Pengalaman Menjadi Pelajar Tamu di Sekolah Indonesia

Indriati See – Jerman

 

Mengirim anak-anak belajar Bahasa Indonesia sudah ada dalam program pendidikan kami, mengapa? Karena Bahasa Indonesia adalah Bahasa Ibu dari anak-anak dan tentunya sebagai anak-anak yang terlahir campur atau yang sering disebut anak Indo, otomatis mereka diwariskan dua bahasa dan kultur yang berbeda. Dan kedua bahasa dan kultur yang berbeda ini harus berkembang sama dengan memeliharanya atau dengan harapan yang lebih, mewariskannya kembali kepada cucu dan cicit kami.

Hari Batik yang mengesankan bagi si Sulung

Sering suami dan saya berjumpa dengan anak-anak Indo-Jerman yang tidak bisa berbahasa Indonesia, dengan alasan:
1)    Ibu atau ayah (WNI) tidak menganggap Bahasa Indonesia itu penting untuk diwariskan karena toh tidak dipakai di negara dimana mereka tinggal.
2)    Ibu atau ayah (WNI) tidak mempunyai kesabaran, konsekwen dan berkelangsungan untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan anak-anak.
3)    Ibu atau ayah (WNI) tidak merasa bangga lagi untuk berbahasa Indonesia kepada anak-anak mereka.

Pada usia tiga tahun pertama, suami dan saya hanya berbahasa Indonesia kepada putra sulung kami, sedangkan suami dan saya berkomunikasi dalam bahasa Perancis sampai kini. Tiga bahasa aktif  (Indonesia, Jerman dan Perancis) yang didengar oleh putra sulung kami rupanya menghambat perkembangan bicaranya. Sampai usia dua tahun, putra sulung tidak bisa mengucapkan kata “mama” atau “papa” dan memanggil kami dengan kata “dede”, kata “lili” untuk “gereja”, kata “degedi” untuk “ini” dan “itu” … jadi anak kami menciptakan bahasa sendiri. Saat itu kami tidak menganggapnya “aneh” dan dengan sabar mengulang setiap kata yang dimaksud oleh anak kami dengan kata dalam bahasa Indonesia yang benar.

Pada saat putra kami masuk TK di usia tiga tahun, dibawalah Bahasa Indonesianya ke TK … hitung-hitung promosi Bahasa Indonesia bukan ?

Di TK Jerman biasanya dalam kelompok bermain dan belajar, anak-anak yang berusia lebih tua akan membimbing yang muda. Saat itu putra sulung kami dibimbing oleh seorang anak yang sangat baik bernama Michael. Dari Michael putra kami belajar nama-nama binatang dalam Bahasa Jerman dan Michael belajar hal yang sama dalam Bahasa Indonesia … luar biasa ! Dimana putra kami sudah menjadi Duta Kecil Indonesia.

Jadi kesimpulannya, putra sulung kami mulai belajar Bahasa Jerman di usia tiga tahun dan sampai sekarang tidak ada hambatan sama sekali di sekolahnya.

 

Menggunakan jam istirahat tuk bermain catur

Ketika putra kami sudah bisa membaca, saya membeli banyak komik anak-anak dalam Bahasa Indonesia, mengapa komik? Karena saat itu saya berpikir biasanya anak-anak lebih suka melihat buku bergambar dengan kalimat yang pendek-pendek, di samping menarik juga tidak melelahkan atau membosankan dan tentunya juga kami tetap konsekwen berbahasa Indonesia yang benar. Dukungan dari keluarga saya di Jakarta juga sangat membantu dengan tidak berbicara Bahasa Jakarta setiap kami berlibur di Tanah Air.

Ada peraturan di sekolah-sekolah Jerman dimana anak-anak di bawah kelas 9, boleh meninggalkan sekolah untuk pergi belajar ke luar negeri maximum satu tahun guna mempelajari bahasa asing atau mengikuti program pertukaran pelajar. Kesempatan ini kami pergunakan juga terutama untuk putra sulung yang saat itu di kelas 8 dan putri bungsu di kelas 4 (SD di Jerman hanya sampai kelas 4). Mereka sangat berantusias untuk mempelajari Bahasa Indonesia di sekolah Indonesia di Jakarta.

Pengurusanpun dimulai, suami mengurus perizinan di Jerman dan saya dengan bantuan ayah menghubungi SD dan ex-SMP saya di Jakarta. Ide kami saat itu disambut baik oleh Kepala Sekolah di Jerman begitu juga dengan Kepala Sekolah SD dan SMP di Jakarta bahkan mereka bilang bahwa “belum pernah ada WNI yang mengirim anak campur belajar Bahasa Indonesia” … betulkah ?

Waktu yang ditawarkan untuk belajar Bahasa Indonesia tersebut hanya dua bulan yaitu di semester kedua tahun ajaran sekolah, untuk Jerman saat itu menjelang liburan musim panas dimana sekalian kami pergunakan untuk berlibura musim panas di Indonesia sekeluarga. Dan untuk sekolah SD dan SMP di Jakarta adalah masa-masa dimana para pelajar mempersiapkan ulangan umum dan pelajaran diberikan di kelas berupa pengulangan-pengulangan saja. Kesempatan ini sangat menguntungkan putra dan putri kami dimana para guru mereka di Jakarta mempunyai banyak waktu untuk memberi perhatian kepada mereka.

Setelah prosedur yang harus dilalui selesai, saya dan kedua putra dan putripun terbang ke Jakarta. Pada hari Kamis kami tiba, waktu yang cukup untuk penyesuaian perbedaan waktu dan juga laporan dan pengurusan seragam agar kedua anak saya bisa langsung masuk sekolah pada hari Seninnya.

Rasa percaya diri dan mandiri yang kami tanamkan kepada anak-anakpun terbukti, tanpa sungkan kedua anak tersebut memperkenalkan diri mereka masing-masing di depan kelas dengan menggunakan Bahasa Indonesia à la orang bule hehe …

Kenangan yang terindah bagi si bungsu

Heboh, teriakan bule-bule ! Atau diikuti oleh anak-anak lain untuk berjabat tangan sangat berkesan sekali bagi kedua anak kami, kesan ramah, siap menolong, penuh humor benar-benar membuat kedua anak tersebut bangga akan teman-teman Indonesia yang baru.

Untuk standard pelajaran dibandingkan dengan Jerman, pelajaran dalam Bahasa Inggris, beberapa pokok pelajaran Matematika boleh dibilang cukup cepat untuk kelas 7 dan kelas 3 (oh ya … karena pertimbangan penguasaan Bahasa Indonesia anak-anak, maka mereka harus turun kelas satu tahun).

Pelajaran Sejarah Indonesia sangat disukai dan menambah rasa kagum bagi putra kami. Untuk si bungsu yang suka berolah raga, diberi kesempatan untuk mengajari teman-temannya berdiri di atas kedua belah tangan, yang menurut anak-anak Indonesia cukup sulit dilakukan.

Pada hari pertama sekolah, putra saya langsung menangkap dan mempelajari bahasa Jakarta, contohnya: penggunaan kata “enggak” untuk “tidak”, “belon” dan bahasa prokem lainnya. Tradisi berbicara Bahasa Indonesia yang benar sudah tidak bisa saya tuntut lagi dan saya hanya bisa menjelaskan mana Bahasa Jakarta dan mana Bahasa Indonesia.

Sekarang, dimana usia putra sulung 17 tahun, putri kedua 15 tahun dan si bungsu 13 tahun, Bahasa Indonesia menjadi benar-benar ilmu yang tak ternilai dan mereka mempergunakannya jika mereka ingin perbincangan mereka tidak dimengerti oleh teman-teman mereka yang berbangsa Jerman.

Dari pengalaman kami di atas, saya berharap semoga berguna bagi para pembaca dan tentunya jangan pernah menyerah untuk berbicara Bahasa Indonesia walaupun waktu dan tempat kurang mendukung … semangat !

Image: Dokumen pribadi

 

31 Comments to "Pengalaman Menjadi Pelajar Tamu di Sekolah Indonesia"

  1. Indriati See  8 April, 2012 at 22:53

    @Sista Evi Iron

    Apa kabar say ? semoga selalu dalam keadaan sehat ya … duh sudah lama kita tidak saling bersapa

    Saya setuju dengan pendapatmu, hm … berharap sih semoga yang saya praktekkan dengan putra dan putri saya bermanfaat bagi pembaca dan semakin banyak anak campur tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu atau ayah mereka

    Terima kasih dan salam bahagia utkmu sista Evi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.