ada banyak kok anak remaja yang punya idealisme dan berprestasi. Kenapa bukan itu yang diambil?

Sebenarnya sekarang mulai muncul sinetron yang ‘sadar’, mengangkat kisah bermutu dari layar lebar  seperti “Laskar Pelangi”. Saya sungguh berharap semakin banyak stasiun televisi yang ‘sadar’ dengan pendidikan anak bangsa. Bagaimanapun yang namanya pendidikan bukan Cuma oleh guru di sekolah. Tapi semua pihak ikut bertanggung jawab. Apalagi televisi, yang jelas-jelas sangat digilai anak-anak. Mereka punya kesempatan yang luar biasa untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik dalam benak anak-anak. Bahkan mungkin saya yang berkotbah sampai kering ludah, bisa kalah dengan tayangan televisi yang Cuma 15 menit. Bahasa gambar akan sangat tertanam dalam benak anak-anak.

Akhirnya, meski nonton dengan terbingung-bingung, saya tertarik juga dengan sinetron ini. Ada satu tokoh yang menarik hati saya, karena dia mengatakan ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘akyu’ dan ‘kamyu’. Tidak ada tokoh lain yang tertawa dengan cara bicaranya. Jadi ingat murid saya yang suka sengaja bergaya alay seperti itu juga, tapi teman-temannya tetap saja tertawa. Hhhm..sinetron memang sering menciptakan tokoh aneh di dunia nyata.

Saya membayangkan seandainya saya alay seperti itu di kelas :

“Oke anak-anak, hari ini akyu akan memberikan ulangan. Kamyu-kamyu tolong masukkan bukumyu ke dalam tas, lalu keluarkan kertas. Setelah akyu bagikan soalnya, segera kamyu kerjakan, dan kamyu yang sudah selesai boleh segera keluar.”

Gubrak! Dan saya jadi guru aneh di dunia nyata…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Akyu dan Kamyu"

  1. P@sP4mPr3s  26 March, 2012 at 18:20

    udah… nonton TVRI aja……

  2. wesiati  26 March, 2012 at 15:43

    mas JC, yah..jadi ortu memang harus menyeleksi mana yang baik ditonton oleh anak-anak. aku pas nonton sinetron itu kebetulan aja.
    mbak linda dan mbak peony : maaph, akyu gagh maw murid2kyu ngakak jumpalitan di kelas… mengganggyu ketenanganh…

  3. Peony  26 March, 2012 at 11:59

    Wesi… aku sedang ngebayangin dirimu ngomong begitcu di depan kelas…

    pasti murid-muridmyu… shock

  4. J C  26 March, 2012 at 11:47

    Mbak Wesiati, bener buanget, anak-anakku tidak pernah aku ijinkan nonton TV Indonesia. Bukan sok atau gimana, bahkan jika ada yang bilang kalau kami tidak nasionalis ya biar saja…hehe. Untuk anak-anak hanya boleh Disney Channel, Cartoon Network (kadang-kadang), Animal Planet, National Geographic. NOT AT ALL siaran TV Indonesia. Bahkan aku sendiri juga anti nonton TV Indonesia, hampir tidak pernah, kecuali ada berita khusus atau acara khusus yang mau dilihat, dan itupun biasanya bukan di channel TV-TV yang dijejali sinetron sampah. NewsTV yang dimiliki si Dagu, aku juga emoh nonton…

    Kemarin minta beli beberapa games baru PS, mau beli Grand Theft Auto (GTA) yang mengumbar kekerasan dan kata-kata ‘mutiara’ ala bule, dengan tegas aku bilang NO!

  5. Linda Cheang  26 March, 2012 at 11:12

    Mbak Wes, aku enggak nonton sinetron lagi, ya, alasannya karena isi cerita dan bahasa yang benar-benar bikin muak dan paling jeleknya lagi, sinetron bikin pemirsanya jadi bodoh.

    tapi kalo Mbak Wes jadi Ibu Guru gaul, ya, nggak ada salahnya, toh. Biar ada variasi, jangan serius mulu.

  6. wesiati  26 March, 2012 at 11:09

    mas JC, kemarin dulu ragilku sambat, temannya suka teriak dan marah2. karena tiap hari mengeluhnya, akhirnya aku bilang ke izza (ragilku itu), “coba sekarang bikin daftar, nama2 temanmu yang suka teriak-teriak marah kalo ngomong.” dia catat2 nama-nama temannya. aku suruh tanya pelan2 besoknya, acara favorit anak2 itu apa. ketauan, yang ditonton sinetron yang ‘sampah’ itu, yang isinya teriak2 itu, judulnya aku lupa pastinya tapi ada ‘merah putih’ nya gitu. atau kalo enggak, kartun yang pukul2an dari jepang. enggak tahu ini representative atau enggak, tapi aku jadikan ini masukan buat izza. bahwa nonton sinetron itu berefek pada sikap teman2nya. tujuanku, biar dia bisa menyaring tontonan dia, dan enggak marah kalo aku larang nonton acara tivi tertentu…

  7. J C  26 March, 2012 at 10:32

    Wesiati, setuju banget dengan pendapatmu. Jujur saja, menurut pendapatku bangsa ini sudah diapusi/ditipu mentah-mentah, dicekoki sampah oleh satu clan yang menguasai dunia sinetron Indonesia. Yang lebih bikin prihatin ternyata bangsa ini SUKA dan BAHAGIA didublak tontonan sampah. Entah yang mana yang salah, hukum demand and supply? Apa memang demand seperti itu? Ataukah ‘clan satu itu’ yang meng’create demand supaya seakan ada demand sehingga mereka supply? Kalau ada ACI, sepertinya tidak bakalan ada stasiun TV yang mau menayangkannya…

  8. wesiati  26 March, 2012 at 08:03

    sebenarnya buat saya, itu memang ekspresi jiwa muda. dan saya tahu, usia2 remaja itu sungguh kreatif luar biasa. bahasa alay itu, buat saya ya kaya kita jaman dulu, ada bahasa2 prokem yang juga hasil kreatifitas. kalo sinetron mau memasukkan unsur itu, ya boleh saja. tapi mbok ya yang natural…

    mosok sih di dalam pergaulan, pake bahasa alay gitu ditanggapi dengan biasa aja (cenderung serius) seolah itu memang bahasa sehari-hari. lalu yang aneh tapi jamak terjadi dalam sinetron, konteks sekolah seolah cuma tempelan aja. tapi yang diubek2 ya cuma pacaran, rebutan pacar, dan sekitar itu… paling jengah kalo sampai ada adegan ribut, berkelahi dan bullying secara licik dan tanpa perasaan. sementara nilai-nilai yang luhur dan mulia bangsa ini sama sekali tidak tersentuh. blas!

    padahal kalo saya lihat, bahkan film amerika yang bergenre action atau comedy saja, nilai kemanusiaannya masih tetap disentuh dan membuat kita tetap terkesan pada nilai kemanusiaan itu setelah selesai menonton film itu…

    agak prihatin saja bahwa media : televisi dan produsen sinetron, tidak memperhatikan hal2 seperti ini. padahal acara2 tivi itu banyak ditonton anak2…

    gimana caranya ya, supaya televisi indonesia lebih punya rasa tanggung jawab terhadap pendidikan di indonesia?

  9. Chadra Sasadara  26 March, 2012 at 04:25

    setiap generasi punya caranya sendiri untuk berekspresi, kelak mereka juga akan menemukan bentuknya sendiri. mungkin lebih unik dan lebih kreatif dari generasi sebelumnya

  10. Dj.  25 March, 2012 at 20:01

    Mbak Wes….
    Terimakasih untu ertikelnya….
    Secara guyonon, bisa Dj. mengerti, jiga seseorang seolah manja memekai kata “kamyu dan akyu”.
    Tapi yang jelas, kalau hal ini merambat ke pendidikan disekolah, kasihan negara dan kawula muda kita ini.
    Akan kemana arah masa depan mereka….???
    Bukan masalah gaul atau tidiak gaul, sekali lagi, Dj. ulangi, kalau masih dalam taraf guyonan, ya….
    Sialahkan saja, walau untuk telinga Dj. terasa sangat risi.
    Tapi dalam memberi thema di artikel-artikel di Kompas, Dj. juga sering melihat kata-kata yaang salah dan tidak semestinya. Mungkin mereka anggap lucu…???
    Salam manis dari Mainz.
    S

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *