Bambu dan Petani, Sejak Dulu Hingga Kini

Mastok & The Team

 

Menuntut dalam kesederhanaan pola pikir dan perilaku

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi di antara bambu-bambu lainnya.

Suatu hari sang petani berkata kepada bambu tersebut, ”Wahai bambu, maukah engkau kujadikan pipa saluran air untuk mengairi sawahku?”

Bambu menjawab, ”Tentu aku mau bila dapat berguna bagi Tuan. Tapi apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran itu?”

Kata sang petani, ”Pertama, aku akan menebangmu, lalu aku akan membuang cabang-cabang yang dapat melukai orang yang memegangmu. Lalu aku akan membelah-belah engkau sesuai keperluanku. Terakhir, aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, agar air dapat mengalir dengan lancar. Apabila sudah selesai, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air utk mengairi sawah, sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh subur”.

Mendengar hal itu, batang bambu terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata, ”Tuan, aku akan merasa sangat sakit saat kau menebang, membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah batangku, dan pasti tak tertahankan sakitnya ketika engkau mengorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu?”

Petani menjawab, ”Engkau pasti kuat melalui semua ini, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah”.

Akhirnya batang bambu itu menyerah dengan Iklas. Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yg dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah, sehingga padi dapat tumbuh subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yang kita hadapi, Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapanNya?

Sama seperti batang bambu tadi, kita sedang ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan takkan memberi beban yang tak mampu kita pikul.

Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan? Biarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi sesama kiat seorang Begawan tampo UNI dengan sebatang bambu……..

Kesejukan alam damainya pedesaan tidak terlepas dari warna-warni tumbuhan juga rumpun bambu, gemerisik daun-daun bambu dan segarnya cucuran mata air yang mengalir dari sela-sela rumpun bambu. Keberadaan petani juga tidak pernah terlepas dari bambu, bambu selalu hadir dalam hampir semua aktivitas usaha petani. Lihat saja petani tanaman pangan dan hortikultura. Mereka hampir selalu memerlukan bambu untuk ajir, atau penyangga tanaman. Petani ternak perlu bambu untuk kandang dan segala perlengkapannya. Petani ikan perlu bambu untuk alat tangkap dan karamba. Demikian juga petani buah-buahan banyak memerlukan bahan bambu untuk keperluan packingnya. Bahan bangunan rumah sampai ke peralatan rumah tangga semua bisa dibuat dari bambu. Bukan itu saja bahkan “rebung” (anakan bambu) bisa menjadi sayuran yang lezat untuk pasar lokal seperti Jakarta-bandung- semarang yang saat ini per minggu membutuhkan antara 3 sampai 4 ton pada waktu tertentu hari libur atau acara tahunan sangat meningkat ,juga di ekspor ke Cina dan Jepang sebagai bahan baku makanan. Dengan demikian begitu besar potensi bambu untuk dikembangkan.

Aku adalah komoditi multiguna

  • Rebungku bisa dibuat sayur yang lezat
  • Batangku bisa menjadi bangunan nan kuat
  • Pelepahku bisa menjadi pelindung dari sengatan panas dan guyuran hujan lebat
  • Kulitku bisa jadi hiasan rumah indah
  • Aku adalah teman setia petani di rumah atau di sawah

 

Belum dilirik

Pertanyaannya sekarang adalah sudahkan kita mengoptimalkan upaya untuk pengembangannya? Dr. Elizabeth dari Kebu Raya Bogor seorang ahli bambu yang sangat konsisten dalam keahliannya, mengatakan bahwa hutan bambu di Indonesia saat ini sudah makin berkurang. Buktinya sekarang sulit mencari bambu tua. Bambu yang muda saja sudah mulai banyak ditebangi untuk dijual di pasar. Hal ini disebabkan karena tidak ada penyuluhan atau penerangan untuk menggiatkan budidaya bambu. Sadar atau tidak sadar, bambu dianggap sebagai tanaman untuk sekedar ditebangi saja. Hanya sedikit orang yang berfikir atau melakukan penanaman atau bahkan mungkin sama sekali tidak ada yang memikirkannya. Benar bahwa bambu berumur panjang yaitu 40-100 tahun, namun tanpa gerakan membudidayakan, bukankah akhirnya bambu akan habis pula. Lalu siapa lagi, kalau bukan orang pertanian, yang seharusnya mengembangkannya, kami menemui beberapa komunitas yang ada di Bandung Jawa Barat ternyata Bengkel Hijau salah satu yang berani memproklamirkan gerakan menanam dan membudidayakan bambu (Setyanto Mastok , Alvin dan Ade Hendi kang Udung) semua program yang terencana sampai 10 tahun ke depan di paparkan kepada saya dengan semangat oleh Mastok Setyanto membagi brosur sampai CD.

Mengenal bambu dan pembudidayaannya

Tak kenal maka tak sayang, karena itu mari mengenal bambu si multiguna itu. Bambu termasuk family Graminae atau Poaceae yang terdiri dari beberapa genus/marga dan jenis atau species. Diperkirakan jumlah jenis bambu di seluruh dunia sekitar 1.200-1.300 jenis, 143 jenis di antaranya terdapat di Indonesia (Wijaya, 2001). Di Pulau Jawa sekitar 60 jenis dari seluruh jenis bambu di Indonesia, dan baru sebagian yang dapat dikonservasi di Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi dan Bedugul (Bali).

Sebenarnya, membudidayakan bambu tidak terlalu sulit. Karena bambu tumbuh di segala jenis tanah kecuali di pinggir pantai. Dari tanah kering sampai ke tanah basah bambu bisa tumbuh. Jenis bambunya dipilih yang sesuai dengan jenis dan kesuburan tanahnya agar pertumbuhannya optimal. Karena kesuburan tanah berpengaruh terhadap ukuran batang dan panjang ruas, meskipun tidak mempengaruhi jumlah ruas bambu Dengan dana yang terbatas saya melihat kegigihan dan semangat Bengkel hijau beserta para pelakunya saya diajak keliling di workshop sekaligus menjadi basecamp mereka jauh dari riuh perkotaan dan disini saya mendapat sesuatu yang lain,tidak terlihat plastik berserakan, tidak terlihat kesan tersentuh Modern semua dibiarkan secara alami tapi tertata. Di lahan 23.000m² (2 hektar lebih) ada greenhouse dengan panel-panel offgrid yang tentu saja banyak saya jumpai di Australia maupun di daerah pertanian modern.

 

 

 

Saya sempat terkejut kan di sini tidak ada listrik..ternyata lebih Modern dari pada di luar sana dan semua tertata serta dibiarkan seperti alam ini memberikan segalanya, saya mencari siapa sosok di depan saya? Ternyata Mastok seorang pakar telekomunikasi dan elektronik jebolan salah satu Universitas di Jakarta, hukum lingkungan dan Teknik Industri di bandung yang terus membawa melanglang buana di beberapa negara tapi masih saja dengan pakaian adatnya ikat kepala dan sarung di pundaknya tidak bersandal membawa saya berkeliling hingga di dasar sungai.

Ini sumber listrik dan awal kehidupan kami di sini semua kami kerjakan dengan gotong royong semua tidak harus barang dari toko atau baru, ini semua barang bekas seraya menunjukkan kincir tenaga air , hanya semangat yang tertanam di hati kami untuk tetap jadi pemelihara lingkungan di sekitar kita, ujar bapak 2 putri yang ternyata dari mulai saya bertemu salah penilaian.

Sayup terdengar instrumen musik bambu kang Udung dan Mastok menjelaskan tentang karinding dan celempung salah satu pelaku yang ada di Tatar Sunda saya bangga bisa bertemu dengan mereka yang bijak akan kebudayaan yang masih dipertahankan.Deretan pohon bambu dan enau menambah asrinya Bengkel Hijau Rupanya apa yang kami tunggu sudah di siapkan dengan masakan ala hutan kami makan siang.sambil berbincang pendekatan kearifan Lokal (Local Wisdom) dan teknologi tepat guna begitu saya di sodorin dengan tuturan yang sarat oleh tauhid dan matematika futuristik semakin saya terus mengali “sang Begawan tanpa UNI (bunyi)” tidak hanya teori saja ternyata tahun ke 16 jauh sebelum saya berjumpa dengan sosok yang sesungguhnya.

Membudidayakan bambu bisa dilakukan melalui 3 cara pembibitan yaitu melalui :

(1) Pembibitan biji melalui penyemaian dalam kapas atau sabut kelapa sampai berkecambah. Kemudian dipindahkan ke polybag sampai umur 1 tahun. Setelah mencapai tinggi kira-kira 75 cm, dipindahkan ke lahan kebun. Cara ini tidak mudah karena di Indonesia jarang sekali ditemukan bambu berbiji atau steril, selain itu perumpunan normal cukup lama yaitu memerlukan waktu 10 tahun.

(2) Stek batang atau stek cabang diambil dari bambu yang sudah berumur minimal 2 tahun, dengan memotong bambu 10 cm di atas dan 10 cm di bawah buku (panjangnya 20 cm). Stek ditancapkan pada guludan tanah yang sudah disiapkan sampai umur 1 tahun. Kemudian dipindahkan ke lahan kebun. Keuntungan cara stek ini adalah dapat memperoleh bibit lebih banyak.

(3) Stek Rhizom atau batang bawah tanah dari bambu yang berumur 2 tahun. Sebelum ditanam di lahan kebun terlebih dahulu direndam dalam air mengalir. Dengan cara ini mengenal bambu dan pembudidayaannya perumpunan normal dapat dicapai dalam waktu 3-5 tahun. Relatif singkat. Kesulitan pembibitan dengan rhizom ini adalah ketika pembongkaran rhizom, kalau kurang hati-hati bisa merusak rebung dan pohon bambu lainnya.

 

Manfaat bambu dari batang hingga rebung

Selain pemanfaatan bambu seperti diuraikan terdahulu, banyak lagi yang menarik dengan bambu ini. Bisa sebagai tanaman hias, seperti bambu kuning hingga bambu berbatang persegi, sebagai sumber inspirasi para seniman bahkan alat kesenian terutama kesenian tradisional Jawa Barat seperti suling, angklung, arumba, calung dan banyak lagi yang lainnya. Sebagai bahan bangunan rumah dan peralatan rumah tangga bahkan sudah menjadi barang ekspor seperti papan serat bambu, cindera mata dan sumpit. Sedangkan rebung si bambu anakan, adalah sayuran yang sangat digemari dalam masakan Jepang atau masakan Cina.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pengembangan bambu belum banyak dilakukan terutama dalam hal budidaya dan kegiatan lainnya. Kegiatannya masih terbatas pada upaya konservasi tanaman bambu. Sedangkan upaya pelatihan, penyuluhan dan promosi boleh dikatakan belum dilakukan.

Pengembangan agribisnis bambu perlu dilakukan sebagai salah satu upaya penyerapan tenaga kerja pedesaan dan kesejahteraan masyarakat.

Mengapa pengembangan agribisnis bambu ini menjanjikan? Sekali lagi ditekankan bahwa kehidupan petani tidak bisa terpisahkan dari bambu. Bahkan untuk ketahanan pangan sekalipun, rebung bambu sangat potensial untuk dibudidayakan. Bagaimana menurut pemikiran kalangan penentu kebijakan di sektor pertanian?

 

+Bengkel Hijau Ternyata bukan filosofi yang saya nilai account Facebook tetapi saya di pertemukan dengan banyak orang yang benar-benar peduli lingkungan lahan kritis.

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Bambu dan Petani, Sejak Dulu Hingga Kini"

  1. Alvina VB  30 March, 2012 at 21:08

    Mastok,
    Terima kasih buat infonya, semoga Bengkel Hijau berkembang pesat dan didukung khalayak ramai. Moga2 pem. mendukung pengembangan agribisnis bambu tsb. Kata org2 dari negeri bambu, bambu itu baru tumbuh berkembang pesat stl 5 thnan keatas, sebelumnya gak kelihatan perkembangannya, apa betul begitu?

  2. Dewi Aichi  30 March, 2012 at 09:03

    Mastok…tetap semangat..semoga sehat selalu…orang orang seperti Mastok, sangat dibutuhkan di negeri ini, ilmu tinggi, yang bisa bermanfaat bagi sesama dan lingkungan…dan semoga tulisan tulisan Mastok semakin dibaca kalangan luas…resiko…pasti ada saja…yaitu tadi, mungkin Mastok dkk dianggap slilit yang mengganggu sebagian..

  3. mastok  30 March, 2012 at 08:53

    pagi2 sudah terjebak macet… di jakarta….. padahal saya tadi jam 5.30 dari rumah….

    Trima kasih Teman yang sangat mendukung … saya hanya peduli dan tidak pernah lelah untuk terus menanam dan memelihara.. saat ini masih banyak orang mecibirkan mulut apa yang kami lakukan… kami juga tidak pernah menggalang dana masyarakat ,lebih baik kami memberi apa yang kita punya untuk masyarakat baik materi, maupun keilmuan kami yang tentusaja tepat guna….. 2 kali bengkel Hijau di gusur oleh penguasa dan pengusaha yang punya kepentingan berarti keberadaan kami itu ada dan membuat slilit ( walaupun kecil menganjal di gigi kan ga enak ) ….. Bengkel hijau sekarang sudah mulai di kenal berarti tantangan ke depan kami semakin berah dan harus bisa tanggung jawab apa yang kami lakukan…. terima kasih teman2 yang sudah peduli dengan keberadaan kami di Baltyra.. dari nusantara untuk dunia

  4. Dewi Aichi  30 March, 2012 at 07:05

    Nanti saya akan main ke Bengkel Hijau ya..boleh kan? Kalau bisa…masak dengan kayu bakar..di kebun ..atau bakar ikan…nyambel..oseng oseng pakis…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.