Tuesday, 3 April 2012
Anastasia Yuliantari
Hampir seminggu belakangan Max rajin menyimak berita televisi di rumah tetangga. Ya, kami tak memiliki TV, Radio, dan tak berlangganan koran cetak. Informasi dan hiburan sepenuhnya hanya bergantung pada internet yang online hampir 24 jam setiap hari. Sayangnya berita tentang demo kenaikan BBM lewat internet tak terupdate secepat berita televisi, maka mau tak mau Max harus bertandang ke salah satu rumah kenalan baiknya untuk mendapat berita mutakhir.
Begitu harga BBM ditunda kenaikannya, katanya hingga 6 bulan, paginya segera setelah bangun tidur kami membuat secangkir kopi, membaca berita terkini secara online, dan berbincang tentang apa yang bakal kita hadapi nanti.
“Barang-barang pasti naik, nih dear.” Ujarnya sambil mencermati istilah kenaikan yang akan terjadi bila harga minyak mentah dunia naik lebih dari 15 persen.
“Ya, memang sudah naik, biar BBM naiknya ditunda, juga.” jawabku sambil menyeruput kopi.
“Berarti stop sudah beli-beli, tu.” Katanya sambil melirikku.
Aiiihhh, kenapa pula aku saja yang kena imbasnya. BBM, kan tak hanya menaikkan harga cemilan, tapi segala macam harga barang, mengingat Manggarai mengimpor semua bahan olahan dari Jawa. Jangan senang dulu, sektor pertanian yang digelutinya juga akan terkena imbasnya.
“Makanya kita harus mengatur strategi untuk mengatasi kenaikan BBM yang berarti kenaikan semua barang.”
Misalnya?
“Ya, kita mulai mendayagunakan apa yang kita punya, dong. Sebagai petani paling tidak kita sudah punya asset berupa tanah, hewan ternak, dan dengan sedikit bantuan teknologi, memolesnya hingga berguna untuk substitusi kebutuhan yang selama ini bergantung pada barang pabrikan.”
OK, anggap saja kita memangkas biaya jajan, jalan-jalan, beli buku, belanja-belanja, tapi toh untuk bidang pertanian tetap saja pengolahannya membutuhkan bahan dari luar, misalnya pupuk, obat-obatan, dan alat produksi lainnya.
“Lho, selama ini kita kan sudah berhasil membuat pupuk bokashi untuk tanaman jahe kita. Anggarannya tak banyak, karena hanya tinggal mengumpulkan bahan-bahan yang ada di sekitar kebun, membayar pekerja harian untuk mengangkutnya, dan beli EM4 sebagai katalisatornya. Hasilnya, kan lumayan juga, to?”
Selama menanam jahe yang sudah dua kali berlangsung, kami memang selalu menggunakan pupuk organik sepenuhnya untuk tanaman itu. Tahun lalu kami membuat 3 ton pupuk organik, sebagian besar untuk jahe, sedang satu ton lainnya dipergunakan untuk SL (Sekolah Lapangan) kelompok tani di kampung Loi. Hasilnya cukup bagus karena pembuatannya mengikuti teori dari salah satu institusi pendidikan pertanian yang terkenal.
Baiklah, alokasi dana untuk pupuk bisa dialihkan ke pembuatan pupuk organik, tapi bagaimana dengan obat-obatan? Keduanya kan berkesinambungan.
“Dear, kita kan juga bisa membuat obat-obatan alami, memanfaatkan musuh alami hama, dan mulai menanam dengan pola tanam yang dianjurkan, tentu saja dengan menyesuaikan pada kondisi alam setempat juga.”
Melihat seriusnya dia menjawab pertanyaan sambil laluku membuat panas juga. Maksudnya, hidup kan tak sesederhana itu. Bidang pertanian bisa diatasi dengan berbagai cara, paling pol hasilnya gagal panen. Sengsara juga, sih tapi safety net-nya masih ada, yaitu gaji bulanan sebagai pengajar. Tapi bagi kebanyakan petani, memenuhi kebutuhan untuk makanan juga sangat berat bila semua barang naik.
“Back to nature. Konsumsi bahan hasil pertanian sendiri. Saung sawe, saung po’ang, sanung daeng, saung padut (bayam, daun boje, daun ubi, daun papaya) banyak daun-daunan di sekitar kita yang bisa dijadikan sayuran. Tinggal ambil saja, daun-daunan itu kan tumbuh liar saja di kebun-kebun.” Tambahnya bersemangat, “Kalau mau sedikit berusaha juga bisa menanam buncis, kacang merah, kacang panjang, dan lainnya. Kondisi geografis di tempat kita mendukung untuk menanam sayur-sayuran hampir sepanjang tahun.”
Ya, ya, ya bisa saja. Tapi sayur melulu dengan garam, kan kurang enak rasanya.
“Tanam bumbu-bumbu di halaman, to. Kamu dulu aja bisa menanam tomat, lombok, kucai, dan apa lagi, ya? Bawang merah kan? Dalam tas-tas plastic bekas. Pakai pupuk organik pula. Jadi bisa dilakukan lagi sekarang, apalagi sekarang sudah bukan rumah kontrakan lagi, jadi engga akan menyesal menanam dalam tempat-tempat yang lebih permanen.”
Aku menghela napas.
“Dan, tanaman bumbu itu juga bisa berfungsi sebagai obat juga, kan? Ingat, sudah berapa kali kunyit, daun jambu, jahe, dan kencur kita dapat membantu meringankan sakit dari para tetangga dan diri kita sendiri.”
Ya, bahkan murid lesku, salah seorang perempuan Jepang, berkali-kali mengucapkan terima kasih karena rimpang kunyit yang kuanjurkan padanya bisa membuat panas badan dan batuk-batuk anaknya reda. Dia bahkan sudah menanam daun mint yang aku bagikan untuknya agar bisa menanggulangi masuk angin atau sekedar diminum bersama teh untuk menghangatkan badan saat hujan di sore hari. Mint memang hidup liar seperti rumput, terutama di kemiringan got-got sepanjang jalan.
Jadi kesimpulannya, kita bisa bertahan, nih menghadapi kemungkinan kenaikan BBM 6 bulan mendatang?
“Pasti bertahan, asaaaaaal…”
Nah, buntutnya pasti menuju ke arahku, nih.
“Jangan banyak jajan, jangan pingin jalan-jalan terlalu sering, karena menghabiskan bensin, jangan online 24 jam sehari.”
Lho, kan internetnya unlimited. Rugi kalau tak dipakai terus.
“Listriknya, kan bayar, dear. Apalagi ada wacana kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik).”
Baiklah, mengurangi jajan bisa diterima, mengurangi jalan-jalan bisa diterima, mengurangi belanja pasti diterima karena memang uangnya ga bakalan cukup lagi, tapi mengurangi internet???
“Pasti bisa!” Tegasnya.
Maka sambil tersenyum-senyum aku peluk pundaknya. “Ngemil dan jajan boleh stop, jalan-jalan apalagi, tapi…please…please…please…I beg you. Internet jangan dipangkas juga, ya?”
“Oleee…tidak bisa begitu. Semua harus tertib, nih.”
“Please, kamu kan juga pakai. Bagaimana kalau yang dipangkas itu bagianmu untuk online? Berarti hanya tinggal jatahku saja, kan? Kamu engga bisa online lagi, dear.”
Max menatapku hilang akal. Dan dia semakin jengkel melihatku tersenyum-senyum lebar.
“OK, tapi jangan dibiasakan online sampai tengah malam!”
Yes! Semua hal bisa diatasi. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang luar biasa.
April 3rd, 2012 at 16:36
Ayla, hahaha…kalau laos gampang tinggal beli saja kok…buanyak. Weleh, ngomong-ngomong resep bacem, minta donk resepnya?
April 3rd, 2012 at 16:31
Yu Lani….tapi sekarang justru akan dibasmi je. Kuwi aki Buto ngomong jarene para tokoh rok mini menimbulkan imajinasi menyimpang….hahaha.
April 3rd, 2012 at 16:17
AY : jd rok mini ngirit bahan dan ngirit duit yooooooo? se777777777
April 3rd, 2012 at 16:13
@JC….woooo…pdhl tanaman sereh tuh penolak nyamuk paling efektif. Tapi di daerahmu mungkin banyak sarang semut, jdnya mrk bersemayam di tanaman serehmu…hehehe. Ternyata dirimu juragan salam, yo? nandur laos bar ngono, ben nek mbacem tempe wis lengkap kari nyemplungke tumbar karo gula jawa….hehehe.
April 3rd, 2012 at 16:07
Ayla, iyo, aku juga tandur daun salam, 2 pohon guedeeeee lagi, tetangga-tetangga sering banget minta, terus dulu ada lombok, kangkung, sereh. Tapi gonta-ganti sih. Kalau sereh akhirnya bojo emoh, lha di dekat-dekat akar jadi sarang semut, jutaan semut buanyak buanget…
daun bawang juga tanam sendiri, lha gampang tinggal bawang dan brambang tancapkan ke tanah…
April 3rd, 2012 at 16:07
Yu Laniiiii…iyo Yu, semua dinaikkan, kecuali rok yg diwacanakan untuk diturunkan….wkwkwkwk. Mungkin kain arep diturunkan harganya, lha nek rok kudu mudun harga kain tetap naik kan yo reffooooot para perempuan, nih. Tambah anggaran…hahaha.
Anoew ki kit mau cen penasaran karo demo singkong….wis tak omongi nek aku demo neng kebon singkong iso sengsara tenan sing nduwe singkong….hahahahaha.
April 3rd, 2012 at 16:04
@JC….ayo nandur sayuran nganggo pot utowo tas plastik. Halamanmu kan lumayan luas tuh. kalo disusun pakai rak2 pasti siiippp…. Sing gampang2 sik, koyo bumbu2 dapur. Mesti sukses, wis….dijamin.
April 3rd, 2012 at 15:32
AY :warakadaaaaaaah….semuanya naik..emboh naik apa? naik angkot? becak? kuda? hahaha……nambahi kang Anuuuu yg katanya kamu bakal demo singkong……..hahahah
April 3rd, 2012 at 15:25
Ayla, benar buanget, kemewahan luar biasa bisa tinggal metik apa yang akan kita masak…wuiiiihhh…
April 3rd, 2012 at 15:23
Peony, thank you ya tambahan info buat manfaat daun jambu. Saya malah blom tahu tuh…
Hehehehe…masalah internet kita hrs pintar2 mengupayakan agar kepentingan pribadi tdk berseberangan dengan kepentingan golongan wkwkwkwk. Jd lolos sensor, deh internet, soalnya Max kan butuh juga.