Hari Ini, Invicible dan Cinta Yang Marah

Benny Arnas

 

I

Nasyid, bagi saya, sama dengan mengarang, adalah tentang menciptakan kebahagiaan. Dalam bernasyid, saya bisa menyalurkan (kalau tidak ingin dikatakan ”melampiaskan”) beberapa kegemaran saya, seperti bernyanyi, bertemu dengan orang-orang baru, dan (tentunya) tampil di hadapan publik, hee. Karena berbagai alasan, sejak saya mundur teratur dari nasyid satu tahun belakangan ini, saya tak terlalu aktif membina Invicible, grup nasyid yang dirintis bersama Mulyadi—sahabat baik saya. Saya tak lagi memanajeri mereka. Saya tak pernah menghadiri latihan mereka (jujur, karena saya pikir secara teknis mereka tidak perlu didampingi lagi), saya juga nyaris tidak pernah menanyakan perkembangan mereka lagi. Bahkan di ANN (Asosiasi Nasyid Nusantara) cabang Lubuklinggau—di mana saya ditunjuk sebagai pembinanya, saya pun tak aktif lagi. Akhirnya, persinggungan saya dengan nasyid hanya dalam even festival nasyid. Itu pun karena saya ditunjuk sebagai salah satu juri.

Dan beberapa hari yang lalu, Invicible (Aris, Angga, Arga, dan Wira—itulah formasi mereka kini) mengadakan latihan di kediaman saya dan istri. Kami pun berbincang. Jujur, saya sangat senang ketika bercengkerama dengan mereka.

Bagi saya, dewasa ini, banyak sekali pertemanan yang dibangun atas dasar kepentingan pragmatis—nyaris tidak berbeda dengan politik. Saya muak dengan semua itu. Saya merindukan pertemanan yang dibangun atas dasar kecintaan pada apa yang dilakoni. Bagi saya, pertemanan semacam ini bukan hanya akan melahirkan loyalitas profesi, tapi juga akan melahirkan kebersamaan yang bersumber dari hati. Dan pertemanan semacam itu, sangat sulit ditemukan kini. Dan di Invicible, ternyata saya menemukan hal itu.

Mereka bercerita kepada saya dan Mas Mul—demikian kami  biasa memanggil Mulyadi, bahwa mereka ingin agar grup nasyid tersebut kembali di-menej sebagaimana sebelumnya. Mereka merasa, selama ini (termasuk ketika ditinggalkan saya yang dulu manajeri mereka) Invicible bertahan tanpa dukungan yang memadai. Intinya, mereka ingin agar Invicible memiliki manajemen, dikelola dengan baik. Saya sangat senang mendengar itu. Saya dan Mas Mul pun mendukung sekali keinginan tersebut. Ya, saya harus turun gunung lagi. Bersama Mas Mul saya akan kembali mendampingi mereka. Akan membenahi manajemen secara perlahan-lahan, secara bersama-sama.

 

II

Sejak Invicible didirikan 2007, kami tidak pernah berselisih untuk perkara yang serius. Apalagi tentang honor yang kami terima dari setiap penampilan (tidak, kami tidak pernah bertikai karena perihal yang paling sensitif itu). Kami kerap bersitegang untuk hal-hal yang saya pikir sangat membanggakan. Bila salah satu anggota terlibat pergaulan yang buruk, kami akan meminta klarifikasi darinya hingga tuntas. Tak jarang, yang bersangkutan akan ’dibantai’ bila tampak sekali ia bertele-tele membela diri. Kami juga akan ’ribut’ bila ada anggota yang ’ceroboh’ dalam bersikap dan bertindak-tanduk di hadapan publik. O, mungkin ini akan dianggap berlebihan: hari gini masih ngurusin privasi orang?! 

Ah, itu tidak terjadi di Invicible, Kawan. Ya, dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar kami melakukan semua. Namun, yang paling kerap membuat Invicible ’gaduh’ adalah perihal kedisiplinan waktu. Siapa pun yang terlambat, dijamin akan’disemprot’ oleh saya dan Mas Mul. Dan yang bersangkutan, walaupun sudah memilik alasan yang kuat, tetaplah tidak mampu menghindar dari semprotan. Namun begitu, Invicible adalah tim yang kami bangun bersama-sama dari segumpal daging dari tubuh kami masing-masing: Hati! Kami tidak pernah marah sampai berkelanjutan. Ya, inilah mungkin salah satu hal positif dari kemarahan yang tumpah pada saat yang bersangkutan melakukan kesalahan: tidak ada dendam, tidak ada kekesalan yang berpanjangan, dan tentu saja keceriaan yang serta-merta menggantikan keadaan yang awalnya menegangkan.

 

III

Malam tadi, telah disepakati bersama bahwa, pagi ini (Sabtu, 09/07/11), Invicible akan tampil di acara akad nikah di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Dengan mengendarai sepeda motor, hanya menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai di tempat acara. Maka, disepakatilah kalau pagi ini, semuanya kumpul di rumah saya pada pukul delapan pagi. Asumsinya, pukul 08.10 pagi, Invicible sudah stand by di lokasi acara. Namun apa yang terjadi?!

Hanya Mas Mul yang datang sesuai dengan perjanjian. Saya mulai kesal. Saya kontak mereka, tak satu pun yang menjawab. Baru pada kontak panggilan yang kesekian (saya lupa yang ke berapa), mereka menjawab. Sedang di jalan, demikianlah kurang lebih inti jawaban mereka. Ditunggu sekian menit, tidak pula datang. Sementara itu panitia hajatan terus menghubungi saya agar Invicible segera menghibur para tamu undangan. Ah, sampai acara akad nikah itu dimulai, belum semua anggota Invicible yang tiba di tempat saya. Saya benar-benar berang. Ya, awalnya, saya pikir, eksistensi mereka selama ini, telah membuat mereka lebih menghargai waktu (janji), ternyata tidak!

Ketika semua telah datang (kecuali Angga yang dengan entengnya via ponsel bilang bahwa ia akan langsung ke tempat acara saja), saya silakan mereka langsung ke tempat acara tanpa saya. Mereka sejenak diam. Namun karena tak tahan mendengar kekesalan saya, mereka pun pergi bersama Mas Mul. Hmm, di sinilah Mas Mul kerap membuat saya iri (ia selalu sabar walaupun saya tahu kekesalannya tidak jauh berbeda dengan yang saya rasakan). Sebelum pergi mendampingi Invicible, Mas Mul masih sempat bertanya, apakah saya benar-benar tidak pergi. Saya mengiyakan. (Jujur, saya tidak akan setega itu meninggalkan mereka. Saya akan menyusul.).

Benar saja! Enam menit setelah Invicible pergi ke tempat acara, seorang panitia hajatan mendatangi saya. Saya pun berangkat bersamanya ke tempat acara.

 

IV

Invicible tampil setelah prosesi akad nikah yang panjang dan cukup membosankan—menurut saya. Mereka tampil sangat baik. Ah, terbersit penyesalan di hati perihal kemarahan saya pagi ini. Saya seolah tersadarkan bahwa mereka adalah adik-adik saya yang loyal terhadap tim. Di acara itu, kami bercengkerama seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa, seolah mereka tidak pernah telat datang pagi ini, seolah saya tidak pernah memarahi mereka pagi ini. Saya sangat senang. Saya pikir, mereka pun demikian. Ah, saya pikir, selain meminta kalian untuk lebih displin waktu, saya pun harus belajar mengendalikan emosi. I love you, Invicible. I love you all, My Brothers! Terimakasih atas pelajarannya. May allah Bless Our Way.

Amiiin.

 

Lubuklinggau, Pukul 22.45. 09 Juli 2011

 

4 Comments to "Hari Ini, Invicible dan Cinta Yang Marah"

  1. Kornelya  27 March, 2012 at 20:19

    Sayang bila musik Nasyid hilang dari peredaran. Selain bernafaskan religius musik inipun syarat nilai budaya lokal. Salam.

  2. anoew  27 March, 2012 at 10:38

    Saya kira tadi nama orang..

    Sip. Semangat terus mas..!

  3. J C  27 March, 2012 at 10:36

    Hhhhmmm…tidak begitu paham pernasyidan. Terima kasih informasinya.

  4. Handoko Widagdo  27 March, 2012 at 09:27

    Oh Nasyid nasipmu kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.