Kumpul Kebo

Anastasia Yuliantari

 

Istilah ini popular untuk pasangan berbeda jenis yang tinggal bersama tetapi tak menikah, atau belum menikah, dalam masyarakat. Tak tahu dari mana datangnya istilah ini, walau bila ditelisik melalui bahasanya, kumpul kebo hampir bisa dipastikan berasal dari bahasa Jawa.

Walau demikian, aku tak akan berbicara tentang makna konotatif di atas, melainkan akan bercerita tentang acara kumpul keboku beberapa saat lalu yang bermakna denotatif. Ya, aku benar-benar bertemu dengan banyak kerbau selama pulang kampung menyambut bersinarnya mentari setelah dua minggu hujan menyiram Ruteng tiada henti.

Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan Max sesampai di kampung adalah mengunjungi kebun jahenya. Sebagai investor sekaligus sekutu pasif, aku diharapkan muncul sekedar melihat-lihat dan menemaninya selama bekerja di kebun.

“Ayo, nanti saya buatkan naungan dari daun pisang, e.” Ujarnya sambil bersiap-siap.

Tak ada alasan untuk menolak. Apalagi adik-adik ipar dan para keponakan semua berkumpul di rumah mama mertua karena esoknya liburan sekolah. Daripada tak konsentrasi membaca atau menulis karena suara jejeritan para keponakan, aku memutuskan pergi ke kebun dengan membawa tas kresek.

“Apa itu?” Tanya Max.

Tentu saja bawaan wajib ke kebun, dong. Bacaan, kamera, ponsel, dan dua kotak juice. Sama seperti biasanya, Max tak keberatan, malah dia merasa senang, semakin lengkap bawaan, kemungkinan direcoki dalam bekerja akan semakin sedikit.

Sesampai di kebun kerbau Amang Finus sedang elor (berjalan-jalan) di bagian kebun milik Pak Mantri yang tak dikerjakan. Melihat kerbau itu mendadak aku ingin sekali foto di dekatnya. Sebagian karena iseng, sebagian lagi karena ingin pamer pada orang-orang yang tidak pernah lagi melihat kerbau secara langsung.

Adakah orang yang tak pernah lagi melihat kerbau secara langsung? Tentu saja ada, bahkan semakin hari semakin banyak. Mengapa demikian? Karena fungsi kerbau yang semakin surut dari hari ke hari.

Contoh paling gamblang dalam bidang pertanian. Dahulu kerbau dan sapi adalah kebutuhan utama bagi para petani untuk membajak sawah, namun sekarang fungsi itu digantikan oleh traktor. Lebih murah, gampang perawatannya, tak beresiko selain masuk bengkel, dan dapat dipakai secara optimal sekuat yang mengoperasikannya. Paling hanya sebagian daerah yang berbukit-bukit dan sawahnya berbentuk teras-teras yang tetap membutuhkan tenaga kerbau untuk membajaknya.

Fungsi kerbau dalam masalah adat juga tereduksi dari waktu ke waktu. Di Manggarai, belis (mas kawin) selalu dihitung dengan binatang peliharaan yaitu kaba (kerbau) dan jarang (kuda). Seorang perempuan yang moncer (baik secara intelektual, pekerjaan, asal-usul keluarga) akan mendapat belis yang tinggi. Entah berapa kaba dan jarang, tergantung pembicaraan antar dua keluarga. Jaman sekarang hal itu tetap berlangsung, hanya saja kaba dan jarang hanya berbentuk simbolis. Pengejawantahannya dalam bentuk uang. Katakan saja bila harus membawa enam kaba, ya dikalikan dengan harga kerbau. Bila seekor kerbau harganya enam juta rupiah, berarti tiga puluh enam juta harus dibawa oleh calon pengantin pria. Padahal jaman dahulu, menurut Bapa mertua, dia harus membawa kerbau dan kuda masing-masing tiga ekor untuk meminang Mama mertua. Keluarganya benar-benar menyerahkan hewan-hewan itu pada keluarga perempuan. Tak heran kerbau dan kuda merupakan hewan peliharaan utama jaman itu.

Kerbau jaman dahulu juga berfungsi sebagai carrier alias alat angkut. Tapi dengan kemajuan jaman, perannya telah digantikan oleh mobil dan motor yang lagi-lagi, hemat, mudah, dan cepat. Harganya pun dari ke hari semakin terjangkau, serta lebih bergengsi. Siapa, sih yang suka naik kerbau selain si penggembala dengan seruling di tangan? Tapi setiap pemuda dan pemudi di kampung akan merasa meningkat pesat prestisenya jika naik motor, apalagi mobil. Tak heran para tukang ojek atau supir angkutan pedesaan menjadi salah satu favorite para gadis.

Sebagai penghasil daging pun kerbau tak bisa mengalahkan sapi. Orang lebih suka makan daging sapi dibandingkan daging kerbau. Jadi untuk dikembang-biakkan sebagai penghasil daging tentu tak memberikan prospek yang cerah. Konon serat daging kerbau lebih keras dan besar sehingga tak seempuk daging sapi.

Semakin terpinggirkannya kerbau membuat binatang itu lambat laun menghilang dari pandangan, bahkan di beberapa kota kecil seperti Ruteng. Apalagi di kota besar seperti metropol-metropol di Jawa. Kerbau hanya dapat dilihat dalam buku cerita tentang romantisme tinggal di kampung, taman-taman hiburan yang menghadirkan suasana kampung, atau siaran di TV. Bahkan suatu saat kerbau mungkin dimasukkan dalam deretan hewan kebun binatang.

Jadi, senyampang kerbau Amang Finus elor-elor tanpa tujuan, aku mengajaknya berfoto. Walau bukan tanpa kesulitan. Kerbau jantan itu ternyata tak terbiasa dengan perempuan. Setiap kali aku mendekat, dia mendengus-dengus sambil menggerakkan kepalanya ke belakang. Acara pengambilan gambar jadi penuh perdebatan. Tukang fotonya menyuruhku untuk mendekat, sementara si kerbau selalu berulah. Aku sendiri merasa ngeri dengan tanduknya yang besar dan lancip. Terbayang sebuah cerita tentang seorang Bruder yang meninggal ditanduk oleh seekor sapi yang galak. Atau pertunjukan banteng di Spanyol. Kalau kerbau sebesar ini menandukku pasti aku terpental bermeter-meter jauhnya. Tak heran aku sampai berteriak-teriak setiap dia bergerak, si kerbau pun agaknya resah diteriaki terus menerus dan melangkah pergi, sehingga berkali-kali Max harus menggeretnya agar mendekat ke arahku. Herannya, dengan Max dia takluk, mungkin karena bau penggembala kerbau jaman kecilnya dulu masih tercium oleh hewan itu, ya?

Baru pagi harinya, ketika pergi ke kebun yang lain, aku menemukan seekor kerbau yang lebih kecil dan jinak. Setelah mendekati dan menggaruk punggungnya, ternyata kerbau juga suka digarukin punggungnya, berhasillah kumpul foto dengan kebo. Beberapa kali kerbau kecil ini juga resah, galau, atau apapun, namun dia relative lebih bisa didekati daripada yang lebih besar.

Saat menjadi gembala kerbau atau sapi semakin sulit diwujudkan, berpose dengan kerbau akan menjadi sesuatu yang langka. Bila tidak, tentu setiap orang minimal punya satu foto diri bersama kerbau, seperti bersama anjing atau kucing.

Kerbau Amang Finus yang tak akrab dengan perempuan.

 

Fotografer, pengatur property, dan penjinak kerbau.

 

Akhirnya berhasil.

 

Kerbau kecil yang lebih jinak.

 

Garuk dulu kupingnya agar akrab.

 

We become friend then.

 

49 Comments to "Kumpul Kebo"

  1. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:17

    Pak Handoko, berarti garang, ya????

  2. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:15

    Pampam….saya sdh menikah, tapi sekali2 dengan restu suami dan ditemani olehnya, pingin juga kumpul sama kebo2….wkwkwkwk.

  3. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:09

    Alvina…thanks, ya sdh membacanya. Saya engga bisa jawab pertanyaannya. Langsung aja saya lanjutkan sama Mas JC utk menjawabnya atau Pak Handoko, hehehe.

  4. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:07

    Kaka Kornelya…oleeee…tadang tu’ung ba kaba hitu e. Baik tdk lepas itu kaba…hehehe. Sekarang orang mau mudahnya saja kaka…kaba ute udah ga pernah muncul lagi, ganti le seng bumbu. Maunya langsung hape sekian…sekian…di kampung2 ganti japi nganceng, bo ngasang kaba, tapi realitasnya bisa macam2 bentuk…hehehe. (Pas du tulis note ho’o manga ata naring lembak ruis mbaru, ba kaba paca berwujud japi anak…hehehe)

  5. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:02

    Pak DJ, terima kasih sdh membacanya. Salam manis dr kami sekeluarga di Manggarai.

  6. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 16:01

    Dewi Aichi….buntut kebo ato sapi tetap aja bikin ngeces…jd pingin makan sop buntut di salah satu Rumah Makan di Gejayan Jogja….hiiikkkksss.

  7. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 15:59

    Linda…kapan2 sama bintang film, deh….ato cowok cakep paling engga….haahaha.

  8. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 15:58

    Yu Laniiiiii…..komen no 23…..lagi ketemu Buto wae kebone wis nglempreg ora usah ngenteni ditunggangi…wkwkwkwkwk.

  9. Anastasia Yuliantari  29 March, 2012 at 15:56

    Mbak Ratna El Nino, sakjane aku tuh patokannya kebo warnanya abu2, tapi waktu liat sapi bali (kata Pak Hand) tak anggep kebo aja, deh. Soale kalo mendekati kebo maneh ngeri aaahhh…hehee.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.