Jia Pu – The Root from the Past

JC – Global Citizen

 

Tanggal 4 April 2012 besok sebagian orang Tionghoa akan merayakan Hari Ceng Beng – demikian sering disebut di Indonesia yang mendapatkan pengaruh kuat dialek Hokkian. Orang Hokkian merupakan imigran Tionghoa terbanyak di Indonesia. Di negeri aslinya disebut Qing Ming, yang terdiri dari dua huruf QING () dan MING (). Yang berarti dan melambangkan terang dan bersih. Qing berarti bersih, resik, sementara Ming berarti terang. Kalau keduanya digabung akan berarti bersih dan terang, kalau dalam bahasa Jawa bisa disebut “padang njingglang”, terang benderang.

Ceng Beng merupakan salah satu dari tiga perayaan terpenting sepanjang tahun. Yang pertama adalah Tahun Baru Imlek, kedua adalah Ceng Beng dan ketiga adalah Chit Gwe Pua. Yang terakhir, Chit Gwe Pua dikenal dengan nama aslinya Gui Jie (鬼节) yang jatuh pada bulan ke 7 penanggalan Imlek, sehingga disebut Chit Gwe Pua, istilah dalam dialek Hokkian yang berarti Pertengahan Bulan Tujuh, yaitu Sembahyang Arwah.

Nama resmi Ceng Beng dalam bahasa Inggris disebut dengan Tomb Sweeping Day yang tepat sekali menggambarkan aktivitas pada hari itu, yaitu membersihkan pemakaman, mempersembahkan sesembahan (makanan, buah) dan mengirimkan uang, pakaian, dsb untuk para mendiang (leluhur atau orang tua). Nama lainnya: All Souls Day, Clear Brightness Festival, Festival for Tending Graves, Grave Sweeping Day, Chinese Memorial Day, Spring Remembrance.

Makna perayaan Ceng Beng adalah penghormatan kepada orangtua atau leluhur kita. Dalam kesempatan ini saya ingin menurunkan tulisan tentang Jia Pu (家谱), secara harafiah berarti Buku Silsilah.

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

132 Comments to "Jia Pu – The Root from the Past"

  1. Lani  16 April, 2012 at 01:56

    ILHAMDULLILAH : wadoooooh……kemana aja to? lamaaaaaaaa sampeyan ndak mencungul disini………sibuk kerja? ato kesibukan lainnya? kangeeeeeen je……

  2. ilhampst  15 April, 2012 at 19:39

    Kalau saya cuma tau sampai 5 generasi diatas saya. Cuma bentuknya lembaran, bukan buku seperti ini. Tulisannya juga campuran huruf Jawi dan tulisan latin.
    Memang menarik mengetahui latar belakang dan leluhur kita

  3. Ouw Djiam Biauw  13 April, 2012 at 08:59

    Iyyaa Lani ,omaku lahir di Ambarawa dengan nama Tan Ien Nio dan opaku Liem King Goan yg lahir di Tuban berusaha waroeng istilah kerennya dan P&D disebut zaman Belandanya dan beranak 3 laki2 dan 1 perempuan,ini saya dengar dari paman yg tinggal di Semarang,Liem Hoo Bing sekitar thn 80an ,kini semuanya telah berpulang dan besok lusa Sabtu berusaha mau menulusuri sampai dimana kebenarannya,mungkin masih tertinggal family di Salatiga yg sedikit banyak bisa di interview.Salam dari Cengkareng

  4. Lani  13 April, 2012 at 04:56

    ODB : lo…..ini jg ada jg yg bermarga TAN……jgn2 kita sedulur hehehe……..yo emboh sedulur soko endi, silsilahnya gimana ndak tau…….yg jelas mamaku ber marga TAN……..dirunut njur seduluran kabeh………

  5. Ouw Djiam Biauw  12 April, 2012 at 21:48

    Suhu JC,makanya mau menyelidiki besok lusa,kalau ada kecocokan dengan nama2 dalam silsilah anda akan saya beritahu,jadi bener2 saudara jauh satu di BSD dan satu lagi di Florida,mudah2an undangan mas ISK bisa keturutan kan nanti jadi saudara dekat

  6. J C  12 April, 2012 at 16:54

    Oom OB: wah, jangan-jangan juga ada bau-bau saudara jauh. Mama saya kelahiran Ambarawa, makco, kongco, emak, engkong, saudara-saudaranya memang masih ada di Ambarawa dan Salatiga juga. Terima kasih sudah mampir, Oom…

  7. Ouw Djiam Biauw  12 April, 2012 at 15:31

    Suhu JC,sungguh kebanggaan tersendiri masih bisa melihat nenek dan kakek moyang kita.Saya pernah mendengar bahwa silsilah keturunan saya diberikan kepada paman saya yg kedua,karena dari istri pertama tak mempunyai anak,dan sang paman menikah lagi dan ada anaknya laki2,kepadanyalah pasti silsilah keturunan dari garis bapak dimilikinya,Karena sang paman sudah meninggal dan anaknya waktu itu pernah saya jumpai saat berumur 7 thn sekitar thn 80an,tapi sekarang tak tahulah rimbanya dimana gerangan.Hanya cerita sana sini dari family bahwa kakek lahir di Tuban dengan nama Liem King Goan dan menikah dengan nenek Tan Ien Nio yg lahir di Ambarawa,mempunyai anak laki 3(salah seorang adalah ayah saya)dan satu perempuan,tinggal di Salatiga,dimana semuanya sudah berpulang kerumah Bapa.Makanya weekend ini mau napak tilas ke Salatiga dan Semarang dimana banyak dari family kakek bermukim

  8. J C  10 April, 2012 at 20:35

    Oh ya, sekalian tempel link youtube di sini, pembahasan yang sama dengan artikel ini:

    http://www.youtube.com/watch?v=5yWIZ6HNPHM

  9. J C  10 April, 2012 at 20:30

    Mawar: tengkyu sudah mampir ya. Wah, bisa dibayangkan betapa jengkelnya keluarga buku silsilah hilang begitu saja…

    Kumoratih Kusharjanto: terima kasih sudah mampir dan berkomentar, salam kenal!

    Nev: suwun sudah mampir…tidak ketinggalan lah…

    Silvia: lha siapa tahu emang saudara jauh… terima kasih sudah mampir ya…pola penulisan seperti ini khan aku belajar dari mas Iwan juga…

  10. Silvia  10 April, 2012 at 16:57

    Hai saudara jauh Keren banget pola yang dipakai untuk menulis ini.

    Lagi mikir serius nih mungkin beneran loh kita saudara jauh. Soalnya ipar papa dari Semarang dan marganya sama loh.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.