Mencari Thukul Yang Lenyap dan Dilenyapkan

Gunawan Budi Susanto

 

pabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul, “Peringatan”, 1986)

 

SEJARAH (kepolitikan) kita adalah sejarah yang berdarah-darah, darah yang membarah. Di Singasari, Kediri, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Indonesia (terutama) “Orde Baru”: penculikan, pembunuhan,  dan pembantaian silih berganti menjadi “permainan”.

Kemarin, kini, esok, lusa: Papua, Timur Leste, Aceh, Maluku….

Kita seolah-olah tak pernah beranjak dari ranah kebiadaban. Makin ke depan jalan kita kian licin, menjadi kubangan darah yang anyir dan menghitam. Korban menjelma menjadi sekadar angka: berpuluh, beratus, beribu, berjuta manusia mati sia-sia. Dan, Wiji Thukul?

“Thukul belum mati. Dia tidak mati, dia tak akan mati,” sergah Diah Sujirah alias Sipon, ketika seorang kawan mengucapkan belasungkawa.

Boleh jadi keyakinan Sipon bahwa Thukul, sang suami, bapak kedua anaknya – Nganti Wani dan Fajar Merah – belum mati adalah manifestasi harapan yang obsesif. Pemboyakan atas kemungkinan yang  lebih memerihkan: sesungguhnya Thukul telah mati, dibunuh oleh aparat kekerasan penguasa atau entah siapa.

Thukul adalah penyair, adalah buruh, adalah aktivis. Ketiga atribut (penyederhanaan kompleksitas eksistensial) itu berkelindan pada sosok Thukul. Dan, apakah yang ditakuti penguasa, atau siapa pun, dari sosok kerempeng, kucel, dan cedal itu sehingga dia mesti dilenyapkan?

Sebagai penyair, menurut istilah Timur Sinar Suprabana, Thukul adalah anak tiri dalam jagat kesastraan kita. Puisi-puisinya nyaris tak terbicarakan atau bahkan sekadar digumamkan dalam forum-forum sastra.

Dan ketika tahun 1991 dia memperoleh Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting Belanda dan diundang membaca puisi di berbagai kota di Indonesia, Australia, dan Korea, suatu stigma ditempelkan ke jidatnya: puisinya “tanpa estetika”, syair jalanan, representasi antikemapanan dan antikekerasan kekuasaan. Padahal puisi Thukul, yang senyap dari perdebatan kesastraan, hidup di bawah terik matahari dan panas aspal jalanan: menjadi ikon gerakan buruh dan mahasiswa.

Sebagai buruh dan aktivis, dia adalah korban sesungguh benar korban dan dikorbankan. Dia didayagunakan sebagai aset gerakan, menjadi Ketua Jaker. Namun ketika dia lenyap, partai politik yang dulu “mengkalim” sebagai payung Jaker pun bergenit-genit dengan retorika perubahan dan sibuk dengan diri sendiri. Thukul pun terlupakan.  Hingga kini, entah sampai kapan.

Lalu, ketika Sosiawan Leak dan kawan-kawan berkeliling ke Surabaya, Sala, Semarang, Yogya, dan Jakarta, memboyong Sipon, Wani, Fajar, dan Kkelompok Suka Banjir – yang dulu diasuh Thukul – ke forum pembacaan sajak dan kesaksian tentang kehidupan Thukul, apa pula yang mengemuka? Dalam acara “Thukul Pulanglah” di Semarang, misalnya, sebagian juru warta lebih asyik menunggu-nunggu ungkapan yang kumedol manakala Sipon menceritakan keperihan keluarga mereka. Lalu, sembari tertawa-tawa mereka mencatat kepalaan berita yang nges dan sengaja atau tidak melupakan substansi permasalahan.

Muncul pula gerenengan: Leak dan kawan-kawan “menjual” kelenyapan Thukul dan kesaksian Sipon, Wani, Fajar, dan Kelompok Suka Banjir sebagai “proyek”. Ada yang berbisik pula: kini Sipon “cerdas” dan “pandai berakting”.

Ah, ah, kerja Leak dan kawan-kawan ternyata lebih disikapi khalayak sebagai peristiwa kesenian semata-mata. Dan, khalayak tidak beranjak lebih jauh untuk membangun “kesadaran moral’: berempati pada kemanusiaan. Juga dari wilayah kesenian yang menyeru kebermanusiaan pun seseorang bisa menuai derita yang memerihkan.

Sungguh, saya mual ketika seorang kawan bilang, “Tak usah cengeng, toh Thukul cuma satu dari sekian banyak manusia yang tiba-tiba  kehilangan nyawa atau dilenyapkan karena perbedaan ideologi, agama, atau keyakinan.”

Thukul barangkali memang bukan pahlawan. Dia korban. Tetapi kenapa kenyataan bahwa siapa pun bisa tiba-tiba jadi korban tak menohok kesadaran kita: kehidupan di sini, di negeri ini, sungguh sangat mengerikan. Kita bisa sekonyong-konyong lenyap ketika gema tawa kita masih bersipongang.

Dan karena itu, cukupkah kita menawarkan solusi: pasang iklan, dicari orang hilang! Lalu diam-diam menekap nurani dan mempersetankan harapan! Ya, bahkan untuk sekadar memiara harapan pun kita telah kehilangan keberanian.

“Thukul atau siapa pun kalian, wahai para korban, hilang, hilanglah, karena kami telah kehilangan harapan. Tulislah sendiri sejarah kalian, sejarah orang-orang yang lenyap dan dilenyapkan,” ujar Kluprut geram. ()

 

(Esai ini dimuat Suara Merdeka, Minggu, 23 Juli 2000, halaman XI.)

 

7 Comments to "Mencari Thukul Yang Lenyap dan Dilenyapkan"

  1. Alvina VB  28 March, 2012 at 02:00

    Satu lagi puisinya Thukul yg memakai personifikasi tembok utk penguasa dan bunga utk rakyat jelata. Sayang puisi ini ditulis Thukul dengan harapan akan tumbangnya Orba suatu hari nanti, ttp penulis tidak sempat melihat puisinya telah menjadi kenyataan:

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang tak
    Kau hendaki tumbuh
    Engkau lebih suka membangun
    Rumah dan merampas tanah

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang tak
    Kau kehendakiadanya
    Engkau lebih suka membangun
    Jalan raya dan pagar besi

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang
    Dirontokkan di bumi kami sendiri

    Jika kami bunga
    Engkau adalah tembok itu
    Tapi di tubuh tembok itu
    Telah kami sebar biji-biji
    Suatu saat kami akan tumbuh bersama
    Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

    Dalam keyakinan kami
    Di manapun – tirani harus tumbang!

  2. Alvina VB  28 March, 2012 at 01:54

    Bung Gunawan BS,
    Saya juga rada2 bingung dulu, kok org spt Thukul ditakutkan oleh aparat Orba ya….ttp puisinya dia memang membakar antek2 Orba…coba simak yg satu ini:

    Jika rakyat pergi
    Ketika penguasa pidato
    Kita harus hati-hati
    Barangkali mereka putus asa

    Kalau rakyat bersembunyi
    Dan berbisik-bisik
    Ketika membicarakan masalahnya sendiri
    Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

    Bila rakyat berani mengeluh
    Itu artinya sudah gawat
    Dan bila omongan penguasa
    Tidak boleh dibantah
    Kebenaran pasti terancam

    Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
    Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
    Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
    Maka hanya ada satu kata: lawan!

  3. Kornelya  27 March, 2012 at 20:15

    Pengecut tidak menerima kritikan, apalagi bila dia ketahuan mencuri, disapa secara santunpun dikira mau menuduh atau menangkapnya, responsnya selalu ofensif agresif. Salam.

  4. Fikrul  27 March, 2012 at 12:32

    W. Thukul entah dimana posisinya sekarang, bahkan mungkin sudah mati secara fisik…??
    Akan tetapi Thukul sebagai manusia yang dikenang tak pernah mati..
    mari melawan lupa..
    Terima kasih atas artikelnya..

  5. J C  27 March, 2012 at 10:36

    Renungan yang memang nyata merupakan cermin negeri ini…

  6. anoew  27 March, 2012 at 10:29

    Sekian banyak warna dari rezim orde baru yang banyak dialami ratusan pahlawan seperti Thukul. Thukul Thukul lain tetap akan tumbuh untuk menyarakan ketimpangan dan ketidakadilan plus ketidakberesan negri ini sesuai dengan namanya, Wiji Thukul (Biji tumbuh).

  7. Handoko Widagdo  27 March, 2012 at 09:25

    Terima kasih sudah kembali mengingatkan kepada Wiji Thukul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.