Minyak dan Perekonomian Dunia

Mpek Dul

 

Pengantar Redaksi:

Rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM bensin Premium dari Rp. 4.500/liter menjadi Rp. 6.000/liter disambut dengan demo yang marak di seluruh Tanah Air. Bagaimana sebenarnya perhitungan dan situasi keekonomian minyak? Sejauh mana ketergantungan negara-negara di dunia ini terhadap minyak petra ini?

Mpek Dul menurunkan ulasan lengkap tentang itu semua. Mari kita simak supaya kita bisa bersikap lebih bijak terhadap keputusan pemerintah menaikkan harga BBM ini.

 

Minyak dan Perekonomian Dunia

Bagaimana harga minyak di pasaran dunia ini ditentukan? Siapa yang memutuskan?

Apakah satu negara tertentu ataukah kartel minyak OPEC ?

Pernah ada ramalan yang dicetuskan bahwa pertikaian, peperangan besar di masa depan yang akan terjadi dan lebih berbahaya dari ke dua perang dunia yang lalu, mungkin sekali adalah disebabkan oleh “emas hitam” atau minyak bumi.

Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan kejadian ini, tetapi dengan mempelajari perkembangan-perkembangan di dunia di masa lampau dan saat ini, bahwa apa yang diramalkan diatas bukan satu impian kosong belaka. Hanya saja kita tidak mengetahui kapan peristiwa demikian benar-benar terjadi.

Eropa sendiri pernah mengalami boikot minyak pada tahun 1973 sebagai “hukuman” dari negara-negara di Timur Tengah, ketika meletusnya perang Yom Kippur, Perang Ramadan atau Perang Oktober (bahasa Ibrani: מלחמת יום הכיפורים, Arab حرب أكتوبر) yang dipelopori oleh Mesir dan Suriah, dibantu oleh pasukan dari negara-negara Irak, Kuwait, Libia, Marokko, Sudan, Tunisia, Aljazair, dan Arab Saudi dan akirnya tetap dimenangkan oleh Israel. Waktu itu jalan-jalan raya jalur cepat atau highway yang terdiri dari empat jalur satu arahnya, dan di hari kerja penuh dengan lalu lintas berat, di waktu itu hampir tidak ada kendaran swastapun yang diperkenankan berjalan, kecuali mobil pemadam kebakaran, polisi, ambulans, taksi dan bis pengangkutan umum yang diberi ijin khusus.

Bagaimana jika hal ini terjadi lagi di masa depan?

Bukan satu rahasia lagi bahwa melonjaknya harga minyak akhir-akhir ini adalah satu faktor yang berbahaya dan merupakan satu ancaman besar perkembangan perekonomian di dunia, yang saat ini masih lemah akibat dari krisis dunia keuangan di tahun 2007-2008 baik untuk  negara-negara yang berkembang maupun yang sudah berkembang, dan negara-negara  industri lainnya.

Di dunia perekonomian bebas (free-market economy), kita mengenal adanya hukum yang dinamakan: “Hukum permintaan dan penawaran” atau “Law of supply and demand”.

Konsumen adalah satu pondasi yang berpegang peranan terpenting di dalam dunia ekonomi, dan bukan produsen. Menurut teori, di satu pasar yang kompetitif, harga mempunyai fungsi sebagai instrument kesimbangan antara kuantitas dari produk tertentu yang diminta konsumen dan ditawarkan oleh produsen. Dengan demikian memungkinkan adanya keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas dari produk tersebut.

Permintaan dan penawaran dari barang-barang produksi tergantung dari harga yang yang diminta, satu istilah yang dikenal dengan nama ”céteris paribus” yang berarti “keadaan selebihnya tetap sama” “all other things being equal“.  Satu istilah di dunia ilmu ekonomi yang dikenal dan sering dipakai sebagai “penerimaan” untuk menunjukkan ragam formulasi dan uraian dari pelbagai anggapan ekonomi. Jika kuantitas dari satu produk yang diminta konsumen meningkat, maka harga dari produk itu dengan sendirinya akan naik, dan sebaliknya.

Bilamana harga satu produk tinggi, maka akan dapat menyebabkan permintaan berkurang, tetapi jika harga rendah, maka permintaan akan bertambah, sehingga membawa akibat pada produk yang ditawarkan akhirnya berkurang. Dengan demikian menimbulkan kesimbangan harga antara permintaan dan penawaran.

Jika di dunia ini berlian dan intan seperti batu-batu kecil biasa mudah didapat karena tersebar di jalanan, maka barang ini pasti tidak akan ada harganya.

Di negara-negara yang dikelilingi gurun pasir seperti Kuwait. Arab Saudi, Uni Arab Emirat, harga air minum jauh lebih mahal dari harga bensin.

Tanpa adanya permintaan dari konsumen, tidak akan ada produk, baik yang berupa barang atau jasa, yang dapat diproduksi dan ditawarkan. Dengan adanya permintaan, maka memungkinkan adanya penawaran. Indikasi demikian ini merupakan satu patokan yang sangat penting juga untuk para analis mikro ekonomi. Uraian di atas adalah satu gambaran yang menjelaskan hubungan antara para pembeli dan para leveransir atau para penjual, dibidang pasaran terhadap satu produk yang diperdagangkan, dalam hal ini adalah minyak mentah atau minyak bumi.

Permintaan, karena konsumen atau pembeli menginginkan satu produk dengan kualitas dan tuntutan-tuntutan tertentu yang ingin dibeli sesuai selera pembeli itu, sedangkan di pihak leveransir atau penjual, mereka menawarkan produk yang diminta itu dengan harga tertentu. Banyak sedikitnya permintaan dan penawaran, tergantung dari pelbagai faktor, misalnya stagnasi atau macetnya produksi, sedikitnya barang yang dapat diproduksi dsb, akan membuat produk yang di inginkan itu naik, berharga lebih tinggi dari harga “pasaran”, sedangkan sebaliknya akan membuat harga menurun.

Faktor lain yang sejak pertengahan abad ke 20 dengan berakhirnya Perang Dunia ke II yang sangat berperanan penting, dan dapat mengganggu kesimbangan, serta sangat berpengaruh terhadap satu produk, terutama dalam bidang bahan baku, adalah faktor politik. Semakin stabil perkembangan politik di dunia, semakin stabil harga-harga barang/produk di pasaran bebas, dan sebaliknya.

Untuk rakyat jelata, hal-hal seperti di atas ini susah untuk dipahami, sedangkan untuk seorang sarjana yang bukan dalam bidang ekonomi, hal ini juga susah untuk diikuti.

“Law of demand and supply” “ceteris paribus” tidak lain adalah satu cermin dari perhubungan antara pembeli dan penjual dan merupakan satu “hukum alam”, tanpa ada seorang pun yang dapat mempengaruhinya, dan memperhitungkan emosi kita, apakah kita setuju atau tidaknya.

Mengapa harga minyak mentah di pasaran bebas melonjak sedangkan dunia di belahan barat saat ini sedang mengalami ke macetan akibat dari krisis mondial yang dimulai sejak 26 Juni 2007 dan masih belum pulih stabil kembali? Bagaimanakah harga minyak di pasaran dunia pada hakekatnya ditentukan? Siapa yang menentukan?

Di dunia saham perusahan kita mengenal bursa terpenting di dunia yaitu New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, dan  Financial Times Stock Exchange Index (FTSE 100 atau sering diucapkan sebagai “foetsie”).

Mungkin aneh kedengarannya jika saya uraikan bahwa bukan negara-negara OPEC yang menentukan berapa harga minyak BOPD (Barrels of oil per day) dipasaran dunia, melainkan adalah NYMEX atau New York Mercantile Exchange (NYMEX), satu bursa komoditi berjangka terbesar di dunia dan ICE (Inter Continental Exchange) atau IPE di London.

Pelbagai macam minyak bumi diperdagangkan dan ditutup di sini dalam bentuk kontrak berjangka (futures). Tanggal penyerahan produk atau tanggal penyelesaian akhir ini dikenal dengan nama delivery date atau final settlement date yang tidak lain adalah saat yang telah disepakatkan kapan barang-barang yang telah dibeli berdasarkan kontrak dengan harga yang telah ditetapkan (settlement price) kedua pihak itu, harus diserahkan.

Definisi kontrak berjangka, disingkat “berjangka” atau futures, adalah suatu kontrak standar (sekaligus juga satu alat derivatif) yang diperdagangkan di bursa berjangka, untuk membeli ataupun menjual aset acuan dari instrumen keuangan dimasa yang akan datang dan dengan harga tertentu yang telah disepakatkan sebelumnya. Dimana perlu Cash Settlement juga diperhitungkan. Ini adalah perhitungan dalam kontan akibat dari perbedaan pada saat opsi ditutup dan disaat produk diserahkan dan harga produk ini menaik.

Lembaga clearing (penyelesaian) akan bertindak selaku mitra transaksi atas semua kontrak yang diperdagangkan, dan menentukan aturan margin yang telah disepakatkan oleh kedua pihak; dalam hal ini pembeli dan leveransir.

 

PASARAN  INTERNASIONAL (INTERNATIONAL MARKET)

Seperti yang telah saya uraikan di atas, perdagangan minyak mentah dan produk-produk minyak tanah lainnya di dunia ini  dipusatkan di dua tempat yaitu NYMEX New York dan ICE (London). Harga dari pelbagai macam ditentukan dengan angka-angka 24 dan 7, artinya 24 hari dan 7 hari. Para pedagang (leveransir) dari Asia, Timur Tengah menawarkan, kontrak di bursa ICE, karena di New York saat itu malam, dan sebaliknya jika di Eropa malam hari, maka di New York pagi hari, sehingga dengan demikian perdagangan berjangka dalam bidang ini (minyak) dapat dilakukan selama 24 jam.

 

PENGHARGAAN /PENILAIAN DARI  MINYAK

Penilaian dalam bidang minyak  mentah dapat digolongkan Arabian Light, West Texas Intermediate, Brent (light crude oil) dsb, tergantung dari jenis, ringan dan beratnya minyak itu sendiri apakah lebih mengandung residu atau murni seperti kerosine, bensin dsb. Harga dari minyak mentah ini pada perinsipnya berdasarkan dari “harga bebas di kapal tanker” atau FOB (Free On Board), diperhitungkan ongkos-ongkos asuransi, transport, penyaringan yang harus dibayar kepada perusahaan-perusahaan penyaringan, di samping harus diperhitungkan bahwa sekian persen akan “hilang” pada saat proses maupun transport (a.l. akibat berceceran dsb).

PENENTUAN HARGA MINYAK MENTAH

Seperti komoditi lainnya, produk ini juga dapat dijualbelikan pada saat disimpan di tempat penyimpanan, dimana penyerahan kepada pembeli melewati makelar atau calo dari perusahaan2 minyak multi-nasional seperti Exxon, Royal Dutch Shell, Total, BP, Q8  dsb.

Kualitas dari minyak mentah juga dapat berbeda, tergantung berasal dari negara mana, komposisi dan kemurniannya, karena semakin tinggi kualitasnya, semakin “murni”semakin sedikit sisa “kotorannya” sesudah diproses di tempat pengilangan minyak, untuk dipisahkan menjadi bermacam bahan bakar, dimulai dari kerosene, bensin, sampai ke bahan kimia lainnya untuk industri, etana, alkana, propana, bahkan untuk sampai di bidang obat-obatan. Jenis minyak mentah begini diberi predikat “Black gold” dan ini bukan karena nama yang diberikan begitu saja, melainkan menunjukkan tingginya kualitasnya. Minyak mentah sendiri dari pelbagai unsur-unsur atom kimia yang terdiri dari hydrogen dan carbon.

Harga pasaran minyak bumi dari pertambangan di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, berdasarkan harga Brent oil (LCO) yang dipakai sebagai basis standar harga (benchmarket) ditentukan setiap hari dan dipublikaksi oleh “Platts Oilgram”. Brent oil adalah minyak yang berasal dari North Sea.

 

FAKTOR YANG MENYEBABKAN “VOLATILITIES”

Politik adalah faktor utama terpenting. Adanya terorisme, ketagangan dunia, peperangan, sangat besar sekali pengaruhnya terhadap harga pasaran internasional seperti baru-baru ini ketika Iran mengumumkan untuk mengawasi selat Hormus, dan ketika negara-negara besar kelas berat seperti AS, Perancis, Inggris memperingatkan untuk tidak bermain api, karena dapat mengganggu expor dari negara-negara lain seperti Kuwait, Irak, Uni Arab Emirate dan Arab Saudi dan membahayakan ekonomi dunia yang masih belum pulih kembali dari krisis mondial.

Meskipun ini hanya satu “ancaman” psychologis berita sensasi untuk dari Ahmedinejad, presiden Iran yang tidak disukai oleh negara-negara tetangganya, terutama Arab Saudi untuk menarik perhatian dunia. Iran menganut Islam Syi’ah, sedangkan Arab Saudi menganut Islam Sunni, dua aliran dalam agama Islam yang sangat bertentangan. Perbedaan prinsip ideologi inilah yang ditinjau dari segi politik, membuat kedua negara menjadi musuh bebuyutan dan peka sekali untuk kedamaian di daerah itu. Di samping itu adanya kelebihan cadangan atau kekurangan, timbulnya bencana alam, dan iklim juga dapat berpegang peranan  dalam bidang volatilities atau gerakan naik turun. Di musim dingin yang keras di Eropa maupun di AS, Canada seperti awal tahun ini, minyak sangat dibutuhkan sebagai bahan pemanas perumahan dan pabrik-pabrik, sehingga harga melonjak, karena negara-negara ini adalah konsumen terbesar, sedangkan di musim panas ada kemungkinan harga menurun akibat berkurangnya konsumsi dan permintaan.

Dengan semakin berkembangnya negara-negara “Emerging markets” BIC  Brasil-India-China, maka kebutuhan minyak untuk industri di negara-negara ini juga semakin besar. Kembali hukum permintan dan penawaran secara otomatis akan berjalan tanpa ada seorangpun yang dapat mencegahnya, karena ini salah satu mekanisme perekonomian.  Kebutuhan industri negara-negara ini juga sangat mempengaruhi harga di pasaran internasional.

Spekulasi adalah faktor sosiologis dan ekonomis lain yang tidak ada hubungan dengan industri yang sangat mengganggu dan berbahaya,  sehingga menyebabkan tinggi rendahnya volatilitas. Perkembangan demikian inilah yang memaksakan pemerintah di negara-negara barat Eropa dan Amerika untuk mengambil tindakan yang sangat ketat sekali, misalnya mengenakan pajak yang tinggi, tidak memberi subsidi, mobil-mobil yang besar-besar dan boros dikenakan pajak extra, sedangkan mobil, truk dan bus yang hemat  memakai tenaga hybrid diberi keringanan pajak atau bebas pajak, semua mobil harus standar memakai katalisator, dan tidak pernah harga bensin dan bahan bakar lainnya dimurahkan karena diberi subsidi berat.

Secara standar, negara-negara barat menyimpan cadangan minyak negara setidaknya berjumlah tiga bulan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya kalamitas atau bencana.

Faktor positif lain akibat dari tingginya harga minyak bumi adalah dengan demikian negara-negara ini terpaksa harus memikirkan mencari alternatif bahan bakar lain, seperti tenaga air, tenaga matahari, dsb agar tidak terlelu peka karena tergantung dari impor. Bahan bakar mobil di Eropa dan minyak gas kebutuhan masak tidak pernah diberi subsidi oleh pemerintah, sehingga konsumen juga kritis di dalam pemakaian dan mengawasi kebutuhan mereka sendiri, karena semakin banyak kebutuhan mereka semakin tinggi rekening yang arus mereka bayar.

 

BAGAIMANA SITUASI DI INDONESIA SENDIRI?

Berbeda dengan Indonesia dimana BBM diberi subsidi yang berat, sehingga murah. Di Belanda satu liter bensin saat ini sekitar € 1,85 atau sekitar Rp. 22.300 ! 50% terdiri harga ini adalah pajak yang masuk kas negara. Tentu saja setiap kenaikan satu sen yuro pun konsumen berteriak, tetapi pemerintah “tuli” dan tidak lagi peka terhadap keluhan ini.

Sejak tahun 1995, semua bensin di Eropa, AS, Canada sudah leadfree dengan ditambahkannya “Tetraethyllead”, sehingga tidak lagi mengandung timah hitam yang mengotori udara dan menyebabkan polusi serta mengganggu kesehatan rakyat. Di Indonesia bensin ini dikenal dengan nama Pertamax plus yang mengandung oktan 95. Bensin premium dengan oktan 98 di Eropa barat (dan mungkin di AS, Canada juga) sudah tidak lagi ada.

Harga bensin di Indonesia mungkin hanya sekitar Rp.10.000 se liternya, itupun ditinjau dari kualitas, termasuk yang jelek karena mengandung timah, bukan leadfree.

Sudah berpuluhan tahun pemerintah Indonesia memberikan subsidi dalam bidang pangan dan bahan bakar. Ditinjau dari segi ekonomis, meskipun bertujuan baik untuk meringankan beban rakyat jelata yang pendapatan rata-rata masih rendah sekali, tetapi dalam jangka panjang sangat berbahaya sekali, dan bukan satu tindakan yang bijaksana. Dengan demikian, maka pemerintah harus mengeluarkan beaya untuk menjaga agar harga tetap rendah, sedangkan di pasaran bebas dunia, harga produk ini sudah lama sekali berlipat ganda.

Rakyat tidak menyelami dan tidak tahu menahu hal demikian. Di satu saat beban demikian ini pasti akan terasa berat sekali untuk negara, apalagi jika kebutuhan konsumsi semakin tinggi akibat perkembangan industry dan kemakmuran. Banyak perabotan dan alat-alat rumah tangga di Indonesia seperti AC, TV, lemari es, mesin cuci, saat ini yang memakai tenaga listrik yang sentralnya digerakkan oleh minyak atau gas. Limapuluh tahun y.l. tidak banyak sepeda motor dan kendaran bermotor lainnya seperti sekarang.

Dengan demikian kebutuhan juga semakin tinggi, sedangkan produksi dalam negeri tidak lagi mencukupi permintan sehingga pemerintah terpaksa harus mengimpor minyak dari luar negeri. Belum lagi faktor korupsi yang harus diperhitungkan dan disangkutpautkan! Dengan adanya korupsi, berarti pemerintah secara tidak langsung memberikan subsidi kepada para koruptor yang sekaligus juga konsumen. Jika semua ini dibeayai dari hasil pemasukan pajak, berarti juga subsidi yang diberikan pemerintah dihitung persentasi, pasti juga lebih besar dibandingkan 50 tahun y.l. Bilamana disatu saat, subsidi BBM dikurangi, berarti harga minyak akan naik dan akan membawa kegemparan sehingga mungkin menimbulkan kerusuhan di dalam negeri, karena dimata rakyat jelata, pemerintah dinilai yang menaikkan harga, sedangkan pada hakekatnya adalah subsidi yang dikurangi oleh pemerintah sehingga harga naik.

Kekacauan adalah satu faktor de stabilisator yang mengacaukan perekonomian. Tidak ada seorang investor pun yang bersedia menanamkan modal di satu negara yang politik dalam negerinya tidak stabil dan penuh kekacauan, sekalipun ongkos-ongkos tenaga kerja sangat murah dan mudah didapat. Apa yang terjadi di Indonesia dengan kegelisahan dan adanya protes berhubungan dengan kenaikan BBM adalah secara tidak langsung akibat dari ke “manja”an subsidi yang telah berjalan puluhan tahun yang di ”pupuk” oleh pemerintah sendiri. Saat itu Indonesia masih dapat mengexpor minyak bumi. Memberikan 65% subsidi pada saat harga minyak yang 50 tahun lalu masih sekitar US $ 4 ,- per barrelnya untuk pemerintah lebih terasa ringan dari memberikan subsidi 30% dengan harga minyak yang saat ini sekitar US $ 120,- per barrel nya.

Tentu saja kesempatan demikian ini pasti digunakan oleh partai-partai politik oposisi yang saat ini tidak menduduki kursi pemerintahan untuk dengan pelbagai alasan menyerang dan memberikan kritik-kritik yang seringkali tidak beralasan, demi kepentingan partai mereka sendiri. Di saat mereka menduduki jabatan pemerintahan, pasti mereka menjalankan politik yang berbeda dari apa yang mereka katakan sebelumnya. Ini adalah satu fakta dunia politik.

Pemerintah dan Badan Anggaran DPR akhirnya menyepakati postur anggaran APBN-P 2012 dengan besaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 137 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp 65 triliun (= Rp. 137.000.000.000.000 dan Rp.65.000.000.000.000).

DPR belum menyetujui pemerintah boleh menaikkan harga BBM atau tidak. Defisit subsidi BBM dapat ditutup dari sisa anggaran APBN yang tidak terserap (Sisa Anggaran Lebih atau SAL). Subsidi ini melonjak dibandingkan dalam APBN 2012 sebesar Rp123 triliun untuk subsidi BBM dan Rp45 triliun untuk subsidi listrik. Kenaikan subsidi ini seiring dengan melambung nya harga minyak. Pemerintah mengaku hampir seluruh penerimaan negara dari sektor minyak digunakan sepenuhnya untuk subsidi. Hal ini dikarenakan Indonesia masih mengimpor minyak sehingga setiap satu $ AS kenaikan harga minyak mentah akan semakin membebankan negara.

Seperti apa yang telah dijelaskan oleh SBY di dalam pejelasan beliau tentang perubahan APBN 2012  beberapa minggu yang lalu di Cikeas Bogor. “Kita harus lakukan seperti yang dilakukan banyak negara di dunia ini, termasuk urusan BBM yang disebut market reaction,” ujarnya. SBY ingin memastikan apapun gejolak perekonomian yang terjadi di dunia, APBN dan fiskal Indonesia tetap sehat (Pandangan ini secara pribadi saya ragukan, karena ekonomi Indonesia masih kecil sekali peranannya di dunia).”Kalau ekonomi tidak selamat, tidak tumbuh, akhirnya rakyat juga yang akan terkena, rakyat miskin yang akan menderita. Jangan dilepaskan, jangan dipisahkan. Kalau ekonomi runtuh dan kita tidak bisa merespon dengan cepat maka yang terjadi malapetaka,” Menurut SBY, salah satu pengurangan subsidi BBM yakni menyesuai kan harga BBM, dan tentu akan ada upaya konversi BBM ke BBG, serta penghematan lain. Jika DPR dalam pembahasan nanti akhirnya menyepakati harga BBM, beliau berjanji akan tetap mengusulkan untuk diberikan bantuan kepada rakyat miskin dan bantuan kepada masyarakat rendah. Ini adalah satu tindakan yang bijaksana (bila tidak dikorupsi)

Penghasilan negara dari minyak Rp 266 triliun dikurangi subsidi Rp 200 triliun dan sisanya masuk ke APBN, ini berarti lebih dari dua per tiga pemasukan dipakai untuk subsidi BBM dan listrik. Beaya yang demikian besarnya di satu saat pasti akan membebankan negara, sehingga menyebabkan defisit anggaran belanja, apalagi bila pemasukkan keuangan negara  lewat pajak berkurang, sedang pengeluaran negara tahunan yang menyangkut subsidi, -dengan memperhitung kan koreksi inflasi-, makin menanjak. Apakah beaya yang demikian besarnya tidak lebih baik dipakai untuk membangun industri, infrastruktur, atau untuk beaya pendidikan, bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial?

Dengan murahnya BBM akibat subsidi yang berat, maka konsumen juga tidak akan merubah kebiasaan konsumsi mereka dan berusaha menghemat mencari alternatif bahan bakar lain.

Pemberian subsidi yang bersifat permanen adalah satu tindakan yang sangat berbahaya dan bijaksana. Lain halnya dengan di masa krisis dimana per ekonomian mengalami stagnasi, kemacetan, karena subsidi yang bersifat sementara ini, baik dalam bentuk tindakan fiscal (a.l. menurunkan pajak penjualan, pajak pendapatan dsb) maupun pemberian kredit dengan suku bunga rendah justru dapat membantu mendorong, merangsang kegiatan ekonomi, sehingga konsumen bersedia mengeluarkan uang untuk konsumsi dan produsen bersedia memproduksi dengan beaya yang dapat diperhitungkan. Di samping itu harus disadari bahwa tambang minyak di satu saat juga akan kering dan habis dipompa karena tidak ada sesuatu di dunia ini yang abadi, jadi harus memikirkan alternatip lain sebagai pengganti minyak bumi.

Faktor penting lainnya adalah, hukum dari negara-negara tertentu yang membuat harga minyak di pasaran bebas juga berpegang peranan. Mengapa? Karena negara-negara seperti Eropa dan AS mempunyai hukum yang sangat ketat dalam bidang penyaringan, kotoran tidak lagi boleh dibakar lewat cerobong sehingga mengotori udara dan alam menyebabkan polusi mengganggu kesehatan rakyat, tetapi harus diproses sedemikian rupa, untuk melindungi flora, fauna mencegah, global warming.

Hampir di semua negara-negara barat juga ada peraturan yang mewajibkan semua perusahaan minyak untuk menyimpan persediaan setidaknya tiga bulan sejumlah konsumsi nasional, sehingga di saat keadaan genting akibat kekacauan atau peperangan, kebutuhan militer untuk pertahanan negara, tidak terancam. Ketika krisis dimulai 26 Juni 2007, harga minyak mulai melonjak. Pada tanggal 26 februari 2008 harga West Texas Intermediate (WTI) in New York untuk pertama kalinya dalam sejarahnya menembus US$ 100,- dan di bulan juli 2008 mencapai US$ 147,- per barrelnya.

Akibat dari krisis mondial yang dimulai dengan krisis kredit di AS, harga minyak merosot sekitar US $ 37,90  pada tanggal 27 December 2008. Perkembangan yang begitu radikal.

Pernah saya berikan analisa, bahwa harga serendah ini hanya bersifat sementara dan jika resesi dalam jangka tiga tahun, dapat diatasi oleh negara-negara barat yang terserang krisis, pasti harga minyak bumi di pasaran internasional akan melonjak lagi. “Risus abundat in ore stultorum”, hanya orang yang gila yang menertawai semua nya ini.

Bukan satu pendapat yang mustahil jika kali ini saya menilai bahwa harga minyak bumi  melihat perkembangan perekonomian dan industri di dunia dewasa ini, US$ 100,- per barrelnya adalah satu ilusi karena bukan harga yang riil. Jangan heran dan terkejut bilamana di satu saat akan mencapai US$ 150,- per barrelnya (159 liter). Bila keadaan politik di dunia stabil, dan industri di BIC tidak membutuhkan lebih banyak lagi bahan bakar ini, maka harga sekitar US$ 130,- adalah harga yang pantas.

Rusia, Iran adalah negara-negara yang mempunyai persedian terbesar saat ini. Kemungkinan juga China, tetapi masih disimpan untuk sebagai cadangan jika persediaan di dunia disatu saat sudah betul-betuk kritis sehingga harga melonjak, dan membahayakan ekonomi negara ini. Dengan demikian memompa dari tanah sendiri, maka mereka peka dan tidak tergantung dari luar negeri sehingga industri tetap dapat berjalan. Keadaan keuangan dan cadangan devisa China saat ini begitu besar sekali, sehingga memungkinan membeayai import minyak bumi mentah, sebagian besar  dari Iran.

Kita harus bersedia menerima kenyataan ini dan mulai memikirkan alternatif lain untuk mencegah agar tidak tergantung pada satu bahan baku atau negara-negara produsen tertentu, demi masa depan anak cucu kita. Perkembangan politik di dunia dewasa ini lain dengan apa yang terjadi 50 tahun yang lalu. Ini bukan satu fakta yang menyenangkan, namun juga tidak dapat diingkari. Bagaimana perkembangan harga minyak dimasa depan? Tidak seorangpun yang dapat memastikan! Siapa tahu boleh memberikan pendapatnya. “Scientia sol mentis est”. Pengetahuan adalah cahaya dari jiwa.

MASA DEPAN KENDARAAN HYBRID?

 

Mpek DuL

 

 

Literature:

ª Heterogeneous Capital, the Production Function and the Theory of Distribution – P. Garegnani.

ª The Laws of Returns Under Competitive Conditions – Progress in Microeconomics Since Sraffa (1926)? – A. J. Cohen.

ª Markt und Marktmechanismus – Ralf Wagner.

ª Principes d’économie politique –  A. Marschall.

ª La Pensée économique depuis Keyne –  M.Beaud et G.Dostaler.

 

42 Comments to "Minyak dan Perekonomian Dunia"

  1. mpekDuL  22 April, 2012 at 18:20

    Leo Sastrawijaya Says: April 11th, 2012 at 13:28
    Yang saya tidak mengerti adalah mengapa ‘para ilmuwan’ tidak ngutak utik H2O, sumber energi melimpah yang ramah lingkungan ya… Minyak sungguh telah menimbulkan jutaan penderitaan sementara yang bisa benar-benar menikmati manisnya minyak bumi hanya kurang dari 0,00001% dari populasi dunia.
    Terima kasih untuk tulisannya Pak Dul, sebenarnya saya selalu sedih bila membaca soal minyak… hehehe

    Apa yang anda uraikan juga sudah banyak cendekiawan dalam bidang petrokimia mengetahuinya, para pembesar mengetahuinya, perusahaan2 minyak multinasional juga mengetahuinya, tetapi point terpenting dalam hal ini bukan moral, melainkan kantong sendiri, selama masih ada kemungkinan di isi sendiri sebanyak mungkin, mereka tidak memikirkan kesejahteraan dunia dan rakyat lain. Apa yang harus disedihkan? Sudah ratusan ribu tahun didunia ini ada pertikaian dan peperangan karena kerakusan, kelobaan manusia.

    Saya baru minggu lalu kembali dari perjalanan ke Israel-Jordania, dan diluar dugaan saja sendiri, negara ini dapat dicadikan contoh yang besar sekali. Negara yang terjepit diantara neraga2 Arab yg kaya dgn minyak bumi, dan negara ini sendiri tidak mempunyai tambang minyak, tetapi masih dapat meng export listrik ke Jordania.
    Inovasi – efisiensi – ke tekunen – disiplin – high tech dari negara ini yang membuat dihormati dan disegani oleh tetangga2nya.
    Darimana tenaga listrik yg dipakai? Dari Solar panel, tenaga matahari berlebihan dan di exploitasi. Secara formil tidak ada hubungan diplomatik dengan Arab Saudi, Kuwait, Libanon, dan “musuh” tetapi dalam bidang ekonomi semua kegiatan tetapi berjalan melewati saluran lain. Disini juga faktor uang dan ekonomi yg lebih dipenting kan, baru moral. Money does’nt smell – uang itu tidak berbau. Pesawat El-Al dari Israel yang saya tumpangi mendarat di Tel Aviv diparkir ditengah Royal Jordanian dan Egypt Air.
    Negara2 yang pernah berperang di tahu n 1967 dan 1973 sekarang hidup penuh kedamaian, meski batas antara Jordania dan Israel masih dibatasi dengan pagar elekronis high tech dan ranjau.
    Kepentingan ekonomi yang memungkinkan semuanya ini. Ini satu kenyataan yg tidak bisa disangkal, terlepas dari pro dan kontra.

  2. Leo Sastrawijaya  11 April, 2012 at 13:28

    Yang saya tidak mengerti adalah mengapa ‘para ilmuwan’ tidak ngutak utik H2O, sumber energi melimpah yang ramah lingkungan ya… Minyak sungguh telah menimbulkan jutaan penderitaan sementara yang bisa benar-benar menikmati manisnya minyak bumi hanya kurang dari 0,00001% dari populasi dunia.

    H2O jelas senyawa dua bahan bakar, tentunya tidak lebih sulit dari menjinakan reaksi nuklir yang sangat mematikan itu. Ah, bila sudah ada mesin pemisah H2O menjadi H2 dan O, tentu saja tidak ada dominator lagi di dunia ini.

    Sebenarnya bila ribut-ribut soal minyak ya ribut-ribut soal kecil yang sengaja dibesarkan sekedar untuk memenuhi hasrat keserakahan yang tidak terukur. Bagaimanapun dunia masih dikuasai oleh sebagian berandalan rupanya…. hehehe

    Persoalan besarnya justru pada kemauan para ilmuwan dan dukungan seluruh manusia di planet ini untuk melanjutkan riset potensi air sebagai sumber energi, meneruskan para pendahulunya yang dibunuh atau dipenjarakan ketika mulai mempubikasikan. Tidak perlu ada reaktor nuklir dan lain-lain. Karena toh secara kimiawi air jelas merupakan senyawa dari dua potensi energi yang tidak polutif.

    Terima kasih untuk tulisannya Pak Dul, sebenarnya saya selalu sedih bila membaca soal minyak… hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.