Tubuhku Tersesat di Jalan Pintas

Bamby Cahyadi

 

[Cerpen Jurnal Nasional, 18 Maret 2012]

Dua tahun yang lalu aku menelusuri jalan kecil tanpa aspal ini, mencari seekor kucing. Saat kucing itu kutemukan, ususnya terburai. Si Miau, kucing kesayangan anakku tak pernah pulang ke rumah. Kucing itu telah mati di jalan pintas ini.

Lantas aku mengubur kucing anakku itu di kebun dekat jalan ini. Anakku hanya tahu kucingnya hilang tak tentu rimbanya. Si Miau yang pernah menjadi bagian keluarga kami hanya tinggal nama dan kenangan, bahkan sekarang anakku sudah punya kucing yang baru, Si Meong namanya.

Di sebelah kanan dari posisiku berjalan, berdiri kokoh tembok-tembok besar, dinding sebuah pabrik yang sudah lama tutup karena bangkrut. Dan di sisi yang lain berupa semak-belukar dan kebun yang tak terurus entah milik siapa. Suasana jalan ini memang mencekam, ditambah pula gelap karena hujan. Tapi saat ini tak ada pilihan lain, aku harus melewati jalan yang kira-kira berjarak tigaratusan meter ini menuju jalan raya di ujung sebelah sana dengan berjalan kaki.

Hari ini aku tak membawa mobil, kendaraan itu dipakai oleh istriku untuk suatu acara anakku di sekolah. Sepulang kantor tadi aku diantar oleh Anita dengan mobilnya. Anita ialah rekan sejawatku di kantor dan aku berselingkuh dengannya. Maka sangat tak mungkin Anita mengantarku sampai di depan rumahku.

“Nit, turunkan aku di sini saja,” kataku sambil menunjuk suatu titik tepi saat mobil Anita mendekati mulut jalan pintas itu.

“Surya, nanti kamu kehujanan. Aku antar sampai di depan rumahmu saja!” ujar Anita sambil menatapku cemas.

“Berhenti di sini saja,” kataku. “Nita, aku tak mau istriku menaruh curiga padamu,” lanjutku.

Anita mengerem mobil mendadak, menimbulkan suara berdecitan dari ban mobil yang bergesekan dengan jalanan aspal yang basah.

“Ya sudah, hati-hati kamu. Tutup kepalamu dengan sesuatu,” kata Anita sambil mengecup pipiku. Setelah aku turun, mobilnya melesat meninggalkanku.

Hari hampir gelap, aku mempercepat langkah dengan berlari kecil sembari melindungi kepalaku dengan tas kerjaku dari terpaan hujan.

Hari ini anakku ulang tahun, sebuah kado telah kusiapkan untuknya dalam tas kerjaku.

Pagi tadi ketika kami sarapan, anakku minta dibelikan hadiah ulang tahun berupa gaun cantik yang ia lihat di mal minggu lalu. Istriku hanya tersenyum saat Intan, anakku, meminta dibelikan gaun tersebut. Linda, istriku, sangat tahu gaun cantik itu harganya mahal. Tapi tak apalah, kan hanya setahun sekali, kilahku pada Linda saat aku pamit menuju kantor dengan menggunakan jasa taksi.

Istirahat makan siang tadi, ditemani–lebih tepat–diantar oleh Anita, kami menuju mal tersebut untuk membeli gaun sebagai kado ulang tahun untuk Intan. Saat aku menunjuk gaun yang dimaksud oleh Intan, Anita begitu terpesona. Ia sempat berdecak kagum. Bagus dan sungguh cantik gaun pilihan anakku itu. “Seleranya keren,” gumam Anita. Setelah membeli gaun tersebut, kami langsung makan siang di sebuah restoran di mal itu.

Kira-kira sudah setengah jalan aku melewati jalan pintas ini, aku melihat kelebatan beberapa orang yang menyeruak dari semak-semak. Mereka bertiga. Aku sempat terkejut ketika mereka mendadak menghadang langkahku, aku berhenti berlari dan mencoba untuk tenang. Seorang dari mereka, bertampang paling garang langsung menghardikku. Dua lainnya berdiri di belakangku. Sungguh menyeramkan. Ada apa ini? Batinku.

“Serahkan tas dan hartamu, Bung!” kata orang yang tepat berdiri di depanku. Tubuh orang ini kecil, tapi matanya terbersit kekejaman yang luar biasa.

“Oh, kalian merampokku?” tanyaku tak percaya seraya memandang orang bertubuh kecil itu, lantas menoleh pada dua orang lainnya. Mereka bertampang lugu dengan wajah yang disangar-sangarkan. Mereka bertiga lantas tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaanku yang mungkin terdengar bodoh itu di kuping mereka.

“Jangan bersikap tolol seperti itu, Bung! Serahkan saja tas dan hartamu!” hardik si tubuh kecil itu sekali lagi.

Tentu saja dalam keadaan seperti ini, saat aku menyadari bahwa ini sebuah usaha perampokkan, aku berusaha mengumpulkan segenap keberanian. Setelah keberanian menggumpal dalam sanubariku, dengan spontan, aku menendang perut orang bertubuh kecil itu lantas dengan cepat aku berlari untuk mencapai ujung jalan yang hanya tinggal seratusan meter jangkauan. Namun kedua teman orang bertubuh kecil itu keburu menyergapku. Kakiku saling berkait, badanku terpelanting di jalanan yang becek. Tas kerja yang berisi gaun cantik untuk anakku, kudekap erat-erat. Selain ada hadiah ulang tahun untuk Intan, di dalam tas kerjaku terdapat berkas-berkas penting milik perusahaan dan klien kami.

Ketiga perampok ini kalap. Tubuhku diinjak-injak seperti keset. Perut dan dadaku ditendang-tendang seperti bola, dan kepalaku dipukuli oleh mereka tanpa ampun. Bertubi-tubi kekerasan menghantam sekujur tubuhku. Aku mengerang-ngerang kesakitan. Tapi mereka tak peduli apalagi kasihan. Si tubuh kecil dengan gesit merebut tas kerjaku. Aku mempertahankan dengan sekuat tenagaku. Hingga kulihat kilauan cahaya sebuah benda yang dipegang olehnya dikeluarkan dari saku belakang celananya. Dalam keremangan deras hujan yang rapat, orang bertubuh kecil itu wajahnya berubah silih berganti menjadi wajahku.

Apakah ini halusinasi menjelang ajalku? Beginikah pemandangan yang terpampang di pelupuk mata saat nyawa hendak meregang? Oh Tuhan, aku tak mau mati mengenaskan seperti ini. Kelebatan-kelebatan wajah Linda, Intan dan Anita silih berganti berseliweran serupa film yang diputar berulang-ulang. Begitu juga kelebatan wajahku yang kini menempel di wajah penjahat bertubuh kecil itu.

Baru saja aku hendak berkata sesuatu namun benda tajam yang pastinya sebilah belati itu menghujam perutku berkali-kali. Darah muncrat membasahi wajahku. Dunia menjadi gelap sejenak. Aku terperanjat dan terpukau atas kesadaranku yang tiba-tiba pulih.

“Cukup-cukup! Hentikan… hentikan. Hentikan!” teriakku panik pada kedua orang yang ikut-ikutan menendang dan memukul.

Kedua orang tersebut memandangku dengan tatapan aneh. “Hai kawan, ada apa denganmu?” tanya seorang dari mereka. “Bahkan kau telah menusuk perutnya dengan belati berkali-kali!” lanjut seorang lainnya.

“Apa maksud kalian?” tanyaku terperangah memandang belati berlumuran darah yang terhunus di tanganku.

Aku segera melempar belati yang berlumuran darah itu ke arah semak-semak. Tas kerjaku kugenggam dengan erat.

“Siapa dia?” tanyaku pada kedua orang berwajah bingung itu.

Kedua orang itu segera mengangkat tubuh orang yang bersimbah darah dengan pakaiannya yang penuh lumpur itu ke pinggir jalan. Lalu, mereka membuang tubuh itu ke sebuah parit yang membentang di lahan kebun kosong yang entah milik siapa.

Menyadari kedua orang itu lengah, aku segera berlari dalam guyuran hujan yang tak mau berhenti. Kedua orang itu sangat kaget melihat aku berusaha kabur ke ujung jalan, Napasku memburu dan jantungku berdebar kencang saat aku berlari. Mereka mengejarku. Salah satu dari mereka, yang berkepala botak berhasil meraih kerah bajuku. Aku tertangkap lagi. Sial!

“Mardi, kau sudah gila? Kenapa kau lari kawan?” bentak si botak padaku.

“O, rupanya kau ingin menguasai isi tas itu sendirian ya?” hardik seorang lagi dengan kumis lebat di atas bibirnya.

Mereka memanggilku Mardi? Aku semakin bingung dengan situasi yang terjadi. Beruntung sebuah mobil terlihat mendekat ke arah kami. Orang bekepala botak dan orang berkumis lebat itu segera mengambil langkah seribu. Mereka sangat ketakutan dan berhambur ke arah kebun kosong, entah kemana. Aku menepi ketika mobil yang melintas perlahan itu melewatiku dan berhenti.

Sebuah mobil pick-up rupanya. Sang sopir menurunkan kaca jendela mobil, ia menyembulkan kepala dan berteriak, “Hai Bung! Anda butuh tumpangan?” tanya sopir itu. Aku menggeleng. Sopir tersebut memandangku penuh tanda-tanya, lalu ia berpaling. Mobil itu menderu lantas menghilang di tikungan jalan.

Aku kembali bergegas berjalan ingin segera mencapai ujung jalan. Ingin segera sampai di rumah. Menyerahkan kado untuk Intan, dan memeluk Linda. Menceritakan pengalaman yang mengerikan yang baru saja terjadi. Tentu juga diam-diam menelepon Anita. Tak kupedulikan lagi kondisi pakaianku yang basah bersimbah lumpur dan percikan darah. Darah? Darah siapa ini? Apakah aku tadi membunuh seseorang di jalan pintas itu.

Kulihat mobilku terparkir di pekarangan rumah. Lampu di teras rumah dan di taman pekarangan telah menyala. Aku menuju beranda dan membuka pintu. Pintu terkunci dari dalam. Aku menekan tombol bel pintu. Suara bel berbunyi. Beberapa saat kemudian kudengar seseorang mendekati pintu. Pasti Intan. Pintu di buka.

Betapa aku ingin memeluk Intan dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi Intan malah menjerit ketika melihatku.

“Siapa Bapak? Mau apa Bapak ke sini? Mamaaaa….!” Intan berteriak histeris lantas menutup kembali pintu sebelum sempat aku masuk ke ruang tamu. Intan mengunci pintu dari dalam.

“Intan… Intan! Ini Papa, Nak!” kataku berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu. Ya, aku sadar betul dengan kondisi baju yang lusuh dan basah seperti ini, serta mungkin wajahku yang penuh lumpur akibat terjatuh di jalan pintas tadi, Indah tak mengenalku. Tapi keterlaluan anak itu! Masak ia tak mengenalku, ayahnya sendiri, walaupun dengan kondisi seperti ini? Kudengar di dalam Intan masih menjerit-jerit memanggil Linda.

Linda mendekati pintu tapi ia tak membukakannya untukku. Ia menyingkap gorden jendela, dari dalam kulihat wajahnya berkerut, dahinya berkerenyit.

“Linda, bukakan pintu! Aku kedinginan di luar,” pintaku pada Linda yang masih terbengong-bengong. Kudengar Linda berkata dari balik jendela, “Siapa Anda? Kenapa tas kerja suami saya ada pada Anda?”

“Ya ampun Linda, jangan bercanda. Aku ya Surya, suamimu!” Aku mulai tak sabar dengan keadaan seperti ini. Apakah Linda dan Intan sengaja membuat permainan ini. Sebuah permainan jebakan, seolah-olah mereka tak mengenalku, dan ketika kekesalanku meledak mereka akan terbahak-bahak mentertawaiku. Keterlaluan ini!

“Intan, segera telepon polisi, orang itu orang jahat, ia membawa tas kerja papamu!” Kudengar Linda berteriak-teriak seperti orang yang dilanda kepanikkan yang mencekam. Linda lantas menutup gorden jendela. Aku benar-benar kesal dengan ulah Linda.

“Baik-baik, kalau kalian masih meneruskan candaan ini, Papa pergi sekarang!”

Otakku masih buntu. Lelucon macam apa ini? Setelah aku mengalami suatu usaha perampokan yang hampir saja merenggut nyawaku, kini aku dipermainkan oleh istri dan anakku sendiri.

Wajah Anita meyeruak dalam benakku. Baiklah, aku akan ke apartemen Anita saja kalau begitu. Beruntung hujan telah reda. Dengan lunglai aku beranjak dari beranda rumahku. Aku mendekati mobilku, barangkali saja Linda lupa mengunci mobil, aku bisa menggunakan kendaraan ini menuju apartemen Anita, pikirku. Bukankah dalam tas kerjaku ada kunci cadangan?

Aku mengusap sisa-sisa percikan air hujan yang menempel di kaca mobil. Ketika itu tubuhku bergetar hebat akibat keterkejutan yang tak terkira, aku terkesiap melihat pantulan wajahku di kaca mobil. Ini tak mungkin jerit hatiku. Apakah aku bermimpi?

Untuk meyakinkan aku tak bermimpi, aku pandangi lagi pantulan wajahku di kaca mobil sambil menepuk-nepuk pipiku sendiri. Di dalam pantulan kaca mobil itu, aku melihat seorang bertubuh kecil sedang memandangku dengan tatapan mata kejam, raut muka sangar dan dingin. Bukan dia orang yang tadi menghadangku di jalan pintas itu?

Aku tahu dari balik gorden jendela, Linda dan Intan sedang memandangiku dengan segenap ketakutan. Mereka melihat seorang dengan tubuh kecil dan tatapan mata kejam sedang menenteng tas kerja milik suami dan ayah mereka berdiri linglung, tersebab kebingungan dengan tubuhnya sendiri.

Lalu di mana tubuhku? Jantungku berdetak-detak sangat cepat. Aku segera berlari menembus kegelapan malam menuju jalan pintas yang tadi kulewati. Kuyakin tubuhku tersesat di sana.***

 

Jakarta, 18 November 2011

 

Ilustrasi:

http://talltalesandshortstories.blogspot.com/2011/05/self-publishing-ebook-1-body-trapped-by.html

http://www.autisable.com/

 

8 Comments to "Tubuhku Tersesat di Jalan Pintas"

  1. anoew  26 March, 2012 at 17:54

    Bukan inkarnasi apalagi karma. Saya cenderung menyebutnya tersesat seperti apa yg dituliskan Bamby. Semua itu mungkin terjadi bahkan, saat kita tidak sadari, terkadang kita pernah melakukan eksperiman-eksperimen kecil dengan berandai-andai jika kita menjadi si A atau si B.

    “Wah hebat betul jendral X, coba kalau gue bisa jadi dia”. Dengan pemikiran seperti itu secara gk sadar kita sudah menyesatkan diri sendiri. Otak, sangat-sangat berpengaruh meskipun hati juga tak kalah pengaruhnya. Di situlah roh dan jiwa terkadang suka gk kompak.

  2. MasTok  26 March, 2012 at 17:30

    wah… malah saya jadi Miris baca… PARADOK, Dimensi Ke Empat.. ataou apapun sebutannya Karma dan Inkarnasi.. ini bisa terjadi ingat hal yang kecil saja ada Bioritme, ada pengalian Pengunaan Otak Tengah… kenapa tidak… semua bisa terjadi dengan mudah asal sudah terlatih.. Supernatural dan matematik adalah 2sisi mata uang yang bagian tengahnya adalah interface frequency…. Mantap.. Bamby C.. saya justru Harus merenung yang anda tulis…. Supernaturan yang di Logika kan…… suatu saat … ada…

  3. Linda Cheang  26 March, 2012 at 11:33

    tukaran nyawa?

  4. J C  26 March, 2012 at 10:41

    Wuiiiiihhh…muantep!

    Btw, aku sedang membayangkan kalau Kang Anoew tertukar dengan Lani…

  5. Chadra Sasadara  26 March, 2012 at 04:30

    mungkinkah jiwa tertukar ke dalam badan kasar lain?? apa ini sama dengan konsep ingkarnasi? karma?

  6. Dewi Aichi  25 March, 2012 at 18:22

    Cerepn Bamby memang oke banget…Bamby…..kangen dengan cerpen-cerpenmu yang agak HOT he he….request yaaaaaaaaaa…!

  7. anoew  25 March, 2012 at 14:53

    Jiwa yang tertukar? Saya pernah membaca tentang ini entah dimana. Suati peristiwa yg susah dicerna akal tapi bukan tak mungkin terjadi, jiwa seseorang tersesat ke sosok kasar (badan) yang lain saat si pelaku telah mati. Saya teringat suatu kalimat ini “Roh memang penurut, tetapi jiwa tidak.” Roh orang mati akan kembali ke empunya, sedangkan jiwa bisa “ikut” roh atau bisa juga tidak.

    Eniwe, mantab sekali tulisan ini!

  8. Lani  25 March, 2012 at 13:23

    satu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.