Mie Bakso

Ida Cholisa

 

“Ibu… mie baksonya tumpah… yang numpahin adik…” teriakan si Kakak mengejutkan tidur siangku.

“Bukan aku, Bu… tapi kakak yang numpahin…” balas si Adik tak mau kalah.

“Kamu yang numpahin…”

“Kakak yang numpahin, koq nyalahin aku…”

Suara berisik bersahut-sahutan memekakkan telinga. Tidur siangku pun tak nyaman lagi. Rasa kantuk yang beberapa waktu lalu menyerangku usai mengerjakan banyak pekerjaan rumah seketika musnah oleh teriakan-teriakan mereka.

“Mie yang tumpah dibersihkan, ya?” kataku sambil beranjak dari tempat tidur.

“Nggak mau, biar Adik aja yang bersihin,” jawab si Kakak.

“Ih… emang yang numpahin siapa? Nggak mau ah…” jawab si Adik.

Selanjutnya terdengar adu mulut mereka. Dengan menahan kesal kubiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Sekali-kali aku tak mau melibatkan diri pada pertengkaran kecil mereka hanya untuk melerai atau memberi peringatan pada mereka. Sudah terlalu sering aku melakukannya, tetapi mereka tak mau berubah juga.

Rumah tiba-tiba hening. Si kecil tengah menonton TV, sementara si Kakak bersiap menghabiskan hari libur dengan bermain kelereng di depan rumah.

“Kakak… sholat dulu…” teriakku.

“Iya…” ia menjawab singkat sambil membuka pintu ruangan depan.

“Sholat dulu…” kembali aku mengingatkannya.

Dengan bersungut-sungut bocah kecil kelas V SD itu pun menuju kamar mandi dan mengambil air wudu. Setelah menunaikan sholat ashar ia pun meneruskan permainan kelerengnya. Sore nanti, selepas maghrib ia harus mengikuti les di sebuah tempat. Minggu pagi tadi ia pun tak libur karena mengikuti les bola. Lumayan padat jadwal anak lelakiku, dan itu yang membuatnya tak mau kehilangan waktu bermainnya.

Aku menarik kursi merah di depan meja kerjaku. Kunyalakan laptop dan modem internet. Seperti biasa aku pun berselancar di dunia maya sembari menulis. Saat kutarik kursi merah mataku menangkap untaian mie bakso di atas sofa yang ada di dekatku. Rupanya mie yang terjatuh yang sempat menjadi penyebab pertengkaran anak-anakku masih berceceran di atas sofa. Tak satu pun di antara mereka yang mau membersihkannya.

“Dek, bersihkan sofanya, ya?” kataku pada anak terkecilku.

“Yang numpahin kan Kakak, bukan aku…” sahutnya acuh tak acuh.

Aku mengelus dada. Bisa saja aku membuang mie ayam yang bertelekan di atas sofa tersebut. Tetapi jika aku terus-menerus melakukan semuanya, kapan anak-anakku berlatih bertanggung jawab? Tidak, untuk kali ini aku akan sedikit keras demi kebaikan mereka.

Tak berapa lama anak lelakiku, si Kakak, pulang ke rumah. Seperti biasa sebelum mandi sore ia akan duduk di sofa yang menghadap televisi. Tiba-tiba ia berteriak.

“Bu… mie baksonya tumpah nih… sofanya kotor…”

Aku bergeming saja sambil terus meneruskan aktivitasku.

Si Kakak kembali mengulangi teriakannya. Kali ini aku angkat bicara.

“Bersihkan, ya? Nanti banyak kuman yang nempel di sofa ini lho…”

Mulanya ia cemberut sembari menyalahkan adiknya. Aku cuek saja. Begitu si Adik datang menghampiri, ia memerintahkannya untuk membuang mie bakso yang bertelekan di atas sofa tersebut.

“Dek… buang tuh mienya…” katanya.

“Nggak mau… kan Kakak yang numpahin…”

Adu mulut kembali terjadi. Beberapa menit kemudian mereka pun terdiam. Tiba-tiba suara si Kakak muncul kembali.

“Kita bersihin sama-sama ya Dek… kan kamu juga yang bikin aku numpahin mie bakso ini…”

Si Adik memonyongkan mulut, cemberut, sembari mengomel lirih. Ia segera bangkit mengikuti perintah kakaknya.

“Ya sudah, ayo bersihkan sama-sama…”

Mereka memunguti satu per satu mie bakso yang berceceran tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Setelah sofa bersih, kantong berisi mie bakso itu pun mereka letakkan di tempat sampah di ruangan dapur. Sesudahnya mereka pun duduk bersama di atas sofa yang telah bersih tersebut.

“Hm… sofanya bersih deh sekarang… nyamaaan….” celetuk si Adik.

“Iya ya Dek, ternyata kalau bersih itu enak, ya?”

Mereka duduk berhimpit-himpitan sambil tertawa cekikikan. Sesekali mereka adu jotos sambil tertawa berderai. Sesekali mereka bercerita ke sana ke mari.

Aku tersenyum menyaksikan ulah mereka. Hm, tingkah anak-anak. Ada kalanya mereka perlu dilepas dan dibiarkan menentukan sendiri tindakan terbaik yang mesti mereka lakukan. Bukan tak memerhatikannya, tetapi semata-mata agar mereka bisa belajar mandiri dan bertanggung jawab serta mampu menyelesaikan masalah sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada orang tua atau sekitarnya…***

 

13 Comments to "Mie Bakso"

  1. Ida Cholisa  7 April, 2012 at 22:04

    DJ; haha, ini imajinasi aja Mister, hehehehe….. thanks komennya ya….

    Mbak Dewi Murni, ini naskah mestinya jangan diposting dulu, lagi buat lomba, heheeh….

  2. Lani  4 April, 2012 at 03:06

    PAM-PAM : yg bener aje…itu bakso Happy..boss nya bernama JC hehehe….jd bukan baksonya Buto kkkkkkk

  3. Dj.  4 April, 2012 at 02:56

    Ibu Ida….
    Kalau Dj. simak dari cerita diatas….
    Bolehkah Dj. bertanya, berapa umur anak-anak ibu.
    Kalau masih kecil-kecil..
    1. Kok ibunya bisa tidur siang, siapa yang mengasuh anak-anak.
    Ini baru urusan mie bakso yang tumpah, bagaimana kalau sianak-anak mainan api dan rumah terbakar…???
    2. Ibu santai menyalakan laptop dengan tanpa menyelesaikan masalah yang ada.
    Apakah memang demikian pendidikan dirumah, dimana anak-anak masih kecil.

    Maaf, ini kok seperti tidiak bisa masuk diakal Dj.
    kami 35 tahun lebih berkeluarga dengan 3 anak dan tanpa pembantu, semua kami kerjakan sendiri.
    Tapi kami tidak mungkin bisa tidur sianag, kalau anak-anak ada dirumah.

    Sekali lagi, mohon maaf, karena benar-benar apa yang bisa kamai pikir.
    Semoga naka-anak ibu bisa cepat mendiri dan bijak.
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.