Carok

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Carok; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura

Penulis: A. Latief Wiyata

Tahun Terbit: Cetakan 2 2006

Penerbit: LKiS

Tebal: xx + 288

ISBN: 979-9492-67-X

 

“Lokana daging bisa ejai’, lokana ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara” (Luka daging bisa dijahit, luka hati tidak ada obatnya kecuali minum darah).

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata MADURA? Clurit! Carok! Anda tidak salah. Meski orang Madura memiliki banyak kualitas yang luar biasa, namun clurit dan carok adalah dua kata yang identik dengan kultur Madura. Kata Carok bahkan hanya dipakai untuk menggambarkan suatu peristiwa pertarungan khas Madura.

Apa artinya carok bagi orang Madura? Bagaimana pandangan orang Madura tentang carok, pelaku dan korbannya? Mengapa orang Madura melakukan carok? Bagaimana tatacara melakukan carok? Adalah pertanyaan yang coba dijawab oleh A. Latief Wiyata (ALW) dalam buku ini (p 25). Adalah sangat menarik untuk mengetahui kajian peristiwa kultural ’dari dalam’ kultur itu sendiri. Buku ini menarik karena penulisnya adalah orang Madura. ALW lahir di Sumenep dari keluarga Madura. Kajian tentang carok sebelumnya, kebanyakan dilakukan oleh pihak luar (non Madura).

Dengan menggunakan studi etnografi, ALW melakukan penelitian mendalam tentang 6 kasus carok yang terjadi di Bangkalan Madura. Dalam mengupas mengapa carok terjadi di Madura, ALW mengkaji hubungan carok dengan sosial ekonomi dan histori Madura. Menurut penuturan Huub de Jonge, dalam pengantar buku, apa yang dilakukan oleh ALW ini adalah studi pertama tentang carok yang didasarkan pada kasus-kasus lapangan (p. x). Jadilah buku ini menjadi sangat penting artinya bagi penelitian lanjutan tentang carok.

Carok bukan pembunuhan. Sebab dalam carok tidak ada yang menjadi pembunuh atau yang dibunuh. Dalam carok hanya dikenal siapa yang menang (se mennang) dan siapa yang kalah (se kala). Carok adalah cara untuk menegakkan harga diri (lelaki) Madura. Kebanyakan kasus carok berhubungan dengan peristiwa gangguan terhadap istri. Oleh sebab itu, orang Madura sangat menghargai pelaku carok. Bahkan kerabat biasanya mendukung upaya carok. Dengan menghargai carok, bukan berarti orang Madura suka akan semua jenis kekerasan. Pembunuhan yang tidak dilatar-belakangi dengan penistaan harga diri, tidak dianggap carok dan dikecam oleh orang Madura.

Kenapa carok menjadi budaya orang Madura? ALW berargumen bahwa kondisi ekonomi yang sulit di Pulau Madura menyebabkan kekerasan melekat dalam kultur Madura. ALW memberi bukti bahwa model kampung orang Madura dan arsitektur rumah menunjukkan kewaspadaan orang Madura akan kekerasan. Pintu rumah orang Madura hanya satu dan berada di seblah selatan, karena orang Madura tidur dengan kepala selalu di utara. Dengan demikian, orang Madura tetap bisa mengawasi pintu rumah meski dalam keadaan tidur (p. 45). Pola pemukiman taneyang lanjang menggambarkan bahwa orang Madura memberi proteksi kepada anak perempuan (p.48).

Carok ada di Madura juga disebabkan oleh feodalisme. Meminjam studi yang dilakukan oleh de Jonge, ALW menjelaskan bahwa pemerasan kaum feodal kepada rakyat menyebabkan kultur kekerasan merajalela (p.72). Pemerasan tersebut termasuk praktik nabang (menyuap). Hal lain yang dianggap berhubungan dengan adanya carok di Madura adalah agama, pendidikan dan sistim kekerabatan dan pertemanan, serta tradisi remo. Ada jenis remo khusus yang disebut remo carok. Remo carok adalah remo yang diadakan untuk mengumpulkan dana bagi keluarga yang ditinggal suami karena melaksanakan carok.

Ada tiga cara melakukan carok, yaitu: nyelep, ngonggai  dan cara berhadap-hadapan. Nyelep melakukan carok dengan cara menikam/membacok lawan dari belakang atau dari samping. Ngonggai adalah cara melakukan carok dengan mendatangi rumah lawan dan menantang untuk melakukan carok. Sedangkan carok dengan cara berhadap-hadapan adalah cara carok dimana kedua pihak saling berhadapan dan punya kesempatan yang sama untuk mengayunkan senjatanya. Cara nyelep adalah cara yang diagap tidak terpuji dan tidak jantan, namun tetap diakui sebagai cara melakukan carok. Cara carok berhadap-hadapan banyak dilakukan dahulu kala, dimana waktu, tempat dan jenis senjata telah disepakati sebelum carok dilaksanakan (p. 210). Sayangnya, kini cara nyelep lebih banyak dilakukan.

Pelaksanaan carok biasanya dipersiapkan dengan matang. Persiapan siapa yang akan melaksanakan (sendiri atau bersama beberapa orang), persiapan diri si pelaku (seperti menyiapkan mental, kekebalan, dsb.), mencari tanggal baik untuk pelaksanaan, dan kesiapan keuangan untuk menanggung biaya hidup keluarga dan melakukan nabang (menyuap kepolisian/pengadilan) setelah carok dilaksanakan. Bahkan termasuk pelaksanaan remo pasca carok untuk mengumpulkan dana.

ALW menyimpulkan bahwa: ”carok adalah institusionalisasi kekerasan dalam masyarakat Madura yang memiliki relasi sangat kuat dengan faktor-faktor strktur budaya, struktur sosial, kondisi sosial-ekonomi, agama dan pendidikan. Orang Madura seakan-akan tidak mampu untuk mencari dan memilih opsi atau alternatif lain dalam upaya mencari solusi ketika mereka sedang mengalami konflik, kecuali melakukan carok” (p.239).

Oleh sebab itu, penegakan otoritas dan wibawa negara, penyadaran masyarakat untuk mengedepankan budi bahasa saat menghadapi konflik, pendistribusian kekuasaan kepada perempuan, menyadarkan orang-orang yang berpotensi menjadi pelaku carok, penghilangan praktik nabang, serta menyadarkan keluarga korban carok untuk tidak menyimpan simbol-simbol korban carok adalah sangat penting untuk dilakukan supaya carok bisa dicegah (p. 241-243).

 

Tulisan ini aku persembahkan kepada Raden Ayu ”Markonah” Diana Christini. Yang telah memberikan buku bagus ini kepadaku.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

69 Comments to "Carok"

  1. Handoko Widagdo  10 April, 2012 at 17:49

    Nev, carok bikin ngeri, kalau cakar bikir keri ya?

  2. nevergiveupyo  10 April, 2012 at 07:15

    carok? hiiy…. membaca resensinya Pak Hand aja udah ngeri…. hiyyyyy

  3. Handoko Widagdo  10 April, 2012 at 06:59

    Mbakyu Probo corak batik slemania?

    Indriati dan Lani, begitulah cerita pewayangan yang saya dengar.

  4. Lani  9 April, 2012 at 22:26

    58 HAND : wakakak….ini udah ketularan aki buto sudrunnya……..mmg gitulah yg udah kadung ngumpul disini ambyaaaaaar…….ora waras kabeh……..hehehe

  5. Lani  9 April, 2012 at 22:24

    HAND : walah dalah………klu darah berwarna biru bener2 ada…….hehehe…….

  6. Indriati See  9 April, 2012 at 20:08

    Mas Handoko bisa saja kalau semua gadis yang tidak perawan lagi bisa menipu calon suaminya hanya karena salah ambil tinta … maka praktek para dokter yang nota bene bisa mengembalikan “keperawanan” jadi gulung tikar ya hehe

  7. probo  9 April, 2012 at 19:58

    aku pilih corak saja…..bukan carok

  8. Handoko Widagdo  9 April, 2012 at 19:00

    Indriati dan Itsme, cerita asal usul darah biru juga ada dalam pewayangan. Yaitu saat banowati yang sudah terlanjur tidak perawan karena berbuat mesum dengan Arjuna, harus menghadapi malam pertamanya dengan Duryudono. Akhirnya dibawanya tinta, tapi karena buru-buru ternyata tinta biru yang dibawa, bukan tinta merah. Maka Banowati menjelaskan bahwa darah keperawanannya berwarna biru karena dia dari golongan ningrat.

  9. Indriati See  9 April, 2012 at 15:19

    Duh … Itsmiku … nongol juga disini

    Istilah “Darah Biru” khan hanya istilah yang datang pada saat dimana para ningrat ketakutan kulitnya terbakar oleh matahari dan membiarkan kulit menjadi pucat sampai terlihat urat nadinya yang berwarna biru … lieber Itsmi yang anti “ningrat”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *