Mobil Masa Kolonial Belanda, Sebuah Pameran Kekuasaan

Joko Prayitno

 

Jaman modernisasi di Hindia Belanda mulai berlangsung pada akhir abad ke-19 dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah-sekolah modern Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintah Kolonial Belanda, modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan, serta terjadinya differensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan.

Masyarakat Takjub Melihat Mobil di Solo 1922 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Mobil sebagai bentuk modernisasi masyarakat Hindia Belanda mulai masuk pada pada akhir abad ke-19. Mobil merek Benz menjadi mobil pertama yang dimiliki oleh pihak Kerajaan Kasunanan Surakarta, dan mobil tersebut adalah mobil pesanan pribadi Pakubuwono X pada tahun 1894. Tahun 1907 salah seorang keluarga raja lain di Solo, Kanjeng Raden Sosrodiningrat membeli sebuah mobil merk Daimler. Mobil merk ini memang tergolong mobil mahal dan hanya dimiliki oleh orang-orang berkedudukan tinggi. Mobil ini bekerja dengan empat silinder sama dengan kendaraan yang dipakai oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Pembelian mobil Daimler tersebut oleh keluarga Sunan Solo, disebabkan karena Sunan tidak mau kalah gengsi dengan Gubernur Jenderal. Sebelumnya, ketika Gubernur masih menggunakan mobil merk Fiat atau sebuah kereta yang ditarik dengan 40 ekor kuda, tidak seorang pun berani menyainginya. Tetapi tiba-tiba saja Sunan Solo memesan mobil dari pabrik dan merk yang sama, Kanjeng Raden Sosrodiningrat memesan mobil Daimlernya lewat Prottel & Co.

Paku Boewono X mengunjungi Gubernur Jenderal Tjarda Jhr Mr AWL Starkenborgh Stachouwer di Buitenzorg. Susuhunan diantar ke Mobil-Nya pada tahun 1938 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Mobil-mobil ini merupakan parade kekuasaan yang saling bersaing di tengah eksploitasi perkebunan dengan kesengsaraan buruh-buruh perkebunan. Kerajaan Surakarta yang kalah secara politik mencoba mengembalikan kekuasaan melalui simbol-simbol modernisasi guna menyaingi pemerintah kolonial Belanda sang penguasa politik. Sementara masyarakat hanya bisa menonton benda baru tersebut berseliweran di jalan-jalan sambil memanggul beban penderitaan. Seperti ungkapan Mas Marco Kartodikromo dalam Doenia Bergerak (1914), “Mobil di jaman kita adalah kendaraan yang paling disayangi oleh para petinggi dan kaum kapitalis….sekarang ini tentu saja, apa yang dianggap paling kuasa dan ke arah mana semua kekuatan dan semua waktu dihabiskan adalah perbaikan jalan”. Dan perawatan jalan bagi lalu lalang mobil-mobil penguasa dibebankan kepada masyarakat melalui kerja wajib yang disebut “gugur gunung”. Sebuah ironi…..

Inspeksi dengan mobil, Mungkin di sekitar Pabrik gula Kali Bogor Banjoemas 1920 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Mas Marco juga menggambarkan bahwa kendaraan-kendaraan baru yang diciptakan dan berjalan di jalan raya serta membunyikan klaksonnya menunjukkan kekuasaan sang pemilik karena dengan gampang membunyikan klaksonnya untuk menyingkirkan para pejalan kaki. Pejalan kaki mulai menyingkir dari jalanan ke pinggir-pinggir jalan seperti kekalahan masyarakat yang tanah-tanahnya digunakan untuk perkebunan-perkebunan kolonial Belanda, menyingkir dan masuk ke dalam sistem perburuhan perkebunan.

 

Also can be read at:

http://phesolo.wordpress.com/2011/12/21/mobil-masa-kolonial-belanda-sebuah-pameran-kekuasaan/

 

15 Comments to "Mobil Masa Kolonial Belanda, Sebuah Pameran Kekuasaan"

  1. Dewi Aichi  30 March, 2012 at 08:58

    Pak Handoko..wah..ora iso ta iye…

  2. Dewi Aichi  30 March, 2012 at 08:57

    Betul sekali mas Leo…mungkin karena itulah..kekuasaan masih menjadi idaman..

  3. Leo Sastrawijaya  30 March, 2012 at 08:52

    Pamer kekuwasaan enggak beda dengan sekarang rasanya… hehehe. Jadi belum merdeka-2 amat ya kita kalua dipikir.

  4. Handoko Widagdo  30 March, 2012 at 08:43

    Jualannya dekat orang Madura yang bernama Yoto. To Yoto tak iye.

  5. Dewi Aichi  29 March, 2012 at 08:02

    Pak Handoko ha ha ha ha…..mbok Ghini Gallarso…alias nggelar kloso…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.