Menakar Kekuatan Calon DKI-1 & 2, Pemanasan 2014

Josh Chen – Global Citizen

 

Pertarungan perebutan kursi DKI-1 dan DKI-2 kali ini sepertinya akan ramai dan seru. Enam pasangan maju bertarung untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Pasangan calon-calon yang bertarung sbb:

  • Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (PDIP dan Gerindra)
  • Alex Noerdin dan Nono Sampono (Golkar, PPP, PDS)
  • Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Demokrat)
  • Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini (PKS)
  • Faisal Basri dan Biem Benyamin
  • Hendardji Supandji dan A. Riza Patria

Dua pasangan terakhir adalah pasangan calon dari jalur independen yang artinya tidak diusung oleh partai politik sebagai mesin politik pencalonan.

Yang cukup mengejutkan adalah munculnya kombinasi nama Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo) dan Ahok. Sepertinya Gerindra dan PDIP sudah berhitung matang ingin memanfaatkan momentum ketokohan dua pasangan ini untuk menggaet perolehan suara. Jokowi diharapkan meraih simpati dari kalangan grassroot dan kaum muda yang berpendidikan serta kelas menengah yang mendominasi DKI Jakarta. Ahok diharapkan dapat meraih suara dari masyarakat Tionghoa sekaligus menunjukkan bahwa PDIP dan Gerindra menjunjung tinggi pluralisme Indonesia.

Ketokohan Jokowi sudah dikenal secara nasional lewat gebrakannya yang baru berlalu, mobil Esemka, yang walaupun tidak lolos uji emisi, namun gebrakan itu membekas di hati pemilih potensial. Ahok, walaupun karier politiknya belum bisa dibilang gilang gemilang, namun dia bisa dibilang seorang Tionghoa yang menyeruak tiba-tiba di blantika politik nasional sebagai Bupati Belitung Timur dengan beberapa gebrakan untuk masyarakat Belitung Timur. Sosok Ahok diharapkan akan ‘menyapu’ suara dari pemilih etnis Tionghoa yang sampai saat ini belum memiliki seorangpun sosok panutan atau harapan untuk lebih berkiprah di dunia politik nasional.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, Ahok dapat menjadi ‘kail’ suara dari pemilih etnis Tionghoa yang sebagian masih berpikir dan berpendapat: “pokoknya sesama Tionghoa”. Sebagian masyarakat Tionghoa yang memiliki pemikiran demikian adalah akibat dari euphoria yang berlanjut sejak masa Reformasi, beranggapan as long as sesama Tionghoa, harus didukung, tanpa memertimbangkan banyak faktor lain. Dapat dimengerti sikap demikian karena dalam kurun waktu tiga dasawarsa lebih di bawah tekanan politik Orde Baru yang lepas bebas dalam sekejap semenjak 1998.

Masih ditambah lagi manuver Gerindra ini adalah untuk menghapus stigma seram orang nomor satu Gerindra, Prabowo. Masih banyak pendapat dan pemikiran bahwa Prabowo ada di belakang Mei 1998 – benar tidaknya, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Dengan mengusung Ahok, Gerindra berhitung seksama untuk dua tujuan sekaligus. Menepis anggapan bahwa Prabowo di belakang peristiwa Mei 1998 sekaligus menangguk suara dari masyarakat etnis Tionghoa. Kolaborasinya dengan PDIP tidak bisa dipandang enteng oleh para pesaingnya. PDIP dengan tokoh sentral Megawati Soekarnoputri masih cukup solid, lepas dari anggapan bahwa PDIP adalah ‘partai keluarga’ (suami, istri dan anak).

Sedikit ganjalan adalah sikap PDIP yang “pokok’e seberangnya Demokrat (dan SBY)”. Masih tercatat bahwa tanggal 20 Januari 2012, Megawati menyerukan untuk menaikkan harga BBM yang sudah tidak pantas Rp. 4.500/liter karena beratnya beban tekanan subsidi. Tapi setelah pemerintah mengumumkan rencana kenaikan BBM, dalam sekejap Megawati berbalik sikap menentang kenaikan BBM tsb. Tidak ada yang tidak tahu kalau sikap Megawati memang demikian, apapun yang dilakukan pemerintah, dia akan selalu berseberangan. Lepas benar tidaknya, pokoknya selama itu kebijakan, pemikiran ataupun keputusan pemerintah – yang notabene adalah Partai Demokrat dan ‘musuh abadinya yang presiden itu’, Megawati akan membawa partainya berdiri di seberang.

Pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono tidak menimbulkan déjà vu apapun di benak pemilih potensial. Masyarakat DKI Jakarta yang majemuk rasanya tidak memiliki ingatan khusus tentang pasangan ini, apa kiprah dan gebrakan dalam politik nasional. Dua partai pendukungnya adalah “good-old-days”, dua oldies sejak masa Orde Baru ditambah satu partai dari golongan minoritas. Masa kejayaan Golkar tidak akan pernah kembali, walaupun harus diakui masih merupakan mesin politik yang tangguh. Dengan ketua umum yang sekarang, si Ical – tidak mudah meraih suara para pemilih rasional yang melihat sepak terjang si Ketua Umum yang dikenal dunia karena gebrakannya di Jawa Timur – Lapindo Mud Volcano. PPP sendiri semenjak era Orde Baru sampai sekarang bisa dibilang hanya sebagai pelengkap warna warni partai politik Indonesia saja.

Tidak banyak orang yang tahu siapa Alex Noerdin dan Nono Sampono. Mungkin hanya beberapa yang pernah sepintas membaca nama Alex Noerdin karena diduga tersangkut juga dalam kasus Hambalang terkait dengan Nazaruddin. Walaupun belum ada hard-proof atau bold-evidence, tapi ingatan masyarakat lebih ke jeleknya daripada baiknya. Yang mengherankan, partai Pohon Beringin ini sepertinya ‘hobby’ mengusung tokoh-tokoh kontroversial dalam masyarakat sebagai etalase politiknya. Lihat saja dari ketua umumnya, calon DKI-1’nya, dan yang baru lewat keruwetan PSSI dengan mantan ketua umum yang terdakwa koruptor. Sementara Nono Sampono adalah mantan aspri Megawati dengan kepangkatan perwira Letnan Jenderal (Purn) Marinir.

Calon pasangan yang diusung partai yang berkuasa sekarang sebenarnya memiliki double-power, yaitu incumbent gubernur dan incumbent partai penguasa. Sosok Nachrowi Ramli juga tak sedikitpun menggores ingatan para pemilih, siapa dia dan apa kiprahnya selama ini, kemampuannya, gebrakannya, dsb. Sepertinya para pemilih harus ‘back to the future’ untuk mengetahui siapa gerangan Nachrowi Ramli ini. Si incumbent, Fauzi Bowo yang lebih dikenal dan diingat masyarakat akan ‘asesoris’ khasnya, kumon – kumis montok, adalah sosok ‘pupuk bawang’ yang kebetulan menjadi wakil Sutiyoso dan kemudian – daripada-tidak-ada-yang-lain – naiklah dia menjadi DKI-1 dengan tag’nya yang tak terlupakan “Serahkan Kepada Ahlinya”.

Prahara dan tornado politik yang menerpa Partai Demokrat sepertinya tidak akan memudahkan langkah pasangan ini. Dari yang seharusnya ‘double-power’ untuk DKI-1 dan DKI-2 bisa-bisa berbalik menjadi ‘double-obstacles’ yang dikuatirkan menambah panjang malu Partai Demokrat. Belum tuntasnya kasus dua dedengkot Ring-1 Demokrat, Nazaruddin dan Anas Urbaningrum dalam kasus mega-korupsi, bisa dipastikan akan menjadi stumbling-block raksasa dalam pertarungan DKI-1 dan DKI-2 kali ini. Hal ini sudah nampak bahwa tidak ada partai yang mau berkoalisi dengan Partai Demokrat dalam pertarungan kali ini. Ditambah lagi coreng-moreng ‘prestasi’ Fauzi Bowo selama masa kepemimpinannya, walaupun harus diakui ada beberapa pencapaiannya yang lumayan, seperti Banjir Kanal Barat dan Timur.

Pasangan berikutnya, Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini yang diusung PKS – partai yang konon menguasai grassroot, sepertinya hanya pelengkap keramaian bursa calon gubernur dan wakil gubernur DKI ini. Ketokohan HNW walaupun cukup mendapat tempat di masyarakat, tapi melihat prestasi partai ini bisa dibilang biasa-biasa saja. Didik Rachbini justru baru saja melakukan blunder dengan mengeluarkan statement arogan menyepelekan pasangan calon lainnya seperti yang diulas lengkap oleh Prayitno Ramelan dalam http://ramalanintelijen.net/?p=4990. Peluang pasangan ini sepertinya tidak akan terlalu istimewa.

Yang berikutnya Faisal Basri dan Biem Benyamin ini yang sepertinya tidak bisa diprediksi seberapa banyak akan mendulang suara pemilih. Para pemilih sepertinya sekarang sudah tidak melihat partai mana yang mengusung pasangan calon, karena masyarakat sudah lelah melihat sepak terjang para partai politik selama ini. Partai manapun yang berkuasa, entah Kuning, Merah, Biru, semuanya sama saja, ketika berkuasa mengeruk sebanyak-banyaknya, ketika tidak berkuasa atau kalah dalam pemilu, berdiri berseberangan dengan partai yang berkuasa – oposisi dan berlagak seperti malaikat atau karena sudah ompong tidak punya kekuatan yang solid, jadinya berkoalisi dengan partai yang berkuasa sementara sibuk menjegal dan menggunting dalam lipatan kebijakan-kebijakan partai yang berkuasa.

Reputasi Faisal Basri sebagai ekonom dan Biem Benyamin yang putra Benyamin S ini bisa jadi merupakan kombinasi yang ‘mematikan’ untuk lawan-lawannya. Walaupun belum diketahui bagaimana sistem kerja dan hasil kerja pasangan ini dalam skala daerah istimewa yang sekaligus ibukota negara ini, tentunya berbeda dibanding dengan kampus dan dunia usaha tempat masing-masing pasangan ini sekarang berkecimpung. Potensi positif dan juga sekaligus bisa menjadi potensi negatif adalah fakta bahwa calon ini adalah calon independen yang tidak didukung partai politik. Positif karena ditengarai bahwa saat ini masyarakat sudah jenuh dan muak dengan partai politik, negatif karena harus diakui bahwa dukungan mesin politik masih diperlukan dalam bursa pemilihan kepala daerah.

Calon indenpenden yang satu lagi, Hendardji Supandji dan A. Riza Patria meramaikan bursa calon DKI-1 dan DKI-2 ini. Dalam laga menuju pucuk ibukota ini, baru kali ini diramaikan dua pasangan calon independen. Mayjen (Purn) Hendardji Supandji adalah salah satu dari Supandji Brothers. Hendarman Supandji – mantan Jaksa Agung dan Budi Supandji – Gubernur Lemhanas, nama-nama yang sudah dikenal di negeri ini adalah saudara kandung dari calon independen ini. Beberapa jabatan penting pernah dijabatnya: Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Darat 2006-2007, Asisten Pengamanan KASAD 2008-2010 dan jabatan penting di organisasi karate baik domestik maupun internasional. Pasangannya, A. Riza Patria adalah putra dari Ketua MUI. Dengan latar belakang pasangan calon ini diharapkan akan menghasilkan kejutan dalam perolehan suara yang akan mengagetkan pasangan calon lainnya.

Sepertinya pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta kali ini sangat menarik untuk diikuti dan para calon memiliki pendukung yang tidak bisa dianggap enteng. Di sana sini ramalan politik, perkiraan hasil, survey dan berbagai aktivitas lain digelar. Bisa jadi akan ada kejutan di sana sini dan susah ditebak apakah akan sekali atau dua kali putaran. Masih ditambah ‘kehangatan’ situasi Jakarta yang menurut issue akan ada demo besar-besaran menolak kenaikan BBM. Sepertinya issue kenaikan BBM akan jadi bumbu penyedap partai-partai politik yang berseberangan dengan pemerintah untuk menambah perolehan suara mereka.

Di saat yang bersamaan kejenuhan masyarakat akan sepak terjang partai politik mulai menguat di sana sini, terbukti dengan makin maraknya dukungan terhadap para calon independen dan keyakinan para calon independen untuk maju dalam bursa pencalonan kali ini. Partai Demokrat dengan jagoannya Sang Incumbent harus berhitung seksama, mengingat carut marutnya reputasi partai belakangan ini.

Sepertinya laga calon DKI-1 dan DKI-2 adalah pemanasan dan saling mengukur kekuatan serta mulai melirik para calon RI-1 dan RI-2 di 2014, yang masih dua tahun dari sekarang. Saling menjajaki potensi dan dukungan partai-partai yang bisa menjadi sekutu sepertinya merupakan agenda utama di balik ramainya pemilihan DKI-1 dan DKI-2 kali ini. Siapa pemenangnya, apakah ketokohan dan reputasi seseorang lebih berpengaruh ketimbang reputasi dan solid tidaknya partai? Menghitung dukungan dan perolehan suara kali ini akan menjadi amunisi di 2014 nanti.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

68 Comments to "Menakar Kekuatan Calon DKI-1 & 2, Pemanasan 2014"

  1. Bagong Julianto  20 July, 2012 at 22:30

    Yang nulis artikel ini sepertinya Ngerti Sak Durunge Winarah dengan menyajikan ulasan pasangan JOKOWI-AHOK di urutan teratas…… Ouh, JC ‘to?! Wis, panteslah………

  2. Lani  17 July, 2012 at 04:52

    MAS DJ : sdh saya perhatikan mmg lucu lucu

  3. Dj.  17 July, 2012 at 03:17

    Hahahahahaha…..
    Yu Lani….
    Dj. tidak paham dengan theater poloitik di Indonesia…
    tapi itu wajah mereka benar-benar lucu….
    Bukan wajah yang serius yang akan turut campur mengatur pemerintahan di Jakarta.
    Coba saja yu lani perhatikan photo nr. 2 dan 3 dari atas…

  4. Lani  17 July, 2012 at 02:28

    MAS DJ : belon tau? mmg pemilihan dipanggung srimulat…..pasti hrs lucu mas

  5. Dj.  17 July, 2012 at 01:49

    Dimas….
    Mohon maaf ya, Dj. tidak tau ( kenal ) mereka, jadi tiak bisa kasi komeentar.
    Tapi pihat wajah di photo 2 dan 3 dari atas…
    kelihatan lucu-lucu, seprti calon ( pendaftar ) srimulat.. hahahahahaha…!!!
    Salam manis dari kami di Mainz…

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 July, 2012 at 13:31

    Saya ingin dan akan memilih JOHN KEI sebagai gubernur DKI Jakarta. Orangnya baik dan santun, selalu meolong banyak orang bahkan dijanjikan surga oleh Tuhan. Mudah-mudahan terpilih dan menjadi gubernur abadi Jakarta.

  7. Lani  12 July, 2012 at 01:47

    AKI BUTO, HAND : jebule artikel ini kembali menggelegak to???? apa krn mendekati pemilu gubernur DKI?????? karuan yg ngalap berkah do mencungul, dodolan cang kacang godog, goreng, teh botol dst……..

    malah aku yg dibahas…….RI 1, RI 2……ditambah dul-gondal gandul……..aku ora mudenk blasssssss…….dr jauh cm mengikuti saja, bagiku yg penting gubernur yg memperhatikan wilayah kekuasaan dan rakyat penghuninya……tp apakah msh ada ya?

    aku ora mudenk dgn negeri ini, jd lbh baik ora melu2….mengko mundak salah, malah diseneni wong sak jagad ewat2……..

    mengikuti, sambil komat-kamit agar yg terpilih betul2 mumpuni ndak cm memikirkan memperkaya diri pribadi……..

  8. Lani  12 July, 2012 at 01:40

    52 KANG ANUU : sapa yg kau maksudkan bakal jd gubernur DKI????

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)