Edan-edanan (19): Sapa Ora Nandur, Ora Ngundhuh

Kang Putu

 

NGANTEN kucing? Ya, sepasang kucing, tentu saja jantan dan betina, dan didandani dan diupacarai sebagaimana sepasang pengantin. Lalu, seluruh perangkat desa dan warga masyarakat mengarak sang pengantin keliling kampung di bawah terik mahahari yang membakar ubun-ubun.

Itulah ritus kesuburan yang dilakukan warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora, ketika hujan tak kunjung turun. Padahal, semua sumur, sendang, belik, dan kali telah mengering dan tanah pun bengkah-bengkah, merekah.

Kali terakhir, saya ikut mengiring sepasang pengantin kucing sekitar seperempat abad silam. Barangkali, itulah kali terakhir arak-arakan nganten kucing di desa saya.

Namun kenapa kucing dan bukan sapi atau kerbau? Bukankah, konon, kucing takut air? Jadi, sekali lagi, kenapa justru kucing yang dijadikan medium untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta Kehidupan?

“Justru itulah pesan yang ingin disampaikan, Gus. Kalau kucing yang takut air saja butuh air, meminta hujan, berarti keadaan sudah amat-sangat memilukan bagi manusia, terutama para petani,” ucap mendiang Pakde Gondo, menjawab ketidakmengertian saya saat itu.

“Pakde, bukanlah di desa kita nyaris tak ada lagi sawah, tak ada ladi ladang, untuk bercocok tanam?”

“Nyaris tak ada bukan berarti sudah tidak ada bukan? Sepetak-dua petak sawah tetaplah sawah, tetaplah ladang. Jangan lupa pula di pekarangan rumah pun kita bisa bertanam macam-macam. Bukankah kau kerap memetik daun beluntas di depan rumah itu? Padahal, pertama-tama beluntas itu ditanam bukan untuk dijadikan urapan. Beluntas yang bisa tumbuh cuma di segaris tanah itu adalah pagar pembatas pekarangan rumah kita. Dan air, Gus, air bukan cuma kebutuhan petani. Semua makhluk membutuhkan air, semua membutuhkan hujan, agar tetap bisa hidup,” sahut Pakde Gondo.

“Karena itu pulakah, Pakde, setiap tahun seusai musim panen, kelurahan selalu nanggap wayang dengan lakon Sri-Sadono?”

“Iya. Itulah wujud rasa syukur karena Tuhan terus-menerus melimpahkan rezeki sehingga segala apa yang kita tanam bisa tumbuh, segala apa yang kita tanam bisa kita unduh.”

“Tetapi, Pakde, kenapa makanan dalam kenduri di kelurahan dan di pemakaman Sunan Pojok saat bersih desa, sedekah bumi, selalu diperebutkan jika akhirnya hanya jadi bahan untuk saling lempar? Bukankah itu menyia-nyiakan rezeki, bukankah itu pemborosan?”

“Itu harus kaumaknai sebagai simbol pencapaian keserbamelimpahan rezeki. Itu juga mengandung makna bahwa sebagian dari rezeki kita bukanlah milik kita, tetapi harus kita kembalikan kepada Sang Pemilik Asali. Nah, dalam pemahaman kaum petani, itulah tanah, alam, bumi tempat kita berpijak dan beranak-pinak. Tak ada pemborosan, tak ada penyia-nyiaan dalam dunia bercocok tanam, Gus,” ujar lelaki teguh yang pengkuh itu.

“Alam mempunyai hukum tersendiri, Gus. Itulah hukum alam. Dan kaum tani hidup selaras atau menyelaraskan diri dengan alam, dengan hukum alam. Petani yang tidak memahami petungan, penerjemahan hukum alam, bukan petani sebenar-benar petani. Tani utun tahu benar segala rezeki datang dari alam. Jadi, ingat Gus, tak akan pernah petani memperlakukan tanah dan air secara semena-mena, tak akan pernah petani mencederai alam. Mereka selalu ngerti wates, tahu batas.”

“Apakah karena itu, Pakde, pada setiap tahap penggarapan tanah petani selalu memulai dengan upacara? Di desa-desa sekitar Waduk Tempuran, Pakde, ada upacara ngalungi sebelum sapi dan kerbau digunakan untuk membajak tanah. Bukankah setiap kali hendak macul, malik lemah, ngluku, nggaru, nyebar wineh, matun, panen selalu ada kenduri?”

“Ya, itulah wujud syukur mereka, Gus. Itulah cermin bahwa kaum tani selalu memperlakukan tanah, air, dan hewan sebagai mitra kerja.”

Ketika perkara itu saya ceritakan, kawan saya, Irin Winachto, bergumam, “Kearifan semacam itu bukan cuma saat mereka menanam, melainkan juga saat menuai. Sapa ora nandur, ora bakal ngundhuh.”

Menurut pendapat pegiat seni ekologi itu, itulah nilai moral dan etika kaum tani. Hidup selaras dengan alam dan mengambil secukupnya sesuai dengan kebutuhan. “Di berbagai daerah di Jawa Tengah, seseorang yang lapar dalam perjalanan bisa mengambil singkong di ladang orang, tanpa minta izin. Namun orang itu akan memotong pohon singkong yang tercabut menjadi beberapa kerat dan menancapkan ke kembali tanah. Dengan harapan, pokok itu bertunas sebagai ganti singkong yang diambil. Itu juga bermakna simbolis: tidak mengambil sesuatu, tanpa meninggalkan pengganti,” ujarnya.

“Orang-orang itu juga tidak akan ramban, memetik, daun singkong dengan mematahkan pucuk dahan. Karena sekali pucuk dahan itu patah, singkong bakal berasa pahit. Sekali pucuk dahan singkong terpatahkan, baik sengaja maupun tidak, selama pohon masih hidup, orang hanya akan memanfaatkan daunnya sebagai rambanan. Nah, ketika singkong dipanen, ubi dari pohon yang terpatahkan pucuk dahannya akan dijadikan pakan ternak, tidak dijual untuk dikonsumsi orang.”

Sang pematung itu menuturkan, di kawasan Gunungpati, Kota Semarang, siapa pun tak akan mengambil buah durian yang terjatuh di pekarangan orang lain. Sekalipun setumpak tanah tempat tumbuh pohon durian itu jauh dari permukiman. Pohon mateng wit itu “hak” pemilik pohon.

Itulah contoh kearifan (“tradisional”), yang boleh jadi telah terkikis “kemodernan” zaman. Simpulan kasar soal “kemodernan” itu pula yang melejingkan ingatan saya pada perbincangan dengan seorang petani di Delanggu, Klaten. Mas Marno, begitulah namanya, dengan kegeraman tertahan berkata, “Saya menanam racun di tanah beracun. Jadi, Dik, sesungguhnya apa yang tumbuh dan saya panen dari tanah ini adalah racun.”

Saat itu, sepuluh tahun lalu, saya tergugu. “Semuram itukah?”

“Ya!” sahut Mas Marno. “Menanam padi varietas apa pun sekarang ini, Dik, itu racun. Setiap varietas padi yang kita tanam memiliki pola tanam dan pemupukan tersendiri. Kesamaannya, semua satu paket: serbapestisida. Bukankah pestisida racun? Bayangkan, pupuk pestisida, pengendali hama pestisida. Nah, tanah ini sudah sangat kenyang pestisida, tetapi yang masih akan terus-menerus tergantung pada pestisida. Apa yang terjadi? Tanah berubah menjadi racun dan segala apa yang kita tanam dan panen dari tanah pun sesungguhnya racun.”

Sampai di sini, saya termangu. “Kearifan lokal-tradisional” kaum tani, yang rural, ndesa, sesungguhnya lebih memperlihatkan kerendahhatian, lebih mencerminkan sikap dan pengungkapan sikap syukur kepada Sumber Segala Sumber Kehidupan. Namun, apakah justru karena itulah mereka “gampang” diposisikan terus-menerus sebagai “korban” pembangunan: tergilas modernisasi, industrialisasi, kapitalisasi-komodifikasi? Celaka, merekalah yang menanam, tetapi justru kerap kali bukan mereka yang menuai. Jadi, tak ayal, sampai kapan pun agaknya mereka harus tetap bergumul dengan lumpur dan terus-menerus terendam lumpur. Masya Allah!

 

Minggu, 5 Desember 2004

 

4 Comments to "Edan-edanan (19): Sapa Ora Nandur, Ora Ngundhuh"

  1. Dj.  3 April, 2012 at 01:14

    Kang Putu….
    Terimakasih untuk artikelnya yang bagus.
    Rupanya, hukum yang ada, kok sama dengan yang ada di Jerman…
    Kalau diperjalanan, orang boleh ambil buah yang tanam orang hanya untuk sekedar menenangkan rapas dan orang Jerman katakan ” MUNDRAUB ”
    Kalau yang didesa, petani malah setiap tahun ke 7 tidak menanami tanahnya, mereka memberi tanah tersebut untuk beristirahat. Dan apa yang tumbuh di tahun ke 7 itu boleh orang lain ambil. Jadi ditahun ke 7. petani harus makan dari yang ditabung selama 6 tahun.
    Sayang jaman bertambah modern, banyak petani yang tidak memlakukannya lagi.

    Salam Sejahtera dari Mainz..

  2. Linda Cheang  2 April, 2012 at 21:59

    renungan yang berhasil membuatku berpikir…

  3. Chadra Sasadara  2 April, 2012 at 12:15

    Mas Putu mengingatkanku pada penelitian irigasi yang dibiayai Mas Handoko tujuh tahun di Lampung. tks Mas atas artikelnya yang sarat makna

  4. J C  2 April, 2012 at 10:38

    Sekali lagi Kang Putu mengajak kita untuk berpikir dan merenung. Mantap dan bagus sekali tulisan ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.