[Serial Masa Terus Berganti] Gadis Baju Biru Pemain Sitar

Dian Nugraheni

 

Langit mengabu, mendung sepenuhnya menyeliputi langit Virginia kota, ketika aku terdiam melamun. Tiba-tiba aku seperti melihat diriku sendiri di masa lalu, sebagai anak perempuan kecil yang tak sepenuhnya “perempuan”, karena waktu itu, mungkin usiaku sekitar 3 tahunan, Mbah Kakungku selalu membawaku ke tempat Pak Ranu, tukang cukur khusus laki-laki yang mangkal di bawah pohon Asam untuk memangkas rambut.

Aku selalu “mbegot”, memberontak, menggeleng keras, dan berteriak, “emmmmooooohhh…,” ketika Mbah Kakungku sudah memberi aba-aba, “ke tempat pak Ranu yok.., nanti habis itu Kakung belikan Kesemek di pasar…” Itu tandanya rambutku sudah “panjang”, untuk ukuran anak lelaki. Tapi kan aku perempuan, sungutku dalam hati waktu itu. Tapi Mbah Kakungku bertubuh kekar dan kuat, aku tak berkutik ketika dia memondongku di dadanya dan membawanya ke tempat Pak Ranu.

“Weehhh, sini, Nduk.., cah ayu, rambutmu sudah panjang yaa, cukur yaa, supaya nggak banyak kutunya,” berkata begitu, Pak Ranu mendudukanku di kursi yang ada sandarannya, menyelempangkan kain penutup yang melindungi seputar leher ke bawah tubuhku. Aku menatap cermin usang yang dicantelkan pada sebuah paku yang ditancapkan pada pohon Asam, kulihat tampangku begitu kesal,njaprut.Aku sudah tak bisa melawan lagi.

Angin siang yang semilir mendesau-desau berkerisik bersama dedaunan pohon asam, alat cukur yang seperti sebuah benda dingin berjalan-jalan menyusuri rambutku, dan gerakan jemari tangan Pak Ranu yang menjurai-jurai di kepalaku terasa seperti belaian. Sebentar kemudian aku sudah tertidur pulas di kursi cukur Pak Ranu. Tentu saja Mbah Kakungku akan menopang kepalaku, hingga Pak Ranu selesai mencukur rambutku, menjadi tinggal sepanjang satu senti, dan menyisakan sebuah kuncung di ubun-ubun. Setelah itu, pastilah Pak Ranu akan menyikat kepala dan leherku agar terbebas dari sisa rambut yang dipotong, dan kemudian membubuhkan bedak talek agar aku tidak merasa gatal sehabis cukur. Kedua adegan itu  sudah tak lagi aku rasakan. Dalam keadaan tidur pulas itu, Mbah Kakungku akan kembali memondongku pulang, dan menggeletakkanku di kasur di kamarku.

Biasanya, sore hari ketika aku bangun tidur, mandi keramas sehabis cukur, maka di meja makan sudah akan tersedia Kesemek, buah “Apel Jawa” yang berkulit oranye dan berbedak putih, entah dari mana buah itu mendapat bedak. Aku suka sekali makan buah Kesemek, segar dan manis.

Malamnya, kata Mbah Kakungku, “sudah jam delapan.., ayoo, bobok, nanti kalau kemalaman, malahkancilen lho, nggak bisa tidur…”

Aku hanya “kleyat-kleyot,” ngantuk sih, tapi nggak ada yang ngelonin, nggak ada yang nemenin tidur, karena Mbah Kakungku tentu akan asyik menulis sesuatu di kamarnya, dengan berpenerang sebuahteplok, lampu minyak yang agak besar dan cukup terang. Entah apa yang ditulisnya hampir setiap malam, mungkin syair lagu berbahasa Jawa, tembang, karena di sela-sela menulis, Mbah Kakungku sering memegang kertasnya dan “membaca”nya dalam bentuk sebuah nyanyian.  Mbah Utiku akan sibuk bebenah di belakang, sedangkan Ibuku, dia akan menggendong Kakakku yang usianya hanya terpaut sedikit denganku, karena kami sundulan. Yaa, ketika akan tidur, Kakakku lebih sering minta digendong Ibuku, untuk dilelo-lelo, dininabobokan,sambil “ngencut” jempol tangannya, karenanya, aku harus selalu mengalah agar Kakakku tidak rewel.

Maka hampir setiap malam aku melihat diriku glebagan, membolak-balikan badan, terbaring dengan sedikit resah, kesepian, karena tidur sendiri di kamar tanpa ada yang menemani. Biasanya aku akan menatap menerawang pandangan lewat lobang kecil-kecil kelambu putih yang mengkerukupi sebagian tempat tidur besiku. “Pintu” kelambu belum sepenuhnya ditutup, nanti Ibuku masih akan meletakkan Kakakku yang sudah tertidur di sebelahku.

Ketika setengah mengantuk, aku berbaring tengkurap agak ke pinggir kasur, dan entah darimana datangnya, ada seorang perempuan muda berbaju biru, berambut panjang, duduk bersimpuh membelakangi mukaku, sambil memainkan alat musik yang kedengarannya, dibunyikan dengan cara dipetik-petik. Suara alat musik itu sangat bening dan berirama, entah lagu apa yang sedang dimainkannya.

Tak ada keinginanku untuk menyapanya, tak ada rasa takut kepadanya, yang ada, malah, aku merasa ada yang menemani dan meninabobokan. Dan memang setelah itu, entah berapa lama, aku akan tertidur pulas hingga pagi. Aku rasa, suara musik itu yang pelan-pelan menyeret keterjagaanku menuju alam mimpi.

Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun. Sejak sangat kecil, aku memang biasa diam, lebih suka diam, dan lebih suka berbicara dengan hatiku sendiri. Setelah agak besar, baru aku tau bahwa Gadis Baju Biru berambut panjang yang sering datang untuk “meninabobokan” aku itu, memainkan alat musik yang bernama Sitar. Sitar adalah alat musik yang terbuat dari kayu dengan dawai-dawai menyerupai gitar, tapi orang akan meletakkan di lantai, dan bersimpuh ketika memainkan Sitar, bukan dipegang dan didekap seperti gitar.

Ketika sudah dewasa, bahkan sampai hari ini, ketika  aku terbayang kembali tentang hal itu, selalu timbul tanya pada diriku sendiri, siapakah dia gerangan, Gadis Baju Biru Pemain Sitar yang sering menemani menjelang tidur malamku..? Tak ada jawaban yang pasti…

Yang aku yakini hanyalah, dia adalah sesuatu yang dikirimkan Gust iAllah untuk menjawab pengangen-angen, harapan, seorang bocah kecil yang resah, kesepian, dan ingin dininabobokan ketika menjelang tidur malamnya…

Virginia,

Selasa, 13 Maret 2011, jam 7.09 sore,

Dian Nugraheni

(Awal Spring yang “weird”.., tiba-tiba saja sudah mencapai 72’F…, tahun-tahun lalu, awal Spring hanya mencapai suhu sekitar 50’F.., akibat Global warming-kah.., atau Gombal Warning…hixixixi…)

 

6 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Gadis Baju Biru Pemain Sitar"

  1. dian nugraheni  22 April, 2012 at 04:55

    NB: ohh yaa, istilah gombal warning itu saya dapat dari teman, dan setelah saya tanya, katanya itu adalah salah satu kalimat dalam kaos Dagadu, Jogjakarta, maksudnya, salah satu desain kaosnya ada yang tulisannya Gombal Warning…maaf bukan bermaksud mengambil tanpa ijin, cuma ngertinya barusan sih, telat nanya…he2…

  2. dian nugraheni  22 April, 2012 at 04:52

    teman2 baltyra yang aku sayangi, maaf nggaaaakkkk…sempet2 kalau mau nulis komen di sini, nahh, sekarang baru sempet deh…

    Terimakasih banyak, semua teman dengan apresiasinya…
    Sejujurnya, saya juga sangat suka dengan note saya yang satu ini…entah bagaimana, saya tiba2 melihat saya ketika usia 3 tahunan..bahkan saya ragu, apakah anak usia 3 tahunan sudah mampu menyimpan memori yang akan digali lagi ketika dirinya dewasa…tapi saya yakin bahwa saya belum 4 tahun waktu mengalami hal ini….

    Sekali lagi, makasih banyak ya teman2….salaaam….

  3. Linda Cheang  2 April, 2012 at 22:06

    gambarnya malah Guzheng sama Kecapi… asa teu nyambung.

  4. anoew  2 April, 2012 at 13:04

    Guardian Angel. Dulu waktu kecil pernah juga ditemani kalau pas mau tidur, sekarang sih lain lagi yang menemani meskipun bukan ‘angel’

  5. anoew  2 April, 2012 at 13:02

    Malaikat pelindung, ada di hati orang yang tidak memikirkan rok mini. (Halah kok bisa nyangkut rok mini tho?)

  6. J C  2 April, 2012 at 10:37

    Cerita yang apik dan memikat. Aku suka banget gaya Dian bercerita dalam [Serial Masa Terus Berganti] ini…enak penuturannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.