Jejak ‘Hantu’ Pecinan di Banda Neira

Ary Hana

 

Tiap kali menyusuri pasar tuju arah pelabuhan, selalu kulihat sebuah bangunan tua bergaya Tiongkok di kanan jalan. Bangunan yang tertutup pagar tembok kelabu tinggi, hingga harus kuintip lewat celah-celah ornamen pagar untuk melihat wujud aslinya. Sekedar penuhi rasa ingin tahu mulanya. Ternyata keindahan dan ketuaannya memikatku. Sebuah klenteng kuno.

Di sini, di sebuah pulau terpencil jauh di timur Nusantara, keberadaan sebuah klenteng sungguh hal yang tak biasa. Sebuah tanya mengetuk-ngetuk kepalaku. Bilakah orang-orang Yunan itu datang kemari? Apa yang membawa mereka menetap di sini? Kemana sekarang mereka tinggal? Tanya yang tak aneh menurutku, karena keturunan Tionghoa pun tak banyak kujumpa di pulau ini.

Berkali kususuri Jalan Pelabuhan, berulang kucuri pandang klenteng kuno itu. Pintu pagarnya selalu terkunci. Seolah tak berpenghuni. Namun ada berderet pakaian dijemur di bagian samping bangunan utama. Tanda bahwa tempat itu dihuni. Bilakah pintu pagar dibuka? Atau jangan-jangan memang klenteng itu berpenghuni? Penghuni yang paranoid sehingga perlu mengunci diri? Aku terus bertanya.

Sekali aku memaksakan diri mengintip dari celah tembok pagar lebih lama. Kulihat sebuah altar, dengan lukisan bergambar seekor hewan yang aneh. Hewan berkepala naga dan bertubuh babi. Babi itu lambang kemakmuran, naga kebijaksanaan. Apa maksudnya?

Ketika aku termenung memikirkan makna gambar itu, tiba-tiba kulihat sesuatu bergerak. Sekelebatan saja. Mirip sosok yang tak jelas entah apa atau siapa. Lalu harum dupa menerpa wajahku. Kulirik, ada beberapa dupa di altar menyala. Asap dupa mengalun membentu garis tipis menjelajah udara. Aku terpana. Siapa yang tadi menyulut dupa? Siapa?

Sayang pagar itu menghalangi pandanganku. Pasar belum mulai. Jalan tempatku berpijak pun lengang menyunyi. Dalam tanya, kutinggalkan klenteng itu. Entah mengapa, ketika langkahku menjauh, kurasa sepasang mata lekat menempel di tengkukku. Aku seperti diamati. Tapi oleh siapa?

Beberapa kali kutoleh ke belakang. Tak ada orang. Hanya bapak tua yang momong cucunya duduk di sudut lapak pakaian yang kosong. Dia tak terlihat mencurigakan. Aku terus melaju, dengan rasa yang sebagian lepas dan tertinggal di klenteng tua itu.

ooooo

Hingga suatu pagi, tatkala melewati klenteng itu dua hari kemudian,  kuberanikan diri bertanya kepada bapak tua yang itu juga. Dia tampak kerepotan menangani ulah cucunya yang hiperaktif itu. “Siapa yang menjaga klenteng ini, Bapak? Bolehkah saya masuk ke dalam?”

Lelaki itu menunjuk sebuah kedai antik, kedai yang menjual bingkisan buat para turis, tepat di depan klenteng. Sayang kedai masih tutup. Hari masih terlalu pagi walau beberapa kedai sudah membuka diri. Lagi-lagi aku pun berlalu tanpa mendapat keterangan berarti.

Kelak pada kunjunganku yang kesekian kali, aku berhasil menemui pemilik kedai itu. Saribanon namanya, perempuan berumur jelang tujuh puluh tahun. Dialah pemegang kunci klenteng itu. Saribanon berkisah, belasan tahun lalu, kala terjadi peristiwa Mei 1998 di Jakarta, si pemilik sudah hendak meninggalkan klentengnya sejenak.

Kerusuhan agama di Ambon dua tahun berikutnya, membuat si pemilik meninggalkan klentengnya selama-lamanya. Sebelum pergi, dia menjumpai  Saribanon. “Beta mo pigi jao. Beta titip beta pu kunci klenteng. Nanti bila ada beta pu anak cucu datang mo liat beta pu klenteng, panei beri dorang kunci.” Begitu kira-kira pesan si pemilik klenteng kepada Saribanon.

Di kemudian hari banyak keturunan Tionghoa yang mengaku datang dari tanah jao hendak melihat dan bersembahyang di klenteng tua itu. Si empunya klenteng sendiri, kata Bu Nunuk – panggilan akrab Saribanon – sudah meninggal. Berkat kebaikan hati Bu Nunuk, aku boleh masuk ke klenteng itu suatu siang. Sebagai balas kebaikan hatinya, kubeli sepasang tusuk konde dari kulit penyu berukir bunga pala dan sebuah guli-guli peninggalan Portugis di tokonya. Kelereng berwarna biru keunguan itu pas benar dijadikan gantungan kalung tuaku.

0oooo

Kubuka pintu gerbang. Tiga meter di depanku berdiri altar utama itu, diapit dua meja persembahan kecil. Di atas altar utama, menempel pada atap, papan bertuliskan huruf Cina en shen hai dian’, artinya “budi kebaikan/ pertolongan sedalam samudera tak terukur”. Di bawahnya ada lukisan binatang berkepala naga, berbadan babi, yang pernah kuintip sebelumnya.

Mataku langsung menuju ke arah hio-hio ditambatkan. Tak ada yang menyala. Hanya sisa-sisa hio lama. ‘Mau menyalakan hio?” Lelaki anak Bu Nunuk seolah membaca pikiranku. Dia mengulurkan korek api. Andai belum kulihat kotak korek api itu, tentu aku akan menggeleng. Tapi..

Ketika asap hio membumbung capai langit-langit, lagi kurasakan sepasang mata itu. Kelebat cahaya menghampiri altar utama. Denting mirip batu menyentuh kayu membuat pandanganku dan anak Bu Nunuk jatuh ke bagian atas altar. Tulisan itu, : “永春弟子” alias ‘Murid Wing Chun’. Apa maksudnya?

Tiba-tiba pikiranku melayang ke seorang sahabat jauh di Semarang. Dia pasti paham semua coretan ini. Aku sendiri awam dengan budaya timur. Satu-satunya keahlianku –kalau itu bisa disebut keahlian dan boleh dibanggakan- adalah rasa ingin tahu yang mengalahkan ketakutan. Sebentuk rasa nyaman melanda hatiku saat memikirkan sahabatku itu.

“Dulu di sini banyak barang, patung, keramik. Tapi su habis diambil dan dihancurkan orang,” tiba-tiba lelaki itu bersuara.

Aku tercekat. “Kenapa?”

Ya.. kenapa? Pantas kurasa ada kekosongan di sana-sini. Klenteng Kongsi ini mirip ‘miskin’ barang.

“Dulu kan rusuh!” jawab lelaki itu, merasa aku sudah tahu maksud kalimatnya.

“Rusuh? 2001?” Lelaki itu mengangguk. Aku paham. Pasti kerusuhan agama itu.

“Masih banyak yang datang ke sini?” tanyaku basa-basi. Menurut cerita Saribanon tadi, sekali sekala ada saja yang mengunjungi klenteng tua ini.

“Ada.. tapi su lama tarada barongsai. Dulu, kata beta pu kakek, setiap Imlek selalu ada pawai barongsai. Kereta naga keluar dari klenteng lalu ronda-ronda ke penjuru kota. Budak-budak asal Papua dan Kei pikul itu naga. Orang Cina menari, tabuh tifa,” kisahnya. Mataku membelalak, mencoba membayangkan apa yang terjadi di masa itu.

Paska memotret sana-sini, membaca tanda dalam bahasa Cina, aku segera undur diri. Anak Saribanon tampak tak sabar menungguku berlama-lama di klenteng. Lagipula kulitku tak terang, mataku pun tak sipit. Tak ada cukup alasan bagiku berlama-lama di klenteng tua ini. Hanya, ketika kakiku beranjak menuju pintu gerbong, sesuatu menarik tanganku kuat. Mendorongku jatuh ke sebuah batu tanpa bentuk di halaman. Aku jatuh terduduk di atasnya. Sekilas, kupandang batu berwarna nyaris tanah itu. Sebuah nama terukir, namun hurufnya sudah tak jelas dan tak utuh lagi. Hanya angka yang terbaca. Annum 17 sekian.

Melihat anak Saribanon sudah hendak menutup pintu gerbang, aku berlari menyusul. Nafasku tersengal. “Bapak, ke mana saya harus mencari informasi tentang orang Cina di sini?”

Lelaki itu menatapku, sebelum memberi sebuah nama. “Cari dia saja. Dorang orang Cina paling tua di Pulau Neira ini. Mungkin dorang mau cerita.”

Kuucapkan terima kasih. Kuanggukkan kepala sebelum meninggalkan klenteng itu. Kembali kurasakan sepasang mata di tengkukku. Dan bisikan lembut berhembus di kupingku. “Lim.. cari Lim”. (bersambung dengan judul yang lain)…

Catatan:

-kisah ini gabungan fakta dan fiksi semata

 

27 Comments to "Jejak ‘Hantu’ Pecinan di Banda Neira"

  1. Mawar09  8 April, 2012 at 01:42

    AH : artikel yang bagus, walau sedikit seram. Ternyata pemberani juga ya walau cewek! salut !! ditunggu ya lanjutannya.

  2. yyk  6 April, 2012 at 23:26

    “Beta mo pigi jao. Beta titip beta pu kunci klenteng. Nanti bila ada beta pu anak cucu datang mo liat beta pu klenteng, panei beri dorang kunci.”

    ni bahasa di banda neira ya ? kok mirip ma bhs manado ya ? mengagumkan. btw, judul sambungannya apa dong ? kalo beda judul, searchnya pake kata kunci apa ya ?

    thnx mb ary (hehehhe br tau ternyata mbak)

  3. non sibi  6 April, 2012 at 01:41

    Komen #16, AH rupanya bergender cewek. Tulisan bagus hasil kolaborasi.
    Ayo sambungannya ditunggu loh…. Thanks

  4. Lani  5 April, 2012 at 14:52

    AH : o, klu gitu bener dugaanku………mmg aki buto wlu cm dibalik layaaaaar upokoro-ne ono wae……..ciamik tenan sutradara buto

  5. Dewi Aichi  5 April, 2012 at 09:10

    Ari Hana…aku menikmati saja alur ceritamu sampai ke cerita berikutnya….ciamik….

  6. Linda Cheang  5 April, 2012 at 08:52

    Mas Ary, kalau kelenteng-kelenteng yang sudah tua, umumnya cara bacanya selalu dari kanan ke kiri, lalu dari atas ke bawah.

  7. AH  5 April, 2012 at 08:48

    mbak linda : itu aki buto yang membuat interpretasi.. mulanya dibaca kiri ke kanan, lalu kanan ke kiri (mengingat klenteng ini sudah tua umurnya, hampir 4 abad), dan ternyata kata-katanya lebih cocok hehe..

    mbak lani : sutradaranya aki buto hehe.. pesen mie ayam ‘seram’

    mbak nu2k dan inakawa : terima kasih masukannya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)