Ketika Nilai Akademis Menjadi “Raja”

Yeni Suryasusanti

 

Belum sempat menuliskan notes karena sedang padat kerjaan, tapi gatal rasanya ingin berbagi…

Senin malam, saya mendapat sms dari salah seorang teman yang anaknya sekelas dengan Ifan (kelas 5 SD). Ternyata ada seorang anak yang sering melakukan bullying. Tingkah anak tsb sudah membuat suasana tidak nyaman bagi seluruh anak di kelasnya. Beberapa orangtua (termasuk orangtua perwakilan kelas) berinisiatif berkumpul bersama untuk mencari solusi terbaik bagi semua anak – termasuk yang anak yang melakukan bully – agar suasana kelas bisa nyaman kembali. Saya diminta untuk hadir karena ternyata korban yang bisa dikatakan paling sering di bullying adalah Ifan!

Memang sejak th 2006 merasa kehilangan adik perempuannya karena meninggal dunia akibat ensefalitis, Ifan berubah menjadi anak yang sensitif dan halus perasaannya (dan akibatnya mudah menangis). Jangankan pukulan, kata-kata mengandung ejekan atau bernada keras kemarahan saja bisa membuatnya menangis terisak-isak. Apalagi karena di rumah kami tidak terbiasa saling mengejek atau berkata kasar.

Saya menyadari sejak awal, Ifan akan sering mendapat gangguan akibat mudah meneteskan air mata. Predikat “anak cengeng” hampir pasti akan disandangnya. Saya membiarkan Ifan menghadapi ejekan selama masih cukup wajar dan tidak berlebihan, sesekali mengajarinya bagaimana merespon sebuah ejekan, tapi saya tidak pernah “terjun langsung” untuk membelanya hanya untuk menghadapi ejekan khas anak-anak. Dan ternyata memang akhirnya Ifan menjadi “sedikit lebih tegar”.

Malam itu saya bertanya pada Ifan, apa saja yang dilakukan oleh temannya kepada seluruh teman sekelas termasuk Ifan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.

“Dia sering main GTA Bun… jadi ngomongnya kasar kayak GTA gitu…” demikian sepenggal informasi dari Ifan.

“GTA? Apaan tuh?” tanya saya bingung.

“Itu game PS yang jadi pencuri itu lho… merampas mobil dan motor orang lain dalam rangka menghindari kejaran polisi… Nah, kata-katanya kasar seperti dalam game itu…”

Wah, ada game seperti itu? Ifan punya PSP tapi nggak punya game yang aneh-aneh karena suami saya ikut memilihkan game saat pertama membeli.

“Kata-katanya kasar gimana sih?” saya masih penasaran.
“Mmmmm…. maaf ya, Bun… Kata-katanya itu ‘Shit, Fuck dan Asshole’ gitu lho…” kata Ifan hati-hati.

HAAAAAA??? Astaghfirullah…

Selain itu, dengan nada biasa, Ifan bercerita bahwa dulu awalnya mereka dipukul dan ditendang juga, tetapi belakangan hanya berkata kasar dan ejek-ejekan saja. Ternyata Ifan yang menangis jika perasaannya terluka merupakan sasaran yang menyenangkan bagi temannya itu. Tapi menurut Ifan, setiap kali Ifan mulai menangis maka teman-temannya segera melaporkan kepada guru, jadi mereka segera didamaikan kembali.

Saya menatap Ifan lama. Kemudian saya berkata dengan sungguh-sungguh,

“Ifan, bunda tahu, bagi Ifan begitu teman yang berbuat salah meminta maaf – entah itu karena tekanan guru ataupun karena kesadaran sendiri – bagi Ifan masalahnya sudah selesai. Bunda bahagia Ifan bisa begitu pemaaf, meski hampir setiap hari diganggu, setiap kali setelah didamaikan maka Ifan mau bermain kembali. Bunda juga tahu, Ifan nggak cerita pada bunda karena mengganggap itu bukan masalah lagi, toh dia sudah minta maaf. Bunda nggak sepenuhnya menyalahkan Ifan, karena bunda juga tahu Ifan ingin belajar mandiri. Tapi mulai sekarang, bunda ingin Ifan belajar ‘curhat’ pada bunda, bukan hanya cerita soal yang menyenangkan saja. Jangan buat bunda menjadi ‘orang yang paling terakhir mengetahui apa yang terjadi pada anak bunda sendiri’. Bunda akan mengatur waktu dengan lebih efisien lagi agar ada waktu curhat untuk Ifan. Bunda tidak akan ikut campur jika memang nggak perlu. Tapi bunda bisa mengingatkan dan mengajari Ifan jika perlu. Ifan janji?” tuntut saya.

“Iya, bun, Ifan janji,” kata Ifan sambil menunduk. Saya pun memeluknya.

Hari Selasa pagi, memang saya sudah izin datang terlambat karena harus ke Bank. Siangnya ada kemungkinan meeting dengan client penting dan saya harus ikut hadir karena berkaitan dengan invoice yang akan diterbitkan.

“Family matter comes first”, akhirnya saya mengajukan izin dadakan cuti setengah hari untuk menghadiri pertemuan dengan beberapa orangtua tersebut. Rencananya, jika meeting jadi dilakukan maka saya akan langsung menuju lokasi meeting dari tempat pertemuan orangtua.

Dari para orangtua saya mendapat informasi tambahan yang membuat saya iba. Memang, anak tersebut termasuk anak yang cerdas, dengan nilai total yang tinggi meskipun bukan paling tinggi di kelas. Dia juga sangat dekat dengan ibunya, dengan sikap yang jauh berbeda di rumah dan di sekolah. Seperti menonton film “Petualangan Sherina” dimana tokoh “Sadam” yang merupakan “anak nakal” penindas teman di sekolah ternyata merupakan anak mama di rumahnya.

“Nilai Akademis adalah yang utama. Yang penting nilai kamu bagus, masalah lain biar papa yang membereskan.” Demikian nilai yang ditanamkan oleh ayahnya.

Sang ayah juga dulu dengan penuh emosi menghadap kepala sekolah, memprotes saat sistem ranking dihapus dari sekolah. Setelah sistem ranking dihapus, sang Ibu pun mungkin tidak lepas dari tekanan. Bertanya ke kiri dan kanan, ke orangtua teman-teman berapa nilai mereka saat ujian dan latihan, sebagai pembanding nilai anaknya.

Sempat saya berkomentar, “Capek amat? Bukankah lebih sederhana cukup berpatokan dengan KKM dan raih setinggi mungkin saja?”

Satu informasi lagi yang membuat saya ternganga, yaitu reward berupa uang tunai senilai Rp 100.000,- untuk setiap nilai ulangan yang didapatkan dan Rp 10.000,- untuk setiap latihan di buku latihan akan diperolehnya dari sang ayah.

Katanya juga, sang Ibu ketika diberi masukan oleh guru dan orangtua anak lain yang juga teman-temannya malah bertahan dengan berkata, “Anak saya tidak ada masalah. Dia baik-baik saja di rumah. Jika dia disekolah dikatakan berlaku tidak baik, berarti itu kesalahan ada pada sekolah dan teman-temannya di lingkungan sekolah karena saat di sekolah dia menjadi tanggung jawab sekolah.”

Wow!!! Takjub saya terbelalak sambil berkata, “Denger-denger katanya yang dimintai tanggungjawab di akhirat itu orangtua deh, bukan pihak sekolah… Jadi menurut aku ya anak itu tanggungjawab orangtuanya 24 jam lah…”

Orangtua lain bertanya, tentang Ifan, apakah dia stress dengan gangguan dari temannya tersebut. Saya berkata jujur, “Alhamdulillah, nggak. Ifan memang perasa, tapi dia juga pemaaf, bahkan mungkin bisa termasuk kategori orang yang easy going. Dia cerita soal temannya itu juga nggak dengan nada benci kog.”

Untung juga, jadi dia nggak sampai mogok sekolah gara-gara bullying, pikir saya dalam hati. Alhamdulillah, menurut laporan para orangtua tersebut ternyata Ifan dalam minggu ini sudah mulai berhasil mempertahankan diri.

Siang itu, saya mendapat kabar dari kantor bahwa meeting dengan client ditunda. Besok jam 10 pagi meeting baru akan dilaksanakan. Merasa Allah mendukung pilihan saya mengutamakan keluarga, saya minta izin cuti setengah hari saya diperpanjang menjadi 1 hari penuh. Saya ingin ke sekolah, agar mendapat gambaran persoalan secara utuh dari keterangan semua pihak : dari Ifan, dari orangtua anak lain, dan dari pihak sekolah.

Alhamdulillah, dari pihak sekolah, saya mendapat gambaran yang serupa dengan penggambaran Ifan : hanya berupa fakta, netral, tanpa emosi yang membuat bias. Saya berkata kepada wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, bahwa saya tidak akan ikut campur mengenai cara sekolah mendidik anak-anak di sekolah.

Tapi lain kali, saya minta segera diberitahu jika sampai terjadi kontak fisik (meskipun tanpa ada luka yang terlihat) agar kami bisa lebih waspada, bisa antisipasi jika ada masalah yang memerlukan penanganan medis. Namun, jika hanya terjadi adu verbal, tidak masalah jika sekolah tidak memberitahu saya, saya akan berusaha menggali informasi tersebut nanti dari Ifan.

Mengenai masalah anak yang melakukan bullying ini, saya mempercayakan kepada orangtua perwakilan kelas dan pihak sekolah, dan siap ikut membantu jika sudah ada kesepakatan akan caranya.

Semua masalah ini, membuat saya teringat salah satu tulisan Bp. Adriano Rusfi. Tentang anak dan rumah yang hendaknya sebagai dapur, bukan hanya etalase. Dalam kasus bullying di sekolah Ifan, ketika nilai akademis menjadi “Raja”, dan nilai akhlak dikesampingkan menjadi tidak lagi bermakna, maka akan hadir generasi muda yang “cerdas” namun menjadi seorang “penindas”…

Semoga anak-anak kita tidak demikian.

Jakarta, 22 Maret 2012
Yeni Suryasusanti

 

20 Comments to "Ketika Nilai Akademis Menjadi “Raja”"

  1. nu2k  29 March, 2012 at 01:14

    Teman semua, saya termasuk yang beruntung dalam hal ini..Saya sudah melampaui semua masa-masa yang anda sebutkan. Alhamdullillah .. Kedua buntut saya sudah mentas semua dengan hasil yang cukup baik dan bisa meneruskan lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Thanks God. Semoga anda semua dapat melewati masa-masa yang membingungkan dan penuh titik-titik rawan saat ini dengan hasil seperti yang teman semua harapkan. Salam en welterusten, Nu2k

  2. Alvina VB  28 March, 2012 at 23:38

    Ranking bikin anak-anak (bahkan ada juga bbrp org tua) stress. Untungnya di sekolahan anak saya gak ada ranking2an, ttp cuma dibilang berikut ini anak-anak yg nilai rata2nya di atas 90 (masuk kategori : Distinction) dan kel ini di atas 80 (masuk kategori: Honours), sudah titik, gak ada yg tahu siapa yg no.1,2,3 dsb. Kl yg nilainya rendah, tetep naik kelas, tetapi musti masuk sekolah selama liburan summer( 2 blnan) utk memperbaiki nilai. Jadi di sini gak kenal ada anak yg tinggal kelas, semua naik kelas, kecuali bbrp anak tidak bisa ambil liburan krn nilainya dianggap rendah utk bisa naik kelas, begitu….

    Bullying sudah jadi new culture di sini, penanggulangan hrs sejak dini banget antara anak yg kena bullying, the bully (anak yg bullying anak lainnya), org tua dan pihak sekolahan. Biasanya kl pihak org tua dan sekolahan tanggap, tidak akan lanjut lagi, ttp kl pihak sekolahan dan org tua cuex, ya….tambah gawat aja, korbannya tentunya si anak, buntut2nya gak mau sekolah lagi alias drop out.

  3. probo  28 March, 2012 at 22:16

    dalam sebuah acara, beberapa bosah menari dengan indah, si MC (anak SMA / mhs) ‘mewawancarai’ si bocah, di kelas rangking berapa….jawabnya macam-macam tentu, karena ada sekolah yang masih memberlakukan, ada pula yang tidak, ada pula yang hanya diambil 3 besar saja,
    setelah turun, mc-mya saya dekati, saya minta tolong agar lain kali jangan pernah menanyakan rangking lagi. anak kecil bisa menari dengan apik, berani tampil di depan umum, adalah prestasi luar biasa,
    saya katakan juga, anak akan malu kalau ternyata di kelas dia biasa-biasa saja, atau bingung menjawab ketika sekolah tidak memberlakukan rangking, awalnya dia masih mendebat, lalau saya tutup dengan : kalau di depan anda ditanyai IP-nya berapa tersinggung nggak? atau saat sekolah rangking berapa gitu…akhirnya dia mau menerima

  4. anoew  28 March, 2012 at 17:23

    Lho Yen, dompetnya sudah ketemu??

  5. Esti Yoeswoadi  28 March, 2012 at 17:14

    Sama spt sekolah JC, di sekolah anak saya juga sudah lama tidak ada rangking. Jadi kalo ditanya rangking saya bingung juga,hehehe. Tapi memang pada saat kelulusan SD, di umumkan 10besar utk nilai UAN dan 10besar yg masuk ke SMP yg sama (krn msh satu yayasan). Itu aja.

    Bagi kami berdua, tidak harus jadi nomor satu. Sepanjang kalian pahami dan mengerti dengan semua pelajaran yang sudah dikasi sama guru,sudah cukup. Puji Tuhan, meskipun tidak jadi nomor satu, nilai mereka cukup untuk kami tau, mereka ada di range berapa. Untuk beberapa mata pelajaran spt math+sains,sekolah anak kami memberikan pelajaran tambahan tidak hanya untuk mereka yg di kelas akhir.

    Menghilangkan rangking di sekolah anak kami menurut cerita adalah menghindari kecemburuan dan persaingan tidak sehat. Yah namanya anak segitu. Dan anak-anak itu juga berangkat dari keluarga yang berbeda pola asuh dari masing-masing ortu…Bagus juga menurut saya karena mereka main nya membaur tanpa gank si pintar spt jaman saya sekolah, hiks :-‘(

  6. J C  28 March, 2012 at 17:14

    Yeni, bukan ibu-ibu saja lho, ada juga bapak-bapak yang melebihi ibu-ibu untuk urusan seperti ini… aku terheran-heran. Di kelas anakku yang mbarep, ada satu bapak yang nyinyirnya haduuuuhhh…kalau ada acara pertemuan orangtua murid, pas coffee break aku minggat jauh-jauh dari bapak satu itu…sereeeemmmm…

  7. Yeni Suryasusanti  28 March, 2012 at 17:11

    Mas Edy : hehehe…. iya mas, yg penting anaknya nggak “bosan” belajar dari mana aja
    JC : itulah ribetnya ibu2 *btw, kadang aneh juga, aku kog nggak kayak ibu2 yg ribet gitu pikirannya, males pusingin soal kayak gitu, masih banyak yg lain yg harus dipikirin hehehhe*

  8. J C  28 March, 2012 at 16:27

    Yeni, seperti kamu bilang, di sekolah anak-anakku sudah tidak ada ranking, tapi masih adaaaaaa saja ortu iseng yang nanya kesana kemari, nilai raport si A, si B teman sekelas anaknya. Kadang nanya langsung ke guru kelas, kadang nanya ke sesama ortu…walaaahhh…

    Seumur-umur sejak aku punya tugas ambil raport ke sekolah, sampai saat ini tidak pernah lebih dari 3 menit, ambil raport, tanda tangan daftar hadir, tanya apakah ada masalah di kelas, baik akademis atau sosial. Sudah cukup. Sangat bersyukur anak-anak tidak pernah ada masalah yang berarti dengan teman-teman sekelasnya atau lain kelas. Akademis yaaahhh lumayan juga. Tidak pernah dalam kamusku nanya-nanya nilai anak lain. Kadang guru kelas info juga, “pak, kalau di’ranking, anak bapak ranking sekian”. Ya sudah, itupun tidak akan nanya, siapa ranking di bawahnya atau di atasnya…

  9. Edy  28 March, 2012 at 11:37

    Karena aku dulu belajr baca saja baru kls 3 SD dan mulai serius sekolah klas 2 SMA, maka saya tidak membebani anak anak dgn target nilai akademis tertentu, yg penting anak mau explore macem2 dan tidak monoton.

  10. Handoko Widagdo  28 March, 2012 at 11:32

    Generasi SMS Mbak Yeni

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.