Rok Mini

Nyai EQ di dalam lemari pakaian

 

Akhir-akhir ini marak sekali status dan ulasan-ulasan di fesbuk dan situs lainnya tentang rok mini. Ada apa dengan rok mini, kok mendadak jadi sedemikian terkenalnya?

Ah, sebenarnya ya tidak ada apa-apa kalau mentri agama Republik Indonesia ini tidak mencetuskan kalimat yang “lucu”, yang melarang perempuan mengenakan rok mini, yang mengharuskan perempuan mengenakan rok di bawah lutut. Yang bilang kalau rok mini bisa bikin birahi laki-laki naik, terjadi perkosaan dan apa sajalah yang ada hubungannya dengan sexual activity.

(http://news.detik.com/read/2012/03/28/121648/1878745/10/menag-rok-perempuan-harus-di-bawah-dengkul dan http://www.dailymail.co.uk/news/article-2121995/Indonesia-ban-mini-skirts-make-men-things.html)

Saya kok jadi tersentil pengin nulis, ketimbang saya cuma nulis sedikit-sedikit di komen fesbuk, mendingan sekalian saja saya nulis artikel. Jadi semua yang ada di otak saya bisa tertuang habis, dan lega.

Rok mini….hmmm…..

Rok mini itu sebenarnya yang bagaimana sih ?

Menurut yang saya baca, rok mini itu adalah rok yang panjangnya/tingginya beberapa sentimeter di atas lutut. Jadi bisa saja rok yang panjangnya 3 cm di atas lutut itu disebut sebagai rok mini. Jadi tidak harus rok yang panjangnya hanya sekian sentimeter dari pangkal paha yang bisa disebut sebagai rok mini.

Rok mini mulai terkenal dan menjadi trend pada tahun 1960. Namun sebenarnya sudah sejak tahun 5400-4700 SM, di sebuah pegunungan yang tinggi di Eropa, para arkeolog menemukan sisa-sisa sebuah perkampungan kuno dengan beberapa fosil figurin perempuan yang diketahui mengenakan rok mini. Tentu saja rok-rok mini ini tidak dikenakan sebagai pakaian yang “in fashion” tapi sebagai pakaian sehari-hari, atau pakaian adat mereka. Jadi merupakan pakaian yang umum.

Dan selama berabad-abad kemudian pakaian yang kecil mungil  dan seksi dengan sedikit bahan ini memberikan banyak cerita, antara liberasi dan eksploitasi, kekuatan dan kelembutan, kemandirian dan kesenangan, tiba-tiba menarik perhatian—menyingkap apa yang sempat disembunyikan : paha perempuan !

Pada pertengahan tahun 1800, para perempuan (khususnya di Eropa dan Amerika) merasa menjadi lemah dan rawan, baik dalam hal politik, ekonomi dan hampir disegala segi aktivitas fisik. Untuk mengantisipasi bahaya-bahaya yang kemungkinan bisa terjadi, mereka kemudian membungkus tubuh dengan korset dan pakaian yang panjang, serba tertutup. Bahkan kemudian menggunakan rok panjang yang menggunakan begitu banyak bahan kain.

Rok para wanita di tahun 1800

Namun kemudian, pada sekitar akhir Perang Dunia I, rok perempuan mulai “naik” menjadi sebatas lutut. Dan setelah masa-masa perang benar-benar berakhir, para perempuan mulai memikirkan diri sendiri untuk menjadi lebih menarik dan terlihat feminin. Industri fesyen memperkenalkan apa yang disebut sebagai “New Look”, persembahan Christian Dior, dimana batas rok tidak lagi menutupi tumit.

New Look—Christian Dior (1949-1955)

Sebelum tahun 1960, para remaja boleh dibilang tidak memiliki trend mode sendiri. Mereka mengenakan pakaian sesuai dengan selera ibu-ibu mereka. Sebagai contoh, pada akhir tahun 1962, dalam katalog Sears, diperlihatkan foto seorang remaja putri yang mengenakan pakaian sangat mirip dengan pakaian ibunya. Bahkan jika menengok ke belakang, di tahun 1950an, seorang disainer Inggris, Sally Tuffin menyatakan bahwa tidak ada pakaian untuk para remaja (putri) sama sekali, sebab yang ada adalah pakaian yang mirip dengan milik ibunya.

Ibu dan anak perempuans di tahun 1955an

Namun demikian, sejak tahun 1960an, para kaum muda mulai banyak mengadakan protes dan menuntut adanya mode yang sesuai dengan kemauan mereka.

Bahkan kemudian di tahun 1960an, terlihat munculnya hukum yang melindungi para perempuan, baik yang menikah maupun para janda. Dan kemajuan yang paling penting adalah munculnya pil KB, yang menghilangkan ketakutan akan kehamilan. Perempuan tidak lagi dipandang hanya sebagai istri dan ibu, namun secara dramatis berubah menjadi perempuan yang muda, single, perempuan yang bebas dan bangga dengan kondisi seksualitas mereka dan percaya diri dengan kekuatan mereka. Dan rok mini mengekspresikan—serta menjadi alat—untuk menunjukkan adanya perubahan gerakan perempuan tersebut. Para kaum muda menjadi kekuatan terbesar dalam perkembangan fesyen dunia.

Pada tahun 1955, seorang disainer Inggris, Marry Quant, membuka sebuah butik di King’s Road (tempat di mana para mod dan roker berkumpul untuk jala-jalan). Hanya dengan pengalaman dan pengamatan sepanjang jalan, butik Quant berkembang dan banyak membuat koleksi-koleksi yang “berbeda”. Pada tahun 1965, Quant membuat rok dengan panjang beberapa sentimeter di atas lutut. Sejak saat itulah, ikon rok mini muncul. Rok mini atau miniskirt disebut dengan mengambil nama mobil favorit Quant : The  Mini. Rok mini Quant menuai sukses dengan luar biasa. Menjadi simbol dari spirit London di pertengahan tahun 1960an : enerjik, muda, bebas, revolusioner dan tidak lagi terkesan kuno.
Jika Marry Quant disebut sebagai Mother  of  Miniskirt, maka di Perancis muncul Andrè Courrèges sebagai The  Lord  of Miniskirt. Sedikit berbeda dari Quant, rok-rok mini Courrèges dibuat dengan selera yang lebih matur dan elegan, sehingga mode ini diterima oleh kalangan atas mode Perancis.

Rok mini Marry Quant (1964)

 

Rok mini Marry Quant yang dijadikan disain perangko koleksi

 

Rok mini karya Andrè Courrèges yang terkenal juga dengan trend sepatu boots-nya sebagai paduan

Rok mini mulai merambah ke negara-negara lain. Hal ini juga disebabkan karena rok mini sangat mudah dicuci, praktis dan ringan, yang membuat para kaum muda (yang sangat sibuk) menyukainya. Rok mini juga dipopulerkan oleh seorang model terkenal Jean Shrimpton. Dia mengenakan rok mini tanpa stoking, kaos tangan dan topi, pada perayaan Melbourne Cup Festival, Australia (1965). Yang menarik dari foto Jean Shrimpton adalah karena di belakangnya terlihat sekelompok perempuan usia pertengahan yang menolak rok mini, mereka mengenakan pakaian yang “pantas”   dengan topi dan perhiasan mutiara.


Jean Shrimpton dengan rok mininya di acara Melbourne Cup Festival (lihat para wanita di belakangnya)

Ironisnya, mode rok mini juga diidentikkan dengan mode “anak sekolah”. Sebab di Inggris mode rok mini sebagian besar dikenakan oleh para perempuan usia 15 tahunan dan para model yang kebayakan berbadan kerempeng dengan kaki yang panjang. Namun demikian panggung fesyen di Inggris kemudian dipenuhi oleh model-model berpakaian mini.

Bahkan kemudian ketika Twiggy yang memiliki model rambut cepak dengan bibir pucat dan sangat kurus mulai mengenakan baju berpotongan mini dan ketat, model ini menjadi semakin populer.

Tahun 1970an, seorang penyanyi rock perempuan Debby Harry yang lebih dikenal dengan nama Blondie, mulai mengenakan rok mini di panggung.

Terinspirasi oleh mode kaum punkrock di tahun 1970an, disainer Vivienne Westwood dan Malcom McLarren menciptakan rok mini dengan bahan kulit hitam dan PVC.

Rok mini yang dibuat dari kulit

Tahun 1980 sampai awal tahun 1990, imej rok mini tidak lagi seperti rok anak-anak dan perempuan yang berbadan tipis, tapi mulai dilirik sebagai pakaian “wajib” bagi para perempuan aktif, ekslusif dan perempuan yang bergerak di dunia bisnis. Aktris TV terkenal Carrie ( Sex and the City ) dan Heather Locklear (Melrose Place) mempopulerkan rok mini sebagai pakaian yang seksi sekaligus cerdas (smart). Rok mini bukan lagi sebagai pakaian para remaja dan perempuan kurus berkaki panjang, namun juga sebagai pakaian yang menunjukkan kekuatan dan kecerdasan wanita usia 30an yang matang dan sibuk sebagai wanita karir. Bahkan kemudian juga dipakai oleh para olahragawati, khususnya untuk olah raga tennis dan badminton. Rok mereka di buat oleh para disainer handal.

Rok mini sebagai pakaian kerja para perempuan aktif

Sejauh itu, rok mini bisa diterima di negara-negara barat. Namun tidak semua negara di dunia ini bisa menerimanya. Sebagai contoh, di Rusia, seorang ayah menyewa pembunuh untuk membunuh anak perempuannya yang berusia 21 tahun, karena menolak melepaskan rok mini. Anak perempuan tersebut diculik, dan kemudian ditembak kepalanya di jalanan. Dan sang ayah membayar sekitar US $ 3000 kepada para pembunuh. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2009.

Nah, sekarang kembali ke Indonesia.

Sebenarnya jenis rok mini sudah dikenal di Indonesia (Jawa khususnya), yaitu kain-kain jarik yang dipakai anak-anak, dibebatkan sampai pada batas lutut (sayang saya tidak berhasil mendapatkan gambarnya). Memang tidak semini jaman sekarang, yang kadang-kadang hanya sekian sentimeter dari pangkal paha, namun cukup pendek.

Dan jaman sekarang rok mini makin marak disain, ukuran dan bahannya.

Yang aneh adalah ketika pak mentri agama menyoal rok mini. Sedangkan di Indonesia ini masih banyak kerusuhan antarumat beragama, kok ya sempat-sempatnya ngurusin soal rok mini. Lebih lagi ketika pernyataan itu ada hubungannya dengan aktifitas seksual, libido yang naik, berahi tinggi dan iman.

Lha kok bisa-bisanya kaum perempuan yang disuruh menjaga mata dan iman para laki-laki…..

Jaga anak: perempuan. Jaga rumah tangga: perempuan. Jaga aurat: perempuan. Jaga mata laki-laki: perempuan. Jaga iman laki-laki: perempuan. Lha kok semuanya perempuan? Yang punya mata dna iman khan para laki-laki, ya dijaga sendiri dong, jangan minta perempuan yang njagain. Segitu lemahnya kah para laki-laki sampai menjaga mata dan imannya sendiri gak bisa.

Dan lagi, sebenarnya bukan rok mini saja yang bisa bikin birahi laki-laki naik. Bagaimana dengan bibir yang seksi, mata yang menggemaskan, jari tangan lentik, gerak yang menggairahkan, suara yang seksi, rambut yang aduhai, pinggul yang mantap, kaki atau leher yang jenjang. Pak mentri lupa kalau perempuan itu punya banyak “barang bagus”.

Kalau mau mengacu dari itu semua, bisa-bisa semua perempuan diharuskan memakai pakaian model box kulkas yang menutup ujung jari kaki sampai ujung kepala.

Bagaimana kalau para lelaki itu diajari untuk menghormati  dan menghargai kelebihan para perempuan, tanpa melecehkan dan menganggapnya sebagai godaan atau aib yang harus ditutup. Dengan begitu, mereka (para lelaki itu) juga akan belajar menghormati dan menghargai diri sendiri.

Belum lagi kalau kita mau jalan-jalan ke “pedalaman” desa di Gunung Kidul, di mana para perempuan usia pertengahan yang masih gagah dan sehat duduk mekokok, menyingkap rok, berkutang saja karena bajunya disampirkan di pundak, sambil gosok-gosok kaki dan ngobrol ngalor ngidul, dengan para tetangga yang masih nyangking pacul, entah itu tetangga perempuan atau laki-laki, sambil merokok kretek dan kebut-kebut kepanasan.

Lalu bagaimana para pendidik agama itu bisa menyodomi dan memperkosa murid-muridnya. Saya yakin kalau murid-murid tersebut tidak ada yang mengenakan rok mini satu pun. (apalagi kasus sodomi, korbannya khan anak laki-laki). Jadi kesimpulannya bukan rok mini yang membuat seseorang diperkosa, tapi memang otak para pelaku itu yang tidak beres. Apapun yang dipakai, tidak menjadi alasan. Bahkan kadang-kadang usia pun juga tidak menjadi batasan. Seseorang bisa saja memperkosa nenek-nenek tua hanya karena si pelaku melihat sang nenek jongkok pipis sambil mengangkat sebagain jariknya. Nah !! pak mentri tahu gak itu…?

Lalu bagaimana jika roknya panjang sampai menutupi tumit, tapi blusnya seksi…..seperti ini misalnya:

Atau panjang tapi transparan seperti ide mbak Dewi Murni:

Kalau saya tidak salah, departemen ini juga yang pernah meributkan soal keperawanan perempuan.

Sungguh saya heran, kenapa sih departemen agama yang harusnya mengurus para umatnya agar rukun, damai dan hidup berdampingan kok malah sibuk ngurusin perempuan.  Lagi pula dia itu membuat pernyataan seperti itu dirapatkan gak ya? Soalnya kalau benar-benar itu Departemen Agama, mestinya khan tidak hanya diukur dari satu macam agama saja. Atau jangan-jangan itu hanya ke-galau-annya saja. Melihat para perempuan memakai rok mini, begitu cantik, seksi dan mempesona, membuatnya gundah gulana, lalu terbitlah pernyataan yang jadi joke-of-the-year itu….

Bagaimana jika departemen ini diganti saja menjadi Departemen Urusan Perempuan. Saya kira malah lebih cocok, dan mentrinya akan lebih leluasa mencari bahan untuk mengurus para perempuan. Tapi perlu diingat, bahwa kodrat perempuan itu adalah menjadi mahluk yang kuat, tangguh, cantik dan seksi !

Wanita itu tidak lagi Wani ditata (berani diatur), tapi Wani Nata (berani mengatur). Setidaknya mengatur tubuhnya sendiri.

Dan selama ini saya belum pernah tahu ada mentri agama perempuan. Mungkin kalau mentri agamanya perempuan, akan muncul urusan-urusan soal laki-laki. Bagaimana jika laki-laki tidak boleh cuma oblongan dan pakai celana kombrang, atau laki-laki tidak boleh mbligung, cuma sarungan saja. Ini tidak akan bikin perempuan birahi sih, tapi menjaga mata dan perasaan perempuan supaya tidak jadi ilfeel dan susah makan.

Diatur juga supaya para pria tidak memakai jeans dengan atau tanpa kaos ketat yang memperlihatkan “auratnya” sehingga terlihat seksi dan membuat iman para perempuan goyah.

Nah, model-model kayak mas Christiano khan jelas mengganggu iman para perempuan. Itu harus ditertibkan juga dooong.

Saya sendiri adalah penggemar rok mini. Tapi memang saya akui, sejak saya tinggal di Indonesia, memakai rok mini adalah hal yang langka bagi saya, karena mobilitas saya tinggi dan kendaraan saya adalah seperda motor, sehingga kalau memakai rok mini akan sangat ribet. Jadi kadang-kadang saya akali, saya pakai celana panjang, sementara rok mininya disimpan di tas. Begitu sampai di tempat tujuan, saya ganti kostum…tapi sekali lagi itu jadi cukup ribet.

Kalau sedang ada acara dan menggunakan mobil, tentu saja saya akan dengan senang hati mengenakan rok mini saya. Bagi saya, yang kata teman, saya punya kaki jenjang dan bagus, memakai rok mini adalah kesenangan tersendiri, saya merasa cantik, seksi, dan kuat. Apalagi kalo dipadu dengan sepatu boot tinggi atau high heels. Bahkan jika itu dipadukan dengan knickers atau sepatu sandal model romawi.

Rok mini itu lucu, tidak bikin gerah dan mudah mencucinya. Jadi, mau pakai pakaian seperti apa pun, asal gak saltum (salah kostum), pasti asyik dan menyenangkan. Dan marilah kita jaga mata dan iman kita masing-masing supaya tetap pada tempatnya. Gak usah ribut minta orang lain yang jaga’in.

Saya dan rok mini (memenuhi janji saya pada kang Anoew)—sebagian dari koleksi saya :D

 

92 Comments to "Rok Mini"

  1. Swan Liong Be  6 March, 2014 at 17:58

    @Dicky Wang: Seks bebas (berzina) juga merupakan dosa dalam agama kristen, bukan hanya bagi agama islam. Tapi koq kaum perempuan yang harus diatur boleh pakai pakaian apa. Apa kaum lelaki itu disamakan dengan binatang , hanya “instinkt” yang berlaku, seperti kaum lelaki tidak bisa mengendalikan diri. Ini bukan pelecehan agama tertentu melainkan melecehkan martabat kaum perempuan.
    Btw, kamu pribadi mempermasalahkan seks bebas atau tidak?

  2. dicky wang  6 March, 2014 at 16:48

    Gue berani jamin, lo pasti org yg tidak mempermasalahkan seks bebas, iya kan? Lha kalo di agama islam seks bebas (mereka menyebutnya berzina) itu adalah perbuatan dosa yg sangat besar, sebanding dgn pembunuhan, oleh krn itulah agama islam melarang keras umatnya yg perempuan utk tidak mengumbar auratnya, dosanya tidak kecil/ringan tuh, dan mewajibkan mereka utk menutup auratnya agar perbuatan seks bebas bisa terhindarkan. Kalo ttg perkosaan, yaa samalah gak ada bedanya dgn org bepergian ke tempat umum yg banyak org miskinnya (apalagi yg rawan kejahatan) dgn membawa dan memperlihatkan barang2 yg mahal2 (kalung, gelang, cincin, permata,….????dll). Kalo sampai ada yg merampoknya kira2 wajar gak???? Berpikirlah kawan! Kalo lo bkn seorg muslim ya setidaknya hargailah mereka dan jgn melecehkan ajaran mereka. Apalagi perilaku seks bebas kan secara etika sopan santun juga adalah perbuatan yg tidak baik kan??? Iya kan??? BERPIKIRLAH KAWAN dan jgn melecehkan org lain!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.