Teruntuk Wanita-wanita Hebat (Prolog)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Note Redaksi:

Karena kekeliruan upload cerita serial ini, yang seharusnya nomer 2 sudah tayang duluan di: Teruntuk Wanita-wanita Hebat (1), yang seharusnya nomer 1, ditayangkan hari ini sebagai ‘Prolog’.

 

Akhirnya aku duduk di salah satu sudut kereta tujuan Bandung. Sepuluh hari mendapat libur rasanya begitu berharga. Jogjakarta yang aku rindukan akhirnya kembali aku tinggalkan, namun walau sesaat aku mendapat pelajaran yang sangat tak terlupakan.

Namaku Suciani, panggil saja Uci. Aku gadis berusia 23 tahun. Pekerjaanku adalah sebagai pembantu rumah tangga. Aku anak yatim piatu, hanya Nenek satu satunya keluarga yang tersisa. Aku mantan TKI namun sejak 2 tahun lalu aku tak lagi bekerja di Hongkong. Kini aku bekerja di sebuah hunian mewah dikawasan Dago Pakar, Bandung.

Aku akan menuturkan kisah hidupku yang serba biasa namun berharap dapat menjadi inspirasi bagi banyak wanita.Dan aku mengawali kisahku mulai dari diriku terlebih dahulu, dan aku menceritakan sesuai bait-bait hidup yang aku alami.

*****

Ayahku meninggalkan Ibuku saat usiaku 3 tahun dan Ayah pergi dari kami demi seorang wanita yang bekerja di toko batik. Ayah pergi begitu saja tanpa kata-kata. Menurut Ibuku, ayahku memiliki wajah yang tampan, banyak wanita yang menginginkannya. Sejujurnya aku tidak mengingat rupanya, Ayah pergi saat aku masih balita. Hingga saat aku kelas 2 SMP, Ayah meninggal, aku tahu dari Ibu, namun entahlah, saat mendengar itu aku biasa saja, karena aku memang tidak mengenalnya, bagaimana bisa aku bersedih akan seseorang yang tak ku kenal? Dan Ibuku memang wanita berhati emas, tak sekalipun ia memburukkan Ayah, ia hanya berkata “Ibu tidak mampu lagi menahan langkah Ayahmu untuk pergi, biarlah ia bahagia dengan pilihannya, toh Ibu masih memilikimu nduk”.

Ibuku wanita hebat, beliau mengambil alih tanggung jawab. Beliau banting tulang demi memberiku kesempatan mengecap bangku pendidikan. Sebagai wanita sederhana, Ibu tidak tahu bagaimana menjadi wanita selain sebagai ibu rumah tangga. Namun keadaan memaksa Ibu untuk bekerja demi kelangsungan hidup kami.

Ibuku anak tunggal, Kakekku meninggal sebelum Ibu menikah, hanya Nenek yang aku tahu. Kami bertiga menempati sebuah rumah peninggalan Kakek. Rumah itu sudah tua namun tetap terawat walau ada saja bagian bagian yang rusak.

Ibu bekerja sebagai juru masak disebuah restoran seafood, Ibuku pandai memasak, itulah modalnya untuk mencari kerja. Ibu juga menitipkan aneka jajanan di toko milik tetanggaku. Hasilnya aku dapat mengecap pendidikan hingga tamat SMU. Nenek tipe wanita desa yang ulet. Beliau tetap bekerja di industri batik sebagai pembatik. Kami hanyalah 3 wanita, namun tanpa lelaki kami mampu bertahan hidup.

Saat aku lulus SMU, aku bertekad untuk bekerja dengan gaji memadai untuk mengurus Ibu dan Nenekku, hanya mereka harta yang ku punya. Dan menjadi TKI adalah harapan untuk meraih mimpi-mimpi. Dan untuk itu Nenek merelakan tabungan dan sedikit perhiasannya demi kelancaranku menjadi TKI. Ibu juga memberikan 2 untai kalung warisan dari Kakek demi melihatku meraih mimpi di Hongkong. Hatiku sedih melihat kedua wanita hebat itu begitu banyak berkorban, dan aku bersumpah untuk merawat mereka saat aku mulai memiliki pendapatan bulanan.

Dan sejak aku menjadi TKI, aku bisa mengirim rejeki kepada Ibu dan Nenek. Semua baik-baik saja, namun baik Ibu maupun Nenek tetap saja bekerja, alasan mereka kalau diam di rumah malah jenuh. Hingga 3 tahun aku di Hongkong tetap saja Ibu dan Nenek bekerja.

*****

Dan bait kesedihan dalam hidupku yang terus menikamku sampai saat ini ada dua hal, yang pertama cinta. Inilah kisah cintaku yang kedua sekaligus terakhir. Bukan aku tak mau lagi mencinta, namun aku masih trauma.

Cinta pertamaku sewaktu aku kelas 2 SMU, biasalah cinta monyet. Pacaran yang serba aneh itu berakhir begitu saja. Hingga cinta ke dua datang saat aku berada di Hongkong. Mengenal lelaki ini bagai dipaksa berdiri pada dua kutub yang berbeda, merasakan jatuh cinta sekaligus membenci hingga berbuah trauma akan cinta.

Jonathan Kim adalah lelaki berusia 28 tahun, wajahnya lumayan tampan walau ia jarang tersenyum. Kami saling mengenal tanpa sengaja. Bayangkan saja, dalam seminggu kami jumpa di MTR yang sama. Hingga akhirnya dia menyapaku. Itupun sempat membuat aku tercengang, laki-laki itu menyapaku dengan bahasa Indonesia yang fasih.

“Ni hao ma? Sepertinya kita ketemu terus yaaa seminggu ini”, Sapa Kim dengan wajah biasa. Hanya sedikit senyum di wajahnya yang menandakan ia berusaha menyapa dengan ramah.

“Hao hao … Ohh iya yaa? Aku malah ndak sadar” Jawabku, “Kok bisa bahasa Indonesia yaa?”, Lanjutku sedikit heran.

Dan selanjutnya ia berkisah, dulu keluarganya tinggal di Jakarta, tepatnya daerah Mangga Dua. Namun sejak kerusuhan Mei 98, mereka memutuskan pindah ke Hongkong, kebetulan Ayah Kim memang asli Hongkong. Waktu itu Kim masih SMP. Ibu Kim asli dari Indonesia tepatnya dari Bandung. Aku mendengarkan kisahnya dengan penuh minat, bukan karena kisah Kim di Indonesia yang menarik perhatianku, namun aku lebih tertarik pada wajah Kim yang memang rupawan. Aku sendiri merasa jauh dari kata cantik, kulitku coklat, wajah biasa saja, aku juga tidak pandai berdandan, serba biasa cenderung sederhana.

Dari apa yang ada didiriku, rasanya berlebihan bila mengharap orang seperti Kim jatuh cinta kepadaku. Namun ternyata hal yang berlebihan itu terjadi juga. Sebulan kami saling mengenal tiba-tiba Kim mengajakku bertemu di Victoria Park saat minggu sore. Aku merasa hal itu wajar karena di taman itu dipenuhi rekan sebangsa dan tanah air yang berkumpul sambil berdagang atau sekedar rekreasi saling melepas rindu. Masakan khas yang tidak mudah ditemui tiba tiba ada saja ditaman itu. Aku sendiri sering berjualan siomay dengan bumbu kacang, di Hongkong selalu pakai saos sambal biasa, rasanya tidak seperti makan siomay. Dan daganganku laris manis, keahlian Ibu di dapur menurun padaku.

Kim mengajakku berjalan jalan menelusuri taman, sesekali ia menggandeng tanganku, dan kawan-kawanku yang kebetulan tengah berada di taman itu memandangku dengan iri, beberapa bahkan menggodaku dengan sorakan riuh. Siapa kira si itik buruk bisa berjalan berdampingan dengan pangeran angsa? Entahlah aku merasakan kebahagiaan bisa berdampingan dengan lelaki seperti Kim. Dan kebahagiaan itu makin menjadi saat Kim akhirnya bicara secara serius.

“Uci, wo ai ni …. Aku cinta padamu, apa kamu mau jadi pacarku?”, Kim bicara agak malu-malu. Yaa Kim memang pendiam dan pemalu. Ku lihat wajahnya semu merah.

Aku sebenarnya memang sudah jatuh cinta pada Kim dan rasanya tak ingin menolak saat akhirnya ia mengucap kata cinta. “Aku juga mencintaimu Kim, semoga kita bisa menjalaninya dengan penuh tenggang rasa”, Aku menjawab dengan pasti.

Dan sejak hari itu kami bagai sepasang merpati, namun lewat sebulan, salah satunya menjadi merpati yang terluka, merpati itu aku. Ternyata Kim hobi berjudi dan mabuk, dan tak sekali ia meminjam uangku. Bilangnya untuk keperluan yang mendesak tidak tahunya untuk berjudi.

Memang benar kalau wanita dikatakan selalu main perasaan ketimbang logika, aku salah satunya. Wanita yang mencintai dengan segenap perasaannya, selalu tak kuasa menolak, walau dalam relung hati mengatakan semua itu salah. Namun aku tetap membatasi bantuan finansial kepada Kim, Ibu dan Nenek-ku adalah prioritas. Dan tiap aku menolak, Kim mencaciku dengan kata-kata yang menyakitkan hati, walau ia mengumpat dalam bahasa Mandarin namun aku tau apa isi ucapannya.

Anehnya tak selang dua hari ia datang membawakan aku bunga, kadang coklat dengan wajah penuh penyesalan. Wanita mana yang sanggup menepisnya? Dikala hati masih dijejali perasaan cinta? Dan hubungan yang aku rahasiakan dari Ibu dan Nenek itu, hanya bertahan 6 bulan saja. Dan akhir dari hubungan itu sungguh menyisakan luka yang dalam.

Kejadiannya bulan November, di saat udara mulai terasa menggigit. Aku sebenarnya sedang libur, beberapa kawanku mengajakku berbelanja di Ladies Market di area Ladies Street. Entahlah, aku merasa enggan untuk keluar rumah, maka kutolak ajakan itu. Sekitar jam 11 siang Kim menelponku, Ia mengajakku makan siang berdua di kawasan Mong Kok. Untuk mencapainya aku harus melewati 5 stasiun utama dengan MTR (Major Transport Routes) dari kawasan aku tinggal di daerah Central.

Di Mong Kok tidak jauh dari stasiun MTR ada sebuah restoran yang besar sekali, menyajikan hidangan ala Sze Chuan dan Kim salah satu penggemar beratnya. Masakan yang memadukan rasa pedas dan hangat yang didominasi racikan lada hitam, beda dengan masakan ala Kanton yang lebih manis dan gurih. Restoran itu didominasi warna hijau tosca dengan sentuhan warna emas. Kim telah menungguku di pintu depan restoran, wajar kalau ia tiba dengan segera, dia tinggal di kawasan Mong Kok.

Sambil memasuki restoran ia membisikan kata-kata klasik yang sudah aku hafal di luar kepala, bukan kata-kata cinta, melainkan “adik, uangku hanya HK $ 80, nanti kamu yang tambahin ya”, dan bagai dihipnotis aku langsung mengangguk.

Sekitar 2 jam kami menikmati aneka hidangan yang memang lezat, melihat Kim makan dengan lahap hatiku bahagia, sumpit yang berada ditangannya begitu lincah memindahkan aneka seafood juga bebek da sayuran dari piring saji ke dalam mulutnya. Nasi 2 mangkuk pun tandas. Kebahagiaan melihat kekasih makan dengan lahap diganjar HK $ 380 atau waktu itu setara dengan RP. 400.000an.

Setelah makan Kim mengajakku ke tempat tinggalnya, yang baru sekali itu aku kunjungi, alasannya Ibu, Bapak dan Adiknya tengah pergi ke Shenzhen. Tanpa prasangka ku iya-kan ajakannya.Toh aku juga penasaran ingin tahu dimana dia tinggal.

Hunian di lantai 5 itu tidak terlalu luas dan cenderung berantakan. Apartment murah di-isi perabotan seadanya. Aku duduk di sofa sambil menonton TV. Kim duduk sambil asyik meneguk minuman keras berikut beberapa bir Tsingtao Sebenarnya aku merasa jenuh, kami tidak berbincang apapun. Dan aku memutuskan mencuci cangkir bekas kopi-ku untuk kemudian pamit. Aku dengan santai menuju bak cuci di dapur dan mulai mencuci cangkir, tiba tiba Kim memelukku dari belakang, nafas beraroma alkohol begitu menyengat. Dia memelukku dari belakang sambil meraba buah dadaku. Aku panik sekali, dalam kalut aku sempat melihat nampan alumunium  tergeletak di sebelah bak cuci, segera ku raih dan ku hantamkan dengan sekenanya ke arah belakang.

Ternyata pukulan nampan itu mengenai kepala Kim, dia meraung kesakitan dan dekapannya merenggang. Tanpa menunggu aku berbalik dan menyentak dadanya. Baru ku sadari ia sudah tidak memakai kaos, hal itu menyadarkanku, aku dalam ancaman perkosaan. Dengan mengerahkan segala keberanian, kutendang kemaluannya dengan sekuat tenaga, dia jatuh ke lantai dan aku berlari menuju pintu, trus lari menuruni tangga dan tak menoleh walau sekali.

Setiba di trotoar jalan, aku baru sanggup menangis, tas tanganku ku genggam kuat, ku sadari kaosku sobek karena tarikan tangan Kim saat ku hantam nampan. Dengan hati pilu aku pulang. Ku kunci rapat rapat mulutku hingga tak seorangpun tahu, bahkan bos-ku Madam Wu tak pernah tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Dan semenjak hari itu aku hidup dalam ketakutan, aku tak sanggup mencintai, walau mungkin tak semua laki laki berlaku seperti itu, aku tetap tak ingin memiliki kekasih.

*****

Kepedihan kedua yang terus membayangiku adalah saat aku genap 3 tahun 1 bulan bekerja di Hongkong. Tiba tiba aku mendapat kabar dari Pak Joko pemilik resto tempat Ibu bekerja, dia bilang Ibuku sakit dan aku harus segera pulang. Jujur saja aku seperti mati berdiri, dari kedua wanita istimewa, hanya Ibu yang tahu cara menjawab hand phone. Nenek sama sekali tidak bisa diharapkan.

Bersyukur hatiku memiliki bos seperti Madam Wu yang baik hati, ia langsung memberi ijin bahkan membantu proses kepulanganku ke tanah air. Bahkan Madam Wu membekali aku oleh oleh aneka biskuit, dan juga sedikit buah peach dan strawberry. “Semoga Ibu kamu cepat sehat yaa”, Ujarnya dalam bahasa Mandarin.

 

6 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat (Prolog)"

  1. erni  27 March, 2012 at 13:48

    yach, kapan lanjutannya????

  2. P@sP4mPr3s  26 March, 2012 at 18:20

    LANJUT ceritanya……………..

    gak pake lama……… =)

  3. Linda Cheang  26 March, 2012 at 11:40

    kalau saja Uci mau lebih logis… hiks…

  4. Dewi Aichi  26 March, 2012 at 10:46

    Aku juga suka nih…terutama karena pentulisnya wakaka…bisa bikin cerita sedih, bisa konyol, bisa gaul dll…mantap

  5. J C  26 March, 2012 at 10:44

    Asik, serial ini sepertinya asik dan menarik…di awal-awal sudah lumayan seru dan mengharukan…

  6. Lani  25 March, 2012 at 13:24

    satu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)