Milla…Kutuang Cintaku

Sugiyarti Ugie

 

” Panggil  aku Don aja, ya.” Pintaku pada Milla  gadis  yang duduk di sampingku  ketika makan siang di kantin.

” Bener, nih ? ” jawab Milla sambil memandangiku seolah memastikan, mungkin ia tak nyaman  memanggilku dengan nama saja, secara aku adalah seniornya di kantor ini.

” Iya, biar akrab, gitu. ” Kemudian kami kembali makan diselingi percakapan remeh -temeh atau tawa-tawa kecil Milla   demikian aku memanggil Pramilla Purbasariningtyas,  gadis  manis-ayu yang dekat denganku beberapa bulan ini.  Ada rasa gembira luar biasa yang aku rasakan setiap aku    berdekatan  dengannya.

Belum setahun  gadis manis berambut ikal  ini menjadi anggota baru kantorku  tapi  telah banyak menyita pikiran  alam bawah sadarku yang kusembunyikan dengan rapat.  Kadang aku mencuri-curi pandang ketika ia masuk ruangan untuk menyerahkan berkas yang harus di tandatangani Pak Cesar.  Hmmm.. Pramilla  terlalu manis  dan bening untuk tak ditaksir.

Dan aku yakin bukan hanya aku saja yang mengaguminya, ada banyak  laki-laki lajang lainnya di kantorku yang jelas-jelas menunjukkan rasa suka padanya, yang kadang membuatku cemas. Benar-benar cemas karena aku selalu merasa untuk bersaing dengan mereka adalah tak mungkin, atau kecil sekali kansku untuk menang. Tapi pesona Pramilla susah aku tepiskan. Ya Tuhan. . bantu aku. Berikanlah pengganti  setelah duka lara dan rasa sakit semenjak Lyta, kekasihku  pergi  tanpa pesan, entah kemana tak ada berita. Masih kuingat, awal kepergiannya   membuat aku tak bisa menatap matahari selama tiga bulan!

Sebelum dekat seperti ini, aku menyapa sekedarnya saja bila bertemu; ada ketakutan luar biasa bila Milla tahu perasaanku. Aku malu ! Walau hatiku menjerit ingin berlama-lama ngobrol atau berdekatan dengannya, tetapi selalu kutahankan.  Tetapi siang itu aku mendapat kebetulan atau keberuntungan  luar biasa, ketika jam istirahat tanpa setahuku Milla medekatiku yang asyik terpejam sambil bersenandung lagu Cinta Lalu-nya Armand Gigi.

……. kuberharap, kumenunggu…

          telpon aku..

“Hoi. .. Don. Menghayati betul. Ada  kisah nih? ” Kata Mila sambil menyenggol bahuku.

” Aduuh. . Milla, bikin aku kaget. Gak tahu, lagu ini seperti dibuat untukku, hehe…” Jawabku geragapan, antara senang, deg-degan dan terpesona. Wow, gadis semanis Milla  mendekatiku !

Entah siapa yang memulai akhirnya kami asyik berbincang-bincang tentang musik, film, buku-buku yang telah kami baca, dan remeh temeh lainnya. Sejak saat itu aku dekat dengannya, kata Milla aku teman yang paling nyambung dan membuatnya nyaman. Kadang aku main ke mejanya, atau sebaliknya. Di mana ada aku pasti ada Milla; begitu teman-temanku meledek kami.

Aku hanya senyum-senyum senang, tak ada yang mencurigai atau jealeous dengan hubungan kami. Kedekatanku mungkin dianggap  hanya sebagai teman tak lebih karena memang begitu aku  bersikap, aku tak mau Milla berubah sikap menjauh bila aku katakan apa yang aku rasa. Tetapi dengan seringnya aku bersama Milla anganku tak bisa aku kendalikan. Kubayangkan  bagaimana rasanya  menyentuh rambut tipis keningnya yang lembut, atau jemari indahnya memeluk erat pinggangku, suaranya yang bening mengisi hari-hariku.

Aduuh. …Gilaa..! Beginilah kalau hati dimabuk cinta.

Suatu hari, ketika waktu semakin  mendekatkan kami, Milla mengajakku main  ke rumahnya. Rumah yang asri dan menyenangkan, dengan taman kecil di bagian belakang.Selain bunga-bunga- an, dan tentunya anggrek kegemaran pemilik rumah, ada kolam kecil dengan ikan berwarna-warni, ada  ayunan yang mengingatkanku waktu aku masih TK, di sinilah kami berbagi cerita. Tahulah aku darimana Milla tumbuh dan dibesarkan, papa mamanya sangat mapan, maka tak heran kalau dirinya  terawat baik.

Milla menceritakan bahwa papa mamanya telah bercerai sejak ia berumur 11 tahun, Papanya  telah menikah lagi dan  tinggal di Perth.  Mamanya juga telah menikah lagi  5 tahun yang lalu dan ikut suaminya yang bertugas di Palembang. Milla tinggal di rumah ini yang merupakan hadiah papa kandungnya dengan seseorang yang telah dianggap Nenek dan adik laki-lakinya Krisna yang baru masuk kuliah.   Sambil tertawa kecil Milla berkata bahwa sering kali merasa kesepian dan terbuang. Mungkin karena terbawa suasana, entah ada kekuatan darimana aku ceritakan latar belakang keluargaku yang kelam atau tepatnya pekat.

Ayahku pergi tak tahu rimbanya sejak aku dalam kandungan, kemudian ibuku menikah lagi dengan seorang laki- laki pemalas dan tukang main pukul, Ibu dan Loli kakak perempuanku seolah sandsack untuk latihan tinju setiap hari, dan tak cukup bagi keparat itu ketika suatu siang sehabis menghajar Ibu, kulihat malam harinya   ia mengendap memasuki kamar Loli  dengan  muka beringas, aku ketakutan dan menangis  sangat keras. Tapi karena tangisku si iblis itu bisa diusir dari rumah oleh pak RT.Tak kusadari mataku basah, dan Milla menghiburku dengan kata-katanya yang lembut. Suara manisnya terasa dekat dengan telingaku. Aku merasa nyaman dan damai. Plong.

Siang hampir ludes dirampok hujan, tak kusangka Milla datang ke kostan dengan rambut yang sedikit basah, katanya ia ingin ngobrol denganku yang telah dianggap teman dekatnya. Hatiku berdebar tak menentu melihatnya tampak seksi dengan hem kotak-kotak pink dan jeans ketat membalut kakinya. Daya tariknya tak pernah pudar walau hampir  setiap hari kita bertemu, selalu ada keinginanku untuk menyentuhnya, menyatukan tubuhku dengan tubuhnya, atau sekedar membelainya. Ada kengerian dalam hatiku karena aku akan  tak kuasa meredam gejolak ini.

” Don, aku kangen mama. ” katanya dengan mata sedih  luar biasa.

Tiba-tiba ia memelukku, harum tubuhnya membuatku merinding  makin tak menentu.  Kubelai rambutnya, dan lama ia memelukku erat penuh rasa. Kubisikkan kata-kata bujukan untuk dapat membuatnya tenang.  Tak lama kemudian ia menjadi tenang   dan  menyandarkan  kepalanya di pangkuanku dengan manja.  Aduuh… wajahnya bening,benar-benar innocent, membuat jantungku nyaris copot. Di luar akal sehatku dengan  reflek tanganku menyelusuri pipinya yang halus ranum, matanya, alisnya, hidungnya yang bangir,  bibir tipisnya….Melihat Milla terpejam seolah  menikmati sentuhanku gairahku naik ke ubun-ubun, walaupun aku merasa amat bersalah  tak bisa kuhentikan wajahku yang mendekati  wajah Milla, gemetar tanganku yang lain menyusup – membelai dada Milla yang kemudian  kurasakan suatu kelembutan luar biasa…

” Don. .., Don.., Donita….. … ”  Milla tersekat sambil memandangiku dengan wajah tak kan bisa kulupa dan bergegas bangkit dari pangkuanku sambil merapikan  kancing blousenya.

” Kamu. ..kamu… ” Sayup suaranya lenyap  bersama langkah-langkah kakinya  ditelan keremangan malam.

Aku terhenyak.

Jakarta, 01 Februari 2012

(Ketika. . hati berdamai dengan kecewa)

 

34 Comments to "Milla…Kutuang Cintaku"

  1. ugie  5 April, 2012 at 14:48

    All : warga Baltyra : Terimakasih kesempatannya dan mohon maaf kalo saya mengecewakan . salam hangat penuh semangat dari ugie .

  2. ugie  5 April, 2012 at 11:53

    Terimakasih buat buat mbak Elnino , mbak Ary , pak JC, pak DJ, mbak Dewi A. dan semua teman Baltyra.. atas komen blajar nulis saya . Salammmm…

  3. Lani  5 April, 2012 at 08:10

    31 : dasar kang Anuuuuu…..demen yg mekrok2…….methuthuk…….

  4. anoew  4 April, 2012 at 11:07

    ceritanya asyik, singkat tapi kena suasananya…*towel kang anoew

    weeeh, sengatan eh, towelan Seroja baru kerasa sekarang.. Besok-besok jangan colek ah, tapi belai.. Walhasil langsung kerasa

    Lani, lha aku seneng sama ilustrasinya itu lho, methuthuk nyemluk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)