Sehimpun Cerita di Balik Kostum Merah Jambu

Awan Tenggara

 

Bapak penjual siomay yang satu ini memang unik. Sampai-sampai, google memberikan hingga 83.500 lebih hasil untuk kisahnya saat saya melakukan pencarian. Padahal tak ada yang lebih spesial dari dirinya kecuali segala kostum—dari sepeda, panci, kaos, sepatu, topi, hingga anting-anting—berwarna pink yang selalu beliau kenakan ketika berjualan keliling. Yang lantas membuat saya penasaran untuk menelusuri kisahnya itu.

Setelah membaca beberapa kisah beliau di internet, akhirnya saya pun juga tertarik untuk menulis kisahnya pada note saya ini.

Nama lengkapnya Sriyono, lebih akrab dipanggil Pak Yono saja. Beliau adalah seorang lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 56 tahun silam. Tadinya bapak yang satu ini adalah seorang gelandangan yang kerap tidur di kolong jembatan dan masjid-masjid. Suatu hari, seorang jamaah dari salah satu masjid yang ia singgahi memberikan modal sebesar 1 juta rupiah padanya untuk memulai usaha. Dan dengan modal itu, lahirlah ide untuk berjualan siomay yang kemudian terkenal dengan nama Siomay Pink ini. Namun siapa yang tahu, kalau ternyata sebelum beliau menjadi seorang gelandangan dulu, Pak Yono adalah seorang miliader!

Merantau ke Jakarta tahun 1969, Pak Yono menjadi seorang sales mobil. Lantas karena kegemarannya makan siomay, beliau tertarik untuk belajar membuat siomay kepada seorang pedagang siomay keturunan Tionghoa asal pulau Bangka. Beliau rela tidak digaji selama setahun hanya untuk mengetahui resep siomay jitu dari gurunya tersebut. Akhirnya saat pengusaha tersebut meninggal, beliau menjadi satu-satunya ahli waris karena gurunya itu tak memiliki satupun keturunan. Beliau kemudian patungan dengan teman-temasnnya untuk memulai bisnis siomay yang lebih besar. Hingga akhirnya, beliau dapat membuka outlet di salah satu mall elit di Jakarta. Konon di puncak kesuksesannya, beliau pernah mencapai pendapatan hingga 2 miliar perbulan.

Namun roda waktu terus berputar. Pada April 1999, Pak Yono menikahi putri seorang polisi. Rumah tangganya hanya bertahan hingga 4 tahun 7 bulan. Pak Yono bercerai dengan istrinya setelah dikaruniai dua orang putri yang setelah perceraian itu keduanya dibawa pergi mengasing oleh istrinya. Sejak saat itulah pikiran Pak Yono menjadi kacau, hingga manajemen usahanya berantakan. Beliau bangkrut, kemudian berusaha berdiri kembali, dan bangkrut lagi. Pak Yono pun mulai putus asa dan memutuskan untuk menjadi seorang gelandangan yang tidur di tepi jalan, kolong jembatan dan masjid-masjid. Hingga muncullah penolong yang memberikan modal dan semangat padanya itu.

Kerinduan Pak Yono pada anak-anaknya akhirnya membuat beliau beinisiatif membuat usaha Siomay Pink yang terkenal itu. Beliau memakai kostum dengan warna serba pink ketika berjualan siomay, bahkan sampai ada dua boneka teddy bear berwarna itu segala di sepedanya. Sebab dua anting di telinganya yang berwarna pink juga, Pak Yono bahkan rela didiskreditkan oleh beberapa oknum sebagai seorang bencong. Beliau rela melakukan semua itu hanya karena sebuah alasan : ingin berkumpul kembali dengan putrinya. Beliau yakin dengan tampil nyentrik seperti itu, maka akan ada banyak sekali media yang tertarik untuk meliputnya. Sehingga dengan begitu, kesempatan untuk bertemu kembali dengan kedua buah hatinya akan menjadi semakin besar. “Warna pink merupakan warna favorit putri sulung saya. Dan dengan diberitakan oleh media, saya berharap dapat bereuni dengan mereka.” akunya.

Dan hasilnya, pada awal Januari 2011, sebuah perusahaan TV swasta menghadirkan beliau sebagai seorang bintang tamu pada salah satu acaranya. Di kesempatan itu, akhirnya beliau dapat bersua kembali dengan kedua putrinya. “Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya,” ujar pak Yono. Kali ini sambil terisak.

 

Semarang, 6 Juni 2011

 

18 Comments to "Sehimpun Cerita di Balik Kostum Merah Jambu"

  1. Peony  2 April, 2012 at 15:41

    Hari ini Senin 2 April 2012, skitar pk. 10.18WIB… saya ketemu dg Pak Yono dan sepeda siomay pink nya di Jl. Pakubuwono Raya – Jakarta Selatan…

  2. Dewi Aichi  29 March, 2012 at 08:49

    mengharukan hiks hiks…sungguhhhhh…aku mbrebes mili tenan…salut dengan bapak Yono..semoga bapak Yono selalu berbahagia….

  3. Alvina VB  28 March, 2012 at 23:21

    AT: Trima kasih buat ceritanya ya….inspiratif banget, hanya krn mau ketemu anaknya lagi, Bpk Yono nge-pink jualan siomay. Akhirnya happy ending ka…turut seneng denger ceritanya…. di sini sama aja kl perceraian terjadi anak yg jadi korban, entah anak tsb diculik ibu/ bpknya sendiri, pindah ke kota/ negara lain yg susah dilacak, sehingga pisah for good atau malahan ada kasus 2 thn y.b.l. yg dibunuh bpknya sendiri, spy ibunya gak dpt apa2 dan bpknya coba bunuh diri ttp gak berhasil, tragis memang kl perceraian berakhir dgn pembunuhan darah daging sendiri….

  4. Dj.  28 March, 2012 at 23:21

    Mas A.T….
    Terimakasih untuk ceritanya yang sangat mengharukan.
    Perjuangan hidup yang perlu pengorbanan, demi cinta kaksih terhadap anak-anaknya….
    Salam Sejahtera dari Mainz…

  5. J C  28 March, 2012 at 16:29

    Kreatif, unik dan mengharukan sekali kisah ini! LUAR BIASA, pak Yono!

    Wow! Esti, ternyata malah mengenal langsung salah satu anak pak Yono. Ah, ceritamu juga membuat haru dan nggregel bacanya…

  6. nu2k  28 March, 2012 at 15:51

    Mbak Esti, wouwwww… Bisa dimengerti betapa terharu birunya hati anda ketika mendengar langsung cerita tentang kerinduan si gadis pada ayahnya….Jadi mereka semua ada di satu kota toch.? Semoga kesempatan saling bertemu tetap selalu terbuka. Amien. Bedankt untuk info tambahannya en welteruaten, Nu2k

  7. Esti Yoeswoadi  28 March, 2012 at 15:35

    @Awan : Thanks mas share tentang Somay Pink ini. Akhirnya masuk baltyra juga,hehehe. Saya gak bisa bayangkan sesaknya pak Yono menahan rindu utk ketemu dengan puteri-puterinya.
    Secara kebetulan, Kedua putri saya berteman dekat (jdan sekelas) dengan puteri pak Yono, dari SD dan skrg SMP (kls 1). Jauh sebelum ada cerita somay pink ini, pernah sekali wkt bbrp teman Novena (anak saya) nginap termasuk puteri pak Yono nginap dan kami kongkow dikamar anak-anak. Dari cerita ngalor ngidul, bercanda sana sini dengan saya dan suami plus bocah bocah tersebut, tiba tiba Safira bilang, dia pingin tau dimana bapaknya sekarang,kenapa dia harus di pisah, dia kangen. Waktu saya dengar pun, mata saya terasa hangat. Waktu itu mereka masih kecil, kls 4 a/ 5 SD. Kebetulan dia duduk dekat saya dan otomatis saya rangkul dia (naluri ibu saja). Yg ada suasana kamar jadi haru biru (skrg mata saya yg basah kalo ingat kejadian itu). Setelah kejadian itu, saya ingatkan anak saya, Novena utk hati-hati bicara tentang bapaknya dan jangan di jauhi juga. Puji Tuhan usaha pak Yono berhasil juga utk ketemu dengan Safira dan Angel bahkan sekarang aksesnya begitu mudah. Safira sempat bercerita sama saya sewaktu ketemu waktu sekolah mereka adakan tanding basket bahwa mereka sekarang sering bertemu dan menghabiskan weekend bertiga saja (hari bapak+anak istilah mereka). Jujur saya ikut senang. Setidaknya di sisa usia nya, Pak Yono masih bisa mencurahkan Cinta+Sayang untuk kedua Putrinya. Berkah Dalem

    [email protected] : kalau tidak salah lho ya, somay pink ada kontrak dgn karfur hanya apakah dismua karfur atau beberapa karfur saja, itu yg saya tidak tau. Yg bisa saya pastikan ada di karfur Bintaro (krn dekat rumah) dan ITC serpong. Happy Hunting bro

  8. Lani  28 March, 2012 at 14:30

    AWAN TENGGARA : hikkkkkks……tumpahlah ayer mataku……tp bukan krn sedih, krn ending yg membahagiakan……crita nyata yg bagus

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.