Pemabuk

Chandra Sasadara

 

O, malam. Kekasihku datang
O, malam. Pengampunan telah datang
O, malam. Aduhai Keindahan, aduhai Manisku
O, malam. Kekasih memuliakanku, Dia datang
O, malam. Kekasih menuangkan minuman
Pada gelas besar anggur yang memabukkan..

 Malam sebenarnya telah berlalu. Udara pagi mulai menyergap kulit dan tulang, namun laki-laki dalam belenggu itu masih tetap berdendang tentang malam dalam rindu dendam kepada Sang Kekasih hati. Sesekali tubuh itu menggigil kedinginan karena jubah yang dikenakan sudah mulai robek lusuh.  Laki-laki itu mendekap tumitnya untuk mengurangi dingin yang menggigit tubuh kurusnya. Ia berusaha untuk rebah atau setidaknya meluruskan kaki seperti tahanan lainya, namun tidak bisa.  Rantai dan bola besi yang dipasang di kakinya membuat tubuhnya hanya bisa duduk dengan kaki ditekuk.

Dua orang penjaga datang. Membuka pintu ruang tahanan dan mendekati laki-laki yang sedang menggigil kedinginan. Namun dua penjaga itu hampir pingsan ketika melihat mata laki-laki lusuh itu. Mereka seperti melihat kilatan cahaya, tidak membuat pedih, tidak juga menyakiti. Namun kilatan cahaya yang keluar dari mata laki-laki itu menghujam ulu hati, seperti meneriakkan sesuatu.  Dua penjaga itu sebenarnya sudah biasa menatap mata tahanan itu ketika mengantarkan jatah makanan atau mengambil piring sisah makanan. Memang mata laki-laki berbedah dengan mata tahannan lainya. Mata itu jernih, teduh, dalam, sejuk dan seperti tak bermuara. Namun kilatan mata yang baru saja dipertontonkan oleh laki-laki itu seperti menyergap kesadarannya, melemparkan pada kerinduan yang paling dalam. Tanpa disadari air mata dua penjaga itu berlinangan.

Ia seorang pemabuk, itulah satu-satunya informasi yang dimiliki oleh kedua penjaga ruang tahanan dari petugas pengadilan yang menggiring laki-laki itu saat kedatangnya. Informasi bahwa laki-laki itu seorang pemabuk sebenarnya disangsikan oleh kedua penjaga ruang tahanan. Mengapa harus dibelenggu dengan rantai dan bola besi kalau hanya seorang pemabuk. Dari tatapan matanya,  sama sekali bukan mata pemabuk. Yang paling meragukan dari informasi itu, ternyata laki-laki lusuh yang disebut pemabuk itu justru sering memperdengarkan syair-syair yang menyayat hati. Seperti orang yang sedang merindukan kekasih, meskipun tidak jarang laki-laki itu mendendangkan syair kegembiraan dan suka ria.

Salah seorang penjaga membuka gembok rantai dan bola besi yang melilit di kaki. Penjaga lainya meletakkan ember berisi air di hadapanya. Laki-laki lusuh  itu tahu bahwa beberapa jam lagi hukuman mati yang telah dijatuhkan pengadilan akan segera dilaksanakan. Ia tahu ini adalah air terakhir yang akan menyentuh kulitnya. Ia segera menggulung lengan bajunya, meraupkan air ke wajahnya beberapa kali. Kembali duduk dan mengucapkan terima kasih kepada kedua penjaga yang telah membuka belenggu dan mengantarkan air untuknya.

Kali ini laki-laki itu mencoba untuk meluruskan kakinya, ia berguman lirih.

Bunuhlah aku, O Kekasihku
Kematianku adalah hidupku
Hidupku ada dalam kematinku
Ketiadaanku adalah kehormatan terbesar
Hidup seperti ini tidak lagi berharga
Bunuhlah aku, bakarla aku
Bersama tulang-tulang yang rapuh.

Ruang tahanan itu kembali senyap, para tahanan lainya masih tertidur. Udara hangat mulai memasuki ruang tahanan, rupanya pagi telah telah datang. Laki-laki itu kembali bersyair, kali ini penuh keriangan namun menenggelamkan.

Tanah, lempung, api, cahaya, dingin, bayang-bayang, lalu matahari
Penerimaan, penolakan, ketertarikan, sebutan, tersingkap, lalu mengenakan baju. 
Duka, datar, terjal, sunga, lautan, lalu kering
Mabuk, cerah, rindu, merapat, bergabung, lalu keintiman
Diam, hebing, bisu, mengetahui, menemukan, lalu tenggelam
Tergenggam, terbuka, lepas, terpencar, terhimpun, lalu lenyap senyap.

Wajah laki-laki lusuh itu menengadah ke langit-langit ruang tahanan. Entah apa yang dicarinya, laki-laki itu tersenyum. Ia seperti menunggu tamu yang akan datang, tapi siapa yang datang. Siapa manusia yang berani datang dan menjenguk pesakitan yang sebentar lagi akan menerima hukuman mati. Ia kembali tersenyum dengan mata yang disipitkan. “Assalamulaikum,” kalimat itu keluar dari mulutnya. Pelan, lirih, bahkan hampir tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Siapa yang datang, bukankah orang-orang di ruang tahanan itu belum ada yang bangun dari tidurnya.

Tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya dan sejumlah tahanan yang masih mendekur. Ia berusaha mengubah posisi duduknya, kedua kakinya ditekuk bersila. Matanya dipejamkan, nafasnya diatur mengikuti keinginanya. Semakin dalam Ia mengikuti aliran nafasnya, semakin hilang sekat hidupnya. Ia tidak lagi menempati ruang tahanan, bahkan ia tidak lagi merasa menempati tubuhnya. Ia berada di antara gugusan awan dan langit biru yang membentang tak terbatas. Laki-laki itu tidak berada dalam himpunan ruang dan waktu. Ia telah memasuki keadaan tanpa beban subjek objek.

Laki-laki lusuh itu masih dalam posisi bersila dengan wajah yang tetap tenang sentosa. Udara dari luar mengalir tanpa hambatan melalui beberapa lobang kecil. Tiba-tiba mata laki-laki yang sedang bersila itu terbuka, mata yang dalam, teduh dan tak bertepi. Ia mengusap wajahnya, meluruskan kakinya. Sambil tersenyum laki-laki itu berbisik. “Terima kasih atas kunjungnya, terima kasih telah menjaga ragaku. Semoga keselamatan dan kesejahteraan menyertai kaummu hingga akhir zaman.” Kalimat itu hampir tidak berbunyi, lirih seperti berbisik kepada angin.

*****

Laki-laki lusuh itu masih duduk dengan posisi kaki lurus. Matanya seperti sedang memperhatikan ujung-ujung kakinya. Beberapa orang tahanan yang berada satu ruang tahanan mulai terbangun satu persatu dari tidurnya. Mereka saling berbisik. Dua orang tahanan mendekati laki-laki lusuh itu, mengambil tanganya. Menciumi punggung tangan dan menggosokkan telapak tangan laki-laki itu di pipi mereka secara bergantian. Dua tahanan itu melakukannya beberapa kali sambil berurai air mata. Seorang tahanan lainya mendekat dan membisikkan kalimat. “Guru, sebelum engkau tinggalkan kami yang tak berharga ini ajarkan sesuatu yang berguna kepada kami.” Laki-laki lusuh itu memejamkan mata sambil bersenandung.

Sungguh, aku telah merenung panjang tentang agama-agama
Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang
Jangan kau paksa orang memeluk satu saja
Karena akan memalingkanya dari akar yang menghujam
Sebaiknya, biarkan dia mencari akar itu sendiri
Akar itu akan menyingkap seluruh keagungan dan sejuta makna
Lalu dia akan mengerti.

Sejumlah laki-laki kekar memasuki lorong rumah tahanan, mereka adalah petugas pengadilan yang akan membawa laki-laki yang disebut sebagai pemabuk itu dalam persidangan terakhir. Tepatnya bukan persidangan, tapi desakan agar laki-laki lusuh itu mau mengakui semua bentuk kejahatan yang dituduhkan kepadanya. Seorang petugas membuka pintu tahanan, dua orang lainya masuk untuk membawa laki-laki lusuh itu ke luar. Namun dua petugas itu dihalangi oleh tahanan lainya. Mereka membentuk perisai manusia untuk melindungi laki-laki lusuh yang akan dibawa oleh petugas. Sesaat terjadi ketegangan antara petugas pengadilan dan penghuni ruang tahanan. Namun dengan tenang laki-laki lusuh itu berkata, “biarkan mereka membawaku.”

Kaki yang lama tidak digunakan untuk berjalan karena belenggu, membuat laki-laki itu terpaksa berjalan tertatih menuju ruang sidang. Telah hadir dalam ruang sidang  para ahli agama, ahli hukum, para sahabatnya dan pejabat tinggi. Persidangan ini telah dinantikan oleh banyak pihak selama beberapa bulan terkahir. Kasus ini menarik bukan karena seseorang dituduh menghujat agama dan Tuhan, tapi karena tuduhan yang menyebutkan bahwa laki-laki itu mengaku sebagai Tuhan.

Sidang telah dimulai, dipimpin oleh seorang hakim senior pada bidangnya. Laki-laki dengan sebutan pemabuk itu duduk di kursi pesakitan mendengarkan semua dakwaan yang sudah pernah didengarkan dalam sidang-sidang sebelumnya. Suara petugas yang membaca dakwaan itu hampir kalah dengan teriakan di luar ruang sidang. Teriakan, makian dan hujatan saling bersautan memenuhi ruang sidang. Hakim akhirnya meminta petugas keamanan untuk memaksa pengunjung di luar ruang sidang agar diam. Hakim mulai bertanya kepada terdakwa.

“Apakah anda memahami dan mengakui semua dakwaan?”

“Aku memahami, tapi tidak mengakui.”

“Kalau kamu tidak mengakui, lalu apa maksud ucapan Ana Al-haqq yang kamu ucapkan di depan umum?”

“ Sebagai seorang ahli hukum agama, seharusnya hakim tahu makna kalimat itu.”

“Jangan berputar-putar cepat jelaskan kalimat itu.”

“Banyak yang mengganggap ucapan itu berbahaya, sejatinya itu adalah puncak kerendahan hati seorang Hamba Kebenaran.”

“Apa maksudnya?”

Ana Al-haqq sama dengan Ana Adam, aku tiada.”

“Kami belum mengerti”

Ana Al-haqq sebagai bentuk pengakuan kepada Yang Maha Absolut, Huwa Al-kuliyyah.”

“Lalu?”

“Tidak ada eksistensi kecuali Sang Sumber. Ana Lastu Syai’an, aku dan seluruh eskistensiku lebur dan tiada.”

“Dengan begitu, bukankah yang berhak menyebut Ana Al-haqq hanya Yang Absolut?”

“Betul.”

“Lalu kenapa kamu mengucapkan kalimat itu.”

“Karena itu bentuk penyatuanku kepada Yang Maha Benar setelah eksistensiku musnah.”

“Kamu terbukti menghujat Tuhan, laksanakan hukumannya!” Suara hakim ketua itu mengguntur.

Laki-laki lusuh itu menanggapi keputusan hakim dengan lantunan syair.

Ruh-Mu menyerap dalam ruhku
Bagai anggur larut dalam air bening
Bila sesuatu menyentuh-Mu, ia menyentuku
Engkau adalah aku dalam seluruh.

*****

Orang-orang menyemut di alun-alun kota yang panas membakar. Ribuan mata merah menyala. Mata yang dibakar oleh kedengkian dan dendam gelap. Tidak henti-hentinya mereka meneriakkan, “bunuh dia, darahnya halal ditumpahkan.”. Di antara berjubelnya massa yang beringas, beberapa sahabat laki-laki lusuh itu menanti peristiwa yang akan terjadi dengan diam tanpa berbicara. Sahabat-sahabat itu masih mengingat kalimat terakhir yang diucapkan oleh laki-laki itu. “Biarpun aku dibunuh dan disalib atau kedua kaki dan tanganku dipotong tak surut aku mendakwahkan kebenaranku.”

Seorang algojo melangkah dengan angkuh di tengah arena, beberapa kali mengores mata pedangnya dengan batu asah. Laki-laki lusuh yang baru saja mengikuti sidang terakhirnya itu digiring di tengah alun-alun yang dipenuhi massa penuh amarah. Tepat di tengah lingakaran yang telah dipersiapkan, laki-laki itu berlutut, menengadahkan kepala sambil berucap. “Tuhanku, kini aku akan berada di  Rumah Idaman. Aku melihat betapa banyak keindahan yang mengagumkan.”

Algojo memaksa laki-laki itu berdiri lagi, menampar pipi dan memukul hidungnya beberapa kali lalu dengan kasar menekan pundak agar berlutut kembali. Laki-laki itu tidak kehilangan senyumnya, matanya tetap teduh dan dalam. Ia menatap sekeliling, membagikan senyum bagi yang mau menerimanya. Mata itu berhenti sejenak ketika beradu pandang dengan para sahabatnya yang diam membeku. Lalu dengan suara serak ia melantunkan puisi rindu.

Aku menangis kepada-Mu
Bukan hanya untuk diriku sendiri
Tapi bagi jiwa yang merindukan-Mu
Akulah yang menjadi saksi
Sekarang pergi kepada-Mu
Akulah Saksi Keabadian.

Seorang petugas pengadilan telah membacakan identitas laki-laki yang akan menerima hukuman pancung itu.  Dengan sopan dua petugas pengadilan meminta ijin kepada laki-laki itu untuk memasang kain hitam menutup kepala, namun laki-laki itu menolak dengan santun. Algojo telah bersiap untuk menuntaskan kewajibannya. Sekali lagi laki-laki itu memandang semua yang hadir untuk menyaksikan kematiannya. Ia seperti sedang berpamitan kepada alam yang didiaminya selama ini. Tatapannya berhenti pada seorang tokoh agama yang sangat memusuhinya. Seorang tokoh yang pertama kali menyebut dirinya sebagai penghujat agama dan Tuhan. Laki-laki lusuh itu memberikan senyumnya, sangat tulus.

Laki-laki lusuh itu duduk berlutut, dengan kepala terjulur ke depan. Ia memejamkan mata berlahan-lahan. Menutup semua lubang tubuhnya. Bibir ditutup rapat, lidah dilipat di atas, ujungnya menekan langit-langit. Gigi bertemu gigi dengan rapat. Dengan kesadaran penuh ia merakit bulu, kulit, darah, daging, tulang, dan sungsum untuk dikembalikan pada asalnya. Ia berusaha melepas tali tubuh yang terletak di titian hati. Melepas tali hati yang terletak di pusar. Melepas tali roh yang terletak di jantung. Melepas tali rahsa yang berada di titian jantung. Lalu ia kumpulkan di singgasana hidup untuk dikembalikan pada asalnya. Dalam keheningan cipta yang dalam, ia melarutkan hidupnya dengan Sang Sumber.

Genggaman tasbihnya laki-laki yang berdiri di antara penonton itu terlepas bersamaan dengan ayunan pedang algojo yang menebas leher sahabatnya. Kepala sahabatnya itu jatuh di pangkuannya sendiri, tidak menggelinding, tidak ada darah. Laki-laki yang masih tertegun di antara penonton itu tahu bahwa si pemabuk, sahabat sejatinya itu telah melepaskan hidupnya sesaat sebelum pedang algojo menyentuh lehernya.

 

27 Comments to "Pemabuk"

  1. Chadra Sasadara  19 April, 2012 at 11:21

    yyk : peristiwa di jawa abad 15 merujuk pada eksekusi Siti Jenar, sedangkan di Bagdad merujuk pada eksekusi Husain Mansyur Al-halajj pada tahun 922 M (abad ke 10 tepatnya)

    perbuatan tidak menyenangkan itu domain hukum pidana dalam delik aduan. sedangkan klo negara dianggap tidak menyenagkan tidak bisa dikenakan pasal tersebut, sebab negara bukan individu atau kelompok. negera merupakan representasi komunitas politik suatu bangsa.

  2. J C  19 April, 2012 at 05:08

    Yyk, hahaha…kalau kita mau nuntut pemerintah, ya pengadilan nanti penuuuuuuuuhhhh sekali file’nya, dan hakimnya bingung, lha wong para hakim sendiri lebih-lebih perbuatan tidak menyenangkan kok…piye coba?

  3. Chadra Sasadara  5 April, 2012 at 10:40

    Terima kasih kembali Inakawa, salam damai

  4. EA.Inakawa  5 April, 2012 at 06:43

    ceritera yang menarik…… terima kasih sudah berbagi cerita tentang HAK atas yang BENAR walau mati sekalipun. salam sejuk

  5. Chadra Sasadara  4 April, 2012 at 19:28

    Mbak Linda pandai skali merendakan diri. kami di Balttyra bersedia membaca puisi sampean lho

  6. Chadra Sasadara  4 April, 2012 at 19:22

    Kang JC : kenapa pengakuan Anna Al-haq dianggap subversib oleh sebagian agamawan? secara jenuin arti kata itu adalah Aku Yang Maha Benar. beberapa ahli agama mengatakan bahwa pengakuan seperti itu hanya milik Tuhan, makluk seperti manusia tidak layak mengaku Anna Al-haq. sedangkan dalam disilplin tasawuf (paham dan praktik esotersi agama) menganggap bahwa pengakuan itu sebagai bentuk “fana”=pengahancuran/ketiadaan eksistensi diri sebagai makluk dihadapan Sang Sumber. jadi ketika seseorang mengaku Anna Al-haq sebenarnya yang eksis hanya Tuhan Yang Maha Luhur sbg Yang Punya Hak, itu kenapa Anna Alhaq dianggap semakna dengan kata Anna Adam=aku tidak ada

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.